
"Ibu tidak mau egois, Nak. Ibu serahkan kembali semua padamu," tutur Bu Saidah seraya menggenggam tangan sang putri.
"Satu hal yang ingin ibu sampaikan, tanamkan di hatimu aqidah atau keyakinan yang kokoh sehingga tidak ada lagi keraguan yang mengiringinya, bahwa Allah pasti akan memberikan pengganti yang lebih baik, seorang pemuda yang InsyaAllah akan bisa menjadi imam bagimu dan juga anak-anak kalian kelak." Bu Saidah menatap sang putri dengan tatapan lembut.
Fatiya mengangguk mengerti, tetapi gadis itu seolah ragu untuk memutuskan. Fatiya seperti merasakan masih ada yang tertinggal, tetapi dirinya tidak mengetahui apa, itu?
"Jadi, kemanapun dan dimana pun kita memutuskan untuk tinggal nanti, jika memang berjodoh pasti akan dipertemukan, entah bagaimana caranya," lanjut Bu Saidah yang seolah mengetahui isi hati putrinya.
Fatiya kembali mengangguk. Gadis cantik itu menghela napas panjang.
"Kita berangkat sekarang, Pak. Ke alamat yang saya katakan semalam," ucap Fatiya kemudian, dengan penuh keyakinan.
"Baik, Mbak," balas sopir taksi tersebut. Pak sopir kemudian segera melajukan mobilnya, keluar dari halaman puskesmas tempat Bu Saidah dirawat.
Bu Saidah merengkuh tubuh sang putri dan membawa ke dalam dekapan hangatnya. "Yakinlah, Nak. Yakinlah, bahwa Allah tidak pernah menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuan hamba itu sendiri," bisiknya lirih. Wanita lemah itu mencium puncak kepala sang putri dengan dalam dan penuh kasih.
Fatiya memejamkan mata, dalam dekapan nyaman sang ibu. 'Bismillah ... semoga ini pilihan terbaik untukku dan ibu,' bisik Fatiya dalam hati.
Taksi itu terus melaju dengan kecepatan cukup tinggi, membawa Fatiya dan sang ibu ke tempat tujuan untuk memulai kehidupan yang baru.
āāā
Diandra dan Angga yang baru saja turun dari pesawat, langsung menuju ke mobil.
"Silahkan, Mas, Mbak," ucap sopir pribadi keluarga Angga, ketika membukakan pintu untuk bosnya tersebut.
"Terimakasih, Pak," balas Diandra, dengan tersenyum ramah.
Diandra dan Angga kemudian segera masuk ke dalam mobil mewah ššŖš®šŖšµš¦š„ š¦š„šŖšµšŖš°šÆ, yang hanya dimiliki oleh beberapa orang saja di negara ini. Salah satunya adalah putra pengusaha kaya, RPA Group.
"Mau langsung pulang ke rumah atau hendak kemana dulu, Mas, Mbak?" tanya sopir keluarga seraya menoleh ke belakang sekilas.
Belum sempat Diandra menjawab, terdengar bunyi ponselnya dari dalam tas. "Tunggu sebentar, Pak, Didi angkat telepon dulu."
"Siapa, Sayang?" tanya Angga ketika sang istri melihat ke layar ponsel.
"Bang Akbar, Kak," balas Diandra seraya menggeser gambar telepon berwarna hijau untuk menerima panggilan dari Akbar.
"Halo, Bang. Wa'alaikumsalam," balas Diandra, menjawab salam dari seberang telepon.
Diandra nampak mendengarkan suara di telepon.
"Iya, Bang. Kakak tadi hubungi kamu karena ada hal penting yang ingin kakak sampaikan," balas Diandra. "Bang Akbar di mana sekarang?" tanya Diandra kemudian.
__ADS_1
Wanita cantik itu terdiam dan mendengarkan kembali Akbar berbicara.
"Baik, Bang. Kami akan ke kantor Abang sekarang, kami sudah dalam perjalanan dari Bandara," pungkas Diandra.
"Wa'alaikumsalam salam," jawab Diandra kemudian ketika Akbar mengakhiri panggilannya.
"Kita ke kantor Antonio Group, Pak," pinta Diandra seraya menyimpan kembali ponselnya di dalam tas.
"Baik, Mbak Didi," balas sopir keluarga tersebut dengan patuh.
Mobil mewah tersebut melaju dengan kencang, melandas di jalanan ibukota yang cukup padat.
Semua penumpang mobil tersebut diam, tak ada satupun yang hendak memulai percakapan, termasuk Diandra yang duduk seraya menyandarkan kepala di bahu kokoh sang suami.
Sementara Angga, satu tangannya sibuk memainkan ponsel membalas chat dari š¤š¶š“šµš°š®š¦š³ yang beruntun masuk karena seharian kemarin Angga mematikan ponsel. Sedangkan satu tangannya yang lain, memeluk perut sang istri dan sesekali mengusapnya dengan lembut.
āāā
Di kediaman keluarga Antonio. Setelah menutup teleponnya, Akbar bergegas turun untuk sarapan bersama keluarga tercinta.
"Pagi, Pa, Ma," sapa Akbar kepada kedua orang tuanya yang sudah duduk di meja makan. Pemuda itu kemudian duduk di samping sang adik yang sedang asyik memainkan ponsel.
"Pagi, Bang," balas sang mama yang sedang menyiapkan makan untuk papa Alvian.
