Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Lamaran Dadakan


__ADS_3

Fatiya menoleh ke arah ibunya yang nampak masih terbawa emosi. Bu Saidah mengenang kembali perjuangannya dengan sang suami yang merangkak dari bawah. Namun, setelah berhasil dan sukses, justru ditikam oleh saudaranya sendiri.


"Maaf, Wa. Fafa tidak tahu apa-apa mengenai masa lalu keluarga kami, termasuk harta orang tua Fafa yang semalam diminta paksa oleh Wa Dodi. Jadi, semua terserah pada Ibu," Fatiya kembali menatap ibunya.


Sejenak, keheningan tercipta di teras paviliun tersebut. Semua orang menunggu dengan rasa penasaran, bagaimana keputusan Bu Saidah.


Lagi-lagi, wanita bertubuh kurus itu menghela napas panjang, dadanya masih terasa sesak jika mengingat kembali kejadian dua puluh tahun silam.


Belum hilang dari ingatan, bagaimana Dodi memperlakukan mereka dengan semena-mena, wanita paruh baya itu harus kembali mendengar kejahatan Dodi yang tega menculik putrinya, yang merupakan keponakan Dodi sendiri.


Bu Saidah menggeleng. "Maaf, Teh. Masalah ini biar saja jadi urusan pihak yang berwajib," tutur ibunya Fatiya yang mengurai keheningan, seraya menatap mamanya Pendi.


Wanita tua itu seketika jatuh pingsan, hingga membuat Pendi sangat panik.


Damian segera membantu Pendi untuk membawa ibunya masuk ke dalam paviliun, sementara Abraham segera memanggil dokter.


Pak Dodi masih duduk ditempatnya semula dengan tubuh yang lemas. Beliau tak menyangka, bahwa kejahatannya akan diketahui oleh anak dan istrinya sendiri.


"Ibu mau lihat kondisi uwa, Fa," pamit Bu Saidah yang kemudian berjalan perlahan masuk ke dalam, yang diikuti oleh Malik yang sigap menggandeng tangan Bu Saidah agar wanita yang kondisi tubuhnya masih lemah itu tidak terjatuh.


"Terimakasih, Nak Malik," tutur Bu Saidah.


"Iya, Bu. Sama-sama," balas pemuda tampan itu seraya tersenyum.


"Mas, Fafa juga mau lihat keadaan uwa," pinta Fatiya, tanpa sadar. "Eh, enggak perlu, Mas. Fafa bisa sendiri," ralat Fatiya kemudian yang ingin menjalankan kursi rodanya sendiri.


Namun, sudah keduluan Akbar yang langsung mendorong kursinya masuk ke dalam paviliun.


"Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk meminta padaku, Fa. Kita 'kan bukan orang lain," ucap Akbar yang sejenak menghentikan langkah.


Pemuda itu berbicara sambil menundukkan wajah, hingga jarak keduanya begitu dekat.


"Mas, jangan seperti ini, ah!" Gadis itu mengibaskan tangan, sebagai isyarat agar Akbar segera menjauh karena dada Fatiya kembali berdebar kencang, berada sedekat itu dengan pemuda yang terus-terusan memberinya perhatian.


"Kenapa, Fa?" tanya Akbar yang pura-pura bodoh. Padahal pemuda itu tahu persis, bahwa gadis yang duduk di kursi roda tersebut telah memerah pipinya karena Akbar terus saja menggoda Fatiya.


"Enggak apa-apa, Mas. Pengin cepat sampai di dalam saja dan melihat keadaan uwa," kilah Fatiya.

__ADS_1


"Baiklah, kita masuk ke dalam. Meski sebenarnya, aku masih ingin ngobrol banyak hal sama kamu," pungkas Akbar, yang akhirnya mengalah.


Di dalam ruangan yang ditempati Bu Saidah, mamanya Pendi sedang diperiksa oleh dokter. Sementara Pendi, menunggui sang mama sambil menggenggam erat tangan wanita yang telah melahirkannya itu.


Akbar membawa Fatiya menuju sofa, dimana Bu Saidah sudah duduk di sana bersama Malik dan Mama Susan yang langsung keluar kamar tadi begitu mendengar suara keributan.


Kursi roda Fatiya diletakkan tepat di samping Bu Saidah dan Akbar kemudian ikut bergabung duduk di sofa, di sebelah sang mama.


"Bu, apa Ibu serius dengan ucapan Ibu tadi?" tanya Fatiya pelan, sambil melirik Pendi yang terlihat sangat sedih.


"Jujur, Fafa enggak tega melihat A' Pendi, Bu. Karena bagaimanapun, Fafa bisa selamat berkat pertolongan A' Pendi. Kalau dia tidak memberitahu Bang Malik, Fafa enggak tahu bagaimana nasib Fafa dan ibu juga enggak bakal tahu kalau ternyata yang menculik Fafa adalah Wa Dodi," ucap Fatiya panjang lebar.


Bu Saidah kemudian melihat ke arah Pendi. Benar saja, pemuda yang sangat menyayangi mamanya itu nampak menitikkan air mata karena khawatir dengan kondisi sang mama.


"Tapi semua terserah, Ibu. Ibu dan almarhum ayah yang merasakan penderitaan, akibat kejahatan Wa Dodi," lanjut Fatiya.


