Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Aku Tak Sanggup Tanpamu


__ADS_3

Akbar yang masih terus berlari, tiba-tiba merasakan dunianya menjadi gelap ketika lagi-lagi kaki panjang pemuda tampan itu tersangkut akar tumbuhan perdu yang dia lewati barusan. Tubuh tinggi tegap putra sulung Papa Alvian, jatuh dan terjerembab di atas tanah yang lembab.


Suara benda jatuh yang terdengar keras, membangunkan Fatiya dari tidurnya. 'Su-suara a-apa, itu?' tanya Fatiya dalam hati, tergagap.


Gadis itu membuka matanya lebar-lebar seraya menutup mulut, ketika menoleh ke samping dan mendapati sosok tubuh besar yang tergeletak tepat di sampingnya.


'Si-siapa dia? Ja-jangan-jangan, di-dia ...." Tubuh Fatiya menggigil ketakutan, bayangan sosok penculik yang menyekapnya tadi terlintas di benaknya.


'Ya Allah, haruskah hidup hamba berakhir di sini.' Fatiya merapatkan tubuh ke dinding tanah yang lembab, dia benar-benar ketakutan membayangkan jika laki yang barusan jatuh dari atas dengan posisi meringkuk membelakangi dirinya tersebut adalah preman yang tadi mengejar.


Hanya do'a yang terus Fatiya langitkan, memohon kemurahan dari Yang Maha Kuasa agar hal buruk tidak menimpa dirinya.


Putri Bu Saidah itu sambil memindai keadaan sekitar, mencari-cari cara bagaimana agar dirinya bisa naik ke atas.


Tatapannya kembali tertuju pada sosok besar yang tergeletak dan tak bergerak sedikitpun sedari tadi. 'Tunggu-tunggu, kalau dari pakaiannya dia bukan preman itu, tapi kenapa dia bisa berada di sini?' gumam Fatiya bertanya pada dirinya sendiri.


'Apa jangan-jangan, dia penjahat yang melarikan diri dari kejaran polisi? Atau, dia korban kejahatan yang di buang oleh seseorang ke sumur ini? A-apa dia sudah meninggal?' monolog Fatiya dalam diam, gadis itu menjadi semakin ketakutan membayangkan berbagai macam kemungkinan mengenai sosok yang tergeletak di dekatnya.


Fatiya memeluk lututnya sendiri dengan erat, gadis itu menangis dalam diam. Punggungnya berguncang seiring dengan air mata yang terus mengucur deras, meratapi nasibnya saat ini.


'Ibu pasti sangat mengkhawatirkan aku, bagaimana kalau ibu kambuh karena aku tiba-tiba menghilang?' Berbagai macam pikiran buruk tentang ibu dan juga tentang dirinya, membuat tangis Fatiya akhirnya pecah.


Putri Bu Saidah itu menangis, tak peduli lagi jika benar bahwa tubuh yang tergeletak dan menurutnya sudah tak bernyawa kemudian terbangun karena mendengar suara tangisnya.


Fatiya menangis sambil menyembunyikan wajah pada kedua lututnya. "Ibu, Fafa takut, Bu," isaknya yang terdengar menyayat hati.


☕☕☕


Malik dan yang lain, langsung menuju ke tempat Abraham begitu mendapat kabar dari putra sulung Om Alex, bahwa Akbar nekat memisahkan diri dari Abraham tanpa membawa alat penerangan untuk melanjutkan mencari Fatiya seorang diri.


"Bram, kira-kira ke arah mana Bang Akbar pergi?" tanya Malik yang baru saja tiba di tempat Abraham berdiri.

__ADS_1


"Kemungkinan ke arah sana, Bang. Tapi, entahlah ... Bang Akbar 'kan enggak bawa ponsel," balas Abraham.


"Sebaiknya, kita berpencar kembali seperti tadi, Mas," saran salah seorang anggota polisi.


"Baik, Pak," balas Akbar.


"Ayo, cepat bergerak. Formasinya sama seperti tadi," titah Malik. "Kamu, gabung sama kami saja, Bram," ajaknya kemudian, pada Abraham.


Mereka segera melanjutkan pencarian, targetnya kali ini adalah dua orang. Yaitu menemukan Akbar dan juga Fatiya.


Beberapa personil anggota kepolisian yang baru saja tiba atas permintaan Daddy Rehan dan Papa Alvian, segera ikut menyisir lahan kosong yang ditumbuhi banyak pohon pisang tersebut. Lahan yang sudah lama tak terurus.


Mereka terus bergerak, dengan bantuan penerangan sorot senter dari ponsel sambil meneriakkan nama Akbar dan Fatiya.


