Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Tidak Becus Menjaga Kesetiaan


__ADS_3

Daniel segera tersadar dan langsung mendorong tubuh Santi.


"Ma, ini tidak seperti yang mama lihat, Ma," ucap Daniel yang mencoba meyakinkan sang ibu.


Ibunya Daniel menggeleng, netra wanita paruh baya itu memerah menahan amarah. "Tidak seperti yang mama lihat?" tanya ibunya Daniel seraya menatap tajam sang putra.


"I-iya, Ma. Daniel tahu, Daniel salah Ma karena tak langsung menolak Santi. Tapi percayalah sama Daniel, Ma, dia yang memulai," mohon Daniel.


"Tidak, Tan, Daniel bohong!" kilah Santi. "Daniel yang langsung mencium Santi, Tan," lanjutnya yang mulai terisak penuh drama.


"Duduklah dulu, Ma," pinta Daniel. Ibunya Daniel kemudian duduk kembali di sofa, tepat di hadapan keduanya.


"Daniel bahkan mengajak Santi untuk melanjutkan di kamar, Tan," imbuh Santi di sela isak tangis yang didramatisir.


Ibunya Daniel kembali menatap sang putra dengan penuh selidik.


"Dia bohong, Ma!" teriak Daniel kencang, pemuda itu tak perduli jika asisten rumah tangga mendengar suara teriakannya.


"Ma, kita bisa lihat sama-sama, Ma. Dia yang memulai!" geram Daniel karena Santi malah memutarbalikkan fakta. Daniel segera beranjak dan masuk ke dalam untuk mengambil laptop.


"Daniel yang maksa Santi, Tan," ucap Santi dengan lirih setelah Daniel menghilang dari pandangan mata, gadis itu seolah meminta simpati dari ibunya Daniel.


Wanita berwajah anggun itu memindai wajah Santi, mencari-cari kejujuran dari ucapan gadis yang saat ini duduk di hadapannya tersebut.


Tak berapa lama, Daniel telah kembali dengan laptop di tangan. "Kita lihat sama-sama, Ma," ucap Daniel seraya mendudukkan diri di samping sang ibu.


Daniel mulai menyalakan laptop dan kemudian membuka rekaman CCTV yang memang terpasang di ruang tamu tersebut. Ya, di kediaman orang tua Daniel dipasangi CCTV semenjak kejadian perampokan beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


Santi yang tidak mengetahui bahwa ada kamera CCTV di ruang tamu yang cukup luas tersebut, langsung menciut nyalinya.


'Sialan! Gagal rencana gue untuk menjebak Daniel, agar ibunya memaksa Daniel untuk menikahi gue!' kesal Santi dalam hati.


"Mama perhatikan baik-baik, Ma," pinta Daniel ketika layar datar di hadapan mereka berdua menampilkan gambar sang ibu yang beranjak untuk masuk ke dalam tadi.


Ibunya Daniel menanti adegan selanjutnya yang membuat darahnya tadi seketika naik, melihat sang putra berciuman dengan Santi di tempat terbuka di ruang tamunya.


"Daniel benar 'kan, Ma," ucap Daniel, kala netra mereka menangkap adegan Santi yang merangsek ke arah Daniel dan langsung melahap bibir Daniel.


"Astaga," tutur wanita paruh baya itu, seraya mengelus dada.


Wanita lembut itu kemudian menatap Santi dengan tatapan tajam. "Tante sama sekali tidak pernah menyangka, Santi, bahwa kamu ternyata bisa melakukan semua ini demi ambisimu untuk bisa mendapatkan Daniel!" tuturnya pelan, tapi penuh penekanan.


"Apa kurangnya keluarga tante sama kamu, San, sehingga kamu tega menghancurkan harapan kami semua." Netra teduh itu kini telah berkaca-kaca.


'Tapi, Tan, Santi lakukan semua ini karena Santi sa ...."


"Keluar kamu dari rumah ini, sekarang juga!" usir ibunya Daniel dengan berteriak, memotong ucapan Santi.


Daniel tersenyum tipis, ada sedikit kelegaan di hati pemuda tersebut karena sang ibu masih mempercayainya.


Santi yang tidak menyangka ibunya Daniel akan semarah ini padanya, menjatuhkan diri kembali di kaki ibu dari teman kuliahnya itu.


"Maafkan Santi, Tante. Maaf," ucap Santi yang semakin tersedu.


"Tidak, San. Tolong tinggalkan rumah tante sekarang juga," pinta ibunya Daniel dengan memelankan suaranya.

__ADS_1


"San! Lu keluar sendiri atau gue seret!" hardik Daniel yang membuat air mata Santi semakin menganak sungai.


Musnah sudah semua harapan yang Santi pupuk dari semalam untuk bisa menjebak Daniel masuk ke dalam permainannya, bisa dipastikan bahwa dirinya telah gagal untuk bisa mendapatkan Daniel meski pemuda yang dicintainya itu tidak jadi menikah dengan Fatiya.


"Tan, tolong beri Santi kesempatan untuk dapat membuktikan pada Tante dan juga Daniel, bahwa Santi bisa menjadi istri yang baik untuk Daniel, Tan," mohon Santi dengan tidak punya malu.


"Tidak!" tolak Daniel dengan tegas, yang disetujui oleh sang ibu dengan gelengan kepala seraya menatap Santi sekilas.


"Keluar!" usir Daniel sambil menyeret lengan Santi dan membawa wanita yang sepertinya memiliki gangguan psikologis tersebut, keluar dari rumahnya.


Daniel segera menutup rapat pintu rumah, agar Santi tidak dapat menerobos masuk. Pemuda itu kemudian kembali duduk di samping sang ibu.


"Maafkan Daniel, Ma," pinta Daniel kembali yang terdengar penuh penyesalan.


Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik karena rajin melakukan perawatan wajah dan tubuh itu, menggeleng pelan.


"Mama kecewa sama kamu, Niel, benar-benar kecewa! Mama memang tidak menyetujui jika Santi menjadi istrimu, tapi itu bukan berarti bahwa mama membenarkan perbuatan kamu!" Sang ibu menatap Daniel dengan netra yang masih berkaca-kaca dan hal itu membuat Daniel semakin merasa bersalah.


"Sebagai laki-laki, kamu tidak becus menjaga kesetiaan dan kehormatan diri. Mama tidak tahu lagi harus berkata apa, Niel," pungkasnya seraya beranjak.


Wanita paruh baya tersebut terus memegangi dadanya yang semakin terasa sesak, sambil melangkah masuk ke dalam.


Baru saja tubuh ibunya Daniel mencapai ruang tengah, tubuh wanita itu ambruk ke lantai yang menimbulkan suara hingga membuat Daniel yang mendengar langsung berlari ke arah sumber suara.


"Mama!"


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€

__ADS_1


__ADS_2