Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Masih Ada yang Tertinggal


__ADS_3

'Fafa pamit, Kak. Fafa memutuskan untuk membatalkan pernikahan dengan Daniel dan mengikuti keinginan ibu untuk pindah ke luar kota. Maaf dan terimakasih untuk semua kebaikan Kakak dan Pak Angga yang tidak dapat Fafa sebutkan satu-persatu.'


Angga meletakkan ponsel tersebut dan kemudian memeluk sang istri yang telah terisak.


"Perasaannya pasti hancur banget, Kak," isak Diandra. "Kita pulang sekarang juga, ya," pintanya kemudian.


"Coba kamu hubungi Fafa dulu, jam segini dia pasti sudah bangun," titah Angga, seraya melerai pelukan.


Didi mengangguk setuju. Wanita cantik itu kemudian segera mendial nomor Fatiya, tetapi nomor yang dituju tidak dapat dihubungi meski berkali-kali Diandra mencoba untuk mengulanginya, hasilnya tetap sama.


"Enggak bisa dihubungi, Kak. Nomor Fafa enggak aktif," ucap Diandra.


"Kirim pesan saja, Sayang. Nanti kalau sudah aktif, dia pasti menghubungi kamu," saran Angga.


Diandra pun menuruti saran sang suami, dia menuliskan sebuah pesan dan segera mengirimkan ke nomor Fatiya.


"Kak, aku pesan penerbangan sekarang, ya. Aku mau cari yang paling pagi," ucap Diandra setelah selesai mengirim pesan pada Fatiya, istri cantik Angga itu kemudian membuka aplikasi untuk mencari dan memesan tiket penerbangan balik ke Jakarta.


"Kak, Kak Angga coba suruh orang kita, untuk mengecek ke rumah Fafa. Kalau mereka belum pergi, agar dicegah dulu sampai kita datang," pinta Diandra, seraya tangannya masih sibuk men-scroll daftar jadwal penerbangan hari ini.


"Iya," balas Angga singkat. Suami dewasa Diandra itu kemudian segera mengaktifkan ponsel yang tadi sempat tertunda karena dirinya tergoda sama sang istri. Angga kemudian menelepon salah seorang š˜“š˜¦š˜¤š˜¶š˜³š˜Ŗš˜µš˜ŗ yang bertugas di š˜“š˜©š˜°š˜øš˜³š˜°š˜°š˜® miliknya, yang malam ini berjaga.


Diandra tiba-tiba turun dari tempat tidur ketika Angga masih berbicara pada anak buahnya di seberang sana, wanita cantik itu nampak buru-buru berkemas.


"Sayang, kenapa buru-buru? Dapat penerbangannya? Jam berapa?" berondong Angga dengan banyak pertanyaan setelah menutup panggilannya, ketika melihat sang istri memasukkan barang-barang mereka ke dalam š˜µš˜³š˜¢š˜·š˜¦š˜­ š˜£š˜¢š˜Ø.


"Dapat, Kak. Penerbangan pertama, jam lima," balas Diandra. "Kita berangkat sekarang ya, Kak. Kita shubuhan di bandara saja, daripada nanti terlambat," lanjut Diandra dengan cepat dan tanpa jeda, membuat Angga hanya bisa melongo.


Ya, Angga sangat tahu bahwa sang istri sangat menyayangi pegawainya itu. Istrinya yang sangat sensitif jika melihat keadaan orang lain yang kesusahan, seolah mengingat keadaan dirinya sendiri di masa lalu, sehingga begitu Fatiya melamar kerja demi untuk bisa membiayai kuliah, Diandra langsung meminta pada Angga agar menerima Fatiya.


"Baiklah, kamu lanjutkan berkemas, Di. Aku akan membangunkan sopir," ucap Angga yang langsung keluar dari kamar dan membiarkan sang istri membereskan sendiri barang mereka yang tak seberapa banyak.


Tak lama kemudian, Angga kembali masuk ke dalam kamar. "Sudah selesai, Sayang?"


Diandra yang sedang mengoleskan lipstik di bibirnya mengangguk.

__ADS_1


Angga mematung, menatap sang istri dari pantulan cermin. "Kamu makin hari makin cantik saja, Sayang," puji Angga. "Jika saja kita tidak buru-buru, aku masih ingin lebih lama lagi bersamamu," lanjut Angga yang kemudian mendekap istrinya dari belakang.


"Kak, lain kali ya, kita liburan berdua lagi. Sekarang, kita pulang dulu. Didi enggak mau Fafa merasa sendirian," ucap Diandra, seraya mengusap pipi sang suami.


Diandra merasa beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi dirinya dan keluarga kecilnya. Dia tak perlu khawatir meninggalkan sang buah hati, jika sang suami menginginkan berlibur hanya berdua dengan Diandra karena banyak keluarga yang membantu mengawasi kedua putra dan putrinya.


Memiliki ibu asuh yang sangat baik dan kini menjadi neneknya, mertua yang sangat sayang pada Diandra, serta ibu sambung yang memperlakukan Diandra layaknya putri kandung.


