Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Di Kota Tempat Asal Ayahnya


__ADS_3

Keesokan harinya, Akbar mendatangi kampus Fatiya untuk mencari tahu informasi tentang kedua orang tua gadis cantik yang sudah menyeruak masuk ke dalam hati Akbar dan memporak-porandakannya dengan kepergian Fatiya yang tiba-tiba.


Pemuda tampan itu bersama dua pengawal pribadinya tersebut, menjadi pusat perhatian gadis-gadis di kampus, termasuk keluarga peserta wisudawan yang hari ini memenuhi ballroom kampus tempat Fatiya menimba ilmu.


"Bagian administrasi di sebelah sana, Tuan Muda," ucap salah seorang 𝘣𝘰π˜₯𝘺𝘨𝘢𝘒𝘳π˜₯ Akbar setelah mencari tahu pada salah satu mahasiswi yang kebetulan berpapasan dengan Akbar dan kedua pengawalnya.


Bisik-bisik pun terdengar dari para mahasiswi yang baru saja ditanyai oleh pengawal putra sulung keluarga Alvian Antonio tersebut.


"Wah, mimpi apa ya gue semalem, bisa lihat cowok sekeren itu!" pekik salah satu gadis seraya menutup mulutnya agar pemuda yang dibicarakan tidak mendengar suaranya.


"Iya, lu benar. Sumpah, itu cowok tampan banget ... mana harum lagi," sahut temannya, seraya menghirup udara yang baru saja dilalui Akbar, dalam-dalam dan mengisi rongga paru-parunya dengan aroma wangi parfum Akbar.


"Kayak pangeran-pangeran dalam negeri dongeng bukan, sih. Gagah, tampan, dikawal 𝘣𝘰π˜₯𝘺𝘨𝘢𝘒𝘳π˜₯. Pasti dia salah satu anak Sultan di negeri ini," timpal yang lain, dengan netra yang menatap kagum pada Akbar. Tatapannya terus mengikuti kemana kaki panjang Akbar melangkah.


Meskipun Akbar mendengar bisik-bisik tersebut, tetapi pemuda itu sama sekali tak menggubrisnya. Pemuda tampan itu tetap melangkah dengan pasti menuju gedung yang ditunjuk oleh pengawalnya, yang senantiasa setia mengiringi langkah putra sulung keluarga Alvian Antonio.


Fokus Akbar hanya tertuju pada satu nama, Fatiya, yang telah mampu memenuhi ruang kosong di hati Akbar. 'Ya, Rabb. Mudahkan jalan hamba untuk dapat menemukan Fafa jika memang dia jodoh hamba,' doa Akbar dalam hati, seraya terus melangkah menuju gedung bertingkat di hadapannya.


"Pagi, Mbak. Bisa kami menemui kepala bagian administrasi?" tanya salah satu pengawal Akbar, pada salah satu pegawai yang bertugas.


"Maaf, Pak. Beliau sedang mengikuti acara wisuda di ballroom," balas wanita muda itu dengan ramah.


"Kalau begitu, apa Anda bisa membantu kami, Mbak?" tanya Akbar seraya tersenyum sopan. Sebuah senyuman yang mampu menghipnotis pegawai wanita yang berusia sekitar dua puluh lima tahun, tak jauh beda dengan usia Akbar.


Wanita itu mengangguk.


Akbar kemudian menyampaikan keinginannya, meskipun awalnya sangat alot karena data pribadi mahasiswa di kampus tersebut bersifat 𝘱𝘳π˜ͺ𝘷𝘒𝘴π˜ͺ yang tidak sembarang orang bisa mengaksesnya, tetapi Akbar berhasil meyakinkan pegawai administrasi itu meski dengan jaminan.


"Oke, saya akan tinggalkan identitas diri saya sebagai jaminan. Jika saya terbukti menyalahgunakan data pribadi Fatiya, maka saya bersedia untuk di tuntut dan di proses sesuai hukum yang berlaku," ucap Akbar meyakinkan. Pemuda tampan itu kemudian menyodorkan kartu identitasnya.


Wanita itu mengangguk dan kemudian membuka π˜₯𝘒𝘡𝘒𝘣𝘒𝘴𝘦 dan mencari nama Fatiya. Setelah menemukan data diri yang diminta oleh tamunya, pegawai administrasi kemudian mencetak dan memberikan pada Akbar.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Di sudut ruangan sana ada CCTV yang merekam pertemuan kita pagi ini, maka jika Anda berusaha untuk main-main, kami tidak segan untuk menindak Anda!" peringat pegawai tersebut dengan tegas, seraya menunjuk CCTV yang berada di salah satu sudut ruangan administrasi.


Kedua pengawal pribadi Akbar hendak bertindak, mendengar nada ancaman dari pegawai administrasi tersebut, tetapi Akbar mencegah dengan isyarat tangannya.


Akbar tersenyum. "InsyaAllah saya orang baik, Mbak. Jangan khawatir," ucap Akbar. "Terimakasih karena Anda sudah bekerja dengan sangat baik, kinerja Anda layak untuk diapresiasi," lanjut Akbar.


