
Fatiya mengerutkan dahi, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh keluarga Akbar. Begitu pula dengan Bu Saidah, yang juga tak paham.
Sementara putra sulung Papa Alvian tersebut, hanya bisa senyum-senyum sendiri seraya mengusap-usap tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya sudah, tunggu apalagi, Bang, Mbak. Ayo, bergerak!" ajak Daddy Rehan yang langsung beranjak.
"Dad, bukan begitu maksud Akbar. Besok itu Fafa ...."
"Sudah, Bang. Kita obrolkan nanti sore lagi, kalau dokter sudah memastikan bahwa Nak Fafa dan mamanya Nak Pendi, sudah boleh pulang," sergah Papa Alvian, memotong perkataan Akbar. Papa tampan itu kemudian ikut beranjak seraya menuntun sang istri.
"Tapi, Pa. Ini ada hubungannya dengan rencana Mama untuk ...."
"Sudah, Abang enggak usah mikir macam-macam, biar itu jadi urusan mama." Kembali ucapan Akbar dipotong dan kali ini oleh Mama Susan.
"Bu Saidah, kami pamit dulu, ya." Mama Susan kemudian menyalami ibunya Fatiya tersebut.
Mereka semua segera berlalu, meninggalkan Akbar, Bu Saidah dah putrinya, serta Pendi dan kedua orang tuanya.
____
Bakda sholat dhuhur, disaat semua keluarga sedang sibuk mempersiapkan acara untuk besok, Akbar justru kebingungan sendiri karena kesalahan jawabannya tadi yang tidak lengkap.
"Nak Akbar, ada apa? Kenapa Nak Akbar sepertinya gelisah seperti itu?" tanya Bu Saidah yang memergoki Putra sulung Papa Alvian itu sedang berjalan mondar-mandir keluar masuk paviliun.
Di paviliun tersebut hanya tinggal Akbar, Bu Saidah dan Fatiya yang sedang beristirahat serta Pendi dan papanya yang sedang menjaga sang mama.
Sementara keluarga Akbar yang lain sudah bertolak ke kediaman Malik, yang berada tak jauh dari rumah sakit terbesar di kota Bandung tersebut guna mempersiapkan acara untuk besok.
"Eh, itu, Bu." Akbar nampak gugup. Pemuda itu kemudian duduk di bangku teras yang diikuti oleh Bu Saidah.
"Sepertinya orang tua dan keluarga Akbar yang lain, salah mengartikan jawaban Akbar tadi, Bu," ucap Akbar, sesaat setelah dirinya dan Bu Saidah duduk berhadapan.
"Salah mengartikan bagaimana, Nak?" Wanita paruh baya itu mengerutkan dahi dengan dalam.
"Papa dan mama sepertinya mengartikan, besok itu maksudnya bahwa Fafa siap dilamar secara resmi, Bu," terang Akbar, membuat Bu Saidah melongo, tak percaya.
"Ya Allah, terus bagaimana, Nak? Bagaimana kalau mereka sudah mempersiapkan semuanya?" Ibunya Fatiya itu menjadi ikut khawatir.
"Itu yang membuat Akbar bingung, Bu. Sementara tadi, Akbar enggak diberikan kesempatan untuk menjelaskan," balas Akbar.
__ADS_1
"Ya, kalau besok jawaban Fafa iya, sih, tidak masalah, Bu. Bagaimana kalau jawaban Fafa, tidak? Mereka semua pasti akan kecewa, Bu, dan itu yang Akbar khawatirkan," lanjutnya.
Bu Saidah sejenak terdiam.
"Nak Akbar. Sebenarnya Ibu juga senang dan tenang kalau Fafa mau menerima Nak Akbar, tapi ibu tidak mau mengintervensi keputusan Fafa," tutur Bu Saidah seraya menatap netra pemuda tampan yang duduk di hadapannya.
Akbar mengangguk, mengerti. "Terimakasih jika Ibu percaya pada saya," ucap Akbar seraya tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang putih bersih, yang menambah ketampanan pemuda tersebut.
"Semoga besok, Fafa memberikan jawaban yang terbaik ya, Nak," harap Bu Saidah yang terselip do'a di sana, semoga sang putri bisa menentukan pilihan dengan bijak.
Di balik pintu, dua pasang telinga mendengarkan obrolan Akbar dan Bu Saidah, dalam diam.
"Jadi keluar atau tetap di sini, Fa?" bisik Pendi bertanya pada adik sepupunya tersebut.
Ya, Fatiya yang tadi langsung terbangun ketika ibunya meninggalkan ruangan, meminta pada Pendi untuk mengantarkannya keluar menyusul sang ibu.
Fatiya menghentikan langkah Pendi yang mendorong kursi rodanya, ketika dari teras paviliun gadis cantik itu mendengar obrolan sang ibu dan Akbar yang sepertinya serius.
