
Mereka terus mempercepat langkah, menuju sumber suara meski tanpa lampu penerangan.
Hingga tak jarang, mereka tersandung batang pohon pisang yang tumbang dan kemudian terjatuh. Ada pula yang kakinya tersangkut akar tanaman liar dan tergores duri tanaman putri malu.
"Fafa!" seru Pendi, begitu kakak sepupu Fatiya itu sudah dapat melihat gadis berhijab yang sedang berdiri sambil mendekap tubuhnya sendiri.
"A' Pendi, tolong teman Fafa, A'!" seru Fatiya agar Pendi mendengar suaranya karena hujan masih sangat deras. Gadis itu menunjuk ke arah dalam sumur.
"Fa, kamu tidak apa-apa?" tanya Malik, setelah mereka mendekati Fatiya.
"Bang Malik, tolong Mas Akbar, Bang. Dia masih terjebak di dalam sumur," pinta Fatiya begitu mengenali suara Malik. Keadaan yang gelap, membuat Fatiya tidak mengenali siapa saja orang-orang yang datang itu, jika mereka tidak bersuara.
"Malik, Bram, Dam, tolong aku!' seru Akbar dari dalam sumur, memanggil ketiga sahabatnya.
"Bang, ulurkan tangan Abang!" pinta Attar yang langsung mendekat ke bibir sumur begitu mendengar suara abangnya dari dalam sumur yang gelap.
"Sebelah mana, Bang?" tanya Attar, ketika pemuda itu sudah meraba bibir sumur tapi tak menemukan tangan sang Akbar.
"Sebelah sini, Dik," balas Akbar yang terus berusaha menggapai apa saja yang ada di atas.
Malik dan yang lain segera maju untuk membantu. Ketika tangan Akbar berhasil dipegang oleh Attar dan Malik, pemuda itu segera ditarik agar bisa naik ke atas.
"Alhamdulillah," ucap mereka bersamaan, ketika tubuh Akbar berhasil berada di atas.
"Mas, Mas Akbar tidak apa-apa?" tanya Fatiya yang langsung mendekati Akbar.
Akbar merangkum kedua sisi pundak Fatiya. "Aku tidak apa-apa, Fa. Bagaimana dengan keadaan kamu?" tanya Akbar.
"Fafa baik, Mas," balas Fatiya tapi dengan tubuh yang menggigil kedinginan.
"Ayo, aku gendong. Kita harus segera menuju mobil, agar kamu tidak semakin kedinginan." Akbar langsung berjongkok di hadapan Fatiya.
"Maaf, biar aku aja yang gendong." Pendi pun berjongkok di samping Akbar, membuat Fatiya bingung.
Akbar adalah orang lain bagi Fatiya, tapi mereka sudah saling mengenal meski belum lama. Dan berdekatan dengan Akbar, membuat Fatiya merasa nyaman walaupun hingga saat ini, Fatiya belum bisa menyimpulkan perasaannya tersebut.
__ADS_1
Sementara Pendi, meskipun ada hubungan darah diantara mereka berdua, tetapi keduanya baru bertemu kemarin dan hubungan keduanya juga biasa saja.
Fatiya ragu, harus memilih yang mana?
"Fa," panggil Pendi seraya menoleh ke belakang, setelah beberapa saat menunggu, tetapi Fatiya tak kunjung naik ke punggungnya.
Pemuda itu kemudian berdiri, dia mengangguk mengerti. Kini, abang sepupu Fatiya itu paham, kenapa tadi Akbar tiba-tiba membonceng dirinya dan nekat memisahkan diri dari rombongan untuk mencari Fatiya seorang sendiri.
"Biar dia yang menggendongmu, Aa' akan mengikuti kalian dari belakang," ucap Pendi kemudian.
Fatiya mengangguk dan kemudian segera naik ke punggung Akbar, tanpa ragu.
"Mas. Fafa berat, loh," bisik Fatiya di belakang telinga Akbar.
Akbar tak menanggapi. Pemuda tampan yang sebenernya sudah sangat kelelahan itu kemudian berdiri. Akbar sempat sedikit oleng tapi dia berusaha sekuat tenaga, agar bisa membawa gadis yang dicintainya itu keluar dari sana.
"Pegangan, Fa. Biar enggak jatuh," pinta Akbar.
Gadis itu kemudian memeluk leher pemuda yang menggendongnya. "Makasih ya, Mas," ucap Fatiya.