Pemuda itu kemudian menelepon seseorang dan menyampaikan keinginannya, agar pegawai yang baru saja membantu Akbar diberikan apresiasi atas kinerjanya yang jujur.


Ya, kampus tempat Fatiya menempuh pendidikan S1-nya adalah kampus yang bernaung dibawah bendera perusahaan Salma, istri Kevin. Perusahaan yang diwariskan oleh sang Kakek yang berdomisili di Makassar.


Akbar bisa saja menggunakan jalur khusus untuk mempermudah mendapatkan data diri salah satu mahasiswa di kampus tersebut, tetapi sang papa semalam menyarankan agar Akbar berusaha sendiri.


Mendengar Akbar menelepon seseorang yang sangat disegani di kampusnya, pegawai wanita itu langsung menundukkan kepala. "Ma-maafkan saya yang telah lancang, Tuan Muda," pintanya dengan suara bergetar.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mbak. Terimakasih sudah membantu saya." Akbar segera beranjak.


β˜•β˜•β˜•


Om Alex dan Om Devan nampak memantau orang-orangnya yang sudah mulai bergerak untuk mengecek CCTV di berbagai tempat, seperti terminal bis, stasiun, pool taksi dan agen travel bahkan juga bandara.


Daddy Rehan tetap menyarankan untuk mengecek tempat-tempat tersebut, sambil menunggu Akbar mendapatkan data diri Fatiya lengkap dengan kedua orang tuanya. Untuk memastikan, apakah benar Fatiya sudah meninggalkan ibukota atau dia dan ibunya masih berada di salah satu rumah sakit di Jakarta.


"Gimana, Lex, orang-orang lu?" tanya Om Devan yang baru saja menutup sambungan teleponnya.


Om Alex menggeleng. "Belum ada titik terang," balasnya lesu. "Orang lu yang di bandara, bagaimana?" tanya Om Alex balik.


"Sama saja," balasnya singkat.


"Minum dulu, Bang, biar lebih 𝘧𝘳𝘦𝘴𝘩 otak kita," tawar seseorang yang baru saja gabung sambil membawa baki berisi tiga cangkir kopi, seraya terkekeh pelan.


"Kusut amat tuh, wajah. Kayak baju enggak diseterika," imbuhnya, setelah duduk tepat di hadapan Om Alex dan Om Devan.

__ADS_1


"Gimana enggak kusut, abang sepupu kamu dari tadi neror dan nanyain terus gimana progresnya, ada perkembangan apa tidak, sebel!" gerutu Om Alex.


Om Devan terkekeh. "Lagian, kenapa lu ambil pusing sih, Lex? Udah tahu 'kan, si Rey dari dulu seperti itu?"


Om Alex kemudian ikut terkekeh. "Masalahnya bukan hanya si Rey, yang nanyain terus, Bro, tapi mak mertua juga. Beliau 'kan sayang banget sama Akbar," balas Om Alex.


Om Alex, Om Devan dan pemuda dewasa itu pun kemudian terkekeh bersama.


"Kalau tuh cewek kaburnya ke Bali, Adam bisa, sih, bantu cariin. Atau ke Jogja, Adam juga masih ada akses di sana, tapi kalau ke tempat lain, Adam nyerah," ucap Adam kemudian, setelah tawa mereka reda.


Ya, Om Alex dan Om Devan ternyata sedang menunggu instruksi selanjutnya dari Daddy Rehan dan dari papanya Akbar di salah satu kafe milik Adam di Jakarta.


Kebetulan, Adam dan istrinya, Melati, sedang berada di ibukota karena akan meresmikan cabang resto dan kafe mereka yang baru di daerah Kemang.


"Tarik orang-orang kita dan fokuskan untuk mencari Fafa di kota tempat asal ayahnya." Suara bariton yang baru saja datang, membuat mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara.


Dua orang pria paruh baya yang terlihat semakin matang dan penuh pesona, berjalan dengan langkah pasti mendekati meja mereka.


"Gue barusan juga sudah menyuruh Bang Malik untuk bergerak lebih dulu, sebelum orang-orang kita menyusul ke sana," imbuh Daddy Rehan, setelah duduk di samping Adam.


"Jadi, ayahnya Fafa berasal dari sana?" tanya Om Alex, memastikan.


"Ya, berdasarkan data diri Fafa yang di dapatkan Akbar dari kampus barusan," balas papa Alvian yang duduk di samping Om Devan.


Mereka berempat kemudian menyusun rencana, langkah apa harus ditempuh agar secepatnya dapat menemukan Fatiya.


Sementara Adam, hanya menjadi pendengar setia, meski sesekali ikut menimpali obrolan para pria paruh baya yang sudah banyak makan asam garam kehidupan tersebut.


Dering ponsel papa Alvian, sejenak menjeda obrolan mereka. "Dari pengawal Akbar," ucap papanya Akbar, memberitahukan pada yang lain siapa yang menghubunginya.


"Iya, ada apa?" tanya papa Alvian tanpa basa-basi.

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€ tbc πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2