
Fatiya yang tengah asyik ngobrol dengan sopir taksi, tak melihat ada mobil yang pasti sangat dia kenali berpapasan dengan taksi yang gadis itu tumpangi, tepat di gang masuk ke kampungnya.
'Aku hanya ingin melihatmu dari kejauhan, boleh 'kan?' gumam pemuda itu bertanya pada diri sendiri, dia kemudian menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah Fatiya.
Akbar memandangi rumah Fatiya dari dalam mobilnya. 'Apa sesore ini kamu sudah tidur, Fa? Semua lampu rumah bahkan sudah kamu padamkan,' batin Akbar.
Ya, Fatiya memang mematikan semua lampu di rumahnya tadi dan hanya menyisakan satu lampu kecil di ruang tengah dan lampu teras, sehingga jika dilihat dari luar, kondisi di dalam rumah Fatiya terlihat gelap seperti tak ada kehidupan.
Akbar memainkan ponsel di tangannya, pemuda itu menimbang-nimbang. "Apa aku š¤š©š¢šµ saja, ya?" monolog Akbar yang kembali bertanya pada diri sendiri.
Pemuda itu kemudian mengetikkan sesuatu dan mengirimkan pada nomor Fatiya. 'Centang satu? Apa, dia mematikan ponselnya? Tapi kemarin, meskipun dia sudah tidur, ponselnya tidak dimatikan." Dahi Akbar berkerut dalam.
Netranya terus menatap layar ponsel, memandangi š¤š©š¢šµ yang barusan dia kirimkan pada gadis yang tiba-tiba hadir mengisi ruang kosong di hati Akbar, š¤š©š¢šµ tersebut masih saja centang satu.
Sesekali Akbar melihat ke arah rumah sederhana Fatiya, yang pintunya masih tertutup rapat. Cukup lama Akbar berada di tempat itu dan termenung seorang diri, hingga suara dering ponselnya membuyarkan lamunan Akbar.
"Halo, Budhe. Assalamu'alaikum," sapa Akbar pada orang tua yang selalu khawatir jika dirinya tidak segera pulang ke rumah.
Akbar nampak mendengarkan suara yang terdengar sangat khawatir, di seberang sana.
"Iya, Budhe. Akbar baik-baik saja, kok. Budhe jangan khawatir, ya. Setelah ini, Akbar langsung pulang," balas Akbar pada budhenya di seberang telepon.
Akbar kembali terdiam, mendengarkan nasehat panjang lebar dari suara lembut yang senantiasa bisa membuat Akbar menjadi tenang dan merasa nyaman.
"Wa'laikumsalam, Budhe," balas Akbar ketika budhe yang meneleponnya, mengakhiri percakapan via telepon tersebut.
Ya, bagi Akbar, kakak dari sang papa itu bukan hanya memposisikan diri sebagai budhe, tetapi beliau juga seperti seorang nenek yang sangat menyayangi cucunya.
Usia Akbar yang seusia dengan cucunya budhe Lin, membuat wanita tua yang masih sehat dan cantik itu menganggap Akbar dan Attar, adiknya, seperti cucu-cucunya yang lain.
Akbar menghela napas panjang. 'Kamu akan segera menikah, Fa. Dan tak pantas rasanya, jika aku mengirimi kamu pesan seperti ini.' Akbar menghapus kembali pesan yang sudah dia kirimkan tetapi masih š±š¦šÆš„šŖšÆšØ tersebut.
"Sebaiknya, nomor Fafa aku blokir saja. Aku takut, aku tak kuasa untuk tidak mengirimkan pesan dan menanyakan kabar Fafa dan itu sangat tidak etis. Aku juga bisa diangap sebagai pengganggu istri orang.' Akbar dengan berat hati memblokir nomor Fatiya, sebelum pemuda itu meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Akbar menoleh sekali lagi ke arah rumah Fatiya. 'Semoga kamu selalu bahagia, Fa,' doa Akbar dengan tulus dan dengan segenap hatinya.
Bulir bening menggenang di pelupuk mata Akbar, ketika mobilnya mulai melaju perlahan meninggalkan kampung Fatiya yang sudah sepi ketika malam sedikit larut, seperti tak berpenghuni tersebut.
āāā
Di Pulau Dewata, Angga, bos š“š©š°šøš³š°š°š® di tempat Fatiya bekerja, terbangun di tengah malam di villa milik sang mama. Suami Diandra itu tiba-tiba teringat akan ponselnya, yang sengaja dia matikan sepanjang hari ini.
Ya, Angga dan istrinya sedang berada di Bali saat ini. Selain untuk menghadiri pernikahan salah satu adik angkat Diandra di panti asuhan, bos š“š©š°šøš³š°š°š® itu juga mengajak istrinya untuk š£š¢š£šŗ š®š°š°šÆ.
Kebahagiaan yang tak terkira, dirasakan kembali oleh Angga ketika mengetahui sang istri yang usianya terpaut cukup jauh darinya itu kembali hamil, calon anak ketiga mereka.
Angga dan sang istri yang pergi ke Bali dan sengaja tidak mengajak kedua putra dan putri mereka, juga mematikan ponsel karena tidak ingin terganggu dengan urusan pekerjaan ataupun yang lainnya.
