Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Mencari Taksi?


__ADS_3

Setelah pamit pada sang ibu untuk mencari taksi di jalan besar, Fatiya berjalan dengan sedikit tergesa menyusuri jalanan kampung yang cukup sepi karena warga kampung tersebut memilih untuk berdiam diri di dalam rumah sambil menonton televisi, daripada harus keluar rumah. Sebab di luar, rintik lembut air hujan mulai turun dan membuat udara di kota kembang menjadi semakin dingin.


Fatiya nampak tak menghiraukan semua itu, dia terus berjalan menuju jalan besar agar bisa mendapatkan taksi yang akan membawanya beserta sang ibu, meninggalkan kampung dimana keluarga almarhum sang ayah, tidak menginginkan kehadiran fatiya dan ibunya.


'Aku harus lebih cepat, gerimisnya semakin gede,' batin Fatiya. Gadis itu kemudian mempercepat langkahnya, dia berlari kecil agar bisa segera sampai di jalan raya yang sudah terlihat jelas lalu lalang kendaraan dari tempatnya berpijak saat ini.


Baru saja Fatiya melewati gapura kampung, sebuah mobil minibus, berhenti tepat di hadapan Fatiya. Nampak seorang laki-laki berbadan kekar, turun dari mobil bagian belakang dan kemudian menghampiri Fatiya tanpa menutup pintu mobil terlebih dahulu.


"Ikut kami!" paksa laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu dengan kasar dan menyeret lengan Fatiya.


"Tidak, saya tidak mau!" jerit Fatiya, tapi sayang, jeritan gadis itu tertelan oleh keramaian lalu lintas yang padat.


Pun para pengendara yang berlalu lalang di jalan raya tersebut, takkan ada yang melihat kejadian itu karena di belakang Fatiya, sebuah mobil Jeep memepet putri Bu Saidah, sehingga posisi Fatiya saat ini terhalang dua mobil.


"Masuk!" bentak laki-laki tersebut, setelah berhasil menyeret tubuh Fatiya yang terus meronta dan berusaha kabur. Laki-laki kekar itu membawa Fatiya ke arah pintu mobil yang terbuka.


Fatiya tetap berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, dia tidak mau masuk ke dalam mobil asing tersebut.


"Cepat, Cep! Keburu ada Polisi!" seru pengemudi mini bus pada kawannya yang masih mencengkeram lengan Fatiya dengan sangat kuat.


"Sakit, lepaskan!" rintih Fatiya yang lengannya kesakitan karena cengkeraman kuat laki-laki yang lengannya di penuhi gambar ular naga.


Laki-laki berbadan kekar itu langsung mengangkat tubuh Fatiya dan memasukkan dengan paksa gadis berhijab itu ke dalam mobil, dia yang di panggil Cecep itu tak perduli meski Fatiya terus meronta dan merintih kesakitan.


Badan Fatiya yang ramping, di hempas begitu saja di atas jok mobil, hingga membuat Fatiya mengaduh.


"Aduh, sakit ...," rintih Fatiya.


Laki-laki berbadan kekar yang dipanggil Cecep, segera menutup pintu mobil setelah duduk di samping Fatiya. "Diam, atau kamu akan aku perkosa di sini!" ancam Cecep yang membuat Fatiya menciut dan langsung membeku di tempatnya duduk.


Pengendara minibus, nampak memberikan jalan pada mobil Jeep yang tadi berada di belakang Fatiya agar berjalan terlebih dahulu. Setelah mobil Jeep melaju, mobil minibus yang membawa Fatiya mengikuti di belakangnya.


Sebuah motor sport nampak keluar dari jalan kampung tadi dan mengikuti kedua mobil tersebut dengan mengambil jarak aman.


Tepat di saat iring-iringan dua kendaraan dan sebuah motor tersebut melaju ke arah kiri, dari arah kanan jalan, mobil yang dikendarai Malik berbelok ke kampung di mana rumah almarhum ayah Fatiya berada.


"Bang Malik yakin, di sini kampungnya?" tanya Daddy Rehan yang menyangsikan aplikasi GMap yang Malik ikuti.

__ADS_1


"Yakin, Dad. Tadi di depan gapura, ada nama jalannya dan itu sesuai dengan nama jalan pada alamat kedua di data diri Fafa," balas Malik sambil terus melajukan mobil mewahnya perlahan, melandas di jalan kampung. Pemuda itu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari nomor rumah.


Suara dalam GMap mengatakan, bahwa mereka sudah sampai di tujuan, ketika Mobil Malik berada tepat di depan halaman sebuah rumah sederhana.


"Sepertinya ini, Dad," ucap Malik sambil membuka kaca jendela, dia melongokkan kepala keluar untuk mengamati nomor rumah yang ada di dinding rumah sederhana tersebut.


"Benar, Dad. Yang itu, nomor tujuh belas," lanjut Malik seraya menunjuk ke arah sisi kanan.


"Ya sudah, langsung masuk ke halamannya saja, Bang," titah Daddy Rehan.


Malik kemudian membelokkan mobil dan memarkirkannya tepat di halaman rumah tersebut, ayah dan anak itu kemudian segera turun dari mobil.


Seorang wanita paruh baya yang menyangka, bahwa suara mobil yang datang adalah taksi yang akan membawanya dan juga sang putri pergi dari rumah yang pernah menggoreskan kenangan pahit belasan tahun silam itu, berjalan tergopoh-gopoh menuju teras.


Bu Saidah mengerutkan dahi, ketika mendapati dua laki-laki asing dengan postur tubuh yang hampir sama, dengan bentuk wajah yang juga hampir sama, hanya saja usia keduanya berbeda, sudah berdiri di hadapannya.


