
"Ibu ingin kita pulang ke kampung halaman ayahmu, apa kamu keberatan, Fa?" Bu Saidah menatap sang putri dengan penuh harap.
"Pulang ke kampung halaman ayah?" tanya Fatiya yang mengulang permintaan sang ibu.
Bu Saidah mengangguk yakin.
Fatiya mengangguk, gadis cantik itu setuju dengan permintaan sang ibu seperti janjinya yang akan memenuhi keinginan satu-satunya orang tua yang masih dia miliki tersebut.
"Kita berangkat setelah kamu ikut wisuda, tapi maaf jika nanti ibu tidak bisa mendampingi kamu di acara wisudamu, Nak," tutur sang ibu dengan tatapan sendu.
Kondisinya yang masih lemah, serta saran dari dokter yang mengharuskan wanita kurus itu untuk dirawat dalam dua atau tiga hari ke depan, membuat Bu Saidah tidak memungkinkan untuk datang ke acara seremonial yang durasi waktunya panjang tersebut.
"Enggak apa-apa, Bu. Fafa tidak ikut wisuda juga tak masalah, kok. Kita akan berangkat lusa, jika Ibu sudah sehat dan sudah boleh keluar dari sini, ya," balas Fatiya seraya tersenyum, untuk menenangkan sang ibu agar tidak merasa bersalah padanya.
"Jika begitu, apa Ibu enggak apa-apa kalau Fata tinggal sebentar? Fafa mau pamit sama Pak Angga." Fatiya membetulkan selimut ibunya.
Bu Saidah mengangguk lemah. "Pergilah, Nak. Ibu tidak apa-apa, lagipula ada suster yang rutin mengecek keaadan ibu, bukan?" Bu Saidah mengusap punggung tangan sang putri dengan penuh kasih.
"Baik, Bu. Fafa mau bersiap dulu," ucap Fatiya yang langsung beranjak. "Besok malam, baru Fafa akan mengambil barang-barang kita," lanjutnya sambil melepas mukena.
Gadis itu kemudian merapikan mukena dan segera memakai hijab. Fatiya mengambil tas punggungnya, mengambil lipstik dan mengoleskan ke bibirnya yang ranum.
Hanya lipstik yang Fatiya gunakan untuk memperindah penampilannya, itupun hanya tipis saja karena Fatiya tidak suka bersolek.
"Fafa berangkat ya, Bu. Assalamu'alaikum," pamit Fatiya kemudian, setelah memastikan penampilannya cukup rapi. Fatiya mencium punggung tangan sang ibu dengan takdim.
Hari ini, Fatiya tampil santai tanpa seragam seperti biasanya. Gadis itu mengenakan kulot panjang berwarna gelap yang dipadukan dengan blouse berwarna oranye, membuat penampilan Fatiya terlihat segar. Meski kenyataannya, apa yang nampak dari luar berbanding terbalik dengan suasana hatinya saat ini.
Fatiya kemudian segera keluar dari kamar rawat sang ibu dan menutupkan kembali pintunya dengan tidak rapat, agar sang ibu bisa melihat suasana di luar.
__ADS_1
Sebelum meninggalkan tempat tersebut, Fatiya menyempatkan diri menemui perawat yang bertugas untuk menitipkan ibunya.
"Maaf, Sus, saya harus keluar sebentar. Tolong ibu saya rutin di cek, ya," pinta Fatiya dengan sopan.
"Baik, Mbak. Kami pasti akan memantau keadaan pasien," balas suster tersebut dengan ramah.
Fatiya tersenyum dan kemudian segera meninggalkan puskesmas rawat inap tersebut dengan perasaan lega.
āāā
Tiga puluh menit kemudian, Fatiya tiba di showroom tempatnya bekerja dengan menaiki angkot seperti biasanya.
Fatiya bergegas melangkah melewati pelataran parkir yang luas dengan wajah yang selalu tersenyum, menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya.
"Mbak Fafa, tumben Mbak Fafa tidak pakai seragam?" tanya seorang petugas kebersihan yang sedang menyapu halaman.
"Iya, Mas. Hari ini saya tidak masuk kok, Mas. Ada perlu sebentar sama Pak Teddy," balas Fatiya seraya tersenyum ramah.
