Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Mencari Fatiya dengan Diam-diam


__ADS_3

'Sebaiknya, aku meminta bantuan pada Kak Tasya, Fafa bilang Kak Tasya orangnya baik. Suami Kak Tasya pasti akan mempunyai cara untuk bisa menyelamatkan Fafa, tanpa membuat papa mendekam di penjara.'


Pendi segera melajukan motor sportnya dengan kecepatan tinggi untuk menuju kantor milik Tasya, guna mencari tahu alamat rumah pemilik kantor tersebut.


Pemuda itu terus melaju di jalan raya, membunyikan klakson dengan keras dan menyalip apa saja yang ada di depannya. Pendi bahkan tak sempat memikirkan keselamatan dirinya sendiri, yang ada dibenaknya saat ini adalah bagaimana cara agar Fatiya bisa segera diselamatkan.


Pendi menghentikan motor sport miliknya, tepat di depan pos jaga. Buru-buru sepupu Fatiya itu turun untuk bertanya pada salah seorang petugas yang telah berdiri seolah menyambut kedatangan Pendi, tetapi dengan tatapan penuh selidik.


"Siapa Anda, Anak Muda? Ada keperluan apa, datang kemari?" Benar saja, belum sempat Pendi bertanya, penjaga yang senantiasa siaga itu bertanya dengan penuh kewaspadaan.


"Selamat malam, Pak. Maaf, saya Pendi. Saya pegawai baru di sini. Baru tadi pagi, saya diterima," terang Pendi.


"Saya kemari mau minta tolong sama Bapak, saya minta alamat rumah Kak Tasya atau, nomor ponselnya juga boleh," pinta Pendi, memberanikan diri.


Meski pemuda itu yakin, pasti tidak mudah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Namun, dia harus tetap berusaha, demi adik sepupunya.


"Jangan kurang ajar kamu, Anak Muda! Baru diterima kerja sudah ngelunjak mau minta alamat bos!" hardik petugas keamanan tersebut.


"Ada apa ini? Kenapa kamu marah-marah, Kus?" tanya petugas yang lain, yang baru saja dari dalam gedung.


"Pemuda ini, mau minta alamat atau nomor ponselnya bos. Anak baru katanya, songong ya, dia!" ejek Engkus seraya menatap dengan tatapan mengintimidasi pada Pendi.


"Kamu 'kan, yang tadi ditanyain sama Mas Malik?" Petugas keamanan yang baru datang tersebut, menunjuk Pendi dengan dahi berkerut dalam.


Laki-laki paruh baya itu memindai wajah Pendi untuk memastikan, apakah benar pemuda di hadapannya saat ini, sama dengan pemuda yang data dirinya baru saja dia cari.


"Iya, benar. Nama kamu Pendi, bukan?" tanyanya memastikan.


Pendi mengangguk pasti. "Benar, Pak. Saya Pendi dan saat ini saya ada perlu dengan Kak Tasya atau suaminya karena ada sesuatu yang š˜¶š˜³š˜Øš˜¦š˜Æš˜µ," balas Pendi panjang lebar.


"Mas Malik barusan juga nyuruh Pak Entis cari alamat kamu, Mas. Dan sekarang, beliau sedang menuju rumah Mas Pendi," tutur Satpam yang bernama Entis tersebut.


"Ke rumah saya?" tanya Pendi tak percaya. "Maaf, Pak. Apa boleh, saya minta nomor telepon Bang Malik, Pak," pinta Pendi penuh harap.


"Adik sepupu saya, yang tadi melamar kerja di sini bareng saya sedang disekap, Pak. Saya butuh bantuan Bang Malik untuk menyelamatkan adik saya itu, Pak," imbuh Pendi mencoba meyakinkan.


"Maaf, saya teleponkan saja ya, Mas. Takutnya, beliau tidak berkenan," balas Pak Entis dengan bijak.


