Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Ada Apa, Ini?


__ADS_3

"Kapan saya bisa mulai bekerja, Bang?" tanya Fatiya dengan tidak sabar. Hati gadis itu berdebar, senang dan haru menyatu menjadi satu.


Dering ponsel yang berbunyi, membuat pemuda itu tak langsung menjawab pertanyaan Fatiya. "Tunggu sebentar, ya," pintanya.


"Assalamu'alaikum, Dad?" sapa pemuda tersebut pada seseorang yang berada di ujung telepon, setelah menggeser gambar telepon berwarna hijau di layar ponsel mahal miliknya.


Pemuda tersebut nampak mendengarkan dengan khusyuk pembicaraan sang daddy yang berada nun jauh di sana, senyum tipis menghiasi bibirnya dan menambah ketampanan pemuda itu.


Di hadapan Fatiya, dia mengusap lembut puncak kepala sang istri yang tertutup hijab, hingga membuat Fatiya membuang pandangan ke arah lain karena malu menyaksikan pemandangan mesra di depan matanya.


'Ya, Allah. Enggak di Jakarta, enggak di Bandung, kenapa selalu bertemu dengan bos yang bucin sama istrinya, ya. Bikin iri saja,' batin Fatiya, seraya terselip do'a semoga dirinya kelak mendapatkan jodoh yang setia dan romantis seperti pasangan bosnya di Jakarta dan juga pasangan muda di depannya saat ini.


"Ya, Dad. Daddy jangan khawatir, calon istri abang saat ini ada bersama Malik," ucap pemuda tampan yang merupakan putra kedua Daddy Rehan atau saudara kembar Malika itu, seraya menatap Fatiya.


Fatiya yang tak tahu apa-apa, mengerutkan dahi. 'Abang ini bicara sama siapa, sih? Kenapa barusan dia menatapku seperti melihat sesuatu, ya?' batin Fatiya bertanya.


Malik nampak kembali mendengarkan perkataan sang daddy.


"Oke, Dad. Malik akan atur semuanya, tapi Daddy jangan bilang siapa-siapa dulu, ya. Malik ingin memberikan kejutan pada abang," pungkas Malik.


"Wa'alaikumsalam," balas salam Malik dan kemudian menutup teleponnya.


"Calon istri siapa, Bang?" tanya Tasya dengan berbisik, wanita cantik itu mendekatkan bibirnya di telinga sang suami bahkan hingga menempel.


Dari sudut pandang Fatiya, pemandangan tersebut terlihat begitu intim. Membuat Fatiya kembali membuang pandangan ke arah lain.


"Dia, gadis yang diincar Bang Akbar," bisik Malik sangat lirih.


Tasya kemudian tersenyum pada Fatiya.


Fatiya yang tidak mendengar apa yang mereka berdua bicarakan, membalas senyum ramah wanita cantik di hadapannya, dengan menyimpan tanya dalam hati. 'Mereka ngobrolin apa, sih? Pakai bisik-bisik segΓ la.'


"Oke, Fatiya. Kamu bisa langsung mulai bekerja, tapi tugas kamu adalah menjadi asisten istriku," ucap Malik seraya menatap Fatiya.


"Menjadi asisten? Bukannya ...."


"Apakah kamu keberatan?" tanya Tasya dengan nada lembut, memotong ucapan Fatiya.

__ADS_1


Fatiya menggeleng. "Ti-tidak, Kak. Hanya saja, saya 'kan belum tahu apa-apa," balas Fatiya gugup.


"Nanti aku ajari," ucap Tasya yang membuat Fatiya langsung mengangguk setuju.


"Oke, Sayang. Kamu lanjutkan dulu, ngobrol sama dia. Abang mau balik ke kantor sebentar," pamit Malik seraya mencium kening istrinya dan mencuri kecupan sekilas di bibir Tasya, Malik nampak tak peduli meski ada orang lain di ruangan tersebut.


Fatiya kembali dibuat gemas, dengan kemesraan pasangan muda di hadapannya tersebut.


'Aku jadi kangen sama Kak Didi, dia sedang apa, ya? Apa kira-kira, Kak Didi mencariku?' batin Fatiya sendu.


"Iya, Bang. Abang nanti jemput Tasya lagi atau Tasya pulang bareng sopir?" tanya Tasya, sebelum sang suami melangkah keluar.


Ya, setelah menikah dan menetap di Bandung, Malik yang posesif, tidak mengijinkan sang istri mengendarai mobilnya sendiri.


Di awal-awal mereka menikah beberapa bulan yang lalu, Tasya selalu mengekori langkah sang suami dan ikut kemanapun cinta pertamanya itu pergi, termasuk ke kantor Malik.


Namun, sejak sebulan yang lalu, Tasya mau tak mau harus mengurus perusahaan ekspedisi yang dirintis oleh sang papa. Sehingga setiap harinya, Malik harus antar jemput sang istri ke kantor Tasya tersebut.


"Nanti abang kabari ya, Sya. Abang juga harus melaksanakan titah daddy tadi," balas Malik.


Pemuda tampan pemilik De Malik Corporate tersebut melangkah dengan pasti meninggalkan ruangan sang istri, mulutnya bersenandung kecil menyanyikan sebuah lagu gembira yang menggambarkan perasaannya saat ini.


