
Tanpa gadis itu sadari, dia justru berlari semakin jauh dari arah jalan. Rupanya, ketakutan akan tertangkap kembali oleh orang yang telah menculiknya tadi, membuat Fatiya panik hingga melupakan arah yang seharusnya dia tuju.
'Kenapa jalannya semakin susah?' Fatiya menghentikan langkah dengan napas yang memburu, gadis itu memindai keadaan sekitar yang semakin rimbun dan gelap.
'Apa aku tersesat?' bisik Fatiya dalam hati, rasa takut semakin menyelimuti diri gadis berhijab yang badannya telah basah oleh keringat yang sedari tadi mengucur deras.
'Apa sebaiknya, aku kembali ke sana, ya?' tanya Fatiya pada diri sendiri. Gadis berhijab itu menimbang-nimbang, antara lanjut atau kembali melewati jalan yang tadi.
'Kalau terus, aku takut akan semakin jauh dari jalan yang tadi, tapi kalau kembali ...." Sejenak Fatiya berpikir, dahinya berkerut dalam.
'Bagaimana kalau nanti, aku ketemu lagi sama preman itu?' Fatiya maju selangkah, sambil menengok ke belakang. Dia tajamkan pendengaran serta pandangan matanya yang terbatas karena cahaya dari bulan di atas sana, tak begitu terang.
Udara malam yang semakin larut, terasa dingin menusuk tulang.
Suara gemerisik dedaunan pohon pisang yang kering tertiup angin, semakin menambah angker suasana di sekitar Fatiya berdiri saat ini.
Bulu kuduk gadis itu berdiri, kala dari kejauhan terdengar lolongan anjing liar yang terdengar menyeramkan. 'Ya Rabb, tolong hamba,' do'a Fatiya dalam hati.
☕☕☕
Sementara Malik, Akbar dan yang lainnya langsung berkumpul untuk membahas langkah apa yang harus mereka tempuh untuk mencari keberadaan Fatiya, setelah Cecep dibawa oleh beberapa petugas polisi ke mobil patroli.
"Kita nyalakan senter ponsel masing-masing dan berpencar mencari Fafa, tiga puluh menit lagi, kita berkumpul di sini, apapun hasilnya," ucap Malik yang memberikan arahan pada saudara-saudaranya.
"Jika salah satu diantara kita sudah ada yang menemukan dia, segera share di group keluarga, biar kita semua tahu dan para orang tua merasa lega," imbuhnya.
Mereka semua mengangguk setuju.
Tiga orang petugas polisi yang tidak ikut kembali ke mobil patroli, ikut bergabung mencari Fatiya. Mereka kemudian mulai bergerak.
"Bang Akbar, Abang 'kan enggak bawa ponsel. Abang sama aku, kita cari ke arah sana sama-sama," ajak Abraham sambil menarik tangan Akbar yang hendak berjalan sendiri.
Akbar menurut, mereka berdua kemudian berjalan semakin masuk ke dalam lahan ke arah tenggara. Sementara yang lain, juga semakin masuk ke dalam lahan dan mengambil arah yang berbeda.
__ADS_1
Sorot lampu senter dari ponsel, serta suara teriakan mereka yang memanggil nama Fatiya, memecah kesunyian malam.
Pendi pun langsung turut bergabung tadi, ketika mendengar suara keributan, saat Cecep diringkus oleh petugas, dia kemudian ikut mencari adik sepupunya.
☕☕☕
Fatiya yang tadinya sempat ragu, akan terus maju atau kembali, kini memutuskan untuk kembalikan berlari. Gadis cantik yang wajahnya telah kuyu itu berlari sekuat yang dia mampu.
'Ya Allah, di sana ada cahaya. Aku harus segera ke sana,' batin Fatiya sedikit lega, begitu melihat cahaya dari kejauhan.
Tengah fokus berlari ke arah cahaya di kejauhan, sedangkan kondisi sekitarnya yang gelap, membuat Fatiya tidak tahu kalau di depannya ada sebuah sumur tua, hingga gadis itu terperosok dan masuk ke dalam sumur kering tersebut.
Fatiya meringis menahan sakit karena kakinya sempat terkilir tadi, dia kemudian terduduk di dalam sumur tua yang berkedalaman sekitar dua meter.
'Aku tak tahu lagi, apa yang harus aku lakukan. Kakiku juga sangat sakit dan pasti akan kesulitan untuk berjalan. Sebaiknya, aku menunggu sampai esok pagi, siapa tahu ada seseorang yang bisa membantuku,' monolog Fatiya dalam diam.