Beliau tetap membantu, tetapi tidak menyalahi prosedur yang berlaku, dengan memberikan nomor pribadi bosnya pada sembarang orang.


"Iya, Pak. Terimakasih," balas Pendi, lega.


Pak Entis segera menghubungi nomor Malik. Tepat pada panggilan pertama, suara Malik menyapa dari seberang sana. "Halo, Pak Entis. Ada apa?"


"Maaf, Mas Malik. Ini ada Mas Pendi, katanya mau ketemu sama Mas Malik, penting," balas Pak Entis dengan sopan.

__ADS_1


"Baik, Pak. Tolong berikan telepon Bapak pada Pendi," pinta Malik.


"Ha-halo, Bang Malik. Ma-maaf, saya Pendi. Kakak sepupunya Fatiya," sapa Pendi gugup, seraya memperkenalkan dirinya.


"Pendi? Apa Fafa saat ini ada bersama kamu? Tadi aku ke rumahnya, tapi hanya ada ibunya Fafa?" cecar Malik dari ujung telepon, dengan tidak sabar.


"Itu yang akan saya sampaikan, Bang. Saya tidak tahu mau minta tolong sama siapa, saya hanya ingat kalau tadi Fafa cerita bahwa Kak Tasya dan Bang Malik, orangnya baik dan š˜øš˜¦š˜­š˜­š˜¤š˜°š˜®š˜¦ sama dia. Makanya saya nyari Abang untuk minta bantuan," terang Pendi.


"Cepat katakan, Pendi? Fafa baik-baik saja, kan?" tanya Malik mulia khawatir.


Pendi kemudian menceritakan semua yang dia lihat pada Malik, dia juga menyebutkan daerah dimana Fatiya disekap.


"Papa tahu daerah itu?" Malik terdengar berbicara pada seseorang yang dia panggil papa.


"Oke, Pen. Kami akan segera kesana dan kita bertemu di sana," pungkas Malik yang langsung menutup teleponnya.


"Terimakasih, Pak," ucap Pendi seraya mengembalikan ponsel milik Pak Entis kepada sang empunya itu.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak. Saya harus segera kembali ke sana untuk menolong saudara saya," pamit Pendi yang langsung bergegas menuju motornya kembali.


"Mas Pendi, tunggu," cegah Pak Entis. "Saya ikut ya, barangkali saya bisa bantu." Pak Entis bergegas menyusul Pendi yang akan menaiki motor.


"Bapak 'kan lagi tugas?" Dahi Pendi berkerut dalam, menatap Pak Entis dengan penuh tanya.


"Tidak mengapa, Mas. Masih ada dua teman saya, Mas Malik pasti bisa mengerti," balas Pak Entis. "Lagipula, bagaimana nanti Mas Pendi komunikasi sama Mas Malik? Mas Pendi 'kan belum menyimpan nomornya?" lanjut Pak Entis bertanya.


"Kus, aku harus menemani Mas Pendi menemui Mas Malik!" pamit Pak Entis pada temannya, dengan sedikit berteriak karena suara knalpot motor Pendi sangat berisik.


Penjaga yang bernama Kusnandar hanya mengacungkan ibu jarinya, tanda mengiyakan.


Motor sport yang dikendarai Pendi kembali melaju, meninggalkan gedung perkantoran milik Tasya, menuju daerah dimana Fatiya tengah disekap.


____


Sementara di Rumah sakit, semua orang nampak cemas karena ibunya Fatiya tak kunjung siuman. Akbar duduk dengan gelisah di ruang tunggu IGD, masih ditemani oleh sang mama dan juga papanya.


"Bang, sudah semakin larut. Abang istirahat dulu, yuk," ajak Mama Susan. "Sudah ada suster dan dokter jaga, Bang. Nanti kalau Bu Saidah sudah sadar, kita pasti dikabari," lanjut Mama Susan, membujuk sang putra.


Daddy Rehan dan yang lain, nampak berjalan terburu-buru ke arah Papa Alvian. "Bang, tempat dimana Fafa disekap sudah diketahui, Malik dan papanya sedang menuju ke sana," bisik Daddy Rehan.


