
"Mas, apa yang Mas Akbar lakukan?" tanya Fatiya gugup.
Akbar meniup luka di telapak kaki Fatiya dengan segenap perasaan. "Aku hanya ingin mengobati lukamu, Fa. Orang tuaku bilang, kalau luka di tiup dengan penuh cinta, maka luka itu akan cepat sembuh," jawab Akbar.
Fatiya terdiam, mencerna ucapan pemuda di hadapannya.
Akbar menatap Fatiya dengan dalam, seolah berbicara melalui tatapan mata bahwa apa yang dia katakan itu benar adanya. Akbar ingin menyembuhkan luka kaki dan juga luka hati Fatiya, dengan cintanya.
'Apa maksud ucapan Mas Akbar barusan?' batin Fatiya bertanya.
"Ijinkan aku mengobati lukamu dengan cintaku, Fa," pinta Akbar seraya menatap dalam manik hitam gadis cantik yang duduk di kursi roda tersebut.
Mulut gadis itu memang masih terkunci rapat dan sama sekali tidak bergerak, tetapi berbeda dengan jantungnya yang berlompatan dan tak bisa dikondisikan, mendapatkan perlakuan manis dari Akbar.
Akbar kembali meniup telapak kaki Fatiya. Setelah kaki kanan dirasa cukup, pemuda itu kemudian meniup luka di kaki sebelah kiri. Dia melakukannya dengan hati-hati karena tak ingin membuat kaki gadis yang diincarnya tersebut menjadi semakin sakit.
Fatiya bertambah gugup dan salah tingkah dibuatnya. Gadis cantik itu hanya bisa diam, tak tahu apa yang harus dia katakan.
Keheningan menyapa ruangan tersebut, hingga beberapa saat lamanya.
"Mas, memangnya kondisi Mas Akbar sudah membaik?" tanya Fatiya mengurai keheningan. Gadis cantik itu sengaja mengabaikan permintaan Akbar karena dia belum siap dan bingung untuk menjawabnya.
"Seperti yang kamu lihat, Fa. Aku sudah sehat," balas Akbar yang kemudian berdiri. Putra sulung Papa Alvian itu kemudian mendorong kursi roda Fatiya menuju sofa.
"Kita ngobrol di sini, ya," pinta Akbar yang memposisikan kursi roda Fatiya berhadapan dengan sofa yang dia duduki.
"Kamu belum menjawab permintaanku, Fa," ucap Akbar beberapa saat kemudian. Pemuda tampan itu menatap netra Fatiya dengan tatapan penuh arti.
Fatiya menunduk. Debaran di jantungnya semakin cepat. Namun, gadis cantik itu belum ingin buru-buru menyimpulkan perasaannya terhadap pemuda yang duduk tepat di hadapan.
"Aku bersedia menunggu, sampai kamu siap untuk memulai hubungan yang baru," lanjut Akbar karena gadis cantik di hadapannya masih saja terdiam.
Fatiya mengangguk perlahan. "Iya, Mas. Beri Fafa waktu, ya," pintanya. Putri tunggal Bu Saidah itu kembali menunduk, tak sanggup berlama-lama menatap netra pemuda tampan di hadapannya.
Fatiya terkejut, kala Akbar tiba-tiba meraih tangan Fatiya dan menempelkan di dada pemuda tersebut. "Hanya kamu yang bisa membuat getaran di dada ini, Fa," ucap Akbar sangguh-sungguh.
Fatiya seperti terhipnotis, dia membiarkan saja tangannya berada di dada Akbar yang memang berdebar kencang, sama seperti debaran di dadanya saat ini.
'Aku pun merasakannya, Mas,' batin Fatiya.
Seseorang yang tiba-tiba muncul, mengagetkan keduanya.
__ADS_1
"Maaf, Bang Akbar. Di luar, ada yang ingin berbicara dengan Fafa dan ibunya," ucap Malik yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu, membuat Akbar dan Fatiya terkejut.
"Ngagetin aja, sih," gerutu Akbar, pemuda itu kemudian melepaskan tangan Fatiya yang sudah ditarik-tarik gadis itu sejak melihat Malik datang.
Sementara Fatiya tersipu malu.
"Maaf, Fa. Bisa kalian lanjutkan nanti mesra-mesraannya," goda Malik seraya tersenyum pada Fatiya.
"I-ini enggak seperti yang Bang Malik lihat," sanggah Fatiya gugup.
"Benar, Bro. Tidak seperti yang kamu lihat, tapi lebih jauh dari yang tadi," timpal Akbar, membuat Fatiya mengerucutkan bibir.
"Jangan mengada-ada deh, Mas. Nanti Bang Malik mikirnya, kita beneran melakukan hal yang enggak-enggak," protes Fatiya, gadis itu kemudian cemberut, membuat Akbar semakin gemas melihatnya.
Malik tergelak mendengar kekhawatiran Fatiya, begitu pula dengan Akbar. Sementara Fatiya mengerutkan dahi dengan dalam.
"Enggaklah, Fa. Kami semua tahu seperti apa saudara kami," ucap Malik. "Bang Akbar tidak akan berbuat yang melebihi batas," lanjutnya untuk meluruskan persepsi Fatiya terhadap candaan mereka.