Gadis itu merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit, kakinya terasa nyeri, bukan hanya akibat terkilir, tapi juga karena luka akibat dirinya berlari tanpa menggunakan alas kaki.
Rasa lelah akibat terus berlari, membuat Fatiya kemudian tertidur di dalam sumur tua tersebut sambil bersidekap karena udara dingin yang menyelimuti tubuhnya.
☕☕☕
Akbar beserta yang lain, masih terus menyusuri lahan luas yang ditumbuhi pohon pisang rimbun untuk mencari jejak Fatiya.
"Kita harus terus masuk, Bram," pinta Akbar ketika putra sulung Om Alex itu menghentikan langkah.
"Kita sudah sangat jauh, Bang. Dan ini sudah tiga puluh menit, sama seperti waktu yang telah kita sepakati tadi. Kita harus kembali ke sana dulu, Bang. Siapa tahu, salah satu dari mereka ada yang sudah menemukan Fafa," balas Abraham panjang lebar.
"Tidak, Bram. Kalau memang sudah ditemukan, pasti mereka akan kasih info di group keluarga, tapi sampai saat ini, tidak ada notif apa-apa di ponsel kamu, kan?" Akbar menatap keponakannya itu, memohon pengertian agar Abraham mau menuruti keinginannya.
"Kita balik dulu, Bang. Siapa tahu, ada solusi lain untuk mencari Fafa," pinta Abraham, membujuk omnya tersebut.
Akbar menghela napas panjang. "Baiklah," balas Akbar akhirnya, mengalah.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian menyusuri jalan yang tadi mereka lalui dengan bantuan kompas. Akbar yang awalnya berjalan bersisihan dengan Abraham, pelan-pelan mundur.
Putra sulung Papa Alvian itu langsung berbalik dan berlari sekencang-kencangnya, ketika Abraham lengah. Putra Om Alex itu tak menyadari, kepergian Akbar.
"Kalau menurut aku, Bang. Sebaiknya, pencarian Fafa kita lanjutkan besok pagi ketika kondisi sudah terang, Bang. Sebab, kalau gelap seperti ini, pasti akan sangat sulit untuk menemukan dia, Bang," usul Abraham sambil terus berjalan.
Beberapa saat menanti, tapi tak ada sahutan dari Akbar, Abraham menoleh ke belakang. "Bang! Bang Akbar!" Abraham berteriak panik, memanggil nama Akbar.
Abraham kemudian segera menelepon saudara-saudaranya, melalui panggilan groupnya.
"Halo, Bram. Ada apa? Apa kalian sudah menemukan Fafa?" tanya Malik dari ujung telepon.
"Bang Akbar, dia nekat kabur dariku untuk melanjutkan mencari Fafa," balas Abraham, dengan penuh kekhawatiran akan nasib Akbar yang belum pulih benar setelah sempat pingsan lama tadi.
"Kok, bisa?" tanya Damian yang ikut panik.
"Aku juga enggak tahu, Dam. Tadi kami berjalan bersama, tapi tiba-tiba Bang Akbar sudah enggak nyahut ketika aku ajak bicara," balas Abraham.
"Ya, sudah. Kami akan segera ke tempat kalian," pungkas Malik.
Sementara Akbar yang berlari untuk meneruskan mencari Fatiya, tidak tahu lagi arah yang benar. Dia hanya mengandalkan feeling dan terus berlari, tak tentu arah.
Gelapnya malam, didukung oleh rimbunnya dedaunan, membuat kegelapan menguasai lahan tersebut.
Akbar bahkan tak dapat melihat dengan jelas, apa saja yang dilalui dan diinjaknya. Terkadang kakinya tersandung batang pisang yang roboh, hingga putra sulung Papa Alvian itu jatuh terjerembab.
Meskipun demikian, Akbar tetap bangun dan meneruskan pencariannya, tanpa memperdulikan luka yang menggores kulit putihnya.
Dunia Akbar tiba-tiba menjadi gelap ketika lagi-lagi, kakinya tersangkut akar tumbuhan perdu yang dia lewati barusan. Tubuh tinggi tegap itu jatuh terjerembab, di atas tanah yang lembab.
Suara benda jatuh yang terdengar keras, membangunkan Fatiya dari tidurnya. 'Suara apa, itu?'
🍀🍀🍀🍀🍀 tbc 🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1