
Damian menggerutu, memaki pengemudi ugal-ugalan yang baru saja menyalip dengan memotong kompas dan tanpa menyalakan lampu sens, padahal di jalan bebas hambatan.
Baru saja Malik dan Abraham bernapas dengan lega karena tidak terjadi sesuatu dengan Damian, tiba-tiba terdengar decit suara ban yang beradu dengan aspal jalan yang terdengar begitu nyaring.
"Dam! Ada apa lagi?" tanya Malik dan Abraham yang terdengar sangat panik.
Tak ada jawaban dari Damian, membuat Malik dan Abraham semakin khawatir.
"Bang, kira-kira ada apa, ya?" tanya Abraham.
"Entahlah, Bram. Semoga dia baik-baik saja," balas Malik.
Malik dan Abraham masih melanjutkan percakapan, sambil menanti kabar dari Damian yang teleponnya masih terhubung.
"Alhamdulillah, untung saja aku bisa menguasai kendaraan," ucap Damian yang suaranya muncul kembali, dengan deru napas yang terdengar tak beraturan.
"Kamu tidak apa-apa, kan? Ada apa memangnya, Dam?" tanya Malik yang tiba-tiba saja perasaannya kembali tidak enak, sama seperti tadi.
"Entahlah, aku juga belum tahu. Barusan, ada yang menyalip mobilku tapi tiba-tiba dia mengerem mendadak, untung aku sigap dan rem mobil berfungsi dengan baik," terang Damian.
"Tunggu-tunggu, sepertinya di depan ada kecelakaan beruntun. Sebentar aku tapikan mobil dulu dan melihat ke sana," lanjut Damian tanpa memutuskan sambungan telepon.
Malik dan Abraham hanya bisa diam menunggu informasi dari Damian, hingga beberapa saat lamanya.
"Bram, kamu percepat laju kendaraan kamu," suruh Malik. "Aku tunggu kalian di Padalarang," lanjutnya.
Baru saja Malik selesai berbicara pada Abraham, terdengar seruan dari Damian. "Malik, Bram! Aku lihat mobil Bang Akbar, ada diantara mobil lain yang terlibat dalam kecelakaan!"
"Apa? Kecelakaan?" Malik dan Abraham terdengar sangat terkejut.
"Cepat kamu cek mobil Bang Akbar, Dam!" titah Malik yang terdengar panik.
"Maaf, Pak. Penumpang mobil ini, dibawa kemana, ya?" Terdengar suara Damian bertanya pada seseorang.
"Oh, pengemudinya barusan dibawa ke ambulans yang itu, Mas." Suara seseorang terdengar memberitahukan pada Damian.
"Terimakasih, Pak."
"Bentar aku cek ke ambulans," ucap Damian yang terdengar sambil berlari.
"Maaf, Sus. Bisa saya lihat korban di dalam, saya mencari saudara saya."
"Silahkan, Mas." Terdengar suara perempuan yang memberikan ijin pada Damian.
Malik dan Abraham masih diam, menunggu dengan perasaan cemas.
__ADS_1
"Bang, Bang Akbar! Bangun, Bang!" Suara Damian yang terdengar begitu panik membangunkan Akbar, membuat Malik menitikkan air mata.
"Dam, bawa Bang Akbar ke rumah sakit terbaik!" seru Malik, meski Damian belum memberitahukan bagaimana keadaannya.
"Kamu dampingi dia, mobilmu biar nanti di urus sama Bram," lanjut Malik.
"Iya, iya," balas Damian.
"Sus, cepat berangkat!" seru Damian yang nampak tidak sabar.
"Dam, kabarkan terus keadaan Bang Akbar pada kami," pinta Malik. "Aku tunggu kalian di rumah sakit," imbuhnya.
☕☕☕
Di dalam kantor Tasya, setelah makan siang bersama Fatiya dan kemudian menunaikan sholat dhuhur, Tasya nampak masih asyik berbincang dengan Fatiya.
"Oh, dulu abang kami juga lulusan kampus itu lho, Fa," ucap Tasya ketika Fatiya menjelaskan, dirinya lulusan dari kampus mana.
"Kenapa malah pilih cari kerja di Bandung, Fa? Bukannya prospek di sana lebih bagus, ya?" tanya Tasya kemudian.
Fatiya tersenyum. "Fafa hanya mengikuti permintaan ibu, yang ingin pulang ke kampung halaman ayah, Kak," balas Fatiya yang tidak ingin membuka luka hatinya, dengan menceritakan yang sebenarnya kenapa dia bisa sampai pindah ke kota yang sejuk ini.
