
"Ya, udah. Ini buat kamu saja," ucap Akbar yang tahu-tahu sudah berdiri di samping Fatiya dan menyimpan š±š¢š±š¦š³ š£š¢šØ berisi gaun seksi tersebut di atas pangkuan gadis itu.
"Aku mau bantuin calon ibu mertua," lanjut Akbar seraya masuk ke dalam, meninggalkan Fatiya yang termangu seorang diri.
Akbar yang menyusul Bu Saidah ke dapur, membuat ibunya Fatiya itu terkejut.
"Nak Akbar. Nak Akbar mau apa?" tanya ibunya Fatiya. "Kalau mau ke kamar mandi, itu di sebelah," lanjutnya seraya menunjuk kamar mandi.
"Tidak, Bu. Akbar mau bantuin ibu," balas Akbar yang langsung mengambil tumpukan piring dari tangan Bu Saidah.
"Piringnya disimpan dimana, Bu?" tanya Akbar.
"Di meja makan saja, Nak," balas Bu Saidah, yang kemudian mengerjakan pekerjaan yang lain.
Akbar sedang menata piring di meja makan, ketika Fatiya menyusul pemuda itu masuk ke dalam.
Gadis itu tersenyum. "Biar Fafa saja yang bantuin ibu, Mas," pinta Fatiya. "Mas Akbar silahkan duduk saja," lanjutnya seraya menarik sebuah kursi yang terbuat dari plastik, untuk Akbar.
"Terimakasih, Fa," ucap Akbar yang langsung menuruti keinginan Fatiya.
Fatiya kemudian menuju dapur, untuk membantu sang ibu. Gadis itu wara-wiri dengan langkah yang terlihat grogi karena Akbar terus saja memperhatikannya.
Tak berapa lama, semua telah terhidang di atas meja makan bundar yang hanya bisa menampung empat orang tersebut.
"Ayo, silahkan Nak Akbar! Hanya seadanya saja, ya. Maklum, kami ini orang kampung," tutur Bu Saidah yang dapat menilai bahwa Akbar pastilah dari kalangan atas, apalagi tadi Akbar sempat mengatakan bahwa pemuda itu saudara bosnya Fatiya.
"Iya, Bu. Sama saja kok, Bu. Ini sudah sangat cukup," balas Akbar yang tanpa sungkan langsung menyendok nasi dan mengisi piringnya.
"Mau diambilkan juga?" tawar Akbar sambil menoleh ke arah Fatiya, yang sedari tadi mengerutkan dahi.
"Jangan, Nak Akbar! Biar Fafa ambil sendiri, harusnya tadi kami selaku tuan rumah yang melayani Nak Akbar," cegah Bu Saidah. "Ayo, Fa! Ambilkan lauk buat Nak Akbar," titah Bu Saidah seraya menyendok nasi untuk mengisi piringnya.
__ADS_1
Fatiya bingung, kenapa Akbar bisa bersikap sebiasa ini di rumahnya. Padahal ini kali pertama Akbar main ke rumahnya, itupun karena Daniel tak jadi menjemput Fatiya.
"Fa, kok malah melamun." Bu Saidah menyenggol lengan sang putri.
"Eh ... iya, Bu." Fatiya nampak gugup.
"Jangan bengong, Fa. Ayam tetangga mati karena bengong," canda Akbar, yang membuat Bu Saidah terkekeh pelan.
"Yang benar, Mas? Kok bisa?" tanya Fatiya yang belum tersadar sepenuhnya dari lamunan.
"Ya iya, Fa. Ayamnya bengong sambil nyebrang jalan, ketabrak dong," balas Akbar, yang membuat Fatiya langsung mengerucutkan bibir.
"Enggak lucu, ah!" gerutu Fatiya seraya menyodorkan semangkuk sayur agar Akbar lebih mudah mengambilnya.
"Nak Akbar ini, ada-ada saja." Bu Saidah geleng-geleng kepala.
"Daripada diem-dieman, Bu," ucap Akbar.
