Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Melepas Rindu


__ADS_3

"Jadi, ada kemungkinan kalau Fafa diculik, Bang?" tanya Om Ilham, setelah Papa Alvian menutup teleponnya.


"Apa? Fafa diculik!" Akbar yang yang tidak dapat dicegah oleh sang mama untuk ikut keluar menyusul Papa Alvian, begitu mendengar perkataan Om Ilham, dia langsung berlari keluar menyusuri koridor rumah sakit.


Semua orang langsung berlari mengejar Akbar, hingga suasana yang tadinya tenang berubah menjadi gaduh.


Akbar yang staminanya masih belum pulih karena baru saja tersadar, dengan mudah dapat ditangkap oleh sang papa dan kemudian didekap erat oleh Papa Alvian.


"Bang, tenangkan diri Abang. Kami juga tidak akan tinggal diam, Bang. Kami pasti akan mencari dan menemukan Fafa, tapi Abang jangan seperti ini," tutur Papa Alvian penuh penekanan.


"Mama pasti akan sedih dan menangis kalau melihat Bang Akbar seperti ini," lanjutnya. "Apa Abang mau, melihat Mama bersedih?" tanya Papa Alvian kemudian, seraya melepaskan pelukan.


Akbar menggeleng. "Tidak, Pa. Akbar tidak mau melihat Mama bersedih dan menangis karena Akbar," balas Akbar dengan perasaan menyesal.


"Nak, jangan tinggalkan mama, Nak," pinta Mama Susan yang baru saja datang. Wanita cantik itu langsung memeluk tubuh atletis sang putra.


"Maafkan Akbar, Ma," ucap Akbar lirih.


"Abang belum pulih benar, biarkan Papa dan yang lain yang mencari gadis itu," pinta Mama Susan menatap netra sang putra, seraya merangkum pundak Akbar, setelah pelukan keduanya terlepas.


"Tapi, Ma ...."


"Abang lebih baik menjaga ibunya Fafa, beliau pingsan dan saat ini sedang bersama Daddy Rehan dan Malik, dalam perjalanan kemari," potong Papa Alvian.


"Jadi benar, mereka sudah ditemukan? Tapi, kenapa Fafa bisa diculik, Pa? Siapa yang menculik Fafa?" cecar Akbar, dengan raut wajah khawatir.


Papa Alvian menggeleng. "Daddy Rehan dan Malik baru menduga, Bang ...."


Papa Alvian kemudian menceritakan apa yang beliau dengar dari Daddy Rehan, via sambungan telepon barusan.


"Ayo, kita tunggu mereka di depan IGD!" ajak Papa Alvian.


Mereka bertiga kemudian menyusul yang lain, yang sudah terlebih dahulu mempersiapkan tim dokter dan perawat untuk menyambut kedatangan Bu Saidah, yang harus segera mendapatkan penanganan medis, ketika Akbar berhasil ditenangkan oleh papanya tadi.


Nampak tim dokter telah bersiap di dalam ruang IGD, sementara Om Ilham dan sahabat Akbar, beserta Attar, Mirza dan tiga gadis cantik sahabat mereka, menunggu di depan.

__ADS_1


Om Devan dan Om Alex terlihat menyendiri dan mereka berdua nampak berbincang dengan serius.


"Bang Akbar tunggu di sana, sama yang lain," titah sang Papa, seraya menunjuk Om Ilham dan yang lainnya.


"Mama temani Bang Akbar, ya," pinta Papa Alvian seraya menepuk lembut punggung sang istri, yang diiyakan Mama Susan dengan anggukan kepala.


Papa Alvian kemudian bergabung bersama Om Devan dan om Alex, setelah istri dan putranya bergabung di depan IGD.


Tak berapa lama, mobil Malik yang melaju perlahan, berhenti tepat di halaman IGD.


Akbar sigap mendekat dan kemudian membuka pintu bagian belakang. "Ibu!" seru Akbar dengan suara tercekat di tenggorokan. Ada rasa nyeri menyelimuti hati Akbar, melihat ibu dari gadis yang dia sayangi tergolek lemah dengan mata terpejam dan wajah memucat.


"Maaf, Mas. Biar kami bawa pasien ke dalam," ucap salah seorang perawat, ketika Akbar menghalangi pintu mobil.


"Biar saya yang membawanya ke atas brankar Sus."


