Arabella Secret

Arabella Secret
Bayangan masa lalu


__ADS_3

Mark hanya diam dan terus menatap wajah tua depannya, namun akhirnya ia pun bersuara,” seperti yang Daddy


lihat…aku sangat baik,” jawabnya begitu dingin. Walaupun Viktor tau putranya tidak menyukai kehadirannya disana tapi ia tidak mempermasalahkannya.


“Bagaimana kabar ibumu,” tanyannya lagi tanpa mengalihkan tatapannya karena ia memang sangat merindukannya karena sudah hampir tiga tahun ini mereka  tak pernah bertemu ataupun hanya untuk


bertegur sapa karena Mark yang selalu menghindarinya, ia tidak menyalahakannya karena kesalahan yang ia lakukan pada putra dan ibunya sangatlah besar.


Mark memutar gelas ditanganya sambil mendengus saat mendengar pertanyaan itu,” untuk apa kau ingin mengetahuinya, aku pikir kau tak layak untuk tau.” Terdengar gemertak gigi Mark karena menahan amarahnya wajah dan tatapanya semakin dingin.


“Daddy tau, kau sangat membenci Daddy Nak, memang kesalahan Daddy tidak pantas untuk dimaafkan,” ucap Viktor dengan wajah penuh kesedihan, semua sudah terjadi tak perlu disesali lagi karena itu hanya menambah beban dan luka di hatinya.


“Berhentilah untuk peduli padaku dan jangan pernah bertanya apa pun tentang ibuku, karena kau tak pantas walaupun hanya untuk menyebut namanya.”


Ucapan Mark sungguh  menembus jantungnya, Viktor memegang dadanya karena terasa begitu nyeri, Viktor mencoba untuk memejamkan matanya menahan semua gejolak dalam hatinya, ia kembali membuka matanya dan melihat Mark sedang melangkah meninggalkannya, namun langkahnya terhenti ketika seorang gadis cantik memanggilnya, viktor pun menatap wanita itu yang   berdiri disamping Mark dan bergelayut di lengan Mark dengan manja. Walaupun kurang jelas tapi Viktor masih bisa mendengar ucapan gadis itu pada Mark.


“Kak, mau berdansa denganku,” tanya Natsaya menatap wajah Mark dengan riang, Mark tidak menjawab


tapi ia pun tidak menolak ajakan itu, ia menurut saja ketika Natasya mengiring langkahnya ke lantai dansa


yang sudah banyak di isi oleh pasanganan yang ingin menikmati alunan musik romantis yang memenuhi ruangan itu, ia melihat pasangan pengantin, Ara dan Neal juga sedang asik berdansa.


Viktor hanya menatap kepergian Mark dan wanita yang tidak dikenalinya itu,” apakah wanita itu kekasihnya,” guman Viktor dalam hati. Tepukan lembut di pundaknya membuat ia menolehkan wajahnya.


“Daddy...kau juga ikut diundanga rupanya.” Seulas senyuman terukir di bibirnya saat melihat siapa yang sedang menyapanya.


“David…Daddy tidak menyangkah kita akan bertemu disini.” Jelas sekali guratan kebahagian di garis wajah yang mulai menua itu.


****


Natasya dan Mark berdansa mengikuti aluan musik romantis yang menggema dalam ruangan yang sulap begitu indah dengan dekorasi yang membuat takjub yang melihatnya, ia menatap wajah pria yang dicintainya itu yang sejak tadi tak banyak bicara, walaupun ia tau Mark memang tak suka bicara tapi dari sorot matanya ada sesuatu yang ia coba tahan dan sembunyikan.


“Kakak tidak enak badan,” tanyanya tak melepaskan tatapannya dari wajah tampan Mark, ia pun menggelnggakan kepalanya,” tidak…aku baik-baik saja,” ucapnya balik menatap Natasya, manik keduanya saling  bertemu, ia terus menatap mata biru pudar Natasya yang memancarkan kelembutan disana membuat hatinya yang panas sekan tersiram air.


Natasya membelai dada Mark lembut dengan senyuman terbaik yang ia punya,” jika kau capek, beristirahatlah disalah satu kamar hotel ini.” Mark melepaskan tangannya yang memeluk pinggang Natasya, perlahan tangan itu terulur membelai pipi Natasya dengan lembut. “ terima kasih, aku baik-baik saja,” ucapnya menatap bola mata


itu bergantian.

