
Mendapatkan kesempatan untuk kabur, Fatiya tidak menyia-nyiakannya. Gadis itu segera berlari dengan sekuat tenaga, menjauh dari gudang tua tersebut.
Fatiya berlari menuju ke arah cahaya terang di kejauhan, berharap di sana adalah jalan raya atau pusat keramaian. Dia berlari ke arah kiri, berlawanan dengan ketika mobil yang membawanya datang tadi.
'Ya Allah, semoga di sana aku bisa mendapatkan pertolongan,' harap Fatiya sambil terus berlari.
"Ayo, kita kejar gadis sialan itu!" Kamu bawa mobil, aku akan berlari saja," perintah Cecep, setelah laki-laki bertato itu membersihkan wajahnya dari muntahan Fatiya.
Mereka berdua segera bergerak ke arah kanan, arah dimana mereka tadi datang. Baru beberapa meter bergerak, datang mobil polisi yang tadi dihubungi oleh Daddy Rehan.
Dengan mudah, pengendara mini bus tertangkap. Sementara Cecep yang tidak menaiki mobil, berhasil kabur dan berlari menjauh menuju ke arah Fatiya berlari tadi.
Tepat di belakang mobil polisi, motor sport yang dikendarai Pendi datang bersama dengan mobil Malik.
"Kejar dia, jangan sampai lolos!" titah komandan polisi pada tiga anak buahnya. "Kalian, periksa gudang dan temukan gadis itu!" lanjutnya, pada beberapa anggotanya yang lain.
"Pak, dimana gadis itu?" tanya Malik yang langsung turun dari mobil.
"Sebagian anak buah kami, sedang memeriksa gudang tua itu, Mas," balas komandan polisi tersebut.
Sementara Pendi yang juga langsung turun dari motor, berlari menuju gudang tua tempat Fatiya disekap seraya memanggil nama gadis itu.
"Fa! Fafa! Apa kamu masih di dalam, Fa?" Pendi terus mencari, meski beberapa anggota yang sudah mendahului mencari, keluar dari gudang.
"Kami tidak menemukan siapa-siapa di dalam gudang, Ndan," lapor salah seorang anggota polisi pada atasannya.
"Kalian berdua, jaga dia! Yang lain, bantu mencari gadis itu!" titah komandan polisi kembali, pada anak buahnya.
Petugas polisi itu pun segera berpencar ke berbagai penjuru, untuk mencari Fatiya.
"Bagaimana, Mas Pendi?" tanya Pak Entis setelah melihat Pendi berjalan dengan lesu kembali menghampiri motornya.
__ADS_1
Pendi menggeleng. "Tidak ada, Pak. Fafa sudah tidak ada di sana," balas Pendi dengan raut wajah sendu.
"Pak, apa sudah ditanyakan pada orang itu, kemana Fafa?" tanya Malik, memastikan. "Dia kabur, atau mungkin sesuatu hal yang buruk telah dilakukan dan kemudian ...." Malik menghentikan ucapannya sendiri, dia tak sanggup membayangkan jika hal buruk terjadi pada Fatiya.
"Belum, Mas. Kami fokus pada temannya yang kabur tadi," balas komandan polisi. Komandan tersebut kemudian menuju mobil, dimana tawanannya berada.
Dari arah depan, datang dua mobil rombongan keluarga Antonio. Mereka semua segera turun, begitu mobil berhenti.
"Bagaimana, Bang?" Fafa selamat, kan?" tanya Papa Alvian yang langsung menghampiri Malik. Laki-laki paruh baya itu nampak tidak sabar, ingin mengetahui nasib Fatiya.
Malik menggeleng. "Fafa sudah tidak bersama penculik itu, Opa. Sudah dicari di dalam gudang, dia juga tidak ada di sana," balas Malik.
"Satu penculiknya berhasil kabur ke arah sana, Bang," timpal Papa Rahmat yang tadi datang bersama Malik, seraya menunjuk arah kiri gudang, tempat Fatiya disekap tadi.
Mereka semua sibuk dan panik karena Fatiya menghilang, hingga mereka tak menyadari ada satu mobil lagi yang datang.
Akbar segera turun dari mobil, di saat yang sama, komandan polisi kembali menghampiri Malik.
