
"Cukup, Sayang. Aku sudah on dan aku menginginkan dia," pinta laki-laki yang bertubuh lebih kecil.
Daniel menghela napas panjang. 'Tuhan, ambil saja nyawaku sekarang daripada aku harus menanggung malu seumur hidupku jika aku berhubungan dengan orang-orang seperti mereka,' pinta Daniel pasrah.
Laki-laki yang berbadan kekar dengan banyak tattoo di lengan dan dadanya itu segera menarik tangan Daniel, untuk dibawa ke tempat yang diinginkan sang kekasih.
"Ayo, cepatlah!" seru laki-laki tersebut.
Daniel yang menyadari bahwa kekuatannya pasti tidak sebanding dengan laki-laki yang menyeret tangannya, dengan segenap keberanian yang ada menendang kuat bagian vital laki-laki tersebut.
"Aw!" teriak laki-laki bertatto yang langsung melepaskan tangan Daniel, hingga Daniel memiliki kesempatan untuk melarikan diri.
Beberapa teman laki-laki itu yang sedang tidak bergumul bersama pasangan, langsung mengejar Daniel.
Deniel terus berlari ke arah pusat keramaian karena sepanjang berlari di pinggir jalan raya, Daniel sudah mencoba meminta pertolongan dengan melambaikan tangan pada para pengendara, tapi tak satupun diantara sekian banyak kendaraan yang melewatinya, ada yang mau berhenti.
Mungkin karena para pengendara itu juga tidak mau terlibat dalam masalah, yang belum mereka ketahui ujung pangkalnya.
"Hah, sepertinya sudah aman," gumam Daniel.
Napas Daniel tersengal, ketika pemuda itu telah sampai di depan sebuah minimarket yang buka dua puluh empat jam. Tanpa pikir panjang, Daniel segera masuk ke dalam minimarket tersebut.
"Alhamdulillah," ucapnya dengan penuh rasa syukur, seperti yang sering dia dengar dari mulut Fatiya.
Pemuda itu menghela napas lega, begitu sudah berada di dalam minimarket. Daniel kemudian mengambil air mineral dan langsung meminumnya meski dia belum membayar minuman tersebut.
Baru setelah meminum hingga tandas air dalam botol plastik tersebut, Daniel kemudian menuju kasir untuk membayar. Pemuda itu tak peduli, ketika beberapa orang di dalam minimarket tersebut menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Berapa, Mbak?" tanya Daniel.
Kasir minimarket kemudian menyebutkan sejumlah angka dan Daniel langsung membayar tagihan air mineralnya.
"Mbak, bisa numpang ke kamar kecil?" tanya Daniel, dia bermaksud untuk membasuh wajahnya.
__ADS_1
"Silahkan, Mas. Di sebelah sana," balas Kasir wanita seraya menunjuk sebuah pintu yang berada di bagian belakang minimarket tersebut.
Daniel tersenyum. "Terimakasih, Mbak."
Pemuda itu segera melangkah menuju pintu yang ditujuk oleh kasir.
Tak berapa lama, Daniel telah keluar dengan wajah yang terlihat lebih segar. Sebelum keluar dari dalam minimarket, Daniel memesan taksi online terlebih dahulu.
Setelah mendapatkan taksi dan sopir taksi mengkonfirmasi bahwa dalam waktu lima menit akan tiba di lokasi, Daniel memutuskan untuk menunggu di teras dan duduk di tempat yang telah tersedia.
'Sepertinya, di sini cukup aman,' batin Daniel. 'Harusnya, dari tadi aku pesan taksi online jadi aku enggak perlu mengalami kejadian seperti tadi,' lanjutnya seraya meraba bibirnya yang masih terasa perih ketika bersentuhan dengan air.
'Mungkin ini adalah hukuman untukku, atas perbuatan zina yang telah aku lakukan. Mungkin juga, ini adalah peringatan, agar aku lebih mendekatkan diri lagi kepada-Nya.'
