
"Di ujung jalan sana kan, Bu?" tanya Malik, memastikan seraya menunjuk arah ketika dia datang tadi.
Bu Saidah mengangguk. "Benar, Nak."
"Tadi sewaktu kami masuk kampung sini, kami enggak melihat ada Fafa di sana, Bu," ucap Malik yang langsung membuat tubuh Bu Saidah, lemas.
Daddy Rehan sigap menangkap tubuh kurus Bu Saidah yang kepalanya terkulai dan hampir membuat wanita itu terjerembab.
"Bang, buka pintu mobil," titah Daddy Rehan, yang tak mau membuang-buang waktu karena khawatir dengan kondisi wanita ringkih yang saat ini berada dalam gendongannya.
Daddy Rehan segera merebahkan tubuh Bu Saidah di jok belakang.
"Bang, coba Bang Malik periksa ke dalam. Setelah itu tutup pintu rumahnya," titah Daddy Rehan, setelah menutup pintu mobil bagian belakang.
"Dad, ada koper ini di dekat pintu!" seru Malik dari arah pintu sambil menenteng sebuah koper berukuran sedang.
"Bawa saja, Bang!" balas Daddy Rehan yang sudah berada di dalam mobil dengan sedikit mengeraskan suara karena *****-titik air hujan semakin banyak berjatuhan dari langit, seolah alam ikut menangisi apa yang terjadi pada Fatiya.
Setelah menutup rapat pintu rumah sederhana tersebut, Malik segera memasukkan koper ke dalam bagasi. Pemuda tampan itu kemudian berlari kecil masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku pengemudi.
"Kita balik ke rumah sakit sekarang, Bang," titah Daddy Rehan.
"Dad, apa kita enggak perlu lapor sama tetangga atau ketua RT-nya, Dad?" tanya Malik.
"Tidak perlu, Bang. Kalau melihat raut wajah ibunya Fafa tadi, sepertinya warga sini tidak šøš¦ššš¤š°š®š¦ dengan kehadiran mereka berdua. Jika warga menyambut baik, tidak mungkin Fafa dan ibunya akan meninggalkan rumah malam-malam seperti ini dan rela untuk menginap di mess." Daddy Rehan menoleh ke arah belakang, dimana Bu Saidah tengah terpejam.
"Segera berangkat, Bang. Beliau harus segera mendapatkan penanganan, sepertinya ibunya Fafa memiliki riwayat penyakit jantung," titah Daddy Rehan kembali setelah barusan melihat ke belakang dan mendapati wajah ibunya Fatiya semakin pucat.
Malik mengangguk patuh, putra kedua Daddy Rehan itu kemudian segera melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah sakit.
āāā
Di paviliun tempat Akbar di rawat, pemuda itu tiba-tiba terbangun dengan keringat membasahi dahinya. Jantung Akbar berdegup kencang karena sepertinya, pemuda itu baru saja mengalami mimpi buruk.
"Fafa!" teriakan Akbar yang terdengar nyaring, yang membuat pemuda tampan putra sulung Papa Alvian itu terbangun, mengundang seluruh keluarganya untuk mendekat.
"Alhamdulillah, Nak. Kamu sudah sadar, Sayang," ucap syukur Mama Susan seraya memeluk tubuh sang putra, yang nampak masih tegang.
Melihat wajah sang putra tegang, Papa Alvian segera mengambil air putih dan kemudian memberikannya kepada sang istri.
"Ma, biar Abang minum dulu," tutur Papa Alvian seraya menyodorkan gelas besar berisi air putih.
__ADS_1
"Minum dulu, Nak." Mama Susan kemudian membantu Akbar untuk minum.
"Makasih, Ma," ucap Akbar seraya tersenyum pada sang mama, yang sangat mengkhawatirkannya sejak mendengar kabar bahwa Akbar mengalami kecelakaan.
"Pa, Fafa, Pa. Fafa dalam bahaya," ucap Akbar dengan deru napas yang terdengar memburu. Dada pemuda itu naik turun, efek dari mimpi buruk yang baru saja dia alami.
"Fafa baik-baik saja, Bang. Abang yang saat ini sedang tidak baik karena kecelakaan yang Abang alami tadi," balas Papa Alvian.
"Tidak, Pa. Dalam mimpi Akbar, dia berteriak minta tolong, Pa," kekeuh Akbar.
"Iya, kita akan segera mencari Fafa, tapi setelah kondisi Abang pulih," balas Papa Alvian.
"Abang tadi pasti mikirin gadis itu terus, ya. Sampai bisa terjadi seperti ini?" tanya Mama Susan, seraya mengusap luka-luka ringan di bagian tubuh Akbar.
"Iya, Akbar ingat, Ma. Tadi di depan Akbar ada minibus yang melaju kencang dan menabrak pembatas jalan dan mobil yang menyalip Akbar menabraknya dan berguling ke tengah jalan. Karena kejadiannya begitu cepat dan Akbar memang sedang tidak fokus, mobil Akbar menabrak mobil sedan tersebut, Ma. Setelah itu, Akbar tidak tahu apa-apa lagi," terang Akbar.
