
'Sebaiknya, aku keluar lewat pintu belakang. Kebetulan, mobil Papa tidak dibawa.' Akbar berjalan berjingkat menuju pintu belakang, setelah berhasil mendapatkan kunci mobil sang papa yang disimpan oleh Attar di atas nakas.
Baru saja Akbar keluar dari pintu belakang, terdengar sang mama menjerit memanggil namanya.
"Bang, Bang Akbar!" seru Mama Susan yang terdengar mulai panik.
Akbar bukannya berhenti dan kembali masuk ke dalam pemuda itu justru berlari menjauh dari paviliun untuk menuju ke parkiran mobil.
Kali ini saja, Akbar terpaksa mengabaikan sang mama. Pikiran Akbar tidak tenang, jika dia hanya berdiam diri saja. Sementara di luar sana, gadis yang diam-diam telah mampu membuka hati Akbar, tak tahu bagaimana nasibnya.
"Maafkan Akbar, Ma," gumam Akbar, sambil berlari.
Akbar semakin mempercepat larinya, hingga berhasil sampai di samping mobil sang papa tanpa ada yang dapat mengejar karena yang tertinggal di paviliun, hanya kaum wanita.
Putra sulung Papa Alvian itu segera membuka pintu mobil, dia duduk di belakang kemudi dan mulai menghidupkan mesin mobil.
'Aku aktifkan GMap dulu karena aku buta kota ini, daripada tanya-tanya pasti kelamaan.' Akbar kemudian mengetikkan nama daerah yang akan dia tuju, seperti yang dia dengar tadi ketika Kevin berbicara dengan sahabat-sahabatnya.
Perlahan, mobil mewah tersebut mulai keluar dari area parkir untuk menuju ke tempat dimana Fatiya disekap. Akbar mengikuti petunjuk GMap yang dia aktifkan.
Meski belum pulih sempurna dari kecelakaan yang dia alami tadi siang, Akbar tetap melajukan mobil sang papa dengan kecepatan tinggi.
"Aku harus segera sampai di sana, semoga aku tidak terlambat," gumam Akbar, yang menambah kecepatan laju mobilnya.
Pemuda itu seolah tidak ada kapoknya dan sama sekali tidak merasa trauma karena yang ada di benak Akbar saat ini, bagaimana agar dirinya bisa segera menemukan Fatiya.
Jalanan cukup lengang karena malam semakin larut, apalagi rintik hujan yang tadi sempat turun, membuat hampir sebagian besar orang malas untuk keluar rumah jika memang tidak ada keperluan yang mendesak.
'Ya, Rabb. Lindungi Fatiyaku,' do'a Akbar dengan sepenuh hati.
☕☕☕
Di dalam mobil Daddy Rehan yang dikendarai oleh Om Alex, daddy enam anak itu nampak hendak menghubungi seseorang ketika mobil yang ditumpangi baru saja meninggalkan area rumah sakit.
"Mau telepon siapa, Rey?" tanya Papa Alvian yang duduk di belakang bersama Om Devan.
"Gue akan hubungi polisi, Bang. Lokasi yang kita tuju jauh, gue khawatir akan terjadi sesuatu pada gadis itu jika tidak segera datang pertolongan," balas Daddy Rehan.
__ADS_1
"Sementara posisi Malik juga masih cukup jauh, dari gedung tua itu," imbuhnya.
Papa Alvian mengangguk, setuju. Begitu pula dengan yang lain.
"Ngebut, Lex! Bisa enggak? Kalau enggak berani, turun! Biar gue yang nyetir!" seru Om Devan yang duduk di bangku belakang karena Om Alex tiba-tiba memelankan laju kendaraannya.
"Sabar, Dev. Ada rombongan sirkus lewat, masak iya enggak gue kasih jalan," balas Om Alex dengan asal, ketika di depannya terlihat ada orang gila yang menyebrang jalan tidak pada tempat yang seharusnya.
Di belakang mobil mereka, rombongan Mirza, Attar, Damian dan Abraham juga memelankan laju mobil, tanpa ingin mendahului mobil para orang tuanya.
☕☕☕
Sementara di gedung tua, tempat dimana Fatiya disekap oleh uwanya sendiri, gadis itu menuruti semua keinginan Pak Dodi karena memang selama ini, Fatiya sama sekali tak pernah tahu tentang harta tersebut.
"Kenapa Uwa harus pakai cara seperti ini, Wa?" tanya Fatiya dengan air mata berlinang.
"Sudah, jangan banyak bicara! Segera tandatangani!" titah Pak Dodi.
"Tanpa Uwa harus memaksa, Fafa juga tak masalah jika ruko dan rumah itu akan Uwa jual karena selama ini pun, kami tidak pernah menikmati uang sewanya, bukan?" Fatiya mengusap kasar air matanya, setelah menandatangani surat jual beli tersebut.
