Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Aku Tunggu Jawaban Kamu


__ADS_3

'Nah, ini yang dipesan Ibu Susan." Manager cantik itu menunjuk sebuah manequin.


Fatiya terpaku menatap ke arah manequin. Gadis itu kemudian mendongak ke atas, menatap pada Akbar, yang juga tengah menatapnya.


"Apa kamu ragu, Fa? Jika kamu ragu, kita bisa pulang sekarang," tanya Akbar dengan menundukkan wajah, menatap Fatiya.


Fatiya mendongak. Gadis itu tersenyum dan kemudian menggeleng cepat. "Fafa suka," ucapnya seraya menunjuk ke arah manequin, membuat Akbar tersenyum lega.


Manager itu pun tersenyum. "Baik, akan segera kami siapkan."


Akbar kemudian membawa Fatiya keluar dari ruangan tersebut, untuk bergabung bersama Diandra yang sedang memilih-milih pakaian.


"Fa, model ini bagus, enggak?" tanya istri Angga itu seraya menunjukkan sebuah gaun cantik berwarna pastel.


Fatiya mengangguk. "Bagus, Mbak. Sederhana tapi elegan dan warnanya kalem," balas gadis yang duduk di kursi roda tersebut.


Diandra melirik Akbar dan pemuda itu mengangguk, seraya tangannya memberikan isyarat dengan menunjuk beberapa barang yang lain.


"Kalau yang ini, menurut kamu gimana, Fa?" Diandra selalu meminta pendapat pada Fatiya, sebelum memasukkan barang-barang yang akan dibeli itu ke dalam kantong belanjaan.


Fatiya yang tidak tahu apa-apa dan menilai sesuai dengan 𝘱𝘒𝘴𝘴π˜ͺ𝘰𝘯-nya, hanya menjawab tanpa rasa curiga.


Setelah mendapatkan beberapa potong gaun, tas dan sandal yang tentunya barang-barang 𝘣𝘳𝘒𝘯π˜₯𝘦π˜₯, Diandra segera memberikan tas belanjaannya pada salah satu karyawan butik.


"Pakai ini, Mbak. Kodenya 020223," ucap Akbar seraya menyodorkan 𝘣𝘭𝘒𝘀𝘬 𝘀𝘒𝘳π˜₯ miliknya.


Melihat apa yang dilakukan Akbar, Fatiya mengerutkan dahi. 'Mas Akbar baik banget, ya. Belanjaannya Mbak Didi sebanyak itu, dibayarin semua,' gumam Fatiya dalam hati.


"Bang Akbar, Fa, kami kesana dulu, ya" pamit Diandra seraya menunjuk ke arah sebuah etalase. "Kak Angga mau beliin jam tangan, ada produk baru katanya," lanjut wanita cantik itu sambil berjalan mengikuti langkah sang suami.


Akbar mengangguk, begitu pula dengan Fatiya. Keduanya kemudian saling pandang.


"Nanti kita ke sana, ya. Aku juga mau beli jam tangan 𝘀𝘰𝘢𝘱𝘭𝘦 untuk kita berdua," ucap Akbar.


"Enggak perlu, Mas," tolak Fatiya dengan halus. Gadis cantik itu tentu saja merasa sungkan karena belum ada ikatan apa-apa diantara mereka berdua.


Setelah mendapatkan barang belanjaan dan kartu saktinya kembali, Akbar meletakkan beberapa 𝘱𝘒𝘱𝘦𝘳 𝘣𝘒𝘨 tersebut ke atas pangkuan Fatiya.


"Ini buat kamu, jangan ditolak, ya," pinta Akbar.


Fatiya tertegun. Gadis itu baru menyadari, kenapa tadi setiap kali Diandra memilih barang, selalu meminta pertimbangan padanya.

__ADS_1


"Mas, ini berlebihan," ucap Fatiya dengan sungkan, tetapi dia tidak bisa menolak karena barang-barang tersebut sudah terlanjur dibeli.


Akbar hanya tersenyum.


"Kita susul Kak Didi, ya," ajak Akbar.


"Kita tunggu di sini saja, Mas," tolak Fatiya yang tidak mau jika Akbar membelikannya jam tangan karena apa yang telah diberikan oleh pemuda tampan itu, sudah sangat berlebihan.


"Baiklah," balas Akbar, mengalah. "Ini, biar aku aja yang bawa." Pemuda itu mengambil kembali beberapa 𝘱𝘒𝘱𝘦𝘳 𝘣𝘒𝘨 dari pangkuan Fatiya.


"Enggak apa-apa kok, Mas. Nanti Mas Akbar malah kerepotan lagi," cegah Fatiya, tetapi Akbar tetap mengambilnya.


Tak berapa lama, Diandra dan Angga kembali menghampiri mereka berdua.


"Bro, kupikir kamu akan menyusul ke sana," ucap Angga.


"Fafa enggak mau, Kak," balas Akbar


"Masih ada yang mau dibeli lagi enggak, Bang?" tanya Diandra memastikan.


