
"Ayo, buruan naik! Nanti aku gendong, biar kamu enggak kesakitan," titah Akbar.
Fatiya masih mematung, dia terlihat ragu untuk naik ke pundak pemuda yang akhir-akhir ini memberinya perhatian lebih.
'Sepertinya, dia tulus,' batin Fatiya.
Titik-titik air dari atas langit yang tadinya sangat lembut, tiba-tiba saja turun dengan sangat deras.
"Ayo, Fa! Kamu enggak mau 'kan, kita terjebak di sini sampai pagi," titah Akbar dengan tidak sabar. "Bisa-bisa kita berdua tenggelam di dalam sumur ini, kalau kita enggak segera naik, Fa," lanjut Akbar khawatir.
Karena putri Bu Saidah tersebut tak kunjung naik ke pundaknya dan malah terpaku di tempat, Akbar langsung memeluk lutut gadis cantik itu dan mengangkat tubuh rampingnya agar tangan Fatiya bisa menggapai bibir sumur.
"Aw ... Mas!" pekik kecil Fatiya yang terkejut karena tiba-tiba saja, kakinya sudah tak berpijak pada tanah yang kini telah basah oleh air hujan.
"Cari pegangan akar, Fa!" seru Akbar di sela-sela suara derasnya air hujan yang sangat lebat.
Tangan Fatiya menggapai dan mencari akar-akar dan batang tumbuhan perdu yang tumbuh di bibir sumur, gadis itu mulai merangkak dengan dibantu Akbar dari bawah.
"Huh ... Alhamdulillah," ucap Fatiya penuh rasa syukur ketika berhasil naik ke atas.
"Mas! Mas Akbar gimana naiknya?" tanya Fatiya khawatir.
Fatiya kemudian membantu menuntun tangan kanan Akbar, untuk mendapatkan pegangan akar yang cukup kuat. Sedangkan tangan kiri pemuda yang telah membantunya naik tadi, dia genggam erat.
"Ayo, Mas! Fafa bantu!" seru Fatiya. Sekuat tenaga, gadis itu berusaha menarik tangan pemuda tampan yang masih berada di dalam sumur, agar bisa naik ke atas seperti dirinya.
"Aw ...," pekik keduanya bersamaan.
āāā
Di rumah sakit. Setelah Bu Saidah siuman dan hasil diagnosa dokter menyatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi ibunya Fatiya tersebut, Mommy Billa meminta pada perawat untuk memindahkan wanita yang seusia dengan mommy cantik itu ke paviliun.
Kini, Bu Saidah telah menempati paviliun yang sama dengan paviliun yang di tempati oleh Akbar, tetapi di š³š°š°š® yang berbeda.
__ADS_1
"Bu. Ibu istirahat saja, ya. Saya juga mau istirahat," pamit Mommy Billa. "Kalau Ibu butuh apa-apa, tinggal panggil anak-anak. Mereka berjaga di ruang depan," lanjut mommy cantik itu seraya menepuk bahu sang putra pertama yang sedari tadi menemani istri Daddy Rehan tersebut.
"Benar, Bu. Ibu tidak perlu sungkan," timpal Kevin dengan sopan.
"Iya, Bu Billa, Nak Kevin," balas Bu Saidah yang sudah berkenalan dengan dua orang yang menemani ibunya Fatiya tersebut, sejak pertama kali beliau membuka kedua matanya.
"Kami keluar dulu ya, Bu," pamit Mommy Billa kembali, sambil membetulkan selimut Bu Saidah.
Wanita bertubuh kurus itu merasa sangat terharu, mendapatkan perlakuan istimewa dari orang-orang yang baru dikenalnya. Apalagi jika dilihat dari penampilan, mereka semua adalah orang-orang kaya.
'Kenapa keluarga Nak Akbar begitu baik kepada kami? Apa benar yang aku lihat, kalau pemuda baik itu menaruh hati pada Fafa?' bisik Bu Saidah bertanya pada diri sendiri.
Wanita paruh baya itu menghela napas panjang. 'Aku tahu, cinta tak mengenal istilah kaya dan miskin. Tapi apa iya, orang seperti kami pantas bersanding dengan keluarga Nak Akbar yang sepertinya dari kalangan kelas atas?' Bu Saidah nampak gampang.
Ibunya Fatiya itu kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. 'Pikiranku terlalu jauh, belum tentu juga Nak Akbar menyukai putriku. Kalaupun firasatku itu benar, biarlah aku pasrahkan semua pada Allah, Sang Pemilik skenario kehidupan,' pungkas Bu Saidah.
