Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Penyesalan Daniel


__ADS_3

Sementara itu di sebuah rumah sakit, yang jaraknya tak begitu jauh dari kediaman keluarga Daniel, pemuda itu sedang termenung seorang diri di samping ranjang pasien.


Ibunya Daniel yang didiagnosa mengalami shock, masih belum sadarkan diri. Sementara sang ayah yang tadi langsung dihubungi Daniel, masih dalam perjalanan.


"Semua ini memang salahku, aku yang mudah tergoda melihat kemolekan tubuh Santi," sesal Daniel yang tak bisa dia perbaiki kembali.


"Aku harus segera selesaikan ini seperti pinta mama, aku enggak mau membuat mama bersedih lagi dan kepikiran dengan semua yang telah aku perbuat," tekad Daniel.


"Ya, begitu papa datang, aku harus segera menemui Fafa. Aku akan jelaskan semuanya," lanjutnya meneguhkan hati.


Daniel kembali menatap wajah teduh sang ibu yang nampak damai dalam tidur lelapnya.


"Sebaiknya aku telepon Fafa dulu, apakah dia sudah sampai rumah atau belum?" Daniel kemudian beranjak menuju sofa, agar suaranya nanti tidak mengganggu sang ibu.


Pemuda itu menggeser layar ponsel, membuka aplikasi dengan gambar telepon berwarna hijau.


Daniel kemudian mengklik daftar panggilan, netranya membulat sempurna kala mendapati ada banyak panggilan tak terjawab dari Fatiya sejak pukul empat sore.


"Astaga! Kenapa aku enggak mendengar sama sekali dering ponsel, ya?" Daniel bertanya pada diri sendiri.


"Fafa pasti sangat marah, dia menelepon sampai sebanyak ini!" Daniel masih menatap layar ponselnya.


"Tunggu-tunggu. Jangan-jangan, Fafa juga chat aku tadi." Daniel segera membuka kotak pesan dan benar saja, dia mendapati pesan dari calon istrinya tersebut.


'Abang jadi menjemput Fafa apa enggak?


'Apa Bang Daniel masih sibuk banget, sehingga enggak bisa menerima panggilan telepon dari Fafa?'


'Apa Abang sudah jalan menuju š˜“š˜©š˜°š˜øš˜³š˜°š˜°š˜®?'

__ADS_1


'Kalau sudah jalan, hati-hati ya, Bang. Turun hujan gini, pasti jalanan licin. Fafa masih nunggu Abang di parkiran.'


Netra Daniel berkaca-kaca membaca sederet pesan dari Fatiya tersebut.


"Maafkan aku, Fa. Aku udah salah sangka padamu, tadi," sesal Daniel yang sempat marah pada Fatiya dan menuduh calon istrinya itu berbuat macam-macam di belakangnya.


"Ya, aku harus bicara sejujurnya pada Fafa. Dia gadis yang baik, aku merasa sangat malu karena telah mengkhianati cinta dan kesetiannya yang begitu tulus."


"Apapun keputusan Fafa nanti, aku harus terima dengan lapang dada. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik dariku," tekad Daniel.


Suara pintu yang dibuka dari luar, membuat Daniel menoleh.


"Bagaimana kondisi mama, Niel?" tanya sang ayah.


"Mama mengalami shock, Pa dan itu karena ...." Sejenak pemuda itu menjeda ucapannya.


Sang ayah menatap Daniel dengan penuh tanya. "Ada apa, Niel. Katakan!"


"Pat, duduk dulu, Pa," pinta Daniel.


"Papa lihat keadaan mama dulu." Ayahnya Daniel kemudian berjalan mendekati ranjang pasien, dia usap kening sang istri yang masih memejamkan mata.


"Segera sadar ya, Ma. Mama wanita yang kuat, wanita yang hebat. Seberat apapun masalahnya, kita akan hadapi sama-sama," ucap ayahnya Daniel lirih dan kemudian mencium kening istrinya.


Laki-laki paruh baya tersebut kemudian menghampiri Daniel dan duduk di samping sang putra. "Ada apa, Niel?" tanyanya kembali.


"Maafkan Daniel, Pa. Daniel sudah membuat mama bersedih hingga mama pingsan," sesal Daniel dari lubuk hati yang terdalam.


"Katakan saja, jangan bertele-tele!" titah sang ayah.

__ADS_1


Daniel kemudian menceritakan kejadian semalam ketika dirinya tergoda oleh Santi.


Sang ayah yang mendengarkan dengan serius cerita Daniel, menghela napas panjang. "Mama sangat menyayangi Fafa, Niel. Sudah pasti mama sangat sedih mendengar kamu mengkhianati gadis itu," ucap sang ayah.


Daniel mengangguk. "Iya, Pa. Daniel tahu itu."


Daniel masih melanjutkan ceritanya. "Dan tadi, Santi ke rumah dan menceritakan semuanya pada mama. Dia juga berusaha menjebak Daniel, Pa, mungkin tujuannya agar mama memaksa Daniel untuk menikahinya," terang Daniel.


"Apa mama melakukannya?" tanya sang ayah.


Daniel menggeleng. "Tidak, Pa. Mama bahkan mengatakan kalau mama tidak sudi memiliki menantu seperti Santi," balas Daniel yang mengutip penuturan sang ibu.


Ayah Daniel manggut-manggut. "Gadis ambisius seperti itu tidak baik dijadikan sebagai istri, kasihan anak-anak kamu nanti, Niel, karena dididik oleh ibu yang tidak baik," tutur sang ayah yang setuju dengan istrinya.


"Papa juga setuju dengan mama kamu, temui Fafa dan ibunya segera. Terima apapun keputusan mereka nanti dengan legowo, Niel," lanjut sang ayah dengan tatapan penuh wibawa, membuat Daniel semakin merasa bersalah kepada kedua orang tuanya.


"Dan untukmu, Nial. Jadikan ini sebagai pelajaran yang sangat berharga. Agar ke depan nanti, kamu bisa lebih mengendalikan diri, mengedepankan pikiran dan akal sehat daripada nafsu duniawi dan kesana yang hanya bersifat sekejap," imbuhnya dengan sangat bijak.


Daniel mengangguk patuh. "Baik, Pa. Terimakasih karena papa dan mama masih mau memaafkan Daniel memberikan Daniel nasehat,' ucap Daniel yang langsung bersimpuh di kaki sang papa.


"Kamu anak papa dan mama, Niel. Kesalahan yang kamu perbuat, kami ikut andil di dalamnya karena itu artinya, sebagai orang tua kami tidak bisa mendidikmu dengan baik." Laki-laki paruh baya berwajah tegas tersebut, menepuk pundak kokoh sang putra dengan pelan.


Penuturan sang ayah barusan, membuat Daniel tergugu. "Ti-tidak, Pa. Ini-ini murni kesalahan Daniel. Papa, papa dan mama sudah mendidik Daniel dengan sangat baik," ucap Daniel terbata.


"Sudah, berangkatlah!" titah sang ayah, setelah cukup lama membiarkan Daniel mengeluarkan air mata penyesalan.


Daniel bergegas meninggalkan kamar sang mama menuju parkiran. Pemuda itu kemudian segera melajukan kendaraannya, membelah jalanan beraspal yang masih basah.


Baru saja lima ratus meter mobil Daniel melaju, terdengar suara tabrakan yang terdengar begitu dahsyat ....

__ADS_1


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_2