
Kevin dan para sahabat masih ngobrol di ruang depan paviliun yang saat ini ditempati Bu Saidah dan Mama Susan, untuk menjaga kedua wanita paruh baya yang tengah beristirahat di dalam ruangan. Sambil menunggu kabar dari keluarga, mengenai Fatiya dan Akbar.
Kevin dan tiga pemuda lainnya itu tak menyadari, bahwa ada sepasang telinga yang sedari tadi ikut mendengarkan pembicaraan mereka berempat.
Wanita paruh baya itu tertatih, berjalan kembali menuju ke kamarnya. Bu Saidah menangis, mengetahui Akbar ikut hilang karena mencari putrinya.
'Sebesar itukah cinta Nak Akbar pada Fafa? Dan apa benar, keluarga Nak Akbar benar-benar tulus dengan kami?' tanya Bu Saidah pada diri sendiri.
'Ya Allah, selamatkan mereka berdua di manapun saat ini mereka berada. Lindungi mereka dari marabahaya dan dari semua bentuk fitnah syaitan yang keji," do'a Bu Saidah dengan tulus.
'Sudah hampir jam tiga, sebaiknya aku sholat malam,' gumam ibunya Fatiya tersebut. Wanita kurus itu kemudian menuju kamar mandi, untuk mengambil air wudhu.
āāā
Di tengah lahan kosong yang sangat luas.
"Ayo, Mas! Fafa bantu!" seru Fatiya. Sekuat tenaga, gadis itu berusaha menarik tangan pemuda tampan yang masih berada di dalam sumur, agar bisa naik ke atas seperti dirinya.
"Aw ...," pekik keduanya bersamaan, ketika Fatiya tak mampu menahan beban tubuh Akbar yang kembali terperosok ke dalam sumur, gadis itu pun ikut terperosok kembali dan jatuh menimpa tubuh atletis Akbar.
Sejenak, keduanya terdiam dengan posisi Akbar di bawah dan Fatiya di atasnya. Wajah keduanya bertemu dan bibir mereka saling menempel.
Akbar menatap Fatiya dengan tatapan dalam, begitu pun dengan gadis berhijab itu yang menatap pemuda yang ditindihnya dengan jantung berdebar.
Akbar menelan saliva, ingin rasanya pemuda itu menahan tengkuk Fatiya agar bibir mereka berdua tak terlepas, tetapi pikiran waras putra sulung Papa Alvian tersebut masih mendominasi ketimbang perasaannya yang larut dalam suasana.
Akbar menoleh sedikit ke samping, sehingga bibirnya terbebas dari bibir tipis Fatiya yang pasti rasanya sangat manis. Pemuda itu berdeham untuk menetralkan debaran jantung yang berlompatan, sama seperti debaran jantung gadis yang berada di atasnya.
"Fa, apa kamu ingin membunuhku dengan cara menenggelamkan aku?" tanya Akbar, dengan pelan.
Hujan masih turun dengan sangat deras, airnya yang mulai menggenangi sumur hampir menenggelamkan wajah Akbar jika pemuda itu tak segera bangkit.
Fatiya tersadar, gadis itu kemudian segera beringsut. "Ma-maaf, Mas," ucap gadis itu gugup.
Fatiya kemudian berdiri dengan gemetaran. Terkejut karena terjatuh, rasa grogi berada sedekat tadi sama Akbar dan juga kedinginan. Semuanya itu bercampur menjadi satu.
Setelah susah payah Akbar berhasil bangkit, pemuda itu kemudian berdiri di samping Fatiya. "Ayo, kita coba naik lagi!"
Fatiya menggeleng. "Tidak, Mas. Kasihan Mas Akbar, pasti tenaga Mas sudah habis," tolak Fatiya dengan bibir bergetar karena kedinginan.
Kondisi tubuh yang basah karena kehujanan, ditambah kaki yang terendam air hingga sebatas betis dan terus bertambah naik sedikit demi sedikit, membuat tubuh Fatiya menggigil kedinginan.
__ADS_1
"Tapi kamu kedinginan, Fa. Kita harus segera naik dan mencari tempat untuk berteduh," bujuk Akbar. "Ayo, Fa. Naik kemari." Akbar kembali berjongkok membelakangi Fatiya, meski sebenarnya pemuda itu pun sudah sangat kelelahan.
Kejadian bertubi-tubi yang dia alami seharian ini, membuat tubuh Akbar menjadi lemah.
"Enggak, Mas. Nanti kita malah jatuh lagi, seperti tadi," kekeuh Fatiya, menolak.
Akbar kembali berdiri, pemuda itu kemudian mendekap Fatiya dan menyembunyikan kepala gadis itu di dadanya. "Maaf, Fa. Kalau kamu tidak mau naik, biarkan aku memelukmu seperti ini agar kamu tidak kedinginan," ucap Akbar.