"Gadis itu berhasil kabur dari para penculik, Mas. Kedua penculik tadinya mau mengejar, tapi kami keburu datang," terang komandan polisi yang malam ini memimpin penyergapan penculikan Fatiya.
"Kalau menurut š§š¦š¦ššŖšÆšØ saya, kemungkinan gadis itu kabur ke arah sana, Mas. Kami akan kerahkan anak buah kami untuk mencari ke arah sana," tutur komandan polisi itu, kemudian.
Pendi yang mendengar penjelasan komandan polisi segera menghidupkan mesin motornya. "Mas Pendi mau kemana?" tanya Pak Entis.
"Saya akan mencari Fafa ke sana, Pak," tunjuk Pendi ke arah kiri gudang seperti perkiraan komandan polisi tadi.
"Saya ikut sama Mas Pendi, ya," pinta Pak Entis yang ikut khawatir dengan gadis yang dicari-cari banyak orang itu, termasuk big bosnya, Pak Rahmat. Pak Entis hendak menaiki motor, tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang.
"Maaf, Pak. Biar saya saja, yang ikut sama dia." Tanpa menunggu persetujuan dari Pak Entis dan juga pengendara motor sport tersebut, Akbar langsung naik ke boncengan motor Pendi.
"Ayo, jalan Bro," pinta Akbar seraya menepuk pundak Pendi.
__ADS_1
Pendi yang tak ingin membuang waktu lebih lama, segera melajukan motornya melewati orang-orang yang masih sibuk menerka kemana Fatiya kabur, tanpa mau tahu siapa yang ikut bersamanya.
Pendi hanya mengira-ngira, bahwa yang membonceng motornya pastilah bagian dari keluarga Malik.
Papa Alvian yang melihat Akbar sekilas, langsung berteriak memanggil sang putra. "Bang Akbar! Turun, Bang!"
Namun, suaranya tenggelam oleh suara knalpot motor Pendi, hingga Pendi terus melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalanan yang gelap dan semakin menyempit, yang hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua.
āāā
Sementara itu Fatiya yang masih berlari, semakin menambah kecepatan larinya ketika dibelakang terdengar suara yang dia kenali memanggil.
"Berhenti gadis sialan! Kamu harus menyelamatkan aku!" seru Cecep sambil terus berlari mengejar Fatiya.
Ya, Cecep yang kemudian kabur ke arah Fatiya berlari tadi, akhirnya dapat menyusul langkah kecil Fatiya karena Cecep memiliki langkah yang panjang dan kecepatan lari yang lebih cepat dari Fatiya.
"Berhenti, kelinci kecil!" seru Cecep kembali.
Fatiya tak mengindahkan panggilan laki-laki bertubuh kekar tersebut, dia terus berlari secepat yang dia mampu.
Gadis itu bahkan meninggalkan sandalnya yang terlepas begitu saja, hingga dia berlari di atas tanah berbatu hanya dengan kaki telanjang.
Fatiya tak merasakan sakit di kakinya, dia pun sama sekali tak merasa lelah meski sudah jauh berlari. Yang ada di benaknya saat ini, hanyalah bagaimana caranya dia dapat kabur dari orang jahat itu dan segera menemui sang ibu.
Gadis itu berlari dalam kegelapan, hingga tak jarang, tubuh rampingnya terkena goresan ranting yang menghalangi jalan karena sepertinya, jalan yang Fatiya lalui jarang dilewati oleh orang-orang.
'Ya Allah, kenapa di depan malah semakin gelap dan cahaya yang tadi kelihatan banyak semakin menghilang,' batin Fatiya mulai cemas.
Ingin Fatiya berhenti dan menoleh ke belakang, untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah jalan. Namun, ketakutan bertemu dengan laki-laki bertampang preman tadi menyergap hatinya, hingga membuat Fatiya tetap melanjutkan untuk terus berlari.
Fatiya yang masih berlari tak menyadari, bahwa jarak Cecep sudah semakin dekat dengannya.
__ADS_1
Hingga tepat di tikungan jalan, Cecep berhasil menarik tangan Fatiya. "Jangan coba-coba lari dariku, kelinci kecil! Karena kamu takkan pernah bisa menjauh dariku!" Tawa Cecep terdengar menggema di udara.
ššššš tbc ššššš