"Kecuali, jika memang kepepet, pasti mau juga, sih," imbuh Malik yang langsung mendapatkan sentilan di keningnya, oleh omnya tersebut.
"Hahaha ... aku becanda, Fa," ucap Malik sambil berjalan menuju pintu.
"Siapa ya, Mas, yang mencari Fafa?" tanya Fatiya ketika Akbar hendak mendorong kursi roda Fatiya untuk membawanya ke teras depan.
"Aku juga belum tahu, Fa. Bisa jadi, itu Pak Penghulu yang akan menikahkan kita," balas Akbar dengan asal.
"Ish, Mas Akbar kalau bicara suka ngaco," protes Fatiya seraya memukul pelan punggung tangan Akbar yang berpegangan pada handle untuk mendorong kursi roda Fatiya.
"Fa, lihat atas sini!" titah Akbar sebelum kursi roda Fatiya mencapai pintu.
Fatiya mendongak dan tepat di saat yang sama, Akbar menunduk, hingga bibir Akbar menyentuh dahi gadis cantik itu.
Sesaat, Fatiya tak bergerak. Gadis itu seperti terpaku. Dia memejamkan mata, menikmati debaran di dadanya.
"Aku enggak asal bicara dan ngaco, Fa, tetapi selalu terselip do'a dari setiap kata yang aku ucapkan kepadamu," bisik Akbar setelah melepaskan ciuman di kening Fatiya.
Begitu tersadar, Fatiya buru-buru menegakkan kepala dan menatap lurus ke depan. Gadis itu kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menutupi kegugupannya.
"Ayo, Mas!" ajak Fatiya kemudian karena Akbar masih belum mendorong kursi rodanya.
"Kemana? Apa ke KUA?" tanya Akbar, sengaja memancing.
__ADS_1
"Terserah Mas Akbar sajalah," balas Fatiya yang akhirnya pasrah karena setiap kali gadis itu berbicara, putra sulung Papa Alvian tersebut selalu saja memiliki cara untuk mengarahkan pembicaraan menjurus ke sana.
"Asyik! Kita ke KUA sekarang ya, Neng!" seru Akbar, senang. Pemuda itu segera mendorong kursi roda Fatiya menuju teras paviliun, dimana ada satu set kursi di setiap halaman paviliun tersebut.
Fatiya hanya tersenyum.
Akbar membawa Fatiya menuju teras. Di sana, sudah ada Bu Saidah, Pendi, papa dan mamanya Pendi, Malik dan para sahabat, serta para papa.
Kursi roda Fatiya diletakkan oleh Akbar tepat di samping tempat duduk Bu Saidah.
"Fa, Bi. Maafkan Papa Pendi, ya," pinta Pendi, begitu Fatiya sudah berada di sana.
Ya, rupanya, Pendi yang bisa bangun lebih awal dari yang lain tadi, langsung pulang ke rumah dan memaksa sang papa untuk ikut bersamanya ke rumah sakit.
"Iya, Neng Fafa, Dik Saidah. Maafkan Uwa Dodi, ya," pinta mamanya Pendi dengan berlinang air mata.
"Teh, selama ini kami hanya diam, ketika kami difitnah dan diusir dari rumah kami sendiri. Kami juga tidak pernah mengurus lagi semua harta yang kami tinggalkan begitu saja." Bu Saidah menatap kakak iparnya.
"Tapi kenapa suami Teteh tega melakukan semua ini pada anak kami, Teh?" Air mata Bu Saidah tak dapat dibendung lagi.
Mendengar yang sebenarnya dari Bu Saidah, Pendi mengepalkan tangan. Pemuda itu menatap sang papa dan terlihat sangat marah.
Begitu pula dengan mamanya Pendi, beliau menatap sang suami dengan mengerutkan dahi. Istrinya Pak Dodi itu pun tak tahu menahu mengenai kelakuan sang suami yang tega memfitnah adik kandungnya, Asep.
Semua yang berada di sana juga ikut geram dengan perilaku Pak Dodi, terutama Akbar. Jika saja Pak Dodi bukan orang tua, pemuda itu pasti sudah menghajar orang yang telah berani menyentuh pujaan hatinya.
"Pa, jadi ...."
"Maafkan papa, Ma. Maafkan papa, Pendi," potong Pak Dodi cepat, sebelum istrinya itu menyelesaikan bicaranya.
"Dik Saidah, maafkan aku," pinta Pak Dodi seraya menatap wanita yang pernah dicintainya dalam diam, dengan menghiba.
Bu Saidah menghela napas panjang.
"Nak Fafa. Maafkan Uwa, Nak," pinta Pak Dodi kemudian, menatap sang keponakan yang hampir saja menjadi korban perkosaan akibat dari keserakahannya.
Fatiya menoleh ke arah ibunya yang nampak masih terbawa emosi. Bu Saidah mengenang kembali perjuangannya dengan sang suami yang merangkak dari bawah. Namun, setelah berhasil dan sukses, justru ditikam oleh saudaranya sendiri.
"Maaf, Wa. Fafa tidak tahu apa-apa mengenai masa lalu keluarga kami, termasuk harta orang tua Fafa yang semalam diminta paksa oleh Wa Dodi. Jadi, semua terserah pada Ibu," Fatiya kembali menatap ibunya.
ššššš tbc ššššš
__ADS_1