"Kami semua mau meluncur," lanjut Daddy Rehan.


"Gue ikut." Papa Alvian segera beranjak.


"Akbar juga ikut, Pa," pinta Akbar yang juga beranjak, meski dia tak mendengar apa yang dikatakan oleh Daddy Rehan pada papanya. Feeling Akbar, mereka semua pasti mau mencari Fatiya.

__ADS_1


Mama Susan menggeleng. "Jangan, Nak. Abang tunggu disini saja, ya," cegah Mama Susan dengan memohon.


"Ma ...."


"Mama benar, Bang. Abang pulihkan kondisi Abang dulu, biar kami yang mencari Fafa," bujuk Papa Alvian, memotong perkataan Akbar.


Akbar mengangguk, meski dengan berat hati.


"Ma, Papa ikut mereka, ya," pamit Papa Alvian. Laki-laki paruh baya itu bergegas menyusul yang lain, yang sudah terlebih dahulu menuju tempat parkir.


"Balik ke paviliun yuk, Ma. Akbar ngantuk," ajak Akbar setelah sang papa meninggalkan tempat tersebut.


Akbar nampak berbincang sebentar dengan perawat jaga, sebelum kemudian meninggalkan ruang tunggu IGD sambil memeluk pundak sang mama yang tingginya hanya sebatas bahu Akbar.


Setibanya di paviliun, Akbar bergegas menuju tempat tidurnya dan merebahkan diri di sana sambil memejamkan mata.


Ya, mata Akbar memang terpejam tapi tidak dengan pikiran dan telinganya.


Pemuda tampan itu terus memikirkan tentang Fatiya, bagaimana nasib gadis cantik itu di luar sana.


Sementara telinganya dia pasang baik-baik untuk mendengarkan suara di sekitar karena Akbar berencana, untuk ikut mencari Fatiya dengan diam-diam.


Akbar juga mendengar, ketika Kevin dan sahabat-sahabatnya baru saja datang, tapi putra sulung Papa Alvian itu sengaja pura-pura tidur, saat Kevin mendekat ke ranjangnya untuk melihat kondisi Akbar.


"Kita susul mereka saja, Bro." Suara Bayu terdengar mengusulkan untuk ikut mencari Fafa.


"Oke, gue tanya Mirza dulu, mereka ada dimana." Suara Kevin terdengar menyetujui usulan Bayu.


Akbar terus menajamkan pendengaran.


"Halo, Dik. Kalian ada di daerah mana?" tanya Kevin pada Mirza di seberang sana.


'Bang, kenapa teleponnya enggak di š˜­š˜°š˜¢š˜„ š˜“š˜±š˜¦š˜¢š˜¬š˜¦š˜³, sih. Akbar 'kan, jadi enggak bisa mendengar,' gerutu Akbar dalam hati.


"Di daerah mana?" Terdengar suara Rahman bertanya, setelah Kevin menutup telepon.


Terdengar Kevin menyebutkan nama daerah dimana Fatiya disekap, sesuai yang dikatakan Mirza.


Akbar bernapas dengan lega, dia simpan baik-baik nama daerah tersebut di memori otaknya.


Kevin dan para sahabat terdengar menjauh, Akbar masih mendengar ketika mereka semua berpamitan pada Mommy Billa dan mama-mama yang lain di teras paviliun.


'Sepertinya, mama masih terjaga,' gumam Akbar seraya membuka matanya.


'Sebaiknya, aku keluar lewat pintu belakang. Kebetulan, mobil Papa tidak dibawa.' Akbar berjalan berjingkat menuju pintu belakang, setelah berhasil mendapatkan kunci mobil sang papa yang disimpan oleh Attar di atas nakas.

__ADS_1


Baru saja Akbar keluar dari pintu belakang, terdengar sang mama menjerit memanggil namanya.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_2