Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Fa, Tunggu Aku, Fa


__ADS_3

"Halo, Bang Malik. Apa mereka sudah sampai rumah sakit?" Dahi Papa Alvian berkerut dalam.


"Sudah, Opa. Baru saja dibawa masuk ke IGD," balas Malik.


"Bagaimana kondisi Bang Akbar?" tanya Papa Alvian dengan raut wajah khawatir.


"Bang Akbar tidak sadarkan diri, Opa," balas Malik yang terdengar khawatir. "Tapi opa jangan khawatir karena tidak ada luka yang serius di tubuh Bang Akbar," terang putra Daddy Rehan tersebut.


"Semoga hasil pemeriksaannya nanti, juga tidak ada luka dalam, Opa," imbuh Malik, yang diaminkan oleh Papa Alvian.


"Aamiin ...."


"Opa, maaf. Malik dipanggil dokter," pungkas Malik yang langsung menutup teleponnya.


"Jalan sekarang, Pa?" tanya Attar, setelah melihat sang papa, menutup telepon dan menyimpan kembali ke dalam saku bajunya.


Papa Alvian mengangguk.


Attar kemudian segera melajukan mobil milik sang papa, melandas di jalanan ibukota untuk menuju kota Bandung.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit di kota Bandung, Mama Susan terus menitikkan air mata. Wanita cantik itu sangat khawatir, terhadap kondisi sang putra yang belum diketahuinya secara pasti.


Papa Alvian yang awalnya duduk di bangku depan menemani putra bungsu yang sedang menyetir, akhirnya pindah ke belakang untuk menenangkan sang istri.


"Mama cantik sudah, dong, jangan nangis terus. Abang juga pasti tidak suka melihat mama seperti ini," bujuk Papa Alvian yang kemudian meraih kepala sang istri dan mendekapnya di dada.


"Kita do'akan abang sama-sama, ya." Laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan itu kemudian mencium puncak kepala sang istri, dengan segenap hatinya.


ā˜•ā˜•ā˜•


Di rumah sakit terbesar di kota Bandung. Malik terlihat baru saja selesai berbicara dengan dokter yang menangani Akbar, pemuda itu kemudian mendekati Damian yang sedang duduk menunggu di depan ruang IGD.


"Apa kata dokter, Bro?" tanya Damian, dengan tidak sabar.


"Alhamdulillah, tidak ada luka dalam yang serius. Bang Akbar hanya mengalami syok, mudah-mudahan segera sadar. Sebentar lagi, dia dipindahkan ke ruang perawatan," terang Malik.


"Alhamdulilah," ucap syukur Damian seraya mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.


Ponsel Damian terdengar berdering, pemuda tampan putra sulung Om Devan itu kemudian segera mengambil ponselnya dari dalam saku celana.


"Bram," ucapnya singkat untuk memberitahukan pada Malik siapa yang meneleponnya.


Malik mengangguk.


"Halo, Bram. Assalamu'alaikum," sapa salam Damian.


Damian nampak khusyuk mendengarkan, pemuda itu kemudian mengangguk-angguk.


Damian terlihat masih serius berbicara dengan Abraham melalui sambungan teleponnya, ketika Malik beranjak begitu melihat suster mendorong brankar dimana Akbar terbaring di atasnya dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Dam, kalau sudah selesai, susul kami di paviliun," pinta Malik yang segera berlalu meninggalkan Damian dan mengikuti langkah dua orang suster yang mendorong brankar, untuk menuju paviliun seperti yang diminta oleh Malik tadi.


Ya, setelah mengetahui bahwa tidak ada luka yang serius di tubuh Akbar, Malik meminta agar omnya itu dipindahkan ke ruang perawatan khusus atau paviliun yang disediakan pihak rumah sakit.


Malik sengaja memilih tempat yang š˜±š˜³š˜Ŗš˜·š˜¢š˜µ tersebut, mengingat jumlah keluarganya yang sangat besar dan begitu tadi dirinya mengabarkan pada keluarga, semua langsung meluncur ke Bandung, termasuk daddy dan š˜®š˜°š˜®š˜®š˜ŗ-nya.


Malik juga š˜®š˜¦-š˜³š˜¦š˜“š˜¦š˜³š˜·š˜¢š˜“š˜Ŗ beberapa paviliun sekaligus, agar keluarganya bisa beristirahat setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.


"Huh ...," Damian yang berhasil menyusul langkah Malik, menghembus kasar napasnya. "Bram, akan segera kemari," ucapnya kemudian.


"Mobil kamu, gimana?" tanya Malik.


"Sudah di titipkan di kantor polisi terdekat dengan lokasi kejadian," balas Damian, sambil terus melangkah menyusuri koridor rumah sakit.


Tak berapa lama setelah Akbar ditempatkan di sebuah kamar perawatan, di salah satu paviliun yang nampak asri, Abraham terlihat berlari kecil menuju paviliun tersebut.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Abraham.


"Wa'alaikumsalam," jawab Malik dan Damian dengan kompak.


"Bang, gimana keadaan Bang Akbar?" tanya Abraham pada Malik, pemuda itu kemudian menghampiri ranjang pasien.


"Alhamdulillah, Bram, tidak ada luka serius di tubuh Bang Akbar. Dokter mengatakan, kalau Bang Akbar hanya mengalami shock," terang Malik.


Setelah melihat keadaan Akbar dari dekat, putra sulung Om Alex itu kemudian bergabung bersama Malik dan Damian dan mendudukkan diri di sofa empuk di samping Damian.


"Proyek di PIK gimana, Bram?" tanya Malik, penuh perhatian pada adik sepupunya itu.