"Kita kembali ke dalam saja, A'," pinta Fatiya.
Pendi yang mengerti maksud Fatiya, menuruti keinginan gadis yang hampir saja menjadi korban perkosaan akibat keserakahan sang papa.
"Maaf, Fa. Jika aku ikut bicara," ucap Pendi pelan memecah keheningan yang sejenak tercipta diantara mereka berdua, setelah beberapa saat keduanya sama-sama terdiam.
Fatiya menoleh ke arah kakak sepupunya itu. "Iya. Kenapa, A'?"
"Apa lagi yang kamu ragukan dari Bang Akbar, Fa?" Pendi menatap dalam netra Fatiya, mencoba menyelidik kedalaman hati putri dari pamannya tersebut. "Dia pemuda yang baik dan keluarga besarnya, semua juga baik dan saling mendukung," imbuhnya.
"Satu yang pasti, Fa. Bang Akbar sangat mencintai kamu," tandas Pendi.
"Dari mana Aa' tahu?" tanya Fatiya dengan lirih. Mereka berdua sengaja berbicara pelan agar kedua orang tua Pendi tidak mendengar.
"Semalam, Fa. Semalam ketika kami semua mencari kamu. Dia terlihat sangat khawatir," balas Pendi. "Bang Akbar juga nekat memisahkan diri dari saudaranya untuk mencari kamu, Fa," sambungnya.
Fatiya menghela napas panjang. Gadis itu dalam hatinya juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Pendi karena semalam Akbar juga sudah menceritakannya.
Mengenai cinta, putri Bu Saidah itu pun sudah tahu kalau Akbar mencintainya karena bukan hanya sekali pemuda tampan yang dikenalnya secara tidak sengaja tersebut, telah mengungkapkan isi hatinya pada Fatiya.
"Bibi juga sepertinya sangat menyukai Bang Akbar, Fa, dan itu yang paling utama, restu orang tua," ucap Pendi, membuyarkan lamunan Fatiya.
__ADS_1
"Eh ... iya, Aa' benar," balas Fatiya. "Restu orang tua memang yang paling utama," lanjutnya.
"Ya sudah, apalagi?" Pendi kembali menatap Fatiya untuk memastikan bahwa adik sepupunya itu akan menerima lamaran dari keluarga Akbar yang mendadak, tadi pagi.
"Aku harap, kamu siap menerima kejutan esok, Fa," pungkas Pendi yang sudah bisa menerka apa yang sedang dipersiapkan oleh keluarga besar Akbar. Pemuda itu tersenyum lebar.
Sementara Fatiya mengerutkan dahi, tak mengerti dengan ucapan sang kakak sepupu. "Kejutan apa, sih, A'?"
Terdengar suara salam yang diikuti oleh beberapa orang yang masuk ke dalam ruangan tersebut. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," balas Fatiya dan Pendi bersamaan.
"Mbak Didi." Fatiya hendak beranjak tapi wanita cantik yang baru saja datang, mencegah dengan isyarat tangannya begitu dia melihat bahwa Fatiya duduk di atas kursi roda.
Diandra kemudian menghampiri Fatiya dan memeluk erat mantan karyawan suaminya di showroom, yang sudah seperti adik bagi istrinya Angga tersebut.
"Bang Akbar jahat banget tahu, Fa. Sudah menemukan kamu, tapi tidak kasih tahu mbak," protes Diandra seraya menoleh ke arah Akbar, yang berdiri di samping Angga.
"Silahkan duduk Pak Angga." Fatiya mempersilahkan dengan ramah, mantan bosnya itu untuk duduk di sofa setelah Angga menyalaminya.
"Iya, Fa," balas Angga yang minim bicara itu, singkat. Suami Diandra itu kemudian duduk di sofa, yang diikuti oleh Akbar.
"Mbak, silahkan duduk." Bu Saidah yang juga ikut masuk ke dalam ruangan, mempersilahkan Diandra untuk duduk di sofa.
"Iya, Bu. Terimakasih," ucap wanita yang sedang hamil anak ketiga itu seraya tersenyum ramah.
Diandra kemudian duduk tepat di samping kiri sang suami. Bu Saidah juga ikut duduk untuk menemani tamunya Fatiya, sementara Pendi langsung beranjak, untuk memberikan kesempatan pada mereka berbicara.
"Lantas, Mbak Didi tahu kalau kami di sini, dari siapa?" tanya Fatiya.
"Dari Kevin," balas Diandra.
"Oh ya, Fa. Tadi Kevin juga pesan sama mbak, mbak disuruh mengajak kamu keluar sekarang," terang Diandra. "Gimana, Fa? Kamu mau, kan?" Wanita yang terlihat tambah cantik di usianya yang semakin dewasa itu, menatap Fatiya dengan penuh harap.
"Kemana, Mbak?" tanya Fatiya.
"Fitting baju ke butik, Fa."
ššššš tbc ššššš
__ADS_1