Malik, Attar dan Mirza, berjalan di depan untuk mencarikan jalan buat Akbar agar pemuda yang tengah menggendong Fatiya itu tidak kesulitan ketika melewati jalan tanpa ada penerangan.
Sementara Damian, Abraham dan Pendi, berjalan di belakang Akbar, untuk berjaga-jaga.
Setelah menyusuri lahan hingga sejauh lebih dari 500 meter, tibalah mereka di halaman gudang tua, dimana para orang tua masih menunggu mereka semua di sana.
Ya, begitu hujan turun, Papa Alvian dan yang lain memutuskan untuk menunggu anak-anak mereka di gudang tua, tempat Fatiya tadi disekap.
"Bang, kalian masuk ke sini," pinta Papa Alvian yang langsung sigap membukakan pintu mobilnya, yang tadi ditinggalkan oleh Akbar begitu saja ketika pemuda itu langsung membonceng motor Pendi.
"Ayo, Dik! Kita harus segera bawa Abang dan Kak Fafa ke rumah sakit!" seru Papa Alvian pada putra keduanya.
Papa Alvian segera naik ke bangku pengemudi, Attar menyusul naik melalui pintu di sisi kiri dan duduk di samping sang papa.
"Kalian berdua, segera naik dan duduk di belakang, biar ayah yang nyetir," titah Om Alex pada sang putra dan juga Mirza.
__ADS_1
Perlahan mobil Papa Alvian melaju, meninggalkan tempat tersebut.
Di belakangnya, menyusul Om Alex yang membawa mobil Daddy Rehan. Di samping Om Alex, duduk Daddy Rehan. Sementara di bangku belakang, ada Mirza dan Abraham.
Menyusul di belakangnya adalah mobil yang dikendarai Om Devan, mobil yang tadi dibawa oleh anak-anaknya. Om Devan hanya berdua bersama sang putra, Damian.
Mobil terakhir dikendarai oleh Papa Rahmat yang membawa Malik dan Pendi, sementara motor sport kakak sepupu Fatiya tersebut, dibawa oleh Pak Entis, penjaga di kantor Tasya yang tadi datang bersama Pendi.
Mereka semua menuju ke rumah sakit, tempat tadi Akbar di rawat.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, iring-iringan mobil tersebut memasuki halaman rumah sakit terbesar di kota Bandung.
"Fa. Kamu tidak apa-apa, Nak?" sambut Bu Saidah yang langsung memeluk sang putri, begitu mereka semua turun.
Ya, Kevin yang dikabari sang daddy bahwa Fatiya dan Akbar sudah ditemukan tadi, langsung mengabarkan pada sang mommy dan juga yang lain. Sehingga Bu Saidah merengek meminta agar diperbolehkan untuk menyambut putrinya, meski beliau masih harus duduk di kursi roda karena kondisinya belum pulih sempurna.
"Fafa tidak apa-apa, Bu," balas Fatiya. "Ibu, kenapa duduk di kursi roda?" tanya gadis yang pakaiannya basah kuyup tersebut dan masih menggigil, wajah gadis itu pun terlihat pucat.
"Ibu kambuh, ya?" tanya Fatiya kemudian, dengan netra yang mulai berkaca-kaca. "Maafkan Fafa, Bu," pinta Fatiya yang kembali memeluk tubuh kurus sang ibu.
"Fa. Duduk sini, Nak," pinta Papa Alvian yang sudah membawakan kursi roda untuk Fatiya. Di belakang papanya Akbar tersebut, berdiri perawat yang akan mendorong kursi roda putri Bu Saidah.
"Maaf, Bu. Fafa harus mendapatkan perawatan terlebih dahulu, untuk memulihkan kondisinya," tutur Papa Alvian pada ibunya Fatiya.
"Bu, Ibu kembali ke kamar dulu ya. Biar Fafa dan yang lain ditangani dulu sama dokter," bujuk Kevin yang hendak mendorong kembali kursi roda Bu Saidah ke kamarnya di paviliun, agar wanita paruh baya itu beristirahat.
Bu Saidah mengangguk, setuju.
Kursi roda yang di duduki Fatiya, segera di dorong masuk oleh perawat untuk segera mendapatkan penanganan medis. Diikuti oleh Akbar dan saudara-saudaranya, yang juga harus mendapatkan penanganan medis.
Kehujanan untuk waktu yang cukup lama dan tenaga yang terkuras habis karena mencari Fatiya, membuat semua pemuda tersebut mengalami drop.
Tiba-tiba, tubuh Akbar tumbang ketika kakinya baru memasuki pintu ruangan ...
ššššš tbc ššššš
__ADS_1