Wanita paruh baya itu mengangguk-angguk. "Iya, Nak. Akan ibu pikirkan," balas Bu Saidah.


"Tekanan darah mamanya naik ya, Mas. Cukup tinggi dan ini beresiko mengingat, beliau memiliki riwayat gejala stroke dan jantung lemah," tutur Dokter yang membuat Pendi semakin bersedih.


Ya, mamanya Pendi memang pernah dirawat di rumah sakit hingga seminggu lamanya karena gejala stroke. Itu sebabnya, Pendi sangat khawatir ketika sang mama tiba-tiba pingsan tadi.


"Saya sudah suntikan obat dan juga vitamin, jika nanti sore kondisi beliau sudah membaik, boleh langsung dibawa pulang," imbuh dokter tersebut seraya beranjak.


Dokter wanita itu kemudian segera keluar dari ruangan dan tepat disaat yang sama, Pak Dodi bersama Daddy Rehan dan Papa Alvian masuk ke dalam ruangan.


Akbar dan Malik segera berdiri, untuk memberikan tempat kepada para orang tua untuk duduk di sofa.


Akbar langsung memposisikan diri, berdiri di samping Fatiya. Sementara Malik, berjalan mendekati ranjang pasien dimana Pendi masih berada di sana.


"Apa mama belum sadar, Pen?" tanya Pak Dodi pada sang putra, sebelum laki-laki paruh baya itu duduk di sofa.


Pendi menggeleng.


"Bagaimana keadaannya?" tanya orang tua itu kemudian, sambil menempelkan telapak tangannya di dahi sang istri.


"Tekanan darah mama, cukup tinggi, Pa," balas Pendi.

__ADS_1


Pak Dodi menghela napas berat. "Maafkan papa, Ma," bisiknya di telinga sang istri. Papanya Pendi itu kemudian menyusul Papa Alvian dan Daddy Rehan, duduk di sofa.


"Nak Pendi, kemarilah," panggil Bu Saidah, sesaat setelah Pak Dodi duduk di sofa bersama dua laki-laki paruh baya berwajah tampan di usianya yang semakin matang, yang baru saja masuk bersamanya.


Pendi mendekat, pemuda itu kemudian duduk di samping sang papa.


"Kang Dodi, perbuatan Akang memang sangat keterlaluan dan itu sudah termasuk kriminal, Kang." Bu Saidah menatap iparnya itu dengan tajam. "Bisa saja, saya membawa masalah ini ke polisi," imbuhnya.


Pak Dodi mengangguk, mengerti. "Iya, Dik, aku tahu. Aku minta maaf," sesalnya dengan sungguh-sungguh.


Bu Saidah kemudian menatap Pendi.


"Demi Nak Pendi, aku memberi Akang kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Semoga ke depan, Akang tidak lagi melakukan kejahatan yang bisa merugikan orang lain, apalagi sampai membahayakan nyawa seperti yang Akang lakukan semalam pada putriku," tutur Bu Saidah dengan segenap kekuatan hatinya.


Ikhlas, begitu mudahnya kata-kata tersebut diucapkan, tapi sangat sulit untuk dilaksanakan dan itu yang saat ini dirasakan oleh ibunya Fatiya.


Beliau mencoba untuk ikhlas dan memaafkan, meski masih ada rasa nyeri di hati jika mengingat perlakuan buruk Dodi di masa lalu.


"Bi, terimakasih, Bi." Pendi langsung menghambur dan bersimpuh di pangkuan Bu Saidah. Pemuda itu tidak merasa malu, menangis di pangkuan sang bibi.


"Iya, Nak, sama-sama. Bibi juga berterimakasih karena kamu Fafa bisa selamat." Bu Saidah mengusap lembut puncak kepala Pendi.


Sementara Pak Dodi terlihat menitikkan air mata penyesalan. Dia benar-benar sangat menyesal dan merasa sangat malu saat ini karena orang yang disakitinya terus menerus, dengan mudah memaafkan kejahatannya.


"Terimakasih Pak Rehan, Pak Alvian, Bu Susan," tutur Bu Saidah kemudian, seraya menatap orang-orang yang beliau sebut namanya, secara bergantian.


"Tidak perlu berterimakasih, Bu," balas Mama Susan.


"Benar, Bu, karena apa yang kami lakukan adalah untuk melindungi anggota keluarga kami. Bagi kami, putri Ibu dan juga Ibu sudah menjadi bagian dari keluarga besar kami, Bu," timpal Papa Alvian.


Bu Saidah mengerutkan dahi, mencoba mencerna perkataan papanya Akbar.


"Begini Bu, secara tidak resmi, Bang Alvian ini melamar putri Ibu untuk putranya, Akbar," tegas Daddy Rehan, yang langsung pada intinya.


Akbar tersenyum lebar. 'Daddy memang paling jago kalau memanfaatkan momen. Idenya boleh juga, ini berarti judulnya lamaran dadakan,' gumam putra sulung Papa Alvian tersebut.


"Bagaimana, Bu. Apakah lamarannya diterima?" desak Daddy Rehan.

__ADS_1


Fatiya langsung terbatuk, gadis itu tersedak air liurnya sendiri.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_2