
Fatiya yang baru saja terbangun, meminta pada sang ibu agar diperbolehkan untuk menjenguk Akbar karena gadis cantik itu khawatir sesuatu hal yang buruk terjadi pada pemuda tersebut. Mengingat, Akbar tiba-tiba saja jatuh pingsan tadi begitu tiba di rumah sakit.
"Habiskan dulu sarapannya, Nak," pinta sang ibu.
Fatiya menghabiskan sarapan paginya dengan cepat, gadis itu kemudian meminum obatnya.
Terdengar pintu ruangan tempat Bu Saidah dan putrinya dirawat, diketuk dari luar. Pintu tersebut kemudian dibuka dan nampaklah sosok laki-laki paruh baya yang terlihat segar dengan rambut yang masih agak basah, bersama wanita paruh baya yang berwajah cantik.
"Assalamu'alaikum," sapa salam mereka berdua sambil berjalan mendekati bed pasien tempat Bu Saidah yang baru saja duduk, begitu melihat ada tamu yang datang.
"Ibu bagaimana kondisinya?" tanyanya ramah seraya menjabat tangan Bu Saidah. "Oh ya, perkenalkan. Saya Susan, mamanya Akbar," tutur Mama Susan memperkenalkan diri.
Bu Saidah mengangguk seraya tersenyum. "Saya ibunya Fafa, Bu," balasnya, sungkan.
"Dan ini, suami saya. Papanya Akbar," lanjut Mama Susan seraya bergelayut manja pada lengan kekar sang suami yang berdiri di sampingnya.
"Pak," sapa Bu Saidah seraya mengangguk hormat.
Papa Alvian tersenyum hangat. "Saya Alvian, Bu," tutur Papa tampan itu memperkenalkan dirinya.
Mama Susan kemudian menoleh ke belakang, dimana bed tempat Fatiya beristirahat.
Wanita cantik itu kemudian menghampiri Fatiya, yang diikuti Papa Alvian.
"Hai, Cantik. Kamu pasti Fafa," sapa Mama Susan.
Fatiya yang baru saja selesai meminum obat, mengulurkan tangan menyalami wanita paruh baya cantik yang merupakan mamanya Akbar. Gadis itu mencium punggung tangan Mama Susan dengan takdzim. "Iya, Bu. Saya Fafa," balas Fatiya.
"Panggil mama saja, Nak. Lebih enak didengar," pinta Mama Susan.
Fatiya mengangguk patuh. "I-iya, Ma," balasnya gugup.
Papa Alvian kemudian mengulurkan tangan, disambut Fatiya yang kemudian mencium punggung tangan laki-laki paruh baya tersebut.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya papanya Akbar itu penuh perhatian.
"Alhamdulillah, Om. Fafa baik," balas Fatiya.
"Panggil papa, Sayang, seperti Bang Akbar," pinta Mama Susan.
Fatiya tersenyum, tersipu. "Baik, Ma," balas Fatiya.
"Apa para penculik itu menyakiti kamu, Nak?" tanya Papa Alvian kemudian.
"Tidak, Om. Eh, Pa," balas Fatiya yang masih merasa canggung memanggil Papa Alvian dengan sebutan papa.
__ADS_1
"Penculik-penculik itu memang sempat mau berbuat jahat sama Fafa, Pa, tapi Alhamdulillah, Fafa dapat melarikan diri," lanjutnya.
"Hanya saja karena Fafa lari tanpa alasan kaki, telapak kaki Fafa jadi lecet terluka," imbuhnya.
"MasyaAllah, coba mama lihat," pinta Mama Susan.
Fatiya kemudian membuka selimut yang menutupi kakinya. Ada banyak luka dikedua telapak kaki gadis cantik itu.
Mama Susan meringis melihat luka-luka di telapak kaki Fatiya. "Pasti sakit banget, ya?" tanyanya sambil mengusap punggung kaki Fatiya dengan lembut.
Bu Saidah yang melihat interaksi kedua orang tua Akbar dengan putrinya, tersenyum bahagia. 'Ya Allah. Benarkah yang aku lihat ini? Iya, hamba yakin, ini pasti benar. Hamba tahu Ya Allah, jika seorang hamba meyakini dan memasrahkan hidup hanya kepada-Mu, pastilah Engkau akan memberikan yang terbaik,' monolog Bu Saidah dalam diam.
"Lumayan, Ma. Baru kerasa pegelnya tadi, waktu bangun tidur. Semalam pas lari, sih, enggak ngerasain apa-apa," balas Fatiya.
"Oh ya, Ma. Mas Akbar bagaimana kabarnya? Sudah sadar apa, belum?" tanya Fatiya yang terlihat khawatir.
"Semalam, Mas Akbar maksa gendong Fafa, jadinya dia kelelahan. Padahal menurut cerita Mas Akbar, dia juga lagi sadar dari pingsan akibat kecelakaan," imbuhnya yang merasa bersalah karena mau digendong sama pemuda tampan itu.
"Enggak perlu khawatir, Sayang. Dia anak yang kuat," tutur Mama Susan mencoba menenangkan Fatiya.
"Bangunkan Bang Akbar, yuk!" ajak Mama Susan.
"Boleh ya, Bu. Kami anak Nak Fafa ke ruangan Akbar?" pinta Mama Susan seraya menoleh ke arah Bu Saidah.
