
"Sudah, berangkatlah!" titah sang ayah, setelah cukup lama membiarkan Daniel mengeluarkan air mata penyesalan.
Daniel bergegas meninggalkan kamar sang mama menuju parkiran. Pemuda itu kemudian segera melajukan kendaraannya, membelah jalanan beraspal yang masih basah.
Baru saja lima ratus meter mobil Daniel melaju, terdengar suara tabrakan yang terdengar begitu dahsyat ....
Daniel membanting setir ke kiri dan menabrakkan mobilnya pada pembatas jalan, untuk menghindari tabrakan beruntun di depannya.
"Hah, syukurlah aku masih sempat menghindar," ucap Daniel lirih.
Pemuda itu bernapas sedikit lega. Tak mengapa jika mobilnya rusak parah di bagian depan, yang terpenting nyawanya dapat terselamatkan.
Daniel segera keluar dari mobil dan kemudian ikut membantu orang-orang yang sibuk mengevakuasi korban kecelakaan beruntun barusan.
Kecelakaan hebat itu melibatkan tiga mobil kecil, dua mini bus dan satu mobil box, termasuk mobil sedan yang melaju kencang di belakang mobil Daniel tadi.
"Pak, tolong kemari. Di dalam sepertinya masih ada yang terjebak." Daniel melambaikan tangan pada dua orang yang baru saja membantu korban dan membawanya ke tepi jalan.
Mereka berdua segera mendekat. Bersama dengan Daniel, mereka bertiga kemudian mencoba mengevakuasi korban yang tidak sadarkan diri di jok belakang.
Sepertinya, orang tersebut syok hingga tak sadarkan diri. Sebab, setelah diteliti, tidak ditemukan ada luka di sekujur tubuhnya.
"Sudah, Mas. Kita dudukkan saja dia di sini, nanti biar diurus sama petugas kesehatan. Ayo, kita bantu yang lain lagi!" ajak bapak-bapak tersebut pada Daniel.
Daniel mengangguk setuju. Pemuda itu berpikir, urusannya dengan Fatiya memang sangat penting karena menyangkut keberlangsungan masa depan Daniel dengan sang kekasih, tetapi menolong korban juga jauh lebih penting karena ini menyangkut nyawa seseorang.
Lagipula Daniel berpikir, bagaimana jika hal ini menimpa dirinya?
Daniel masih ikut sibuk membantu yang lain, termasuk petugas medis yang sudah tiba di tempat kejadian.
Ya, petugas medis yang membawa mobil ambulance dengan cepat datang karena kebetulan tempat kejadian, jaraknya cukup dekat dengan rumah sakit.
__ADS_1
'Sepertinya aku sudah bisa meninggalkan tempat ini,' bisik Daniel dalam hati, setelah semua korban berhasil di evakuasi.
Daniel kemudian terlihat menelepon seseorang. Setelah berbicara cukup lama dengan orang di seberang sana, Daniel kemudian menutup teleponnya kembali.
Rupanya, Daniel menghubungi pihak bengkel agar mengurus mobilnya yang rusak cukup parah di bagian depan tersebut
'Sebaiknya aku temui petugas dulu, akan aku urus masalah ini besok di kantor polisi.' Daniel berjalan mendekati salah seorang petugas polisi.
Setelah berbicara pada polisi dan menyerahkan mobilnya pada pihak bengkel yang akan menderek mobil Daniel, pemuda itu segera mencari taksi untuk melanjutkan tujuannya semula, yaitu ke rumah Fatiya untuk mengatakan dengan jujur apa yang telah dia perbuat dengan Santi.
Akibat kecelakaan beruntun tersebut, menimbulkan kemacetan di sepanjang jalan raya yang akan dilalui Daniel.
Cukup lama Daniel menunggu mendapatkan taksi, hingga waktu telah menunjukkan pukul delapan malam.
Bahkan di tempat kejadian tersebut masih cukup ramai, polisi juga masih menyelidiki penyebab kejadian kecelakaan beruntun yang kabarnya sampai memakan korban jiwa tersebut.