"Wah, pas banget ya, sama waktu nikahan kamu nanti. Atau jangan-jangan, memang sudah kamu rencanakan sebelumnya, Bram, kalau gedung perkantoran itu nanti akan kamu jadikan sebagai mahar?" tebak Damian seraya tersenyum.


"Enggaklah, si cantik biar di rumah saja dan cukup aku yang bekerja," balas Abraham.


"Betul itu, Bram. Aku aja sebulan ini, sejak Tasya mulai mengelola bisnis papa Rahmat, kayak kurang waktu untuk berduaan," sahut Malik.


"Ya lu cari oranglah, Bro, yang dapat dipercaya untuk mengelola dan Tasya hanya tinggal mengawasinya saja," saran Damian.


"Kami sudah berpikir ke arah sana, sih, tadi juga pas lagi seleksi berkas para pelamar kerja, kami sudah berniat mengambil salah satu dari mereka untuk menjadi asisten Tasya, tapi niat itu kami urungkan ketika kami melihat berkas ...." Malik langsung menghentikan ucapannya, pemuda itu tiba-tiba menjadi gugup sendiri.


"Berkas siapa, Bang?" tanya Abraham yang jadi penasaran karena Malik terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.


"Bukan siapa-siapa, Bram, hanya saja tadi keburu ada telepon dari daddy dan aku langsung menghubungi kalian tadi," kilah Malik yang belum ingin menceritakan tentang Fatiya.


"Assalamu'alaikum." Terdengar ucapan salam dari beberapa orang yang masuk ke dalam paviliun.


"Abang," isak Mama Susan terdengar pilu, sambil menghambur ke arah ranjang pasien, sebelum Malik dan sahabatnya sempat menjawab salam.


"Wa'alaikumsalam, Opa, Dad."? Malik dan yang lain kemudian menyalami Papa Alvian, Daddy Rehan dan Mommy Billa yang datang bersamaan.


"Bang, gimana kondisi Bang Akbar?" tanya Attar dan Mirza, yang menyusul di belakang sang mommy, sambil menyalami Malik.

__ADS_1


"Bang Akbar hanya shock, mudah-mudahan segera sadar," balas Malik.


Kedua pemuda tampan yang masih duduk di bangku kuliah itu kemudian ikut bergabung bersama Malik dan yang lain, di sofa.


Sementara Papa Alvian, Mommy Billa dan Daddy Rehan kemudian mendekati Mama Susan yang masih memeluk sang putra, yang masih saja memejamkan mata.


"Bang, ini mama, Bang. Buka mata Abang," isak Mama Susan sambil menciumi pipi buah hatinya.


"Ma, sudah. Jangan seperti ini," bujuk Papa Alvian, seraya merengkuh tubuh sang istri dan mendudukkannya di sebuah kursi di samping ranjang pasien.


"Mama duduk saja di sini, sambil do'akan Abang, ya," pinta Papa Alvian seraya mengecup puncak kepala sang istri yang tertutup hijab.


"Sabar ya, Oma. Bang Akbar InsyaAllah baik-baik saja," hibur Mommy Billa yang berdiri di samping Mama Susan.


"Aamiin, do'akan putraku ya, Mbak Billa," pinta Mama Susan seraya menggenggam tangan Mommy Billa.


"Akbar pemuda yang kuat, Mbak Susan. Dia pasti cepat sadar," tutur Daddy Rehan yang mencoba ikut menenangkan Mama Susan.


"Iya, Bang Rehan. Semoga saja, ya," harap Mama Susan.


Wanita cantik itu kemudian menggenggam tangan sang putra sambil menciumi punggung tangannya dengan penuh kasih.


"Fa, tunggu aku, Fa. Aku akan segera datang menjemputmu." Terdengar lirih Akbar mengigau.


"Bang, sadar, Bang." Kembali Mama Susan menangis.


"Pa, Papa harus cari gadis yang bernama Fafa itu sekarang juga, Pa, demi putra kita. Cari dia sampai ketemu," mohon Mama Susan.


"Iya, Ma, iya. Tapi mencari Fafa 'kan enggak semudah itu, Ma. Bandung ini sangat luas," balas Papa Alvian.


"Serahkan sama gue, Bang. Gue pastikan, akan membawa gadis itu secepatnya kemari," janji Daddy Rehan.


"Jangan memberi harapan palsu pada istri gue, Rey!" bisik Papa Alvian.


"Gue serius, Bang. Apa Abang lupa, gue kenal sama Kang Emil?" tanya Daddy Rehan seraya tersenyum seringai.


"Lantas, apa hubungannya?" tanya Papa Alvian, yang masih memelankan suaranya.


"Kalau gue tersesat di kota ini, gue 'kan tinggal bilang sama orang-orang yang gue temui, kalau gue ini, temannya Kang Emil," canda Daddy Rehan, yang langsung mendapatkan cubitan di perut oleh sang istri, yang kebetulan ikut mendengarkan.


"Keadaan lagi genting gini, malah becanda terus, sih, Dad!" protes Mommy Billa.


"Ampun, Sayang, ampun. Kita lanjut di paviliun sebelah saja yuk, Mom," canda Daddy Rehan kembali.


"Hem, enggak di rumah, enggak di kantor, enggak di sini, sama saja kelakuan kamu, Rey!" gerutu Papa Alvian.


"Gue cuma bercanda, Bang," balas Daddy Rehan yang kini wajahnya kembali serius. "Tapi tentang Fafa, gue enggak bercanda, Bang. Gue akan bawa dia secepatnya kemari."


Papa Alvian menatap tak percaya, begitu pula dengan Mommy Billa.

__ADS_1


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_2