
Fatiya menggeser gambar ponsel berwarna hijau, memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Assalamu'alaikum." Suara yang beberapa hari ini sudah sangat š§š¢š®šŖššŖš¢š³ di telinga Fatiya menyapa dari seberang sana.
"Wa'alaikumsalam, Mas," balas Fatiya gugup, gadis itu tak menyangka kalau ternyata Akbar yang menelepon.
"Fa, kok kamu belum pulang?" tanya Akbar yang terdengar khawatir.
Fatiya mengedarkan pandangan, mencari sosok pemuda yang tengah menelepon dirinya. 'Enggak ada Mas Akbar, tapi kok dia tahu ya kalau aku belum pulang?' batin Fatiya bertanya.
"Fa, kok malah bengong?" Suara Akbar kembali membuat Fatiya bingung, gadis berhijab yang sedang gelisah menanti kedatangan Daniel itu mengerutkan dahi.
"Kok, Mas Akbar bisa tahu? Memangnya, Mas lagi ada dimana?" tanya Fatiya yang memutuskan untuk bertanya.
"Kamu lihat ke arah kafe deh, Fa," pinta Akbar.
Reflek, Fatiya memutar lehernya menengok ke kiri. Gadis manis itu terkejut kala mendapati Akbar sedang duduk di teras cafe milik Aditya bersama beberapa orang pemuda, Akbar melambaikan tangan padanya.
"Kalau yang ditunggu enggak datang, kamu kesini aja, Fa. Nanti aku antar pulang," ucap Akbar.
"Jangan pulang sendiri, bentar lagi kayaknya turun hujan, deh," lanjut Akbar seraya menunjuk ke atas sana, dimana awan tebal terlihat berarak yang siap menerjunkan titik-titik air untuk membasahi bumi.
"Bentar lagi datang kok, Mas," balas Fatiya ragu. Dia tidak yakin apakah Daniel jadi menjemputnya atau tidak, tapi Fatiya juga harus menelepon Daniel untuk memastikan.
"Maaf, Mas. Udah dulu, ya. Ada panggilan masuk," kilah Fatiya yang tak ingin berlama-lama berbicara dengan Akbar, yang hanya akan membuat hati Fatiya semakin galau.
Entahlah, Fatiya pun tak tahu mengapa. Setiap berdekatan dengan Akbar, gadis itu merasakan ada getaran di hatinya yang berbeda.
"Assalamu'alaikum, Mas," pungkas Fatiya yang langsung menutup ponsel, tanpa menunggu jawaban dari Akbar.
Fatiya kemudian mencoba menghubungi Daniel, gadis itu beranjak dan berjalan menjauh dari tempatnya semula. Rupanya, Fatiya sengaja menghindar dari penglihatan Akbar.
__ADS_1
Setelah dirasa tak terlihat dari cafe, Fatiya kemudian duduk sambil menunggu panggilan teleponnya diangkat oleh Daniel.
'Jika duduk di sini, sepertinya tak terlihat dari cafe,' gumam Fatiya, tatapan gadis itu fokus tertuju pada layar ponsel. Sementara tangan kanannya memijat pelipis yang mulai berdenyut.
Beberapa kali Fatiya menelepon nomor sang calon suami, tapi hanya rasa kesal dan kecewa yang Fatiya dapatkan. Daniel tak kunjung mengangkat panggilan darinya.
'Kamu lagi apa sih, Bang? Kalau memang enggak bisa jemput, kenapa enggak kasih kabar?' gerutu Fatiya dalam hati.
Fatiya segera beranjak, setelah melirik jam tangannya yang menunjukkan angka lima. Dia berjalan dengan gontai menuju jalan raya dengan air mata yang menetes begitu saja seiring tetesan air hujan yang turun dari langit.
Dada Fatiya serasa bergemuruh, seperti suara petir yang juga bergemuruh di atas sana. Gadis itu terus berjalan, dia sama sekali tak menghiraukan meski tetes air hujan yang turun semakin banyak dan mulai membasahi hijab dan pakaiannya.
