Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Apa Kamu Ragu, Fa?


__ADS_3

"Lantas, Mbak Didi tahu kalau kami di sini, dari siapa?" tanya Fatiya.


"Dari Kevin," balas Diandra.


"Oh ya, Fa. Tadi Kevin juga pesan sama mbak, mbak disuruh mengajak kamu keluar sekarang," terang Diandra. "Gimana, Fa? Kamu mau, kan?" Wanita yang terlihat tambah cantik di usianya yang semakin dewasa itu, menatap Fatiya dengan penuh harap.


"Kemana, Mbak?" tanya Fatiya.


"Fitting baju ke butik, Fa," balas Diandra.


Gadis cantik putri Bu Saidah tersebut mengerutkan dahi, seraya menatap Akbar dengan menuntut jawab.


Pemuda itu mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak mengerti apa-apa, Fa," ucap Akbar.


Fatiya kemudian menatap sang ibu.


"Ikuti saja apa kata hatimu, Nak. Jika kamu bersedia, berangkatlah, ikuti Mbak Didi. Jika kamu tidak bersedia, maka jangan memberi harapan dengan ikut pergi, tapi kamu memberi jawaban tidak keesokan harinya," tutur Bu Saidah, pelan.


Fatiya terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkan oleh sang ibu.


"Jika kamu bersedia untuk diajak ke butik sekarang, maka kejutan apapun yang akan kamu terima besok, kamu harus siap, Nak," imbuh Bu Saidah seraya meraih tangan sang putri dan kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Bu, Fafa masih bingung," bisik Fatiya yang mendekatkan wajahnya pada sang ibu.


"Bingung kenapa, Nak? Kamu belum bisa mempercayai kesungguhan Nak Akbar?" tanya Bu Saidah yang juga berbisik.


Fatiya menggeleng cepat. "Fafa masih ragu dengan perasaan Fafa sendiri, Bu. Fafa takut, ini hanya pelarian saja dan nantinya malah akan menyakiti Mas Akbar," balas Fatiya dengan sejujurnya, dengan apa yang gadis itu rasakan.


Rasa simpati, memang ada untuk Akbar. Rasa nyaman, juga hadir ketika dirinya berdekatan dengan pemuda tampan yang selalu memberinya perhatian. Namun, kekecewaan serta rasa sakit hati terhadap Daniel terkadang masih membayangi langkah Fatiya.


"Bismillah, Nak. Seiring berjalannya waktu, maka kamu akan dapat membedakan, apakah yang kamu rasakan itu hanya sekadar simpati ataukah cinta yang dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa untuk kalian berdua," tutur Bu Saidah yang bisa mengerti kegelisahan sang putri.


"Bagaimana, Fa? Kamu mau, kan?" desak Diandra seraya menatap Fatiya.


"Apa, Mas Akbar juga ikut, Mbak?" tanya Fatiya.

__ADS_1


"Tentu saja, Fa. Ini 'kan acara kalian berdua?" balas Diandra, membuat Fatiya semakin khawatir dengan perasaannya sendiri.


"Masak iya, Bang Akbarnya malah enggak ikut?" lanjut Diandra seraya tersenyum, melihat kepolosan gadis cantik yang dia sayangi itu.


"Em, enggak gitu, Mbak. Maksud Fafa, ada yang mau Fafa bicarakan sama Mas Akbar," ucap Fatiya.


"Oh, ya udah. Kita bicara di mobil saja, ya," pinta Diandra seraya beranjak.


"Ayo, Kak!" ajak wanita cantik itu, pada sang suami.


Sementara Akbar segera menghampiri Fatiya, untuk mendorong kursi rodanya.


"Bu, kami berangkat dulu, ya," pamit Akbar dengan sopan.


Bu Saidah mengangguk seraya tersenyum, senyuman yang menggambarkan kebahagiaan hati wanita paruh baya tersebut.


Pendi yang sedari tadi diam menyimak dari ranjang pasien, ikut tersenyum melihat kebahagiaan bibinya.


Mereka berempat segera meninggalkan paviliun, menuju ke mobil Angga.


"Fa, aku benar-benar enggak tahu apa yang telah disiapkan oleh keluargaku untuk kita," ucap Akbar yang memulai percakapan.


