
Lamunan ibunya Daniel buyar, ketika mendengar deru mesin mobil sang putra, memasuki halaman rumah.
"Tan, itu Daniel," ucap Santi yang terlihat gugup.
"Ya, tante tahu," balas wanita yang kini menahan kecewa dan amarah di dada.
"Ma," sapa Daniel yang baru saja memasuki rumah.
"Duduk," titah sang ibu dengan ekspresi dingin.
Daniel menurut patuh. Calon suami Fatiya itu kemudian duduk di hadapan sang ibu. Daniel dapat menangkap raut kemarahan pada wajah ibunya.
'Apa ini ada hubungannya dengan apa yang telah kami lakukan semalam?' gumam Daniel bertanya dalam hati. Pemuda itu sekilas melirik ke arah Santi yang duduk di samping sang ibu.
Sementara Santi terus menundukkan wajah, gadis ambisius itu sama sekali tak berani menatap netra Daniel.
"Katakan sejujurnya pada mama, apa yang telah kalian berdua lakukan?" sang ibu menatap tajam Daniel, hingga membuat pemuda yang baru saja pulang dari kantor itu merasa ciut nyalinya.
Daniel kembali melirik Santi dan calon suami Fatiya itu sangat yakin bahwa Santi pasti telah bercerita pada sang ibu. Tak mungkin bagi Daniel untuk mengelak kembali, tapi dia tak tahu harus memulai bercerita darimana?
"Daniel! Cepat katakan pada mama!" seru sang ibu yang membuat Daniel semakin gugup.
"Ba-baik, Ma," balas Daniel.
"Maafkan Daniel, Ma. Daniel tidak bermaksud membuat mama kecewa," sesal Daniel. Pemuda itu sangat tahu bahwa ibunya sangat menyayangi Fatiya.
Sang ibu menghela napas panjang, wanita paruh baya yang terlihat anggun itu sejenak memejamkan mata seraya memijat pelipisnya.
"Kalau kamu tidak mau membuat mama kecewa, kenapa kamu lakukan ini pada Fafa, Niel?" tanya sang ibu penuh penekanan. Wanita yang telah melahirkan Daniel tersebut menatap sang putra dengan tatapan menuntut jawab.
__ADS_1
Daniel menatap tajam ke arah Santi, gadis itu kebetulan juga tengah mencuri pandang ke arahnya. Daniel buru-buru membuang wajahnya, dia seolah enggan bersitatap dengan gadis yang telah menggodanya.
"Dia pasti sudah menceritakan semuanya pada mama 'kan, Ma?" jawab Daniel yang balas bertanya.
"Mama tanya sama kamu, Niel! Mama ingin mendengar keterangan kamu!" Suara ibunya Daniel, meninggi beberapa oktaf. Daniel semakin menciut. Ya, Daniel memang sangat menghormati sang ibu.
"I-iya, Ma," balas Daniel gugup.
"Kemarin sore, Santi telepon Daniel dan ngajak bertemu. Katanya, ada sesuatu yang hendak dia bicarakan," ucap Daniel.
"Bukankah begitu, San?" tanya Daniel pada Santi.
Gadis yang wajahnya sembab karena cukup lama menangis itu mengangguk, membenarkan ucapan Daniel.
"Lantas?" desak sang ibu.
Daniel kemudian menceritakan awal mula, kenapa dirinya dan Santi bisa sampai menyewa kamar hotel dan kemudian melakukan hubungan terlarang.
Wanita anggun itu terisak, hingga bahunya berguncang hebat.
Daniel segera mendekat dan kemudian memeluk sang ibu dengan erat. "Maafkan Daniel, Ma. Maaf," ucapnya penuh penyesalan.
"Jangan minta maaf sama mama, Niel, tapi minta maaflah sama Fafa dan juga ibunya," tutur ibunya Daniel di sela isak tangis.
"Mama malu, Niel, sangat malu!" Suara ibunya Daniel terdengar penuh amarah dan kekecewaan. Wanita paruh baya itu merasa sangat malu karena ternyata sang putra melakukan perbuatan yang tidak terpuji.
"Fafa gadis yang sangat baik, Niel. Dia gadis yang selalu menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita," tutur ibunya Daniel, yang membuat hati Santi langsung mencelos.
Santi kembali menitikkan air mata. Gadis itu merasa tersindir dengan penuturan ibu dari teman baiknya itu.
__ADS_1
'Ya, aku tahu Fafa memang gadis yang baik. Dia juga cantik dan cerdas. Hampir semua kriteria yang diinginkan laki-laki, ada pada diri Fafa dan itu yang membuatku membenci pada gadis itu dan ingin merebut Daniel darinya,' bisik Santi.
"Kamu harus temui Fafa sekarang, Niel. Harus!" titah sang ibu, setelah beliau cukup tenang.
Daniel terdiam di samping sang ibu.
"Kamu temui dia dan juga ibunya. Ceritakan semua dengan sejujurnya, apa yang telah kamu perbuat semalam," lanjut ibunya Daniel.
"Ya, Ma. Besok, Daniel akan ke rumah Fafa untuk membicarakan hal ini," balas Daniel patuh.
"Jangan ditunda, Niel! Sekarang!" hardik sang ibu, yang membuat Daniel sedikit terkejut. Sebab, tak biasanya sang ibu berbicara dengan kasar seperti yang barusan.
Rupanya, perbuatan Daniel yang tak bisa menjaga kesetiaannya telah benar-benar membuat ibunya merasa kecewa dan marah pada sang putra.
"Ma, besok saja, ya," tawar Daniel. "Daniel lelah sekali, Ma," imbuhnya.
Sebenarnya, itu hanya alasan Daniel agar dia tidak terus dipaksa oleh sang ibu untuk ke rumah Fatiya sekarang. Sebab, Daniel masih marah sama Fatiya karena melihat calon istrinya itu pulang dengan diantarkan oleh Akbar.
"Sekarang, Daniel!" wanita yang biasanya selalu bertutur kata lembut itu menatap sang putra dengan tatapan tajam.
"Kamu harus berterus terang pada Fafa dan ibunya, Niel! Jika mereka masih mau menerima kamu dan memaafkan kebodohan kamu, maka pernikahan kalian berdua bisa dilanjutkan!" Suara ibunya Daniel masih terus meninggi.
Daniel mengerutkan dahi. "Maksud, Mama?" tanya Daniel.
"Ya, Niel. Sebagai sesama wanita, mama bisa mengerti bagaimana perasaan Fafa jika mendengar semua ini. Kita tidak boleh memaksakan diri, Niel. Jika memang Fafa dan ibunya tidak bisa terima, maka kamu harus rela batal menikah dengan Fafa!" tegas sang ibu yang membuat Daniel membulatkan mata.
"Tidak, Ma! Daniel akan tetap menikahi Fafa, Ma!" kekeuh Daniel.
Mendengar keteguhan hati Daniel yang tetap ingin menikahi Fatiya, membuat hati Santi terasa sakit.
__ADS_1
'Benarkah tak ada rasa cinta sedikitpun di hati lu untuk gue, Niel?' batin Santi bertanya.
ššššš tbc ššššš