
"Aku seperti orang gila mencarimu, Fa. Aku nekat nyetir sendiri dari Jakarta ke Bandung, hingga mobilku mengalami kecelakaan di jalan tol. Ketika aku tersadar dan saudaraku bilang kalau kamu diculik, aku nekat kabur dari rumah sakit untuk ikut mencari kamu." Akbar semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku tak sanggup, jika harus hidup tanpa kamu, Sayang," lanjut Akbar berbisik lembut.
Mendengar kalimat terakhir Akbar, Fatiya mendongak, dahinya berkerut dalam. Fatiya buru-buru melepaskan pelukannya, setelah menyadari apa yang baru saja dia lakukan.
"Maaf, Mas. Fafa reflek aja tadi karena saking senangnya bertemu dengan Mas Akbar," ucap Fatiya dengan jujur.
"Tidak mengapa, Fa. Aku juga sangat senang, akhirnya bisa menemukan kamu," balas Akbar yang kemudian membetulkan duduknya, berhadapan dengan Fatiya.
"Fafa takut, Mas. Fafa benar-benar takut sendirian di sini," lanjutnya dengan netra berkaca-kaca, tapi karena kondisi gelap Akbar tak dapat mengetahuinya.
"Jangan takut, Fa. Sudah ada aku di sini," ucap Akbar mencoba menenangkan.
Sejenak keduanya sama-sama terdiam, hanya kedua netra mereka yang saling bertaut dalam.
"Fa, apa yang aku katakan tadi adalah yang sejujurnya. Aku jatuh hati padamu, sejak pertama kali kita bertemu di š“š©š°šøš³š°š°š® Kak Angga," ucap Akbar mengurai keheningan.
Pemuda tampan itu memberanikan diri, meraih tangan Fatiya dan kemudian mencium punggung tangan gadis di hadapannya dengan penuh perasaan.
Fatiya terpaku. Sebenarnya dia ingin menolak, tetapi entah mengapa gadis itu malah membiarkannya saja.
Meskipun kegelapan menyelimuti sumur tua tersebut, tetapi kedua netra mereka yang telah beradaptasi dengan keadaan, mampu melihat wajah orang yang ada didepan mata.
Akbar tersenyum menatap Fatiya. "Aku mencintaimu, Fa, dengan segenap jiwaku," ucapnya dengan sungguh-sungguh, masih sambil menggenggam tangan gadis berhijab yang dicari-carinya itu.
Fatiya masih terdiam, dia tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"Walaupun saat itu aku tahu kalau kamu sudah memiliki tunangan dan akan segera menikah, tapi aku tak pernah berhenti berharap, semoga suatu saat nanti kita bisa bersama."
"Aku pun terus mencoba mendekatimu, Fa, meski kamu tak pernah paham akan maksudku," lanjut Akbar yang kembali menatap Fatiya dengan tatapan dalam.
Fatiya seperti terhipnotis, dia biarkan saja tangannya yang masih berada dalam genggaman tangan Akbar. Gadis itu pun masih terdiam, dia masih belum bisa mempercayai apa yang barusan dia dengar.
"Mungkin kamu akan menganggap bahwa aku adalah orang jahat karena aku sangat senang, ketika mendengar bahwa kamu batal menikah sama Daniel, Fa." Sejenak Akbar terdiam.
Sementara Fatiya yang masih saja diam, sabar menanti, kata-kata apalagi yang akan keluar dari mulut pemuda di hadapannya.
__ADS_1
"Tapi aku juga sekaligus sedih dan merasa sangat kehilangan, ketika aku tahu bahwa kamu dan ibu telah pergi meninggalkan rumah," imbuh Akbar.
"Lantas, darimana Mas Akbar tahu kalau Fafa pergi ke Bandung?" tanya Fatiya kemudian, mulai membuka suara. Dia menarik tangannya dari genggaman tangan Akbar.
"Kenapa, Fa? Tanganmu dingin, biarkan aku menggenggamnya agar kamu tidak kedinginan," pinta Akbar, tapi Fatiya menggeleng.
Fatiya takut, perasaan nyaman yang diam-diam menyelinap di dasar hati atas sikap Akbar yang manis terhadap dirinya, akan membawa bencana lagi bagi hidupnya dan juga sang ibu di masa mendatang.
Putri tunggal Bu Saidah itu tahu persis seperti apa keluarga Akbar, bahwa mereka berdua memiliki status sosial yang jauh berbeda.
Gadis itu mundur sedikit ke belakang hingga mentok ke dinding tanah, dia kemudian menyandarkan punggungnya di sana. Fatiya memeluk lututnya kembali, untuk mengusir rasa dingin yang mulai dia rasakan.
"Bagaimana Mas Akbar bisa sampai di sini?" ulang Fatiya bertanya.
"Ceritanya panjang, Fa. Sebelumnya, aku sudah mencari-cari kamu di seluruh rumah sakit dan klinik yang ada di sekitar rumah kamu bersama Kak Didi dan Kak Angga," balas Akbar.