"Aku tidak mau kalau sampai kamu pingsan di sini karena kedinginan," imbuh Akbar seraya mengeratkan pelukan.
Fatiya membeku dalam pelukan Akbar, perasaan hangat mengalir dan membuat gadis itu tak lagi merasakan dingin seperti tadi.
Tanpa gadis itu sadari, tangannya melingkar di pinggang Akbar dan memeluknya dengan erat, membuat pemuda tampan itu tersenyum lebar.
Akbar menunduk, mencium puncak kepala Fatiya dengan sepenuh hati. "Pakdheku mengatakan, bahwa hujan itu membawa berkah dan setiap do'a yang kita panjatkan InsyaAllah akan dikabulkan oleh Sang Maha Pencipta," bisik Akbar di telinga Fatiya.
"Dan aku berdo'a, memohon pada Yang Maha Kuasa, semoga Dia membukakan pintu hatimu untukku, Fa," lanjut Akbar. Pemuda itu semakin merapatkan tubuh dengan mengeratkan pelukan.
Tanpa Akbar ketahui, Fatiya menangis di dada putra sulung Papa Alvian tersebut. Dia merasa menjadi gadis yang paling beruntung karena dicintai oleh seorang pemuda, yang memintanya langsung pada Sang Pencipta.
Fatiya semakin mengeratkan pelukan, gadis itu bahkan tak ingin melepaskannya lagi.
'Benarkah, aku sudah menemukannya?' batin Fatiya, bertanya.
Keduanya masih larut dalam pikiran masing-masing, ketika terdengar samar suara yang menyerukan nama Akbar dan Fatiya bergantian, diantara suara derasnya air hujan.
"Fa, itu mereka datang!" seru Akbar dengan netra berbinar karena pertolongan akan segera datang.
Akbar melerai pelukan. "Tunggu bentar Fa, aku panggil mereka," ucap Akbar.
"Malik! Bram!" seru Akbar sekeras yang dia bisa.
Akbar terus mengulang, memanggil nama para sahabat. Namun, suara mereka bukannya semakin mendekat, tetapi malah semakin menjauh dari sumur tua, dimana Akbar dan Fatiya berada.
"Ayo, Fa. Naik dan panggil mereka!' Akbar kembali berjongkok, dengan posisi seperti itu, dada Akbar sudah mulai terendam air.
Ya, ketinggian air di dalam sumur tersebut, sudah di atas lutut Fatiya.
Terpaksa, Fatiya menuruti perintah Akbar. "Maaf, Mas," ucapnya gugup sebelum naik.
Setelah susah payah dan berhasil sampai di atas kembali, Fatiya segera berteriak meminta tolong.
__ADS_1
"Bang, tunggu!" seru Attar, ketika telinganya menangkap sebuah suara meski terdengar samar dan tenggelam oleh suara hujan yang deras.
Mereka semua menghentikan langkah.
"Ada apa, Bang?" tanya Mirza yang berjalan di sisi Attar sedari tadi.
"Kalian mendengar enggak, sih, suara wanita meminta tolong?" tanya Attar pada semuanya.
Mereka kompak menggeleng. "Tidak," jawab mereka serempak.
"Pasang telinga kalian baik-baik," titah Attar. "Suara perempuan tapi suaranya timbul tenggelam," imbuhnya.
"Jangan-jangan sebangsa dan sejenis makhluk halus, Bang," sahut Mirza. "Mana gelap lagi," imbuhnya.
Ya, mereka kini gelap-gelapan dalam melakukan pencarian karena ponsel mereka telah mati terkena air hujan.
"Dik, lagi genting begini malah becanda," protes Malik.
"Biar enggak stress dan kedinginan, Bang," balas Mirza.
Kembali suara itu terdengar.
"Benar, itu mungkin Fafa!" seru Pendi penuh semangat.
"Benar. Ayo, ke sana!' titah Malik.
Keenam pemuda tersebut segera bergerak, menuju arah sumber suara. Mereka terus melangkah dalam gelap, mendekati suara perempuan yang terus meminta tolong.
"Tolong ...."
Suara itu semakin terdengar jelas.
"Benar, itu suara Fafa! Seru Pendi, yang langsung memanggil nama adik sepupunya.
"Fa! Fafa!" Pendi mempercepat langkahnya menuju ke arah sumber suara yang dia kenali dan di susul oleh yang lain.
Mereka terus mempercepat langkah, menuju sumber suara meski tanpa lampu penerangan.
Hingga tak jarang, mereka tersandung batang pohon pisang yang tumbang dan kemudian terjatuh. Ada pula yang kakinya tersangkut akar tanaman liar dan tergores duri tanaman kumis kucing.
"Fafa!" seru Pendi, begitu kakak sepupu Fatiya itu sudah dapat melihat gadis berhijab yang sedang berdiri sambil mendekap tubuhnya sendiri.
__ADS_1
ššššš tbc ššššš