"Beruntung Damian mengejar Abang, setelah pengawal pribadi Abang mengatakan kalau Bang Akbar ke Bandung sendiri," tutur Om Devan.
"Benarkah?" Akbar menatap Damian, yang juga sedang berdiri diantara semua keluarga, yang melingkari ranjang pasien.
"šš©š¢šÆš¬'š“, Bro," ucap Akbar dengan tulus.
"Malik yang nyuruh gue, ngejar lu. Gue ikut ke dalam mobil ambulans dan Bram yang di belakang gue, yang ngurus mobil gue," terang Damian.
"Dimana Malik, Mom?" tanya Akbar yang menyebut kakak sepupunya itu dengan panggilan mommy, seperti yang lain ketika Akbar tidak mendapati keponakannya diantara keluarganya.
"Sedang keluar sama š„š¢š„š„šŗ-nya," balas Mommy Billa.
"Apa Rehan jadi mencari Fafa, seperti yang dia bilang tadi sore?" tanya Papa Alvian pada Mommy Billa, yang memang tidak melihat kepergian Daddy Rehan karena fokus menunggui Akbar bersama sang istri.
Mommy Billa mengedikkan bahu. "Billa kurang tahu, Om," balas Mommy Billa.
"Telepon Malik, Bram," pinta Akbar.
"Oke," balas Abraham singkat. Pemuda tampan putra sulung Om Alex itu segera menghubungi nomor Malik seperti yang diminta Akbar.
Pada panggilan kedua, Malik menerima panggilan Abraham.
"Halo, Bram. Assalamu'alaikum." Suara Malik di ujung telepon, dapat di dengar oleh semuanya karena mode šš°š¢š„ š“š±š¦š¢š¬š¦š³ yang dinyalakan Abraham.
"Wa'laikumsalam, Bang. Abang ada dimana sekarang?" tanya Abraham.
__ADS_1
Tiba-tiba Akbar merebut ponsel Abraham, pemuda itu nampak tidak sabar ingin bertanya pada Malik.
"Bro, Apa kamu sedang mencari Fafa?" tanya Akbar, sebelum Malik sempat menjawab pertanyaan Abraham.
"I-iya, Bang," balas Malik yang terdengar gugup. "Abang sudah sadar? Alhamdulillah ... kami sangat khawatir tahu, Bang, karena Abang pingsan gak bangun-bangun," lanjut Malik yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Iya, aku enggak apa-apa, Bro. Tapi Fafa, Bro. Kita harus segera menemukan dia, aku mimpi buruk tentang dia, Bro," cerocos Akbar.
Untuk sesaat, Malik diam tak menyahut.
"Malik, kamu masih di sana, kan?" tanya Akbar karena Malik tak bersuara.
"Iya, Bang. Maaf, Bang. Ini jalanan agak š¤š³š°šøš„š¦š„, aku tutup dulu, ya," pungkas Malik yang langsung menutup telepon secara sepihak.
Akbar terlihat sangat kesal. "Pa, tolong telepon Daddy Rehan," pinta Akbar.
Papa Alvian yang mendengar suara Malik dan dapat menangkap bahwa ada sesuatu yang disembunyikan cucunya itu, langsung beranjak hendak keluar.
"Papa akan telepon di luar," pamitnya.
"Lex, Dev, ikut," titahnya pada kedua sahabat.
"Abang tenangkan diri Abang dulu, jangan memikirkan macam-macam," sarannya pada sang putra, sebelum meninggalkan ruang perawatan Akbar.
Papa Alvian yang diikuti oleh Om Devan dan Om Alex segera keluar dari paviliun tersebut yang diikuti oleh Om Ilham, meski adik bungsu Mommy Billa itu tak diminta oleh omnya.
Papanya Akbar itu segera menelepon Daddy Rehan.
"Halo, Rey. Ada apa sebenarnya?" tanya Papa Alvian šµš° šµš©š¦ š±š°šŖšÆšµ, begitu teleponnya diterima oleh Daddy Rehan.
"Iya, Bang ...." Daddy Rehan kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Prediksiku dan Malik, kemungkinan Fafa dibawa kabur sama orang jahat, Bang, karena gerimis dan kondisi jalan di sana gelap," lanjut Daddy Rehan.
Papa Alvian menghela napas panjang.
"Kami sudah dekat rumah sakit, Abang siapkan saja semua untuk penanganan pertama buat ibunya Fafa," pinta Daddy Rehan, kemudian.
"Jadi, ada kemungkinan kalau Fafa diculik, Bang?" tanya Om Ilham, setelah Papa Alvian menutup teleponnya.
"Apa? Fafa diculik!" Akbar yang yang tidak dapat dicegah oleh sang mama untuk ikut keluar menyusul Papa Alvian, begitu mendengar perkataan Om Ilham, dia langsung berlari keluar menyusuri koridor rumah sakit.
__ADS_1
ššššš tbc ššššš