☕☕☕


Di dekat gudang tua, tempat Fatiya tadi disekap. Kedua penculik tersebut kemudian segera dibawa ke kantor polisi terdekat untuk dimintai keterangan.


Sementara Komandan polisi beserta satu anak buahnya, nampak masih berjaga di tempat itu, bersama Papa Alvian dan ketiga sahabatnya.


Papa Alvian menghela napas panjang, beliau membayangkan bagaimana jika sang istri tahu bahwa putranya juga ikut hilang bersama Fatiya.


"Baiklah, Ndan. Semoga segera ada kabar baik, sebelum waktu pencarian berakhir," balas Papa Alvian yang mau tidak mau, harus menyetujui keputusan komandan polisi tersebut.


☕☕☕


Sosok yang tergeletak itu, kelopak matanya perlahan bergerak. Dia kemudian membuka mata dan mendapati hanya ada dinding tanah di hadapan, serta kegelapan yang menyelimuti sekitar tempat tersebut.


'Apa ini kuburan? Apa aku sudah mati?' bisiknya, bertanya pada diri sendiri.


'Aku seperti mendengar suara tangis, apa mama yang menangisiku di atas sana?' batin Akbar.

__ADS_1


Anggota tubuh yang terasa sulit untuk bergerak dan kesadarannya yang belum pulih sempurna, membuat Akbar tercenung mendapati kenyataan tentang kematiannya yang begitu cepat.


'Sepertinya, aku memang sudah mati. Tapi, bagaimana bisa? Aku tadi masih berlari, lantas kakiku tersangkut akar tanaman liar dan aku terjatuh ....' Sejenak Akbar berpikir.


'Apa aku terjatuh ke jurang dan kemudian mereka menemukan aku sudah tak bernyawa? Tapi, apa iya di daerah tadi ada jurang? Kalau benar ada, berarti kemungkinan, Fafa juga jatuh ke jurang? Apa dia juga sudah ditemukan?' monolog Akbar dalam diam.


'Tidak-tidak, aku pasti belum mati. Fafa juga pasti belum mati. Lantas siapa yang menangis itu? Apa dia Fafa?'


"Fafa!" Akbar tiba-tiba berteriak, sekencang-kencangnya, hingga membuat Fatiya yang masih menangis langsung terdiam dan mengangkat wajah.


"Di-dia, dia memanggil namaku. Dan suaranya, suara itu seperti milik ...." Dahi Fatiya berkerut dalam.


"Ma-mas Akbar kah, kamu?" tanya Fatiya dengan suara bergetar, antara rasa senang sekaligus rasa takut, jika ternyata dia salah orang.


Mendengar namanya disebut oleh suara yang sangat dia kenali, sekuat tenaga Akbar mencoba untuk beringsut dan bangun. Susah payah, Akbar akhirnya berhasil duduk menghadap Fatiya.


"Fa, benarkah itu kamu?" tanya Akbar sambil menajamkan pandangan.


Melihat bahwa pemilik suara tadi benar-benar orang yang dia kenali, Fatiya mengabaikan pertanyaan pemuda di hadapannya. Gadis itu langsung menghambur, memeluk tubuh besar Akbar.


"Mas, jadi benar ini Mas Akbar 'kan? Fafa takut, Mas. Fafa takut," isak Fatiya dalam pelukan Akbar.


Gadis berhijab itu melupakan, bahwa diantara mereka berdua sama sekali belum ada hubungan apa-apa. Hanya satu yang ada di benak Fatiya saat ini, dia bertemu dengan orang baik yang dia kenal dan itu membuatnya merasa tenang serta bersyukur.


Mendapatkan pelukan seperti itu dari gadis yang telah bersemayam di hatinya, tentu saja Akbar merasa sangat senang. Dia peluk tubuh ramping Fatiya dengan segenap perasaan.


"Aku bersyukur, bisa menemukan kamu, Fa. Jangan pergi lagi dariku, Fa, jangan!" pinta Akbar seraya mencium puncak kepala Fatiya yang tertutup hijab.


"Aku seperti orang gila mencarimu, Fa. Aku nekat nyetir sendiri dari Jakarta ke Bandung, hingga mobilku mengalami kecelakaan di jalan tol. Ketika aku tersadar dan saudaraku bilang kalau kamu diculik, aku nekat kabur dari rumah sakit untuk ikut mencari kamu." Akbar semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku tak sanggup, jika harus hidup tanpamu, Sayang," lanjut Akbar berbisik lembut.

__ADS_1


Mendengar kalimat terakhir Akbar, Fatiya mendongak, dahinya berkerut dalam.


🍀🍀🍀🍀🍀 tbc 🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2