Belum lagi para saudara dan juga sahabat, yang selalu ada untuk Diandra dan Angga, kapan pun mereka berdua butuh bantuan.


"Baiklah, Sayang. Lain kali kita ke Labuan Bajo," balas Angga.


Diandra hanya bisa mengangguk, setuju.


Angga kemudian melabuhkan kecupan ringan di bibir sang istri, sebelum keduanya beranjak dan segera keluar dari kamar untuk menuju Bandara.


"Kak, aku coba telepon Bang Akbar, ya," ucap Diandra, ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


Diandra segera mengambil ponsel dari dalam tas dan kemudian mendial nomor Akbar.


"Kenapa? Enggak aktif?" tebak Angga.


Diandra mengangguk.


"Ya, sudah. Kita nanti langsung ke rumah Om Vian atau langsung ke kantor Akbar, kalau sampai Jakarta kesiangan," ucap Angga yang mencoba menenangkan sang istri. Angga kemudian menyandarkan kepala Diandra itu ke bahunya.


"Kak, sudah ada kabar dari orang kita, belum?" tanya Diandra beberapa saat kemudian.


Angga mengecek ponselnya, khawatir jika ternyata ada panggilan masuk tetapi dia tak mendengar. "Belum, Sayang," balas Angga. "Mungkin sebentar lagi," lanjutnya.


Angga baru saja akan mengantongi kembali ponselnya, ketika ponsel tersebut bergetar tanda ada panggilan masuk.


"Dari Toni," ucap Angga memberitahukan pada sang istri, siapa yang menelepon dirinya.


"Di š˜­š˜°š˜¢š˜„ š˜“š˜±š˜¦š˜¢š˜¬š˜¦š˜³, Kak," pinta Diandra yang ingin ikut mendengarkan kabar tentang Fatiya.

__ADS_1


"Iya, Toni. Bagaimana?" tanya Angga tanpa basa basi, setelah menggeser gambar ponsel berwarna hijau untuk menerima panggilan dari Toni.


"Rumah Mbak Fatiya sepertinya kosong, Mas Angga. Saya sudah mencoba mengetuk pintunya berkali-kali, tetapi tidak ada yang menyahut. Rumahnya juga gelap, Mas," terang Toni dari seberang sana.


Mendengar penjelasan Toni, Diandra menghela napas panjang. Netra wanita cantik itu kembali mengembun, membayangkan bagaimana perasaan gadis yang sudah seperti adik baginya itu.


ā˜•ā˜•ā˜•


Pagi-pagi sekali, Fatiya dan ibunya yang sudah bersiap di dalam kamar perawatan, keduanya menoleh dengan kompak ke arah pintu ketika mendengar suara salam dari sopir taksi yang semalam mengantarkan Fatiya pulang ke rumah untuk mengambil pakaian.


"Assalamu'alaikum, Mbak, Bu," sapa salam sopir tersebut yang semalam ikut membawakan tas Fatiya sampai ke kamar Bu Saidah.


"Wa'alaikumsalam, Pak," balas ibu dan anak itu dengan kompak.


"Bapak tepat waktu, ya," sambut Fatiya seraya tersenyum.


"Iya, Mbak. Saya 'kan sudah janji sama Mbak semalam, jadi ya harus saya tepati," balas sopir tersebut.


"Kalau Mbak dan Ibunya sudah siap, mari, biar saya bawakan tasnya," pinta pak sopir yang kemudian mengambil koper besar milik Fatiya yang semalam dibawakan oleh sopir taksi itu.


Fatiya yang membawa tas pakaian berukuran sedang, kemudian berjalan mengekor di belakang pak sopir, sambil menuntun sang ibu yang sebenarnya belum begitu pulih.


Setelah menyimpan barang bawaan penumpangnya di bagasi, sopir taksi tersebut segera masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.


"Maaf, Mbak. Jadinya diantar sampai kota tujuan atau sampai mana?" tanya Pak Sopir, memastikan kembali pada penumpangnya.


Fatiya menoleh ke arah sang ibu.


Bu Saidah kemudian menggenggam erat tangan sang putri. "Ibu tidak mau egois, Nak. Ibu serahkan kembali semua padamu," tutur Bu Saidah.


"Satu hal yang ingin ibu sampaikan padamu, tanamkan di hatimu aqidah atau keyakinan yang kokoh sehingga tidak ada lagi keraguan yang mengiringinya, bahwa Allah pasti akan memberikan pengganti yang lebih baik, seorang pemuda yang InsyaAllah akan bisa menjadi imam bagimu dan juga anak-anak kalian kelak." Bu Saidah menatap sang putri dengan tatapan lembut.


Fatiya mengangguk mengerti, tetapi gadis itu seolah ragu untuk memutuskan. Fatiya seperti merasakan masih ada yang tertinggal, tetapi dirinya tidak mengetahui apa, itu?


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€

__ADS_1



__ADS_2