
"Assalamu'alaikum," ucap salam Akbar, yang kemudian segera masuk ke dalam mobil.
Perlahan, mobil mewah Akbar meninggalkan halaman kediaman Bu Saidah. Tepat di saat Akbar membelokkan mobil ke kiri, dari arah kanan datang sebuah taksi yang kemudian berhenti tepat di halaman rumah tersebut.
Fatiya dan sang ibu yang hendak masuk kembali ke dalam, menghentikan langkah dan melihat siapakah gerangan yang datang.
"Daniel?" gumam Fatiya bertanya, netranya menajam menatap sosok yang baru saja turun dari taksi tersebut.
"Fa, itu bukannya, Daniel?" tanya Bu Saidah yang juga memastikan penglihatannya. "Kenapa dia naik taksi?" lanjut sang ibu dengan dahi berkerut dalam.
Fatiya mengedikkan bahu. "Fafa juga belum tahu, Bu. Daniel tidak mengatakan apa-apa," balas Fatiya.
"Assalamu'alaikum, Bu, Dik," ucap salam Daniel dengan sedikit gugup. Pemuda itu kemudian menyalami Bu Saidah dan mencium punggung tangannya seperti yang biasa dilakukan Fatiya.
Daniel juga menyalami Fatiya yang sedang tersenyum tipis pada Daniel. "Maaf, Dik. Aku ke sini malam-malam, tadi ada sedikit halangan di jalan," ucap Daniel masih sambil menjabat tangan Fatiya.
"Nak Daniel, apa itu darah?" tanya Bu Saidah ketika melihat baju Daniel terdapat bercak-bercak merah.
"Oh ... iya, Bu," balas Daniel yang kemudian mengamati bajunya sendiri. Calon suami Fatiya itu sepertinya juga baru menyadari, kalau ternyata bajunya terkena noda darah dari korban laka lantas yang ditolongnya tadi.
"Darah? Kenapa bisa ada darah? Apa, Bang Daniel habis kecelakaan?" tanya Fatiya yang mulai khawatir pada pemuda yang telah mengisi hari-harinya selama empat tahun ini.
"Iya, Dik. Tapi Alhamdulillah, aku enggak apa-apa, kok," balas Daniel yang sudah terbiasa mengucapkan kalimat šµš©š°šŗšŗšŖš£š¢š© seperti Fatiya. "Ini tadi, darah korban kecelakaan yang aku tolong," lanjutnya menjelaskan.
__ADS_1
"Ayo, masuk dulu, Nak!" ajak Bu Saidah. "Kita bicara di dalam." Bu Saidah segera masuk ke dalam rumah sederhana miliknya tersebut, yang diikuti oleh Daniel dan Fatiya.
"Nak Daniel datang ke sini dengan naik taksi, apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan itu?" tanya Bu Saidah yang penasaran.
"Iya, Bu," balas Daniel. Calon menantu Bu Saidah itu kemudian menceritakan tentang kejadian kecelakaan yang mengakibatkan mobil Daniel rusak parah di bagian depan dan harus di bawa ke bengkel.
"Itu sebabnya, Daniel kemalaman sampai sini. Tadi, taksinya juga kebetulan lama," ucap Daniel dengan tak enak hati karena waktu telah menunjukkan hampir pukul sembilan malam, ketika Daniel melirik jam tua yang menempel di dinding, yang warna catnya telah memudar tersebut.
Suasana di gang tempat tinggal Fatiya juga sudah sangat sepi, seperti tak ada kehidupan karena orang-orang lebih memilih berdiam diri di dalam rumah nonton televisi bersama keluarga, setelah seharian berkutat dengan pekerjaan yang menguras tenaga.
Ya, Fatiya tinggal di sebuah gang di perkampungan padat penduduk, yang mayoritas penghuninya adalah buruh kasar.
"Oh, syukurlah kalau Nak Daniel tidak apa-apa. Kalau hanya mobil yang rusak, masih bisa dibawa ke bengkel," tutur Bu Saidah yang merasa lega.
"Ya sudah, kalian ngobrol dulu. Ibu buatkan teh hangat untuk Nak Daniel."
"Biar Fafa saja, Bu." Fatiya segera membereskan gelas bekas Akbar tadi, gadis itu kemudian beranjak.
"Biar ibu saja, kamu temani Nak Daniel," pinta sang ibu seraya mengambil gelas dari tangan sang putri.
Fatiya hanya bisa mengangguk patuh. Gadis berhijab itu kemudian kembali duduk di tempatnya semula, di hadapan Daniel.
"Dik, apa mobil yang tadi itu, punya Akbar?" tanya Daniel, setelah punggung Bu Saidah menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Fatiya mengangguk. "Mas Akbar yang tadi mengantar Fafa pulang, setelah satu jam lebih Fafa menunggu Bang Daniel sampai kehujanan tapi Bang Daniel tak kunjung datang dan juga tidak mengirimi Fafa pesan," balas Fatiya dengan jujur, terselip sebuah protes dari ucapannya.
"Maaf, Dik. Aku sama sekali tidak tahu kalau kamu menelepon dan juga mengirimi aku pesan. Ketika aku sampai di sana, kamu sudah berada di dalam mobil Akbar dan kalian tadi langsung pergi," balas Daniel.
"Jadi, Bang Daniel tadi lihat Fafa? Kenapa Abang enggak telepon?" protes Fatiya. "Fafa 'kan bisa langsung turun tadi kalau tahu Abang jadi datang," lanjutnya dengan bibir mengerucut.
'Aku telepon kamu, Fa. Tapi ternyata aku salah pencet karena tidak memperhatikan layar ponsel. Biasanya, yang ada di panggilan teratas itu nomor kamu,' batin Daniel.
"Enggak, Dik. Karena aku pikir kamu sedang marah sama aku," balas Daniel berkilah, padahal sebenarnya tadi dirinya yang marah-marah tidak jelas.
"Marah kenapa? Kenapa juga Fafa harus marah sama Abang?" pancing Fatiya.
"Ya, karena aku telat jemput kamu, Dik," balas Daniel. "Tadi sore, aku sangat sibuk. Aku bahkan sama sekali tidak sempat membuka ponsel dan tanpa melihat ponsel, aku langsung ke š“š©š°šøš³š°š°š®, tapi ternyata aku sudah terlambat," terang Daniel kembali.
"Fafa memang marah sama Abang," ucap Fatiya kemudian. "Tapi bukan karena Abang telat jemput Fafa dan tanpa memberi kabar," lanjutnya.
"Abang seharian ini seolah menghindar dari Fafa, padahal ada hal penting yang harus kita bicarakan!" imbuhnya dengan penuh penekan di akhir kalimat yang Fatiya ucapkan.
Jantung Daniel langsung berdegup kencang. 'Apa yang akan Fafa bicarakan, ada hubungannya dengan Santi? Apa Fafa sudah tahu semuanya?' batin Daniel bertanya dengan perasaan was-was.
ššššš tbc ššššš
__ADS_1