Daniel memandang langit yang kelam, sekelam hati dan pikirannya saat ini. Namun, pemuda tersebut tetap bersyukur karena masih diberikan keselamatan sehingga dapat menghirup udara segar dan diberikan kesempatan pula untuk meminta maaf pada sang calon istri, sekaligus untuk memperbaiki diri ke depan.
"Ini benar-benar seperti kehidupan kedua yang aku dapatkan," gumam Daniel.
"Ke jalan raya Adi Pati Ukur ya, Pak," pinta Daniel yang barΓΊ saja duduk di jok belakang.
"Baik, Mas," jawab sopir taksi tersebut.
βββ
Di kediaman orang tua Fatiya, Akbar dan Fatiya baru saja sampai, setelah tadi sempat mampir ke toko pakaian dan membeli baju ganti untuk Fatiya.
Mereka berdua juga mampir sebentar ke Masjid untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib, sebelum akhirnya Fatiya mengajak pulang.
Tawaran Akbar yang mengajak Fatiya untuk makan malam terlebih dahulu, ditolak oleh gadis tersebut karena Fatiya tidak mau memperkeruh hubungannya dengan Daniel.
__ADS_1
"Masuk dulu yuk, Mas!" ajak Fatiya, ketika mereka berdua baru saja turun dari mobil.
Waktu telah menunjukkan jam tujuh malam lewat tiga puluh menit, yang artinya warga di kampung Fatiya sudah pada masuk ke dalam rumah sehingga tidak akan ada yang melihat Fatiya pulang diantarkan oleh siapa.
Fatiya yang mengedarkan pandangan ke sekeliling rumahnya, dapat bernapas dengan lega.
Akbar menurut dan kemudian mengekor langkah Fatiya.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Fatiya yang disambut oleh sang ibu, yang tadi langsung keluar begitu mendengar deru mesin mobil berhenti di halaman rumah.
"Wa'alaikumsalam," balas sang ibu. Tatapan teduh wanita itu langsung tertuju pada Akbar, Bu Saidah mengerutkan dahi dengan dalam.
"Kamu siapa, Nak?" tanya beliau sebelum mempersilahkan tamu yang datang bersama sang putri, untuk masuk ke dalam rumah sederhana miliknya.
"Apa kamu temannya, Fafa?" lanjut Bu Saidah bertanya.
Akbar tersenyum dan menganggukkan kepala. "Saya Akbar, Bu. Iya, saya teman Fafa," balas Akbar seraya menyalami ibunya Fatiya dan mencium punggung tangan wanita itu dengan takdzim seperti yang dilakukan oleh Fatiya.
'Tepatnya, calon teman hidup Fafa, Bu. InsyaAllah,' lanjut Akbar dalam hati. Pemuda itu terus melangitkan harapan dan do'anya, berharap Sang Pencipta akan mengabulkan do'a dan permohonannya tersebut.
"Mari, Nak, silahkan masuk," ajak Bu Saidah kemudian dengan sangat ramah.
Akbar dipersilahkan duduk di kursi busa yang sudah cukup tua di ruang tamu. Bu Saidah kemudian duduk menemani Akbar, sedangkan Fatiya langsung menuju dapur.
"Maaf, Nak Akbar. Rasanya, ibu baru mendengar nama Nak Akbar. Kalau Nak Akbar temannya Fafa, kenapa dia enggak pernah menceritakan tentang Nak Akbar, ya?" Bu Saidah bertanya-tanya, seraya menatap Akbar dengan penuh selidik.
Pemuda itu tersenyum hangat. "Memang belum lama, Bu, kami saling mengenal," balas Akbar dengan jujur.
Bu Saidah mengangguk-angguk. "Lantas, kenapa Nak Akbar yang mengantar anak ibu?"
"Iya, Bu. Karena Akbar ingin berkenalan sama ibu calon mer ...."
__ADS_1
"Tadi 'kan hujan gede, Bu. Kebetulan Mas Akbar lihat Fafa lagi nunggu angkot, ya udah Mas Akbarnya maksa mau nganterin," sahut Fatiya yang baru saja dari arah dapur dengan cepat, seraya melirik tajam pada Akbar.
πππππ tbc πππππ