"Mencari Fafa di rumah sakit?" tanya Fatiya dengan dahi berkerut dalam.
Akbar mengangguk. "šš¶š±š¦š³š·šŖš“š°š³-mu yang mengatakan pada Kak Didi kalau kamu sempat pamit tidak masuk karena ibumu sakit, sebelum akhirnya kamu datang ke š“š©š°šøš³š°š°š® untuk mengundurkan diri," balas Akbar.
Pemuda itu kemudian menceritakan semuanya kepada Fatiya, mulai dari pencarian ke berbagai rumah sakit dan balai pengobatan. Mencari jejak gadis itu dan sang ibu ke terminal, stasiun, sampai ke pool taksi dan juga agen travel, bahkan hingga ke bandara.
"Jadi sekarang, keluarga Mas Akbar sedang ada di sini?" tanya Fatiya setelah Akbar usai berceri.
"Iya, Fa. Aku tadinya bersama mereka, tapi aku memisahkan diri karena aku begitu yakin, pasti akan menemukan kamu," balas Akbar.
"Siapa saudara Mas Akbar yang memberitahu kalau Fafa di culik?" tanya Fatiya kembali.
"Malik, dia diberitahu sama karyawan barunya Tasya, yang katanya datang untuk melamar kerja bersama kamu," terang Akbar.
'A' Pendi? Bagaimana bisa? Sedangkan yang menculik Fafa itu, orang suruhan papanya A' Pendi, Mas?" tanya Fatiya tak mengerti.
"Sepertinya, saudaramu itu tak sependapat dengan orang tuanya," duga Akbar.
Fatiya mengangguk-anggukkan kepala.
"Jadi, Bang Malik dan Kak Tasya itu, saudaranya Mas Akbar?" tanya Fatiya, sesaat setelah keduanya sama-sama terdiam.
__ADS_1
"Iya, Malik itu keponakanku, Fa. Putranya kakak sepupuku," ucap Akbar menjelaskan.
"Fa, apa kita tetap mau di sini sampai pagi?" tanya Akbar kemudian.
"Tidak, Mas. Fafa harus segera pulang karena ibu pasti cemas," balas Fatiya. "Tapi, bagaimana caranya kita naik, Mas?" tanyanya sambil mendongak ke atas.
Akbar kemudian bangkit untuk melihat keadaan, tangannya yang panjang mencoba menggapai sesuatu di atas sana.
"Aku bisa naik, Fa. Akar ini sepertinya kuat jika aku jadikan pegangan," ucap Akbar setelah tangannya berhasil menggapai akar-akar tanaman perdu di bibir sumur.
"Kamu dulu yang naik, Fa, nanti aku menyusul," titah Akbar sambil berjongkok di hadapan Fatiya.
Fatiya yang tadi juga ikut berdiri, mematung. Dia paham maksud Akbar, agar dirinya naik ke pundak pemuda tersebut.
'Tidak, ini tidak benar. Masak aku harus naik ke pundak Mas Akbar,' gumam Fatiya dalam hati. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.
"Ayo, Fa. Sepertinya akan segera turun hujan, kalau terkena air hujan akan semakin licin dan kita kesulitan untuk keluar dari sumur ini, Fa," bujuk Akbar.
Memang benar adanya, titik-titik air hujan kembali berjatuhan dari langit untuk mencumbui bumi.
"I-iya, Mas," balas Fatiya gugup. "Tapi maaf, kaki Fafa kotor karena tadi Fafa tidak memakai alas kaki," lanjutnya dengan sungkan.
"Kamu lari tidak pakai alas kaki?" tanya Akbar terkejut. Pemuda itu kemudian berbalik menghadap Fatiya dan mengangkat satu kaki gadis tersebut untuk kemudian diletakkan di atas pahanya.
Membuat Fatiya sedikit oleng dan reflek memegang pundak kokoh Akbar. Fatiya terkesima ketika Akbar meniup telapak kaki gadis itu dengan penuh perasaan.
"Kakimu pasti terluka, Fa," ucap Akbar yang tak bisa melihat dengan jelas kondisi telapak kaki Fatiya. "Sakit banget, ya?" tanya Akbar yang merasa ngilu.
"Memang perih, Mas, tapi tidak apa-apa, kok," balas Fatiya. "Lepas, Mas. Jangan seperti ini," pinta Fatiya gugup seraya berusaha menarik kakinya.
Akbar membiarkan Fatiya menurunkan kakinya, pemuda itu kemudian kembali berjongkok membelakangi Fatiya.
"Ayo, buruan naik! Nanti aku gendong, biar kamu enggak kesakitan," titah Akbar.
Fatiya masih mematung, dia terlihat ragu untuk naik ke pundak pemuda yang akhir-akhir ini memberinya perhatian lebih.
'Sepertinya, dia tulus,' batin Fatiya.
__ADS_1
Titik-titik air dari atas langit yang tadinya sangat lembut, tiba-tiba saja turun dengan sangat deras ...
ššššš tbc ššššš