"Bang, apaan, sih! Main rebut aja!" protes Attar seraya cemberut.
Lagi di meja makan, jangan mainin ponsel! Enggak sopan tahu, Dik!" larang Akbar. "Apalagi ada orang tua di hadapan kita," imbuhnya seraya menatap sang adik, meminta pengertian Attar.
Attar mengangguk. "Iya-iya, Bang. Attar juga tahu, tapi itu tadi 'kan lagi nanggung, Bang," balas Attar membela diri. "Attar lagi ngobrol sama Mirza dan yang lain, kalau šøš¦š¦š¬š¦šÆš„ nanti, kami mau ikut bakti sosial," lanjutnya.
"Oh, ya. Dimana, Dik?" tanya sang mama.
"Bandu, Ma," balas Attar, seraya mengisi piringnya dengan nasi.
"Budhe sama Pakdhe kemana, Ma? Kok enggak ikut sarapan?" tanya Akbar seraya menengok ke arah pintu belakang.
"Tadi bakda shubuh minta dianterin sopir ke rumahnya Bang Kevin, kangen katanya sama Vinsa," balas sang papa, mewakili istrinya.
"Bang Akbar, buruan sarapan," titah sang mama.
Mereka kemudian menikmati sarapan pagi, sambil ngobrol dengan hangat. Obrolan yang didominasi oleh Mirza, bungsu keluarga Alvian Antonio.
Segala hal diceritakan oleh pemuda tersebut, mulai dari kegiatannya di kampus yang padat hingga hampir tidak memiliki waktu untuk š©š¢šÆšØš°š¶šµ bersama gengnya, hingga menceritakan gadis cantik yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas yang dipacari Mirza beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
"Kalau Abang sama Kak Fafa, gimana?" tanya Attar.
Pertanyaan Attar yang tidak pernah disangka Akbar itu, membuat putra sulung papa Alvian tersedak. Attar yang duduk di samping sang abang, sigap memberikan segelas air pada abangnya tersebut.
"Bang ... Abang. Dengar namanya disebut aja, langsung tersedak!" ledek. Apalagi kalau lihat orangnya langsung, bisa pingsan Si Abang!" lanjutnya seraya terkekeh pelan.
'Kamu benar, Dik. Jika Fafa beneran ada di hadapan abang saat ini, abang pasti akan langsung pingsan karena terkejut sekaligus senang, tapi itu enggak mungkin, Dik. Kak Fafa sebentar lagi mau menikah dan itu sudah pasti, Dik,' batin Akbar, hatinya terasa nyeri mengingat pernikahan Fatiya yang sebentar lagi akan dilangsungkan.
"Iya, gimana tuh, Bang? Ada kelanjutannya, tidak?" timpal sang papa, ikut menanyakan.
Akbar mengusap mulutnya dengan tissue seraya menggeleng lemah. "Tidak, Pa. Fafa melanjutkan rencana pernikahannya," balas Akbar dengan ekspresi datar.
Sejujurnya, hati pemuda itu kembali patah, tetapi Akbar tidak mau menunjukkan di hadapan kedua orang tuanya. Dia berusaha tegar, meski semalaman Akbar tak dapat tidur karena bulir bening terus menyeruak menggenangi matanya.
Akbar merintih dalam sujud panjangnya di tengah malam, memohon pada Sang Maha Kuasa, kebaikan untuk dirinya dan juga kebaikan untuk gadis yang dicintai Akbar, meski mereka tak bisa bersama.
"Jangan khawatir, Bang. Jodoh, rizqi dan maut, sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Tugas Abang hanya meminta pada-Nya, semoga diberikan yang terbaik dan disaat yang paling tepat." Mama Susan sejenak menghentikan sarapan paginya, beliau tatap sang putra dengan tatapan hangat.
"Aamiin," jawab Akbar seraya mengangguk.
Akbar yang makan dengan cepat, kemudian pamit duluan.
"Pa, Ma. Akbar berangkat dulu, ya," pamitnya seraya menyalami sang papa dan mamanya.
"Kok buru-buru, Bang?" tanya sang mama, dengan dahi berkerut.
"Iya, Ma. Kak Didi dan Kak Angga mau menemui Akbar di kantor, katanya ada hal penting yang akan disampaikan," balas Akbar.
"Hal penting? Tentang apa, Bang?" tanya sang papa yang nampak penasaran.
"Akbar juga belum tahu, Pa. Ini makanya Akbar buru-buru, takut keduluan sama mereka karena tadi Kak Didi bilang sudah dalam perjalanan dari Bandara," balas Akbar.
"Sepertinya penting sekali ya, Bang. Sampai-sampai dari Bandara bukannya pulang dulu tapi langsung menemui Abang." Mama Susan menatap sang putra yang masih berdiri di sampingnya dengan tatapan penuh tanya.
Akbar mengedikkan bahu. "Sepertinya begitu, Ma," ucap Akbar.
"Paling tentang Kak Fafa itu, Bang. Dia batal nikah sama calon suaminya, terus Abang yang disuruh menggantikan posisi calonnya Kak Fafa," ucap Attar. "Jadi macam suami pengganti gitu, Bang, kayak judul-judul novel yang laris manis," imbuhnya seraya terkekeh pelan.
Akbar tersenyum getir. 'Andai saja benar seperti itu, Dik, dengan senang hati akan abang lakukan,' batin Akbar.
ššššš tbc ššššš
__ADS_1