__ADS_1


“Saatnya berganti pasangan,” sapa suara barito dibelakangnya sehingga merusak moment romantis keduanya, Denish dan Julia tersenyum lebar pada keduanya, dan mereka pun berganti pasangan.


“Kau cantik sekali malam ini Ju,” puji Mark ketika mereka mulai mengikuti alunan musik.


“Mana yang lebih cantik dari wanita yang barusan berdansa denganmu,” Julia balik bertanya sambil terkekeh. Julia kembali melanjutkan ucapannya melihat Mark yang diam.


“Dia sepertinya sangat menyukaimu, Natasya wanita yang baik, aku memujinya   bukan karena ia adik dari suamiku,” ucap Julia yang berhasil membuat senyum tipis menghias bibir Mark.


“Aku pikir dia wanita yang cocok untukmu, walaupun ia terkadang menyebalkan karena sifat manjanya itu. Sudah saatnya kau menikah juga jangan terlalu lama sendiri.”


“Itu tidak semudah dalam ucapan Ju, banyak hal yang harus aku pertimbangkan, mungkin tidak semua wanita dapat menerima masa laluku.”


Julia terdiam sambil menatap pria yang sudah cukup lama berteman dengannya itu, walaupun tidak begitu tau tentang keluarga Mark tapi setidaknya ia sedikit tau tentang apa yang baru saja dikwatirkan oleh Mark.


“Kau harus jujur tentang siapa dirimu dan keluargamu. Kau tidak akan pernah tau jika tidak mencoba. Jika keluarganya yang kau takutkan itu rasanya berlebihan karena kau sudah megenal Denish dan Daniel jauh lebih dulu dariku, dan mereka juga tau tentang masa lalumu, setiap orang punya masa lalu jika kau tak pernah berdamai dengannya itu akan semakin membuatmu terluka semakin dalam. itu memang tak semudah aku berbicara tapi aku harap sautu hari kau bisa untuk mencobannya.”


Mark hanya terdiam dan menyahut setiap perkataan Julia padanya,"maafkan aku...aku tidak berniat untuk ikut campur," lanjut JUlai melihat Mark yang terdiam.


"Tidak... kau tidak perlu memintah maaf."


Natsya memeluk manja tubuh kakaknya sambil sesekali menatap Mark dan Julia yang terlihat begitu akrab  dan ia juga penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.


"Kau bahkan pergi diam-diam dari apartemenmu demi untuk tinggal bersamanya. Kau masih belum berubah sayang... sebelum kau menadatkan sesuatu yang kau inginkan kau tidak akan berhenti mendapatnnya, jangan...


"Sekaran hanya dia yang aku inginkan Kak, aku mencintainya segenap hatiku, dan dia pria satu-satunya yang aku harap dapat menemaniku seumur hidupku."


"Aduh...adik kecilku manis sekali." ucapan Danish membuat Natasya tertunduk malu. "Kakak pikir dia memang pantas kau perjuangkan dia pria yang sangat pekerja keras, jika kau memnag mencintainya kau harus menerima baik buruk tentang dirinya sekarang atau pun masa lalunya."


Natasya menganggukan kepalanya dengan mata mulai berkaca-kaca," apa pun itu aku akan menerimanya walau seburuk apa pun, aku mencintainya tulus Kak." Denis tersenyum lalu mengecup puncak kepala Natasya, "Kakak senag mendengarnya."


Natsya kembali menatap Mark yang masih terlihat asyik meengobrol dengan Julia,“Kakak... lihat dia bisa


bicara akrab seperti itu dengan kak Julia, sedangkan denganku dia selalu berwajah dingin dan mengesalkan dan juga irit sekali bicaranya,” sungut Natasya yang disambut oleh kekehan Denish.


“Kenapa kakak malah menertawakanku,” rengek Natasya manja. Denish mengusap lembut kepala Natasya


lalu mengecupnya lembut,” kakak tidak menyangkah kau sudah besar saja dan sudah pandai jatuh cinta sedalam ini, Mark jika bertemu Julia memang sedikit lebih banyak bicara. ”

__ADS_1


“Aku seprtinya harus banyak bertanya pada Kak Julia,” ucap Natasya lalu merangkul kakaknya erat. Hatinya begitu teduh menadapat dukungan dari keluarganya walaupun ini tak mudah apakah ia akan berhasil mendaptkan hatinya atau pada akhirnya harus menyerah.