"Tentu saja boleh, Bu. Tadi dia juga sudah ijin sama saya, selesai minum obat mau menjenguk Nak Akbar," balas Bu Saidah berterus terang, hingga membuat Fatiya merasa malu.
"Sudah, Ma."
Papa Alvian sigap mengambilkan kursi roda yang ada di sudut ruangan tersebut, begitu mengetahui telapak kaki Fatiya penuh luka.
"Bisa turun, enggak?" tanya Mama Susan yang nampak khawatir.
"Bisa kok, Ma. Yang sakit 'kan, hanya kaki Fafa," tolak Fatiya dengan halus ketika Mama Susan hendak membantunya turun dari bed pasien.
"Bu, kami pamit dulu." Papa Alvian menatap Bu Saidah seraya tersenyum.
Mama Susan juga berpamitan dengan menganggukkan kepala dan tersenyum lebar.
Bu Saidah mengangguk dan membalas senyum ramah kedua orang tua Akbar yang sangat bersahaja tersebut.
Mama Susan kemudian mendorong pelan kursi roda Fatiya keluar dari ruangan tempatnya dan sang ibu beristirahat.
Di ruangan tempat Akbar dirawat, ternyata sudah ramai karena Akbar baru saja sadar dari pingsannya.
"Nah, ini dia yang tadi begitu sadar langsung ditanyain," ledek Malik ketika melihat Mama Susan mendorong kursi roda Fatiya.
__ADS_1
Fatiya tersenyum, tersipu malu. Sementara Akbar tersenyum senang.
"Anak nakal, seneng banget bikin mama khawatir!" Mama Susan langsung menjewer pelan telinga sang putra yang semalam kabur dari ruangannya hingga membuat mama cantik itu, pingsan.
"Jewer yang kenceng, Oma! Nakal emang Bang Akbar!" seru Damian yang duduk di sofa di sudut ruangan.
"Iya, Oma. Suka kabur-kaburan dia! Bikin kami semua jadi pusing!" timpal Abraham, yang semalam sempat dibuat khawatir karena Akbar tiba-tiba menghilang.
"Ampun, Ma. 'Kan demi mencari calon mantu, Mama," rajuk Akbar.
Mama Susan kemudian menciumi sang putra dan memeluknya dengan erat. "Lain kali kalau ada apa-apa, jangan main kabur gitu, Bang," bisik sang mama.
"Iya, Mama Sayang," balas Akbar yang juga berbisik.
"Tapi Bram, kalau semalam aku enggak kabur dari kalian, aku enggak mungkin kejebur sumur dan bertemu sama Fafa di sana," balas Akbar kemudian, setelah sang mama melepaskan pelukannya.
"Oh, jadi semalam itu kalian terjebak di sumur yang sama?" tanya Malik karena semalam mereka belum sempat bertanya bagaimana bisa Akbar berada di dalam sumur, sementara Fatiya di atas sumur dan berteriak meminta tolong.
"Eh, kalian udah ngapain aja, Bang?" tanya Abraham. Pemuda itu memang terkadang suka ceplas ceplos seperti ayahnya.
"Pastinya, yang asyik-asyiklah. Benar enggak, Bang?" Mirza yang jahil, tersenyum seraya melirik Fatiya yang salah tingkah berada diantara saudara Akbar.
"Ada, deh," balas Akbar, membuat pipi Fatiya merona merah. Gadis itu merasa malu pada Akbar, ketika teringat kalau semalam mereka berciuman meski tanpa disengaja.
"Pantesan, Abang tadi tidur sambil senyum-senyum sendiri. Ternyata, sudah terjadi sesuatu," timpal Attar, membuat Fatiya semakin menunduk malu.
"Ayo, ayo! Sudah pada sarapan, belum?" usir Papa Alvian pada cucu-cucunya, sengaja untuk memberikan kesempatan pada sang putra dan Fatiya untuk berbicara.
Para pemuda itu pun patuh, mereka paham betul apa yang diinginkan oleh Akbar saat ini. Kelima pemuda tampan itu segera keluar, mengikuti langkah Papa Alvian.
"Nak Fafa, mama tinggal dulu, ya," pamit Mama Susan, setelah sang suami menggiring anak-anak muda tadi.
"Tapi, Ma ...." Belum selesai Fatiya berbicara, Mama Susan sudah menghilang dibalik pintu kamar, menyisakan Fatiya yang hanya berdua dengan Akbar.
Gadis itu semakin salah tingkah, Fatiya terus menunduk, tak berani melihat ke arah Akbar.
"Fa, apa kamu tidak ingin menanyakan keadaanku?" tanya Akbar yang tiba-tiba saja telah berada di hadapan Fatiya.
Akbar kemudian duduk di lantai, dia mengangkat sebelah kaki Fatiya dan meletakkan di atas pangkuannya.
"Mas, apa yang Mas Akbar lakukan?" tanya Fatiya gugup.
Akbar meniup luka di telapak kaki Fatiya dengan segenap perasaan. "Aku hanya ingin mengobati lukamu, Fa. Orang tua bilang, kalau luka di tiup dengan penuh cinta, maka luka itu akan cepat sembuh," jawab Akbar.
Fatiya terdiam, mencerna ucapan pemuda di hadapannya.
__ADS_1
ššššš tbc ššššš