"Kak," panggil Diandra, kala menyadari sudah tidak ada lagi tangan kekar yang memeluk dan menghangatkan tubuhnya.
"Iya, Sayang. Aku baru mengambil ponsel," balas Angga yang berjalan kembali ke tempat tidur.
"Hem, istriku kenapa jadi tambah manja begini, sih?" Angga menoel hidung sang istri dengan gemas dan kemudian melabuhkan ciuman ke seluruh wajah Diandra tanpa ada yang terlewat, membuat Diandra tertawa geli.
"Kak. Udah, ah ...," pinta Diandra, ketika sang suami masih saja menciumi pipinya. "Ngantuknya jadi ilang, kan?" protesnya kemudian, dengan bibir mengerucut.
"Ya, baguslah. Jadi, aku bisa bermain lagi sama si bungsu," balas Angga seraya tersenyum senang. Suami Diandra itu kemudian menyimpan ponselnya di atas nakas yang berada di sampingnya.
"Enggak, enggak. Si bungsu udah lelah, Ayah. Ayah udah main sama dia berkali-kali dari sore tadi, bungsu mau tidur," tolak Diandra dengan menirukan suara anak kecil, wanita cantik itu kemudian langsung menyembunyikan wajah dan menutupinya dengan selimut.
Angga yang sudah kadung bersemangat, tak mau mengalah. Suami dewasa Diandra itu ikut masuk ke dalam selimut lembut tersebut dan langsung memeluk tubuh sang istri yang masih polos, Angga kemudian kembali mencumbui istrinya.
Suara detak jam di dinding, menjadi nyanyian pengiring kemesraan pasangan suami istri yang sudah belasan tahun membina mahligai rumah tangga tersebut, ketika keduanya bergumul setelah Angga membuang selimut ke sembarang arah.
Alarm di ponsel Diandra yang diset pukul setengah tiga dini hari, mengurai dekapan hangat dua insan yang baru saja menikmati manisnya madu pernikahan yang membuat keduanya terbang melayang.
"Kak, Didi mau ke kamar mandi dulu," pintanya manja, seraya merentangkan kedua tangan minta digendong sang suami.
__ADS_1
Ya, di kehamilan ketiganya ini, wanita cantik itu begitu manja. Sangat berbeda dengan kehamilan pertama, yang penuh dengan keprihatinan karena sang suami mengalami koma akibat kecelakaan.
Usai dari kamar mandi dan mandi wajib, ayah dan bundanya Elvano itu kemudian menunaikan ibadah sholat tahajjud.
Setelah berdoa dan mencium punggung tangan sang suami dengan takdzim, Diandra bergegas kembali ke pembaringan hendak mengistirahatkan tubuh karena lelah terasa mendera tubuhnya, setelah pergumulannya yang berkali-kali dengan sang suami sedari mereka berdua tiba di villa kemarin.
Baru saja Diandra merebahkan tubuh, tatapannya tertuju ke atas nakas. Dia ambil ponselnya dan kemudian menyalakan benda pipih tersebut.
Beruntun notifikasi berebut masuk, begitu ponsel dengan logo buah digigit serangga itu aktif kembali. Dari sekian banyak notif, satu nama yang mencuri perhatian Diandra.
"Fafa, tak biasanya dia menelepon sebanyak ini," gumam Diandra.
"Ada apa, Sayang?" tanya Angga sambil duduk di tepi pembaringan. Tangan kekarnya kembali menelusup masuk ke dalam baju sang istri dan mengelus lembut perut istrinya, dimana ada sang buah hati yang masih bersembunyi di dalam sana.
"Fafa, Kak. Dia š®šŖš“š“š¤š¢šš sebanyak ini." Diandra menunjukkan layar ponselnya pada sang suami.
"Dia ngirim pesan juga tuh, Sayang. Coba dibuka, barangkali penting," pinta Angga.
Diandra segera membuka pesan dari pegawai di š“š©š°šøš³š°š°š® suaminya tersebut, sejenak kemudian netra wanita itu berkaca-kaca.
"Ada apa, hem? Kenapa menangis? Fafa kenapa, Di?" cecar Angga yang menjadi khawatir.
"Kakak baca sendiri, deh." Diandra kemudian menyerahkan ponselnya pada sang suami.
'Assalamu'alaikum, Kak Didi. Maaf, tadi Fafa ke š“š©š°šøš³š°š°š® mau pamitan, tapi Kak Didi dan Pak Angga ternyata lagi di luar kota. Fafa coba telepon, ponsel Kak Didi dan Pak Angga juga enggak ada yang aktif.'
'Fafa pamit, Kak. Fafa memutuskan untuk membatalkan pernikahan dengan Daniel dan mengikuti keinginan ibu untuk pindah ke luar kota. Maaf dan terimakasih untuk semua kebaikan Kakak dan Pak Angga yang tidak dapat Fafa sebutkan satu-persatu.'
Angga meletakkan ponsel tersebut dan kemudian memeluk sang istri yang telah terisak.
ššššš tbc ššššš
__ADS_1