Ya, tujuan Pak Dodi meminta tanda tangan Fatiya karena orang tua itu akan menjual ruko-ruko tersebut. Sehingga Pak Dodi perlu untuk mengambil alih terlebih dahulu kepemilikan ruko menjadi atas nama Pak Dodi sendiri, agar lebih mudah proses penjualannya.
"Bawa dia keluar dari sini dan turunkan di jalan raya yang tadi!" titah Pak Dodi pada laki-laki berbadan kekar yang bernama Cecep, sambil melemparkan segepok uang ke hadapan Cecep.
"Siap, Bos," balas Cecep seraya menciumi uang tersebut. Cecep dan temannya tertawa senang.
"Wa, Fafa ikut Uwa, ya," rajuk Fatiya yang tidak mau ditinggalkan bersama dua orang asing yang masih tertawa senang karena mendapatkan banyak uang.
"Tidak! Kamu bersama mereka!" tolak Pak Dodi.
"Fafa ikut Uwa," Fatiya memohon sambil memegang tangan Pak Dodi, gadis itu tetap masih merasa nyaman jika bersama uwanya daripada bersama dua laki-laki yang bertampang preman tersebut.
"Pegang dia!" titah Pak Dodi pada dua orangnya itu.
Laki-laki yang tadi mengemudikan mini bus, segera memegang tangan Fatiya dengan kuat karena gadis itu terus meronta ingin mengejar Pak Dodi.
"Wa, Fafa ikut!" seru Fatiya, memohon.
__ADS_1
Pak Dodi nampak tak perduli, laki-laki paruh baya tersebut terus berjalan keluar dari gedung tua dan kemudian segera melajukan mobil Jeep miliknya, meninggalkan Fatiya di gedung tua.
Menyisakan Fatiya dan dua orang berpenampilan preman, yang menatap Fatiya dengan tatapan lapar.
"Bagaimana, Cep. Apa kita akan langsung pulang?" tanya laki-laki yang tadi mengemudikan mini bus, yang badannya lebih kecil dari Cecep. Dia masih memegang dengan erat kedua tangan Fatiya.
"Sayang banget kalau kita langsung pulang, pesta dululah kita ... masak ada barang bagus gini dianggurin," balas Cecep seraya menelan ludah.
Laki-laki kekar itu mulai bergerak mendekati Fatiya yang masih di pegang oleh temannya.
"Ja-jangan, Om. Tolong, biarkan saya pulang," rintih Fatiya, ketakutan. Air mata gadis itu kembali mengucur, tak tahu bagaimana nasibnya nanti.
'Ya, Rabb. Tolong hamba-Mu yang lemah ini, beri hamba kekuatan agar bisa melepaskan diri dari dua orang ini.'
Fatiya memejamkan mata, ketika Cecep semakin mendekatkan wajahnya. Aroma alkohol tercium oleh Fatiya hingga membuat perut gadis itu menjadi mual.
"Om, saya mau muntah!" ucap Fatiya seraya menahan sesuatu yang bergolak di dalam perut.
"Jangan coba-coba untuk membodohi kami, gadis kecil!" bentak Cecep, laki-laki sangar itu terus mendekatkan wajah hingga jaraknya hanya beberapa inci saja dari Fatiya.
Teman Cecep yang masih memegangi tangan Fatiya tergelak. "Langsung sikat saja, Cep. Masak kita mau dibodohi kelinci kecil seperti ini," sarannya pada Cecep.
Cecep langsung memegang dagu lancip Fatiya, dia semakin mendekatkan wajah hendak mencium bibir mungil Fatiya.
Tiba-tiba, Cecep berteriak seraya mengumpat dengan kasar, ketika Fatiya menyemburkan muntahannya tepat di wajah Cecep.
"Breng*sek! Ja*lang sialan! Kubunuh kau!" Cecep nampak kebingungan mencari air karena matanya pun tak luput dari cairan yang keluar dari mulut Fatiya, hingga pandangan Cecep menjadi kabur.
"Bro, ambilkan air di mobil, cepat!" titah Cecep pada temannya.
"Dia bagaimana?" Laki-laki yang masih memegang Fatiya nampak ragu, untuk melepaskan tangan gadis yang telah membangunkan hasratnya tersebut.
"Lepaskan dulu, kalaupun dia kabur, kita pasti bisa menangkapnya," balas Cecep. "Cepat!" titahnya kembali, dengan tidak sabar karena laki-laki itu sudah merasa tidak nyaman.
Mendapatkan kesempatan untuk kabur, Fatiya tidak menyia-nyiakannya. Gadis itu segera berlari dengan sekuat tenaga, menjauh dari gudang tua tersebut.
Fatiya berlari menuju ke arah cahaya terang di kejauhan, berharap di sana adalah jalan raya atau pusat keramaian. Dia berlari ke arah kiri, berlawanan dengan ketika mobil yang membawanya datang tadi.
__ADS_1
"Ayo kita kejar dia!"
🍀🍀🍀🍀🍀 tbc 🍀🍀🍀🍀🍀