"Baik, Mas, terimakasih informasinya. Saya kedalam dulu, ya," pamit Fatiya yang segera memacu langkah meninggalkan petugas kebersihan, yang kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Assalamu'alaikum, Pak Teddy," sapa Fatiya di ambang pintu ruangan š“š¶š±š¦š³š·šŖš“š°š³-nya.
"Wa'alaikumsalam, Mbak Fafa. Silahkan masuk," ujar Pak Teddy dengan ramah. Laki-laki seusia Angga itu kemudian menunjuk bangku kosong di hadapannya.
"Lho, tadi katanya, Mbak Fafa enggak bisa masuk karena ibunya sakit?" tanya Pak Teddy, setelah Fatiya duduk di seberang meja di hadapannya.
"Iya, Pak. Tadinya seperti itu, tapi ini urusan lain," balas Fatiya. "Sebelumnya Fafa minta maaf jika ini mendadak," ucap Fatiya selanjutnya.
"Kenapa, Mbak? Apa, cuti nikahnya mau diajukan mulai sekarang?" tanya Pak Teddy seraya tersenyum.
__ADS_1
Fatiya ikut tersenyum masam, ada rasa nyeri di hati gadis berhijab itu mendengar kata pernikahan. "Bukan tentang itu, Pak," balas Fatiya dengan suara tercekat di tenggorokan.
Ya, teman-teman di kantornya sudah menerima undangan dari Fatiya dan sebelumnya gadis cantik itu juga sudah mengajukan cuti kepada atasannya itu, dimulai dari sehari sebelum dirinya diwisuda hingga satu minggu setelah pernikahannya.
"Lantas, tentang apa?" tanya Pak Teddy yang menangkap kesedihan di wajah Fatiya.
"Fafa mau mengundurkan diri, Pak," balas Fatiya dengan gugup.
"Kenapa memangnya, Mbak Fafa? Apa, calon suami Mbak Fafa yang menyuruh?" Pertanyaan Pak Teddy, semakin membuat hati Fatiya teriris, sakit.
Jika benar dia jadi menikah dan Daniel menginginkan Fatiya keluar dari pekerjaannya, tentu dengan senang hati akan dia lakukan. Tetapi ini berbeda, Fatiya berhenti justru karena dirinya gagal menikah dan akan pergi jauh.
"Keputusan Mbak Fafa tepat, Mas Daniel sudah memiliki pekerjaan yang bagus dan gajinya juga pasti sangat besar. Benar-benar calon istri yang sholehah," puji Pak Teddy.
"Oh ya, Pak. Saya juga mau pamit sama Pak Angga, apa beliau sudah datang?' Fatiya sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Pak Angga hari ini tidak ke sini, Mbak, beliau ada urusan di luar kota bersama Mbak Didi," balas Pak Teddy.
"Baik, Pak. Kalau begitu, biar nanti Fafa coba telepon Mbak Didi," ucap Fatiya. "Fafa pamit ya, Pak. Maaf, jika selama Fafa bekerja di sini, Fafa banyak melakukan kesalahan," pamit Fatiya.
"Tidak sama sekali, Mbak. Mbak Fafa sudah bekerja dengan sangat baik, saya banyak terbantu dengan adanya Mbak Fafa," ucap Pak Teddy.
"Oh ya, Mbak. Untuk bonus penjualan mobil ke Perusahaan Antonio Group, akan segera kami transfer ke rekening Mbak Fafa berikut uang pesangon dan gaji terakhir," terang Pak Teddy.
Fatiya mengangguk. "Baik, Pak. Terimakasih banyak," balas Fatiya yang langsung beranjak, gadis cantik itu kemudian menyalami Pak Teddy sebelum lanjut pamitan sama temen-temennya.
Fatiya keluar dari š“š©š°šøš³š°š°š® dengan perasaan yang campur aduk tak karuan. Empat tahun dirinya bekerja di š“š©š°šøš³š°š°š® milik Angga ini, tentu banyak kenangan yang dia rajut bersama teman-temannya.
Gadis cantik berhijab itu berjalan melintasi area parkir yang luas dengan langkah berat dan dengan perasaan kehilangan serta hati yang masih tertinggal di belakang sana, hingga Fatiya tak menyadari hadirnya seseorang yang sudah menunggu dirinya di pintu gerbang š“š©š°šøš³š°š°š®.
__ADS_1
ššššš tbc ššššš