Pemuda tampan yang memiliki postur tubuh tinggi tegap itu, dengan mudah membopong tubuh kurus Bu Saidah dan kemudian membaringkan di atas brankar.


"Sus, tolong ... pastikan beliau mendapatkan penanganan terbaik," pesan Akbar.


"Baik, Mas," balas suster.


Setelah Bu Saidah dibawa masuk ke dalam, Daddy Rehan dan Malik, langsung bergabung dengan Papa Alvian, Om Alex serta Om Devan. Sedangkan Mama Susan, Om Ilham beserta yang lain, ikut masuk ke dalam untuk menemani Akbar di ruang tunggu IGD.


"Bagaimana langkah kita selanjutnya, Rey?" tanya Papa Alvian.


"Opa, tadi sewaktu di kantor Tasya, Malik lihat Fafa sangat akrab dengan seorang pemuda dan kata satpam yang tadi siang bertugas, mereka berdua datang dan pulang barengan," terang Malik.


"Malik akan coba telepon satpam yang malam ini bertugas, agar mencari data pemuda itu sekarang juga," lanjutnya.


Putra Daddy Rehan itu kemudian segera menghubungi petugas yang berjaga di kantor milik Tasya.


Disaat Malik tengah menelepon, nampak dua orang datang dengan berjalan sedikit tergesa.


"Assalamu'alaikum," ucap salam keduanya, seraya menyalami Daddy Rehan dan yang lain.

__ADS_1


"Maaf, Bang Alvian. Kami baru sempat menjenguk Akbar, setelah dikabari sama Tasya tadi."


"Tidak apa-apa, Bang Rahmat, Saskia. Makasih sudah bersedia datang," balas Papa Alvian seraya menatap kedua mertua Malik tersebut.


"Oh ya, Bang Rehan. Mommy Billa ikut kesini, kan?" tanya mamanya Tasya pada sang besan.


"Iya, mereka ada di paviliun. Tetapi kalau kalian mau menemui Akbar dan Mbak Susan dulu, mereka sedang ada di ruang tunggu IGD," terang Daddy Rehan seraya menunjuk ke dalam, dimana ruang IGD berada.


"Pa, kebetulan Papa datang. Papa temani Malik ya, biar Daddy sama yang lain nunggu di sini saja," pinta Malik pada papa mertuanya, sebelum papa dan mamanya Tasya itu beranjak.


"Kenapa enggak sama Daddy saja, Bang?" tanya Daddy Rehan.


"Papa yang lebih hafal daerah sini, Dad. Malik 'kan juga belum begitu hafal," balas Malik.


"Memangnya, alamat pemuda yang tadi bersama Fafa, sudah ketemu?" tanya Papa Alvian, memastikan.


"Baru dicari, Opa. Nanti mau langsung dikirim ke nomor Malik," balas suami Tasya.


"Daddy, Opa dan Om-om, tunggu saja kabar dari Malik," imbuh putra kedua Daddy Rehan tersebut.


"Ma, Mama enggak apa-apa, kan, nunggu di sini dulu sampai kami kembali?" tanya Malik seraya menatap mama mertuanya.


"Iya, Bang. Mama sekalian mau melepas rindu sama Mommy Billa," balas mama cantik itu.


"Hanya kamu 'kan, Sas, yang mau melepas rindu sama istriku?" tanya Daddy Rehan seraya melirik besan laki-lakinya.


"Yaelah, masih saja baper kalau ketemu. Sudah besanan juga!" cibir Om Devan.


Papa Alvian hanya geleng-geleng kepala. "Bisa-bisanya lu, Rey, disaat genting seperti ini, masih saja ingat masa lalu."


"Tadinya, aku juga mau melepas rindu sama Billa, Bang Rehan. Tapi putramu malah mengajakku keluar," balas papa Rahmat seraya terkekeh pelan.


Sekian tahun berkumpul dengan geng tampan, membuat laki-laki yang pernah menaruh hati pada Mommy Billa itu tahu persis seperti apa watak Daddy Rehan yang sebenarnya baik itu, meskipun terkadang menyebalkan, versinya Om Alex.


"Ya, sudah. Kalau begitu, Bang Malik sama Om Alex saja, Bang. Biar papa mertua dan mommnya Bang Malik, bernostalgia," sahut Om Alex, yang sengaja ingin membuat panas suasana hati Daddy Rehan.

__ADS_1


"Alex ...!"


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_2