Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Tak Seperti yang Mama Lihat


__ADS_3

Mendengar keteguhan hati Daniel yang tetap ingin menikahi Fatiya, membuat hati Santi terasa sakit.


'Benarkah tak ada rasa cinta sedikitpun di hati lu untuk gue, Niel?' batin Santi bertanya.


"Baik, Ma. Daniel akan ke rumah Fafa setelah berganti pakaian," balas pemuda itu dengan lesu. Daniel tertunduk menekuri lantai keramik ruang tamu tersebut.


"Dan untukmu, Santi. Jika Fafa masih mau memaafkan dan menerima Daniel, tante harap kamu tidak lagi mengganggu hubungan mereka berdua," pinta ibunya Daniel.


Santi mendongak, menatap ibunya Daniel dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Jika ternyata di kemudian hari kamu hamil ...." Sejenak, wanita bersuara lembut itu menghentikan ucapannya, ada rasa sesak yang menyeruak di dada mengetahui semua kejadian ini.


"Jika nanti kamu hamil anak Daniel, maka kami yang akan membiayai semuanya dan merawat anak itu," lanjutnya, dengan tatapan sendu ke arah perut Santi yang rata.


"Namun, jika Fafa tidak mau menerima Daniel. Maka, semua tante serahkan pada Daniel, apakah dia mau menikahimu atau tidak karena sebuah pernikahan tidak akan baik jadinya jika dipaksakan."


"Jangan salahkan Daniel jika dia tidak mau menikahimu nantinya karena kamu yang pertama menggoda, bukan putra tante. Itu semua salahmu sendiri, San. Sebagai wanita kamu tidak bisa menjaga kehormatan diri bahkan kamu malah menyodorkannya!" pungkas ibunya Daniel yang langsung beranjak.


Santi hanya dapat menelan saliva dengan getir. Bukan, bukan ini yang dia harapkan sebenarnya. Santi berharap, ibunya Daniel akan memaksa pemuda yang dicintai itu untuk menikahi dirinya.


"Tan," panggil Santi yang sepertinya hendak menyampaikan sesuatu. Namun, kibasan tangan Daniel mengisyaratkan agar Santi tidak mengatakan apapun lagi pada ibunya.


Wanita paruh baya itu kemudian masuk ke ruang dalam dengan langkah kaki yang diseret, tanpa menoleh lagi pada Daniel ataupun Santi. Terlihat jelas, kekecewaan dan kemarahan yang terpancar dari netra ibunya Daniel tersebut.


"Puas kamu, Santi!" teriak Daniel tertahan, seraya menatap tajam Santi setelah punggung sang ibu menghilang di balik pintu.

__ADS_1


"Niel, semua ini gue lakukan karena gue sayang sama lu, Niel," rajuk Santi yang kembali meneteskan air mata buayanya.


"Cinta? Kalau lu memang cinta sama gue, bukan begini caranya, Santi!" Daniel mulai meninggikan suaranya.


Pemuda itu terlihat sangat kecewa dan marah pada Santi. Kedua tangan Daniel mengepal sempurna dan rahangnya mengeras, dengan gigi yang terdengar gemurutuk. Daniel mengdengkus kesal dan kemudian membuang pandangannya ke arah lain.


"Cinta itu tidak memaksakan kehendak, tidak menyakiti dan tidak mengecewakan!" seru Daniel kembali setelah beberapa saat keduanya terdiam. Pemuda itu menyugar kasar rambutnya dan kemudian meremas dengan kuat.


Daniel merasa kepalanya sangat pusing. Ya, pemuda itu pusing karena sang kekasih saat ini sepertinya tengah gencar didekati oleh pemuda yang levelnya jauh di atas Daniel. Sementara Daniel sendiri telah membuat sebuah kesalahan yang sangat fatal, yang mungkin saja tidak dapat dimaafkan oleh sang calon istri.


Daniel tidak dapat lagi membayang bagaimana hubungannya dengan Fatiya ke depan, apakah tetap masih bisa berlanjut seperti harapannya ataukah harus berakhir sampai di sini?


"Maafkan gue, Niel. Gue janji akan berusaha menjadi wanita seperti yang kamu inginkan, jika kamu mau menerima gue, Niel," mohon Santi, yang membuyarkan lamunan Daniel.


Daniel menghela napas panjang. "Lu dengar sendiri 'kan, apa kata mama tadi," Daniel kembali menatap Santi.


"Tapi Niel, jika Fafa ...."


"Pun jika Fafa menolak gue, gue tetap tidak akan menikahi lu!" sahut Daniel cepat, seraya menunjuk Santi dengan ibu jarinya yang bergetar karena menahan amarah yang memuncak.


Santi langsung terdiam, air mata gadis yang sulit ditebak kemauannya itu kembali mengucur.


"Sekarang, pulanglah!?" usir Daniel tanpa menghiraukan tangisan Santi.


Santi menggeleng. Rupanya, gadis itu benar-benar keras kepala.

__ADS_1


"Gue enggak yakin lu enggak punya rasa sama gue, Niel," ucap Santi terbata, yang membuat Daniel kembali menatapnya seraya mengerutkan dahi.


"Apa maksud lu, San?" tanya Daniel.


Santi menghapus air matanya dan kemudian menatap Daniel dengan tersenyum. "Jika lu memang tidak menyimpan rasa sama gue, lu pasti tidak akan menikmati permainan kita semalam, Niel."


"Lu ingat, kan? Bahkan semalam, lu minta nambah terus, Niel," ucap Santi yang mulai mengintimidasi lawan bicaranya. "Itu artinya, gue bisa menjadi wanita yang bisa membahagiakan dan memuaskan lu, Niel," imbuhnya penuh percaya diri.


"Ck!" Daniel berdecak kesal. "Itu karena semalam gue khilaf, San!" elak Daniel yang memang benar-benar sudah melupakan bagaimana rasanya berhubungan badan dengan Santi.


Santi kembali menggeleng. "Khilaf? Kalau begitu, gue akan buat lu khilaf terus, Niel," ucap Santi.


Gadis itu langsung merangsek ke arah Daniel tanpa rasa malu dan langsung menyambar bibir pemuda itu serta melahapnya dengan rakus, membuat Daniel membulatkan mata karena terkejut.


Hanya sesaat. Ya, keterkejutan Daniel hanya sementara saja karena setelah itu, Daniel yang memang haus akan cumbuan dari seorang wanita karena Fatiya tidak pernah mau dia sentuh, kembali dibuat terlena oleh kelihaian Santi dalam memainkan peran.


Santi kembali menguasai permainan, gadis itu telah benar-benar berhasil menjerat Daniel dengan kehangatan bibirnya. Santi terus mencoba membuat pemuda yang disukainya itu terlena dan tak membiarkan sedikitpun Daniel merusak rencana yang telah dia susun dengan rapi.


'Bagus Daniel, balas hisapanku karena aku milikmu dan kamu milikku,' batin Santi dengan senyum penuh kemenangan.


"Daniel! Santi!" jerit ibunya Daniel yang keluar kembali setelah beberapa saat menanti sang putra, tapi Daniel tak kunjung masuk ke dalam untuk bersiap ke rumah Fatiya.


Daniel segera tersadar dan langsung mendorong tubuh Santi.


"Ma, ini tak seperti yang mama lihat, Ma."

__ADS_1


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_2