"Sudah cukup kayaknya, Kak. Kita balik sekarang aja, yuk!" ajak Akbar.


Mereka kemudian segera berlalu, meninggalkan Butik Putri Alamsyah cabang kota Bandung.


Fatiya yang terus menoleh ke arah jendela kaca, mengerutkan dahi ketika menyadari bahwa jalan yang mereka lalui berbeda dengan jalan yang tadi saat mereka berangkat.


"Mas, bukannya kalau balik ke rumah sakit harusnya ambil arah sana, ya?" tanya Fatiya yang menoleh ke arah Akbar.


"Benar, Fa," balas Akbar.


"Terus, kita mau kemana, Mas?" Fatiya bertanya kembali seraya mengerutkan dahi.


"Ke penghulu," balas Akbar, yang disambut tawa oleh dua orang yang duduk di bangku depan. Kondisi kabin mobil yang sunyi tanpa suara musik, membuat Diandra dan sang suami dapat mendengar dengan jelas suara penumpang di bangku belakang.


"Memangnya, kamu sudah benar-benar berani, Bro?" tanya Angga tanpa menoleh ke belakang.


"Ya beranilah, Kak. Siang-siang gini, masak takut," balas Akbar seraya tersenyum.


Sementara Fatiya kembali menoleh ke samping, untuk menyembunyikan pipinya yang merona merah.


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Angga memasuki pintu gerbang sebuah rumah megah.

__ADS_1


Fatiya membuka mulut hendak bertanya, tapi dia urungkan kala melihat sang ibu dan juga Malik menyambut di halaman rumah tersebut.


"Bu, ini rumah siapa? Apa rumah Bang Malik?" bisik Fatiya bertanya, ketika sang ibu membantunya turun dari mobil.


"Bukan, Nak. Ini rumah orang tuanya Neng Tasya," balas sang ibu.


"Biar Akbar saja yang dorong, Bu," pinta putra sulung Papa Alvian itu, ketika Fatiya sudah duduk di atas kursi rodanya.


Akbar kemudian membawa Fatiya masuk ke dalam rumah mama Saskia, diikuti oleh Diandra dan sang suami.


"Fafa, selamat datang," sambut Tasya dengan tersenyum hangat. Istri cantik Malik itu kemudian memeluk Fatiya dengan perasaan bahagia.


"Aku senang kamu selamat, Fa," ucap wanita cantik itu, setelah melerai pelukan.


Ya, semenjak Fatiya ditemukan petang tadi, Tasya memang belum bertemu dengan putri Bu Saidah tersebut.


"Iya, Kak. Alhamdulillah," balas Fatiya.


"Ayo-ayo, silahkan duduk," ajak Tasya dengan ramah, setelah istri Malik itu menyalami Angga dan Diandra.


"Maaf, ya. Rumahnya berantakan karena sudah agak lama tidak ditinggali, sejak mama dan papa Tasya paksa untuk ikut pindah ke rumah kami," terang wanita cantik itu seraya tersenyum.


Ya, rumah besar, megah nan mewah bak sebuah istana yang dibangunkan oleh Daddy Rehan untuk putra keduanya di kota Bandung, membuat Tasya merasa kesepian jika ditinggal pergi oleh Malik.


Itu sebabnya, Tasya meminta pada sang papa dan sang mama, untuk tinggal bersama di kediamannya.


"Nah, Fafa, Ibu. Untuk sementara, Ibu dan Fafa tinggal di sini, ya," pinta Tasya.


Bu Saidah yang sudah diberitahu olah Malik yang menjemputnya di rumah sakit tadi, mengangguk setuju.


Sementara Fatiya mengerutkan dahi, menyimpan banyak tanya dalam hati.


"Maaf, Bu. Kami tinggal dulu, ya. InsyaAllah nanti malam, kami akan ke sini lagi. Ibu dan Fafa silahkan istirahat dulu," pamit Tasya.


"Aku antar Fafa ke kamarnya dulu, kalian tunggu aku di luar," pinta Akbar.


Bu Saidah kemudian mengantarkan Tasya dan sang suami, beserta Diandra dan suaminya hingga halaman depan.


"Enggak apa-apa, kan, kami tinggal dulu. Kamu dan Ibu istirahat saja di sini," ucap Akbar sambil mendorong kursi roda Fatiya menuju kamar yang telah disiapkan Tasya untuk putri Bu Saidah tersebut.


"Memangnya, Mas Akbar dan yang lain mau pada kemana? Terus kenapa juga Fafa dan ibu harus tinggal di sini dan bukan pulang ke rumah kami? Mas Akbar pasti tahu sesuatu, kan?" cecar Fatiya dengan banyak pertanyaan, begitu mereka berdua tiba di dalam kamar.

__ADS_1


Akbar tersenyum. "Jangan lupa, nanti malam sholat istikharah dan meminta petunjuk sama Allah. Aku tunggu jawaban kamu, besok," ucap Akbar tanpa menjawab satupun pertanyaan Fatiya, membuat gadis itu semakin bingung dibuatnya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€ tbc πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2