"Maaf, cari siapa, ya?" tanya Bu Saidah, menyembunyikan keterkejutannya.


Perasaan wanita paruh baya yang memiliki tatapan teduh itu, tiba-tiba saja menjadi tidak enak. Bu Saidah mengedarkan pandangan ke arah jalan kampung, menyapu ke kiri dan ke kanan.


"Assalamu'alaikum, Bu," ucap salam Malik, mengawali sebelum dia menanyakan tujuannya datang ke rumah tersebut.


"Maaf, Bu. Apa benar, di sini rumah Fatiya?" tanya Malik dengan sopan, sementara sang daddy yang berdiri di sampingnya tersenyum ramah pada Bu Saidah.


Bu Saidah nampak ragu untuk menjawab, tapi melihat kesopanan pemuda tampan yang bertanya, serta keramahan senyum pria dewasa yang sepertinya adalah ayah dari pemuda tersebut, Bu Saidah memutuskan untuk menjawab dengan jujur.


"Iya, benar. Saya ibunya." Bu Saidah membalas senyum ramah Daddy Rehan.


"Maaf, Anda siapa, ya? Dan, ada perlu apa, mencari Fatiya?" tanya Bu Saidah.


"Maaf, Ibu. Apakah bisa, kita bicara sambil duduk?" pinta Daddy Rehan dengan sopan, seraya menunjuk bangku kayu di teras rumah tersebut.


"Oh, iya. Silahkan." Bu Saidah kemudian segera menuntun tamunya untuk duduk.


"Kami dari Jakarta, Bu. Sengaja datang kemari untuk mencari Fatiya," tutur Daddy Rehan, setelah beliau duduk di hadapan Bu Saidah.


"Sebenarnya bukan kami yang mencari Fafa, tapi keponakan saya," lanjut Daddy Rehan, yang membuat Bu Saidah mengernyit dalam.

__ADS_1


'Beliau tahu nama panggilan Fafa, berarti mereka sudah mengenal Fafa. Siapa ya, mereka?' tanya Bu Saidah dalam hati. Tatapannya memindai kedua tamunya.


"Tapi sayang, dalam perjalanan tadi siang, keponakan saya mengalami kecelakaan lalu lintas dan saat ini dia dirawat di rumah sakit di kota ini. Dia terus mengigau menyebut nama putri ibu," terang Daddy Rehan.


"Innalillahi, wainnailaihi raaji'uun, lantas bagaimana kondisi keponakan, Bapak? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Bu Saidah yang nampak ikut khawatir.


"Maaf, Pak. Siapa nama keponakan Bapak? Apa, dia teman kuliah Fafa?" lanjut Bu Saidah bertanya.


"Akbar, keponakan saya bernama Akbar," balas Daddy Rehan dengan suara jelas.


Bu Saidah menutup mulutnya. "Ya Allah, Nak Akbar kecelakaan?" Wanita paruh baya itu nampak tak percaya dengan berita yang didengarnya.


'Iya, mungkin bapak itu benar kalau Nak Akbar adalah keponakannya. Dari penampilan mereka, sama-sama menunjukkan kalau mereka berasal dari keluarga berada. Mereka juga santun, sama seperti Nak Akbar,' gumam Bu Saidah, meyakinkan diri bahwa kedua tamunya benar-benar keluarga Akbar.


"Benar, Bu. Alhamdulillah tidak ada luka serius di tubuhnya, hanya saja sampai saat ini Akbar belum juga sadar dan terus menyebut nama Fafa," balas Daddy Rehan, mencoba meyakinkan.


Bu Saidah nampak ikut prihatin, tapi wanita itu juga terlihat cemas karena sang putri belum juga kembali padahal sudah hampir setengah jam Fatiya meninggalkan rumah.


"Apa kami boleh membawa Fafa ke rumah sakit sekarang, Bu?" pinta Daddy Rehan.


Bu Saidah masih terdiam, wanita itu semakin terlihat cemas sambil menatap ke arah jalan kampung.


"Jika Ibu menyangsikan kami, Ibu juga boleh ikut, kok," lanjut Daddy Rehan.


Bu Saidah menggeleng. "Bukan itu, Pak. Boleh saja jika Bapak ingin membawa Fafa menjenguk Nak Akbar, tapi masalahnya putri saya dari tadi mencari taksi di ujung jalan sana belum juga kembali, Pak," balas Bu Saidah, cemas.


"Mana gerimisnya makin gede, lagi," imbuhnya yang tatapannya kembali menyapu ke arah jalanan kampung, yang semakin sepi.


"Mencari taksi? Memangnya, Fafa dan Ibu mau kemana?" tanya Malik yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan sang daddy dan ibunya Fatiya.


"Kami mau pindah dari sini, Nak. Kata Fafa di tempat kerjanya yang baru ada mess yang kosong, malam ini kami berencana untuk numpang menginap di sana, sebelum besok kami mencari kontrakan," terang Bu Saidah dengan netra berkaca-kaca.


Wanita itu nampak tak ragu memperlihatkan kesedihan, begitu mengetahui bahwa tamunya adalah saudara Akbar, yang diketahuinya sebagai orang baik.


"Di ujung jalan sana kan, Bu?" tanya Malik, memastikan seraya menunjuk arah ketika dia datang tadi.


Bu Saidah mengangguk. "Benar, Nak."

__ADS_1


"Tadi sewaktu kami masuk kampung sini, kami enggak melihat ada Fafa di sana, Bu," ucap Malik yang langsung membuat tubuh Bu Saidah lemas.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_2