Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Calon Istri Mas Akbar


__ADS_3

"Iya, Bu. Karena Akbar ingin berkenalan sama ibu calon mer ...."


"Tadi 'kan hujan gede, Bu. Kebetulan Mas Akbar lihat Fafa lagi nunggu angkot, ya udah Mas Akbarnya maksa mau nganterin," sahut Fatiya dengan cepat, yang baru saja dari arah dapur seraya melirik tajam pada Akbar.


Setelah menyimpan dua gelas teh panas beserta sepiring bolu yang terbuat dari ubi, Fatiya bergegas kembali ke dapur untuk menyimpan baki.


Gadis cantik itu tak langsung kembali, dia kemudian duduk di meja makan sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba saja bergemuruh.


Fatiya mengingat kembali perlakuan Akbar yang sangat manis, sepanjang kebersamaan mereka berdua tadi.


"Fa, kamu pakai hijab warna ini, pasti cantik," ucap Akbar seraya menunjuk hijab motif bunga sakura yang terlihat kalem.


"Apakah kecantikanmu menurun dari calon ibu mertuaku?" goda Akbar, yang membuat Fatiya cemberut.


"Apaan sih, Mas Akbar!" protesnya tetapi dengan pipi yang bersemu merah, membuat Akbar tersenyum simpul.


"Gimana, Fa? Mau, hijab yang itu?" tanya Akbar kembali.


Fatiya yang memang sudah mengincar warna tersebut, mengangguk setuju. "Iya. Mas Akbar bisa tolong ambilkan, itu terlalu tinggi," pinta Fatiya yang tangannya tidak sampai untuk menggapai hijab yang hangernya tinggi tersebut.


Akbar kemudian mengambilkan hijab tersebut untuk Fatiya, bukan hanya satu, tetapi beberapa hijab sekaligus dan kemudian dia jadikan satu di kantong belanjaan milik Fatiya yang dia bawa.


Sewaktu memilih baju tadi juga sama seperti itu, hingga kantong belanjaan nampak penuh dengan barang-barang yang Akbar pilihkan untuk gadis cantik yang telah mampu mencuri hati Akbar.


Sementara Fatiya hanya bisa geleng-geleng kepala karena percuma juga dia menolak, Akbar akan tetap memasukkan baju yang telah dipilihnya ke dalam kantong.


"Mas, udah yuk! Bentar lagi maghrib," ajak Fatiya seraya berjalan menuju kasir.


Akbar yang kembali melewati patung manequin yang tadi sudah dilihatnya, menghentikan langkah.


"Mbak, minta gaun yang seperti itu tapi warna maroon, ya," pinta Akbar pada seorang pelayan toko.

__ADS_1


"š˜šš˜Ŗš˜»š˜¦-nya, Mas?" tanya wanita muda itu seraya tersenyum malu.


'Ih, si Mas romantis banget, sih, enggak malu bawain barang belanjaan istri. Udah gitu, milihin gaun seksi untuk istrinya pula,' batin pelayan toko tersebut.


"Yang seukuran dia, Mbak," balas Akbar seraya menunjuk Fatiya yang terus berjalan menuju kasir.


Wanita muda itu mengangguk dan segera mengambilkan pesanan Akbar.


"Mas, kenapa berhenti?" tanya Fatiya yang ternyata kembali lagi, menghampiri Akbar.


"Iya, Fa," balas Akbar singkat seraya tersenyum.


"Ini, yang Mas minta," ucap wanita muda itu seraya memberikan gaun yang masih terbungkus plastik bening, sehingga Fatiya dapat menebak isinya apa.


Fatiya menatap Akbar dengan penuh tanya.


"Jangan salah sangka, Fa. Aku membelinya untuk calon istriku nanti," ucap Akbar.


"Apa kamu mau aku beliin juga, Fa?" goda Akbar, yang membuat Fatiya langsung ngeloyor menuju ke kasir dengan wajah memerah.


Akbar tertawa senang, pemuda itu sangat bahagia jika melihat Fatiya malu dan merona pipinya.