"Mau lauk apa, Mas?" tanya Fatiya setelah Akbar mengambil sayur bersantan tersebut.
Fatiya segera mengambilkan lauk untuk pemuda yang selalu memberinya perhatian lebih itu. Setelahnya, barulah Fatiya mengambil makanannya sendiri.
Mereka kemudian mulai menikmati makan malam dengan diselingi obrolan hangat, Akbar yang terdengar mendominasi obrolan tersebut. Sementara Fatiya, lebih banyak diam.
Akbar merasakan makan malam kali ini, sungguh berbeda. Terasa sangat nikmat di lidah Akbar karena hati pemuda tampan tersebut sedang berbunga-bunga.
Sambutan yang hangat dari Bu Saidah, serta suguhan pemandangan yang indah di depan mata, membuat setiap suapan nasi yang masuk ke dalam mulut Akbar terasa sangat nikmat.
"Masakan Ibu, sangat enak," puji Akbar dengan tulus. "Akbar sampai lahap banget makannya, tahu-tahu sudah habis duluan, nih," lanjutnya seraya menunjuk piringnya yang telah licin tanpa ada sisa makanan di sana.
Bu Saidah tersenyum. "Alhamdulillah, kalau Nak Akbar suka. Padahal hanya sayur gori dan dimasak ala orang kampung," tutur Bu Saidah yang merendah.
__ADS_1
"Nambah lagi, Nak Akbar." Bu Saidah hendak menyendokkan nasi, tetapi buru-buru Akbar cegah.
"Tidak, Bu, terimakasih," tolak Akbar dengan halus. "Akbar SMK," ucapnya.
Bu Saidah mengerutkan dahi, begitu pula dengan Fatiya.
Sementara Akbar tersenyum tanpa dosa. "Setelah Makan Kenyang, Bu," ucap Akbar, yang membuat Bu Saidah terkekeh pelan.
Fatiya juga ikut tersenyum dikulum. Gadis itu masih merasa sungkan jika harus ikut tertawa dengan kelucuan-kelucuan yang Akbar cetuskan.
"Silahkan, Bu, dilanjut kembali makannya. Biar Akbar jadi penonton saja," ucap Akbar seperti layaknya tuan rumah yang mempersilahkan tamunya. Membuat Bu Saidah kembali tersenyum.
Tak lama kemudian, Fatiya dan ibunya sudah menghabiskan makanannya.
Mereka bertiga, duduk kembali di ruang tamu dengan suasana yang lebih hangat karena Fatiya mulai terbiasa dengan kehadiran Akbar meski masih hanya sebatas kenalan. Atau antara pembeli dengan pelayan di š“š©š°šøš³š°š°š®.
"Ibu, terimakasih banyak atas sambutan Ibu yang hangat pada Akbar. Terimakasih untuk suguhan kuenya yang lezat dan makan malam yang sangat nikmat."
"Berhubung waktu sudah semakin malam, Akbar mohon pamit," ucap Akbar seraya beranjak.
Bu Saidah tersenyum. "Ibu juga mengucapkan terimakasih, Nak. Karena Nak Akbar bersedia mengantarkan Fafa pulang," balas bu Saidah.
Akbar kemudian menyalami ibunya Fatiya tersebut dan mencium punggung tangan itu dengan takdzim.
Akbar juga pamit dan bersalaman dengan Fatiya. "Simpankan dulu gaun seksi untuk calon istriku tadi," bisik Akbar dengan senyuman yang menggoda.
Fatiya hanya bisa terdiam.
Bu Saidah dan Fatiya kemudian mengantarkan Akbar hingga ke teras depan. "Hati-hati, Nak Akbar," pesan Bu Saidah.
"Ya, Bu," balas Akbar. Assalamu'alaikum," ucap salam Akbar, yang kemudian segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Perlahan, mobil mewah Akbar meninggalkan halaman kediaman Bu Saidah. Tepat di saat Akbar membelokkan mobil ke kiri, dari arah kanan datang sebuah taksi yang kemudian berhenti tepat di halaman rumah tersebut.
ššššš tbc ššššš