Wanita bertubuh kurus itu kemudian memejamkan mata, mencoba mengistirahatkan hati dan pikiran karena lelah, sedari tadi menangis memikirkan nasib sang putri di luar sana.
Sementara di ruang depan, Kevin kemudian bergabung bersama teman-temannya setelah mengantarkan sang mommy untuk beristirahat di paviliun sebelah.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik," balas Kevin.
"Oh ya, ada yang sudah menghubungi Attar, Mirza atau yang lain?" tanya Kevin seraya menatap ketiga sahabatnya, bergantian.
"Tadi, gue sempat teleponan sama Malik. Mereka bergerak kembali untuk mencari Fafa dan juga Akbar yang tiba-tiba memisahkan diri, tanpa membawa ponsel," balas Dion.
"Akbar senekat itu?" tanya Kevin, tak percaya.
"Iya, benar, Bro," balas Dion.
"Namanya juga cinta, Bro, ya pastilah Akbar bakal nekat mencari meski ke ujung dunia sekalipun," sahut Bayu.
"Lu kadang-kadang ada benarnya juga, Bay," balas Kevin.
__ADS_1
"Sialan! Ngeremehin gue," gerutu Bayu.
"Tapi, masak iya Akbar enggak mikirin keselamatannya sendiri? Sedang hujan lagi," sesal Kevin. Pemuda itu menyayangkan tindakan Akbar yang šŖš®š±š¶šš“šŖš·š¦, tindakan yang justru dapat menimbulkan masalah dan merugikan diri sendiri.
Mereka berempat masih ngobrol di ruang depan paviliun yang saat ini ditempati Bu Saidah dan Mama Susan, untuk menjaga kedua wanita paruh baya yang tengah beristirahat di dalam ruangan. Sambil menunggu kabar dari keluarga, mengenai Fatiya dan Akbar.
Mereka tak menyadari, ada sepasang telinga, yang sedari tadi ikut mendengarkan pembicaraan Kevin dan sahabat-sahabatnya itu.
āāā
Di dalam lahan kosong. Komandan petugas polisi yang baru saja diterjunkan untuk mencari Fatiya dan Akbar, memberikan komando pada anak buahnya, untuk menghentikan pencarian karena hujan turun dengan sangat deras yang disertai angin kencang.
Mereka semua telah kembali berkumpul, di tempat yang sudah semakin jauh masuk ke dalam lahan kosong tersebut.
"Maaf, Mas. Sebaiknya, pencariannya kita lanjutkan besok pagi," saran komandan kompi tersebut. "Kami akan kembali ke mobil sekarang," lanjutnya sambil menatap Malik.
"Tidak, Pak. Kami akan tetap melanjutkan pencarian," tolak Malik. "Silahkan jika Bapak-bapak sekalian mau kembali ke sana, tapi kami tidak akan membiarkan saudara kami kehujanan dan kedinginan semalaman," kekeuh pemuda tampan itu, yang tetap menginginkan pencarian Akbar dan Fatiya dilanjutkan.
"Saya juga akan tetap melanjutkan mencari adik sepupu saya," timpal Pendi.
Sejenak, komandan kompi itu terdiam. Dia nampak bingung, harus bagaimana?
Laki-laki berseragam cokelat khas pelindung masyarakat yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu, kemudian menghubungi atasannya yang masih berada di tempat semula, melalui HT. Untuk menayangkan, langkah apa yang harus mereka ambil kemudian.
"Siap, Ndan. Laksanakan!" balas komandan kompi, setelah mendengarkan arahan atasannya.
"Kita kembali ke mobil, sekarang!" titah komandan kompi, pada anak buahnya sesuai perintah sang komandan.
"Bagaimana dengan kita, Bang? Kita lanjut saja, ya? Kasihan Bang Akbar dan juga Kak Fafa," pinta Attar.
"Iya, kita lanjutkan pencarian," balas Malik. "Ayo, kita sisir lahan ini lagi, kita bergerak bersama-sama aja," lanjutnya.
Mereka berenam, melanjutkan kembali menyisir tempat tersebut dengan penerangan dari senter ponsel.
__ADS_1
Meskipun hujan lebat mengguyur dan angin kencang yang berhembus menumbangkan beberapa pohon pisang yang sudah lapuk di makan usia, tak menyurutkan langkah mereka untuk terus mencari dan menemukan Akbar serta Fatiya.
ššššš tbc ššššš