"Ya, ya. Memang banar, Fa. Ridho orang tua itu, ridho Allah. Aku juga tadinya pengin menetap di Jakarta karena masa kecilku di sana, begitu juga dengan keluarga Bang Malik, semuanya di sana. Tapi karena mengikuti keinginan orang tua dan Alhamdulillah suami tidak keberatan, akhirnya kami menetap di sini," terang Tasya.
Fatiya mengangguk, seraya tersenyum.
Belum sempat Fatiya menjawab, terdengar dering ponsel Tasya yang menggelepar di atas meja kerjanya.
"Sebentar, Fa. Aku terima telepon dulu." Tasya segera beranjak untuk mengambil ponselnya.
"Halo, Bang. Assalamu'alaikum," sapa salam Tasya pada seseorang yang menghubunginya.
Tasya terdiam, mendengarkan dengan serius suara di seberang sana.
Wanita muda yang sangat cantik itu tiba-tiba menutup mulut. "Abang serius? Terus, bagaimana keadaannya, Bang? Dibawa ke rumah sakit mana? Tasya nyusul ke sana, ya?" cecar Tasya, tanpa jeda. Wajah putih Tasya nampak sangat khawatir.
Tasya kembali terdiam, mendengarkan.
"Baik, Bang. Tasya akan tunggu info dari Abang. Wa'alaikumsalam," jawab salam Tasya yang kemudian menutup ponselnya.
Wanita cantik itu kembali ke sofa dengan langkah lemas.
"Maaf, Kak. Ada apa?" tanya Tasya.
"Saudara kami baru saja mengalami kecelakaan di jalan tol dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit," balas Tasya dengan suara pelan. Suara yang berbeda dengan tadi sewaktu dirinya ngobrol dengan Fatiya, yang nampak ceria.
__ADS_1
"Kami turut prihatin, Kak. Semoga saudara kakak, tidak mengalami luka yang serius," ucap Fatiya yang turut mendoakan dengan tulus.
"Aamiin. Makasih, Fa," balas Tasya.
☕☕☕
Di kediaman Antonio. Papa Alvian yang baru saja sampai di rumah, dibuat terkejut begitu mendengar kabar dari Malik bahwa sang putra mengalami kecelakaan.
"Innalillahi," ucap papanya Akbar tersebut dengan sangat lirih, seraya meraup wajahnya dengan kasar.
"Bang Malik, kamu pastikan Bang Akbar nanti ditangani oleh tim dokter terbaik," pesan papa Alvian pada Malik. "Opa akan segera menyusul ke sana," lanjutnya.
Laki-laki paruh baya itu langsung menutup telepon, tanpa mengucapkan salam dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan pada sang istri.
"Ya Allah, abang. Kenapa kamu nekat nyetir sendirian, bang," isak Mama Susan dengan air mata berlinang.
Papa Alvian langsung merengkuh tubuh sang istri dan membawanya ke dalam dekapan hangatnya.
"Sudah, Ma. Mama jangan nangis terus. Ayo, kita harus segera ke sana! Putra kita butuh kita, Ma," bujuk Papa Alvian karena sang istri masih saja menangis dalam dekapannya.
Papa Alvian dengan penuh kasih mengusap air mata sang istri. "Kita do'akan saja, Ma. Semoga Abang baik-baik saja," ucapnya penuh harap, seraya melerai pelukannya.
"Aamiin, semoga saja ya, Pa," balas Mama Susan, sambil melangkah menuju almari untuk menyiapkan pakaian ganti.
Papa Alvian mengekor di belakang sang istri dan membantu istrinya itu. "Bawa secukupnya saja, Ma," pesan Papa Alvian.
"Mama lanjutkan sendiri, ya. Papa mau mengabari Attar sama Kak Lin." Papa Alvian segera berlalu meninggalkan kamar.
Setelah semua siap, termasuk pakaian ganti untuk Akbar yang sudah disiapkan oleh budhenya yang tidak diperbolehkan ikut karena perjalanan cukup jauh, kedua orang tua Akbar segera keluar untuk menuju mobil dimana Attar sudah bersiap di sana.
"Nang, hati-hati bawa mobilnya," pesan Budhe Lin, pada Attar.
"Siap, Budhe," balas Attar patuh.
Baru saja Papa Alvian duduk di samping Attar yang akan mengendarai mobil mewah milik sang papa, ponsel Papa Alvian kembali berdering.
"Siapa, Pa?" tanya Mama Susan.
"Malik, mungkin dia mau mengabarkan keadaan Bang Akbar."
"Halo, Bang Malik. Apa mereka sudah sampai rumah sakit?" Dahi Papa Alvian berkerut dalam.
"Sudah, Opa. Baru saja dibawa masuk ke IGD," balas Malik.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Papa Alvian dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Bang Akbar tidak sadarkan diri, Opa."
🍀🍀🍀🍀🍀 tbc 🍀🍀🍀🍀🍀