Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Akal dan Hati Harus Seimbang


__ADS_3

Daniel menghela napas berat. "Jadi, kamu tidak bisa memaafkan aku dan memberiku kesempatan, Dik?" tanya Daniel kembali setelah berapa saat keduanya terdiam.


"Aku sudah mengalah, Dik dan bersedia untuk mengikuti aqidahmu asalkan kita bisa bersama. Sekarang, aku berharap ... kamu juga bersedia untuk sedikit saja mengorbankan perasaan, agar kita bisa tetap bersama."


Fatiya menatap Daniel dengan tatapan tak percaya, gadis imut itu tak menyangka bahwa sang kekasih yang selama empat tahun ini dekat dengannya, memiliki pemikiran sepicik itu.


"Aqidah serta keyakinan dan perasaan itu berbeda, Bang. Fafa enggak pernah memaksa Bang Daniel untuk mengikuti aqidah Fafa dan ibu. Bang Daniel sendiri yang meyakinkan Fafa hingga akhirnya Fafa tetap bertahan di sisi Abang selama ini."


"Fafa juga sudah sering mengatakan pada Abang bukan, bahwa janganlah Bang Daniel pindah keyakinan hanya demi Fafa?" Fatiya menatap Daniel, masih dengan sisa air mata yang menggenang di pelupuk mata.


Daniel menggeleng. "Tidak, Dik. Bukan hanya karena kamu, meski awalnya iya, kuakui itu," balas Daniel.


"Tapi lambat laun, aku memang merasa nyaman jika mengikuti keyakinan kamu, Dik. Meski saat ini, aku belum bisa mewujudkan keinginan itu," lanjutnya.


Kembali Daniel menghela napas dengan berat. "Baiklah, Dik. Aku bisa mengerti perasaan kamu," ucap Daniel lirih.


"Aku serahkan semua keputusan di tangan kamu." Daniel menatap Fatiya dengan penuh rasa bersalah.


"Sekali lagi, aku minta maaf, Dik. Papa dan Mama juga minta maaf dan beliau titip salam buat kamu," imbuh Daniel yang kembali berkaca-kaca, mengingat sang ibu yang saat ini terbaring di rumah sakit karena ulahnya yang tidak bisa menguasai hawa nafsu.


"Apa beliau berdua juga sudah tahu hal ini, Bang?" tanya Fatiya.


Daniel mengangguk lemah. "Iya, Santi sendiri yang menceritakan pada mama," balas Daniel.


Fatiya geleng-geleng kepala. 'Apa sebenarnya maunya Santi? Dia bilang pamit tapi ....' Fatiya tak dapat menebak apa yang diinginkan oleh teman dekatnya itu.


Keduanya kembali terdiam, hingga menciptakan keheningan di ruang tamu tersebut.

__ADS_1


"Sudah malam, Dik. Aku pamit." Daniel segera beranjak.


"Aku tunggu keputusan kamu, titip salam buat ibu," pungkas Daniel seraya menatap ke arah ruang dalam.


Fatiya hanya mengangguk, gadis itu kemudian mengiringi langkah Daniel yang keluar dari rumahnya.


"Assalamu'alaikum, Dik," ucap salam Daniel, seraya menatap dalam netra Fatiya untuk waktu yang cukup lama. Netra tajam pemuda itu kembali berkaca-kaca.


Daniel tersenyum dan kemudian segera berlalu dari hadapan gadis yang sudah dia sakiti hatinya itu, meninggalkan Fatiya yang kembali menangis tanpa bersuara.


Daniel kembali menoleh ke belakang, dia sempat melambaikan tangan sebelum kemudian pemuda itu berbelok menuju jalan raya untuk mendapatkan taksi.


Fatiya masih terpaku ditempatnya, pedih rasa hati gadis itu mengetahui sang calon suami tidur dengan wanita lain, tetapi lebih pedih lagi mengingat bagaimana perasaan sang ibu jika sampai pernikahannya gagal sementara undangan telah tersebar.


Gadis itu kemudian mendudukkan diri di teras rumahnya, Fatiya menjadi galau dan dia tumpahkan semua kegalauan hati dengan menangis tanpa bersuara. Fatiya memeluk lutut dan menangis di sana, hingga punggungnya nampak bergetar hebat.


Seperti Bu Saidah sudah tahu semuanya dan hal itu membuat gadis berlesung pipi itu merasa bersalah pada sang ibu.


"Ibu belum tidur?" tanya Fatiya, setelah mengusap air matanya dengan ujung hijab yang dia kenakan.


Bu Saidah menggeleng pelan. "Ayo, masuk! Angin malam tidak baik untuk kesehatan," ajaknya seraya tersenyum hangat.


Fatiya patuh, gadis berhijab itu mengikuti langkah sang ibu dengan gontai. Dia seperti tak memiliki tenaga untuk sekadar melangkah, kakinya bahkan seolah tak berpijak pada bumi.


Sang ibu mengajaknya untuk duduk di meja makan. "Ibu buatkan teh jahe, ya. Biar kamu sedikit relaks." Bu Saidah segera beranjak untuk membuatkan minuman untuk sang putri. Sementara Fatiya hanya bisa menatap sang ibu dengan perasaan yang tak karuan.


"Minumlah," titah sang ibu setelah beberapa saat. Bu Saidah kemudian kembali duduk di tempatnya semula.

__ADS_1


"Maaf, apa ibu sudah mendengar semuanya?" tanya Fatiya hati-hati.


Bu Saidah menghela napas panjang dan kemudian mengangguk perlahan. "Ya, Fa dan ibu tahu ini pasti sangat berat bagimu," balas sang ibu.


Fatiya menggeleng. "Tidak, Bu. Fafa justru mengkhawatirkan ibu," ucap Fatiya.


"Tidak perlu mengkhawatirkan ibu, Nak. Ibu akan baik-baik saja, jika kamu juga baik, Fa," tutur sang ibu yang membuat hati Fatiya menjadi semakin bersalah.


Dia yang sudah memaksakan kehendak untuk terus melangkah bersama Daniel, meski sang ibu sudah pernah memberinya peringatan. Dan kini, Fatiya baru menyadari betapa pekanya hati dan perasaan seorang ibu.


'Jika keyakinannya saja bisa dia tukar, ibu khawatir Daniel juga bisa berubah pikiran dan melakukan hal yang sama untuk cintanya.' Kalimat yang diucapkan sang ibu kala itu, kembali terngiang di telinga Fatiya.


"Maafkan Fafa, bu," ucap Fatiya yang kembali terisak. Wajah cantik itu kini terlihat sembab, kantung mata membengkak dan hidung bangirnya memerah.


Bu Saidah menggeleng cepat. "Bukan salah kamu, Fa. Tidak perlu kamu merasa bersalah pada ibu," tutur sang ibu dengan penuh kelembutan.


"Sekarang, ibu serahkan padamu bagaimana baiknya, Nak," lanjut sang ibu.


Fatiya menggeleng. "Fafa ikut saja apa keputusan ibu."


"Tidak, Nak. Kamu yang akan menjalani kehidupanmu sendiri. Jadi, kamu yang lebih tahu mana yang baik dan mana yang kurang atau tidak baik bagimu."


"Gunakan hatimu juga, jangan hanya akalmu untuk mengambil keputusan karena antara akal dan hati nurani harus berjalan seimbang. Agar kelak tidak menimbulkan masalah baru dan supaya hidupmu mendapatkan kesempurnaan dan kebahagiaan."


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_1


__ADS_2