"Tapi jika besok kamu menolak, tak mengapa, Fa. Kamu katakan saja yang sejujurnya, jangan sungkan!" lanjut Akbar seraya menoleh ke arah gadis cantik yang duduk di sampingnya.


Hening, Fatiya masih terdiam dan tidak menanggapi perkataan Akbar.


"Jika ternyata sebuah pernikahan yang disiapkan oleh keluargaku, bagaimana, Fa?" tanya Akbar, mengurai keheningan.


Pertanyaan Akbar membuat jantung Fatiya seolah melompat, hendak keluar dari tempatnya. Putri Bu Saidah itu menoleh ke arah Akbar.


"Fafa pikir, hanya persiapan pertunangan, Mas," ucap Fatiya yang nampak masih sangat terkejut.


"Aku 'kan hanya menebak, jika, Fa. Lantas kalau pertunangan, apa kamu akan menerimanya, Fa?" tanya putra sulung Papa Alvian itu, penuh harap.


Sejenak Fatiya terdiam, perkataan sang ibu terngiang kembali di telinganya.

__ADS_1


"Kalau tunangan, InsyaAllah Fafa akan menerimanya, Mas, sambil Fafa belajar untuk bisa menerima semua ini," balas Fatiya pelan, seraya menunduk.


Mendengar jawaban Fatiya, pemuda tampan itu tersenyum lebar. "Terimakasih, Fa. Terimakasih karena kamu mau memberiku kesempatan untuk menyembuhkan lukamu," ucap Akbar.


Fatiya menoleh ke arah kanan, dimana Akbar duduk. Gadis itu ikut tersenyum, melihat senyuman lebar pemuda tampan, yang menggambarkan perasaan bahagia pemuda tersebut.


"Kalau ternyata pernikahan?" tanya Akbar kembali, yang berhasil mengurai senyuman di bibir Fatiya.


Fatiya menggeleng. "Fafa belum tahu, Mas. Belum berpikir ke arah sana," balas gadis cantik itu.


Sementara di bangku depan, Diandra sengaja menghidupkan audio musik yang dia putar dengan sedikit keras, untuk memberikan kesempatan kepada kedua sejoli di bangku belakang, agar bebas berbicara.


"Fa, jika memang benar pernikahan yang telah disiapkan oleh keluarga untuk kita besok dan jika kamu bersedia menerimanya, aku janji, aku akan memberimu waktu sampai kamu bisa menerima kehadiranku di hatimu." Akbar menatap dalam netra Fatiya.


"Kita akan sama-sama belajar, Fa. Belajar menghapus luka dan menggantinya dengan senyuman serta kebahagiaan," tandas Akbar.


"Fafa belum bisa ...." Belum selesai Fatiya berbicara, mobil yang dikendarai Angga telah berhenti di parkiran butik.


Akbar dengan sigap membantu Fatiya untuk naik ke kursi rodanya dan kemudian mendorong kursi roda tersebut mengikuti langkah Diandra dan Angga yang telah masuk terlebih dahulu ke dalam butik.


Butik besar yang didesain dengan elegan dan di pintu masuk terdapat logo 'Butik Putri Alamsyah' tersebut adalah, salah satu cabang butik yang didirikan oleh Bunda Fatima dan saat ini di kelola oleh putri keduanya, Fira.


"Ini dia orangnya, Mbak, yang mau fitting baju untuk acara besok," ucap Diandra seraya menunjuk Fatiya, ketika gadis itu baru tiba di ruang kerja manager butik tersebut.


"Oh, iya. Tadi Mamanya sudah pesan melalui telepon, tinggal dicoba ya, Mbak. Nanti kalau ada yang kurang pas, masih bisa dibetulkan sama desainernya," terang wanita muda yang merupakan orang kepercayaan Fira itu.


Manager itu menuntun Fatiya dan Akbar yang mendorong kursi roda gadis itu, menuju ruang ganti.


"Nah, ini yang dipesan Ibu Susan." Manager cantik itu menunjuk sebuah manequin.


Fatiya terpaku menatap ke arah manequin. Gadis itu kemudian mendongak ke atas, menatap pada Akbar, yang juga tengah menatapnya.


"Apa kamu ragu, Fa? Jika kamu ragu, kita bisa pulang sekarang."


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€

__ADS_1


__ADS_2