'Untung aku tadi sempat ikut menyeleksi berkas-berkas para pelamar tersebut, sehingga aku bisa bertemu dengan gadis yang dipanggil Fafa itu,' gumam Malik sambil terus melangkah menyusuri koridor kantor Tasya.


"Mas Malik, bagaimana dengan gadis yang tadi Mas wawancarai? Apa cocok untuk menjadi asisten Mbak Tasya?" tanya laki-laki paruh baya yang baru saja keluar dari sebuah ruangan yang bertuliskan 'Ruang Interview', ketika Malik melintas.


"Ya, Pak. Sesuai kriteria dan Tasya menyukainya," balas Malik yang tak ingin berterus terang kepada kepala HRD, laki-laki paruh baya seusia Papa Rahmat yang merupakan orang kepercayaan papanya Tasya itu, tentang rencananya tadi yang meminta secara khusus berkas milik Fatiya setelah Malik membaca data diri Fatiya dan melihat fotonya.


Malik tersenyum sendiri, mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.


Pak Anton, saya mau atas nama Fatiya nanti biar kami yang mewawancarainya sendiri. Tasya butuh asisten dan sepertinya gadis ini cocok bekerja sama Tasya," pinta Malik pada Kepala HRD, setelah membaca salah satu berkas yang dia ambil secara acak.


Malik sengaja datang ke kantor istrinya, untuk mengajak sang istri keluar makan siang. Namun, setelah melihat berkas yang baru saja dia baca, sepertinya Malik akan menunda acara makan siang bersama istrinya


"Baik, Mas Malik. Setelah ini, kami akan memanggilnya," balas Pak Anton.


"Syukurlah kalau Mbak Tasya sudah menemukan asisten yang tepat," ucap Pak Anton, membuyarkan lamunan Malik.

__ADS_1


"Kami juga sudah menemukan seseorang yang cocok untuk posisi 𝘒𝘀𝘀𝘰𝘢𝘯𝘡π˜ͺ𝘯𝘨, seorang pemuda yang baru saja lulus," terang kepala HRD itu kemudian.


"Baguslah kalau begitu, Pak. Pastikan, mereka mendapatkan pendampingan selama masa 𝘡𝘳𝘒π˜ͺ𝘯π˜ͺ𝘯𝘨 karena kebanyakan 𝘧𝘳𝘦𝘴𝘩 𝘨𝘳𝘒π˜₯𝘢𝘒𝘡𝘦π˜₯ belum memiliki pengalaman," pesan Malik.


"Siap, Mas," balas Pak Anton, segan. Meskipun usia Malik seusia putra Pak Anton, tetapi orang tua itu menghormati Malik karena selain pemuda tersebut menantu bosnya, Malik juga salah satu pengusaha muda yang namanya mulai meroket di kota kembang.


"Mari, Pak Anton. Saya harus buru-buru balik ke kantor," pamit Malik yang segera berlalu, melanjutkan langkah keluar dari gedung perkantoran milik sang istri.


Malik mengendarai sendiri mobil mewah hadiah pernikahannya dari sang mertua, membelah jalanan beraspal ibukota Jawa Barat untuk menuju kantor.


Dia berkendara sambil mencoba menghubungi Akbar, sesuai permintaan sang daddy.


'Angkat dong, Bang,' gumam Malik karena hingga panggilan kedua, Akbar tak juga menerima panggilan Malik.


'Apa ponsel Bang Akbar di mode 𝘴π˜ͺ𝘭𝘦𝘯𝘡, ya?' batin Malik bertanya.


'Aku coba sekali lagi, deh.' Malik kembali mendial nomor Akbar, saudara yang juga sahabat karibnya.


Malik menghembus napas kasar, tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak. 'Ada apa, ini? Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini? Semoga tidak terjadi apa-apa sama Bang Akbar,' do'a Malik dalam hati.


'Aku coba telepon Bram sama Damian aja, deh.' Malik kemudian menelepon kedua sahabatnya secara bersamaan.


"Halo, Bang. Ada apa?" Suara Abraham menyapa terlebih dahulu.


"Bram, kamu udah berangkat, belum?" tanya Malik.


"Udah, Bang. Tadi begitu papa telepon, aku langsung berangkat. Tapi baru saja masuk tol Jati Asih karena tadi aku sedang ngecek proyek di Pantai Indah Kapuk," balas adik sepupu Malik tersebut dengan rinci.


"Aku juga langsung jalan tadi, dari Bekasi. Ini udah lewat gerbang tol Taman Mekar," info Damian yang kemudian terdengar sedang membunyikan klakson dengan sangat nyaring.


"Dam, ada apa, sih?" tanya Malik dan Abraham bersamaan.


"Astaghfirullah ...," ucap Damian. "Sialan tuh mobil, potong kompas seenaknya saja!" gerutu Damian, memaki pengemudi ugal-ugalan yang baru saja menyalip dengan memotong kompas dan tanpa menyalakan lampu sens, padahal di jalan bebas hambatan.


Baru saja Malik dan Abraham bernapas dengan lega karena tidak terjadi sesuatu dengan Damian, tiba-tiba terdengar decit suara ban yang beradu dengan aspal jalan yang terdengar begitu nyaring.


"Dam! Ada apa lagi?"

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€ tbc πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2