"Ya Allah, ditengah hujan ini aku memohon kepada-Mu. Jika memang kami berjodoh, mudahkan jalan kami tetapi jika memang Daniel bukan jodohku, tolong kirim penggantinya yang bisa menjadi imam untukku dan anak-anak kami kelak."
Fatiya berdiri mematung untuk menunggu angkot, kendaraan yang akan membawanya menuju tempat dimana segala kedamaian dan kenyamanan bisa dia dapatkan.
Air mata Fatiya semakin deras seiring derasnya air hujan, dia rindu pada ibunya dan ingin segera menghambur ke pelukan hangat sang ibu.
Fatiya mendongak tatkala dirinya tak lagi merasakan tetesan air membasahi wajah, dahi gadis itu berkerut melihat ada payung di atas kepalanya.
"Ayo, masuk ke mobil!" ajak suara yang selalu membuat hati Fatiya bergetar kala mendengarnya.
"Mas Akbar," ucap Fatiya setelah melihat orang yang memayungi dirinya.
Ya, setelah Fatiya menghilang dari pandangan mata, Akbar bergegas membawa mobilnya menuju halaman š“š©š°šøš³š°š°š®. Pemuda itu terus mengawasi gerik Fatiya, hingga gadis itu berjalan menuju jalan raya.
Akbar sengaja membiarkan Fatiya hujan-hujanan sebentar karena pemuda itu masih ragu, apakah Fatiya jadi dijemput atau tidak. Akbar tak mau membuat Daniel salah paham, jika melihat dirinya bersama Fatiya.
Akbar mengulurkan sapu tangan. "Hapus air matamu, aku tidak suka melihat perempuan bersedih dan menangis."
Bagai terhipnotis, Fatiya menerima sapu tangan tersebut dan kemudian mengusap air mata yang bercampur dengan air hujan tersebut.
__ADS_1
"Fafa cuci dulu, ya. Kapan-kapan Fafa kembalikan sekalian sama sapu tangan Mas Akbar yang kemarin," ucap Fatiya setelah mengusap air matanya.
Akbar tersenyum. "Buat kamu saja," balasnya.
Hening, sejenak menyapa.
"Mau pulang sekarang, atau mau hujan-hujanan dulu?" tanya Akbar. "Kalau masih mau hujan-hujanan, ayo aku temani!" lanjutnya seraya tersenyum menggoda.
Fatiya yang dilanda kesedihan, mau tak mau ikut tersenyum. "Fafa mau pulang, bentar lagi maghrib," balas Fatiya.
"Ayo, aku antar!" Akbar menuntun Fatiya menuju ke mobilnya, yang terparkir tak jauh dari tempat gadis manis yang telah mampu membuat Akbar tersenyum.
Sigap, Akbar membukakan pintu untuk Fatiya. Tepat di saat yang sama, mobil milik Daniel berbelok ke arah š“š©š°šøš³š°š°š®.
Calon suami Fatiya itu menginjak rem dengan dalam, tatkala netranya menangkap bayangan Fatiya masuk ke dalam sebuah mobil mewah.
'Itu seperti, Dik Fafa,' gumam Daniel.
Daniel mengamati sosok laki-laki yang berlindung di bawah payung, yang baru saja menutupkan pintu mobil untuk Fatiya. 'Akbar! Dia 'kan Akbar!' geram Daniel dalam hati.
'Kurang ajar! Jadi benar, mereka berdua ada hubungan!' Daniel mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna. Rasa cemburu menguasai hati Daniel dan emosinya kembali memuncak.
"Dasar, munafik! Sok alim, tapi ternyata enggak berbeda sama Santi!" raung Daniel sambil meninju setiran mobil.
Calon suami Fatiya itu buru-buru mengambil ponsel dan hendak menghubungi Fatiya. 'Aku akan telepon dia, aku harus memastikan apakah dia akan menjawab dengan jujur atau tidak!'
"Halo, kamu dimana?" tanya Daniel dengan nada ketus dan tanpa basa-basi, begitu panggilannya di terima oleh seseorang di seberang sana.
"Halo," balas suara di seberang dengan terisak.
ššššš tbc ššššš
__ADS_1