Neal mengajak istrinya meninggalkan lantai dansa karena ia tidak ingin istrinya kelelahan itu tak baik untuk kandungannya, dan Ara juga sempat muntah saat mencium makanan yang membuat perutnya mual, saat melangkah pergi tak  sengaja matanya menangkap bayangan seorang wanita yang tengah asyik berdansa dengan seorang pria yang juga dikenalnya tapi karena melihat istrinya yang wajahnya sudah terlihat kelelahan ia pun mengurungkan niatnya untuk menyapa keduanya, karena dari gerak-gerik dan bahasa tubuh keduanya itu jelas bukan sekedar hubungan pertemanan antara seoarng pria dan wanita pasti ada hal yang istimewa antara keduanya.


Sekarang mereka duduk di meja yang agak jauh dari keramaian karena Ara kembali merasa pusing, Neal memintah pelayan untuk membawakan makan dan minuman untuknya dan istrinya.m. Neal kembali membujuk istrinya untuk pulang duluan karena ia mengawatirkan keadaan istrinya tapi Ara menolak karena tak enak hati harus pulang sementara acaranya belum selesai.


“Apakah kakimu pegal sayang,” tanya Neal menatap wajah istrinya  penuh kekwatiran. Ara menggelengkan kepalanya karena ia memang tidak menggunakan sepatu hak tinggi.


“Aku baik-baik saja sayang, sebenatar lagi kita pulang karena aku sudah mengantuk.” Neal pun menganggukan


kepalanya menyetujui pendapat istrinya itu.


****


Sementara Daniel sibuk mencari keberadaan Sera yang menghilang dari pengawasannya, tadi saat ia membawa Sera menjauh dari Neal dan Ara juga adiknya, papanya melihatnya dan Sera dan  ia pun  memanggil Sera dan mengajaknya untuk ikut bergabung bersama dokter dan pegawai rumah sakit yang juga turut di undang, Daniel  yang ingin ikut bergabung tapi tak sempat karena keburuh dipanggil oleh mamanya.


Sera tersenyum senang karena terlepas dari kemarahan Daniel yang tak beralasan padanya, ia heran dengan sikap pria itu yang selalu marah tak jelas bila ia sedang bersama dengan seorang pria, ia tidak bisa menebak apa sebenarnya yang diinginkan Daniel, jika ia menyukai dirinya sama seperti dirinya tapi Daniel tak pernah mengatakannya. Terkadang ia begitu peduli tapi terkadang ia bersikap cuke pada Sera dan itu semakin membuatnya bingung.


Daniel akhirnya menemuukan Sera sedang mengobrol dengan seorang perawat yang bertugas di UGD tapi Daniel lupa namanya dengan langkah lebar ia menghampiri Sera dan menggenggam tangannya kuat membuat wanita itu tergelonjak kaget dan menolehkan wajahnya cepat.


“Daniel apa yang kau lakaukan disini banyak pegawai rumah sakit,” ucap Sera menekan suaranya agar tidak terdengar oleh yang laiannya karena bebrapa dianataranya mulai memperhatikan mereka berdua.


“Kenapa?” ucap Daniel balik bertanya.


“Ikut denganku cepat, urusan kita belum selesai,” ucap Danie lmenaraik Sera menjauh dari sana sebelum ia sempat membalas ucapan Daniel dan kepergian mereka disaksikan beberapa pasang mata yang saling bertatap mengeditkan bahu tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. Dan tentu saja sebentar lagi gosip tentang  mereka akan cepat tersebar jika salah satu disana ada yang buka suara.


Sera kesusahan mengikuti langkah Daniel karaen sepatu hak tinggi yang dipakainya,” Daniel bisakah kau berjalan lebih perlahan kau ingin mematahkan kakiku,” teriak Sera begitu mereka berjalan dilorong yang sepi ia tidak tau kemana Daniel membawanya.


Daniel membuka sebuah pintu kamar hotel dan memaksa Sera untuk ikut masuk dan segera mengunci pintunya, dan barulah ia melepasakn pegangan tanagnnya pada Sera.


“Daniel kenapa kau membawaku kesini,” tanya Sera memundurkan langkahnya sambil memperhatikan ruangan disekelilingnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


Selamat membaca 🙏


__ADS_2