āāā
Sementara itu di rumah megah kediaman keluarga Akbar. Pemuda itu baru saja masuk ke dalam rumah, yang langsung di sambut oleh kedua orang tuanya, serta dua orang berusia senja yang selama ini sangat menyayangi Akbar.
"Bang Akbar, apa benar yang dikatakan adikmu tadi, Bang?" tanya wanita yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu dengan netra berbinar.
"Memangnya, Attar bilang apa, Budhe?" tanya Akbar, setelah pemuda itu mencium punggung tangan budhenya, budhe Lin.
Akbar kemudian menyalami pakdhenya. "Pakdhe kok belum sare?" tanya Akbar, yang menggunakan kata-kata dari bahasa Jawa, seperti yang sering dia dengar dari ketiga keponakan sang papa yang memang lahir di Jawa.
"Itu, budhemu yang ngeyel mau nungguin kamu pulang katanya," balas Pakdhe Ilyas. "Pengin dengar cerita kamu, Bang," lanjut laki-laki yang rambutnya telah memutih tersebut.
Akbar mengerutkan dahi. "Cerita Akbar? Cerita apa, Budhe?" tanya Akbar, menoleh ke arah budhenya.
"Katanya, Bang Akbar sudah punya gandengan," balas sang papa, mewakili kakak perempuannya. "Apa benar begitu, Bang? Bang Akbar sudah memiliki seseorang yang cantik dan spesial seperti mama?" lanjut papanya Akbar bertanya seraya terselip sebuah kalimat manis untuk sang istri tercinta.
Laki-laki paruh baya yang masih terlihat gagah itu, kemudian menatap sang istri seraya tersenyum penuh cinta.
Akbar kembali mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Bukan Attar Bang, tapi Inez yang tadi keceplosan," ucap Attar yang baru turun dari tangga dan langsung membela diri, sebelum kena sembur sang abang.
"Ck," Akbar berdecak kesal. Maksud hati ingin memberikan š“š¶š³š±š³šŖš“š¦ pada keluarganya, tetapi harus gagal karena kelakuan adik dan keponakannya sendiri.
"Kalau memang benar seperti itu, ya baguslah, Bang," tutur sang mama seraya mengusap lembut punggung Akbar.
"Iya, benar itu, Bang. Budhe juga ikut senang mendengarnya," timpal Budhe Lin, yang ikut tersenyum bahagia.
"Duduk dulu, yuk!" ajak sang mama. Wanita cantik itu kemudian menuntun sang putra untuk duduk di sofa, di ruang keluarga, yang diikuti oleh semua.
"Kak Fafa cantik banget lho, Ma," ucap Attar ketika sang abang baru saja duduk. Adik Akbar itu kemudian ikut duduk di samping abangnya.
Akbar mendengkus kesal karena Attar lagi-lagi membuka rahasianya.
Sementara sang papa yang terlihat semakin tampan di usianya yang matang, hanya tersenyum melihat kelakuan kedua putranya tersebut.
"Bang, dapat darimana, yang kayak tadi?" tanya Attar, yang langsung mendapatkan hadiah sentilan di kening Attar oleh sang abang.
"Dapat darimana? Memangnya barang!" protes Akbar.
"Memang dia siapa, Bang?" tanya sang papa kemudian.
"Dia pegawainya Kak Angga di š“š©š°šøš³š°š°š®, Pa," balas Akbar.
"Tak masalah, dia itu siapa dan darimana, asalkan gadis itu gadis yang baik dan taat beribadah," tutur Pakde Ilyas dengan bijak.
Yang lain langsung mengangguk, setuju.
"InsyaAllah, Fafa gadis yang baik Pakdhe. Hanya saja, status dia saat ini masih tunangan laki-laki lain," ucap Akbar yang membuat mereka semua yang berada di sana, membulatkan mata tak percaya.
ššššš tbc ššššš
__ADS_1