Fatiya tiba-tiba teringat kantong belanjaan yang dia simpan di meja kecil di samping kulkas, dia kemudian melihat isi kantong tersebut untuk mengambil gaun milik calon istri Akbar seperti yang dikatakan oleh pemuda itu tadi.


Fatiya menyimpan pakaian tersebut dalam sebuah š˜±š˜¢š˜±š˜¦š˜³ š˜£š˜¢š˜Ø kecil dan kemudian membawanya ke ruang tamu.


"Kenapa lama sekali, Fa?" protes sang ibu yang hendak menanyakan sesuatu.


"Iya, Bu. Fafa tadi nyari-nyari ini, punya Mas Akbar yang dititipkan di kantong Fafa," balas Fatiya seraya menyimpan š˜±š˜¢š˜±š˜¦š˜³ š˜£š˜¢š˜Ø tersebut tepat di hadapan Akbar.


Akbar mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Nak Akbar ini ternyata saudaranya Pak Angga ya, Fa. Kok kamu enggak pernah cerita sama ibu." Bu Saidah menatap putrinya.


"Fafa juga belum lama tahu kok, Bu," balas Fatiya.


Sepertinya, Akbar dan Bu Saidah sudah ngobrol banyak hal. Sehingga keduanya terlihat begitu akrab.


"Oh ya, Fa. Kenapa kamu enggak diantar sama Daniel, katanya tadi kamu janjian sama dia?" tanya Bu Saidah begitu teringat apa yang akan ditanyakan pada sang putri.


Fatiya sempat bingung, tapi gadis itu bisa segera memberikan jawaban. "Daniel tiba-tiba ada š˜®š˜¦š˜¦š˜µš˜Ŗš˜Æš˜Ø dengan bosnya, Bu. Jadi enggak bisa jemput Fafa."


Bu Saidah mengangguk mengerti, sementara Akbar menatap Fatiya dengan tatapan yang sulit dimengerti.


Bu Saidah beranjak. "Ibu akan siapkan makan malam, kalian ngobrol saja dulu."


"Biar Fafa saja, Bu," pinta Fatiya yang langsung ikut beranjak. Sepertinya, Fatiya sengaja ingin menghindar dari berdua-duaan dengan Akbar yang bisa membuat jantungnya berdebar tak karuan.


Bu Saidah menggeleng. "Temani saja Nak Akbar, Fa. Biar ibu panaskan lauk sebentar." Bu Saidah segera berlalu meninggalkan Fatiya dan Akbar yang tengah tersenyum bahagia.


Tentu saja pemuda itu sangat senang karena diberikan kesempatan untuk ngobrol berdua sama gadis yang sudah mengisi hati Akbar, meski sepertinya sang gadis belum mau berpaling dari Daniel.


Fatiya kembali duduk dengan sangat terpaksa. Bibirnya mengerucut, hingga membuat gemas Akbar yang memperhatikan gadis itu sedari tadi.


"Mas, itu gaun untuk calon istri, Mas. Takutnya, nanti kelupaan," ucap Fatiya seraya menunjuk š˜±š˜¢š˜±š˜¦š˜³ š˜£š˜¢š˜Ø di atas meja.


Akbar tersenyum. "Aku nitip di sini dulu, ya. Nanti kalau aku udah mau nikah, aku ambil. Di rumah, adik-adikku pada rese, Fa," pinta Akbar.


"Jangan, Mas. Mending Mas Akbar kasih saja langsung pada calon istri, Mas," tolak Fatiya.


"Ya, udah. Ini buat kamu saja," ucap Akbar yang tahu-tahu sudah berdiri di samping Fatiya dan menyimpan š˜±š˜¢š˜±š˜¦š˜³ š˜£š˜¢š˜Ø tersebut di atas pangkuan gadis itu.


"Aku mau bantuin calon ibu mertua," lanjut Akbar seraya masuk ke dalam, meninggalkan Fatiya yang termangu seorang diri.

__ADS_1


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_2