Arabella Secret

Arabella Secret
Kenapa Sepi


__ADS_3

Ara tetap melanjutkan langkahnya dengan mengedarkan tatapannya ke sekitar ruangan karena ia memastikan tidak salah ruangan, tapi ia sangat yakin inilah ruangan Neal yang beberapa hari lalu ia kunjungi , tapi ia tak melihat keberadaan Neal disana, melainkana Mark yang duduk di meja yang kemaren Neal tepati.


“Selamat siang Nona," sapa Mark ketika sudah berdiri didapan Ara.


“Selamat siang Mark, dimana Neal?" Tanya Ara sedikit bingung.


“Ayo saya hantar ke ruangan Tuan Neal," ajak Mark sambil melangkah pergi


“Bukankan ini ruangan Neal?" Tanya Ara sambil menahan langkah Mark.


“Tuan Neal memang memakai ruangan ini beberapa hari lalu karena ruangannya sedang direnovasi. Mari Nona saya hantar ke ruangan Neal yang sebenarnya, ajak Mark kembali. Ara pun mengiyakan tanpa bertanya lagi ia pun


mengikuti langkah Mark keluar dari ruangan itu.  Mereka terus berjalan lurus setelah melewati satu ruangan mereka pun berhenti di depan sebuah ruangan yang ukurannya sangat mencolok di bandingkan dengan ruangan yang ada disana, Mark pun segera mengetuk pintu tiga kali setelahnya ia menggeser pintunya.


“Ayo nona, silahkan masuk," ajak Mark. Arabela pun mengiyakan, setelah Ara masuk ia pun menutup pintunya kembali meninggalkan Ara sendiri, Ara menyapu setiap sudut ruangan itu dengan pandanganya, matanya


terhenti saat melihat Neal yang sedang duduk di meja kerjanya sambil menatapnya tajam, Ara pun melempar senyum pada Neal kemudian meneguk liurnya pelan.


“ Untuk apa ia memilik ruangan seluas ini , bahkan ukuran rumahku dulu tidak seluas ini," guman Ara sambil menyapukan pandangannya keseluruh ruangan. Beberapa lemari yang tampak apik tersusun dengan buku, Ara  melangkah mendekati sebuah lukisan yang sangat menarik minatnya, sungguh sebuah ruangan kerja yang luar biasa menurut Ara dengan fasilitas yang sangat lengkap ada disana.


"Sungguh tidak sopan, bukannya menyapa tapi malah memeriksa setiap sudut ruangan ini seperti badan intelijen negara saja," seru Neal kesal  yang sudah berdiri di belakang Ara yang tengah menikmati lukisan didepannya.


“Selamat siang Neal. Maafkan kelancanganku, tapi ruangan mu ini sangat mengagumkan. Tadi aku nyasar karena aku mencarimu ke ruanganmu kemarin, ucap Ara santai lalu berjalan ke jendela kaca besar yang tak jauh dari tempatnya berdiri, pemandangan yang terlihat sangat indah dari atas membuat Ara terpukau,


Neal kembali melanjutkan pekerjaanya yang tertinggal sedikit lagi, tak butuh waktu lama ia pun menutup laptopnya. Ia pun segera bangun dari kursi kebesarannya, Ara pun berjalan menjauh dari jendela dan melangkah ke sofa, matanya  terpusat pada sebuah majalah yang terletak begitu saja, ia mencoba mendekatkan tubuhnya dan maraih

__ADS_1


majalah itu sambil menatap foto yang ada dicover majalah, kemudian ia mengalihkan tatapanya  pada Neal yang ternyata sudah berdiri disampingnya,


“Ini kamu?" Tanya Ara, tapi tak ada sahutan dari Neal.


“Kau terlihat sangat tampan dan keren di foto ini," puji Ara sambil terus menatap foto Neal yang menjadi cover majalah seputar bisnis itu.


“Jadi menurutmu aku hanya terlihat tampan di foto itu saja, bahkan menurutku aku disana terlihat sangat  jelek," ucap Neal dengan nada kesal,


“Bukan seperti itu, dilihat secara langsung juga sangat tampan," sahut Ara sambil tersenyum lebar sehingga memperlihatkan gigi yang putih dan rapi. Neal menarik majalah yang ada di tangan Ara dan melemparkannya di atas meja, setelah itu ia menarik tangan Ara sehingga membuat Ara hampir saja terjatuh ,


"Jangan menarikku," ucap Ara mencoba melepaskan pergelangan tanganya yang dipegang erat oleh Neal, tapi sedikitpun pegangan itu tak bergeser,


‘Neal ini sakit," ringis Ara ketika mereka baru saja di depan pintu, Neal pun melepaskan pegangannya ia pun melirik pada tangan Ara dan ia melihat pergelangan tangannya memerah bekas ia pegang tadi, Sedangkan Ara mengusap - usapnya dengan wajah meringis menahan sakit.


masuk, tapi Neal mengurungkan langkahnya karena masih melihat Ara yang masih berdiri di tempat yang sama.


“Apa yang kau tunggu disana, teriak Neal kesal.


“Aku tidak tuli... jadi jangan berteriak," sahut Ara dengan wajah cemberut. Lalu melangkahkan kakinya  dan masuk kedalam lift mengukiti Neal, keduanya membisu sampai lift berhenti dan mereka segera keluar dari sana, dengan cepat Neal maraih tangan Ara dalam genggamannya.


****


Sebelum berangkat ke panti asuhan Neal mengajak Arabela untuk makan siang, Ara yang belum sempat makan siang tentu saja dengan senang hati menerima ajakan Neal . Neal singgah  disebuah Restoran mewah dan sangat terkenal di kota itu, setelah memarkir moblnya mereka berdua segera turun, Ara bergelayut di lengan Neal


keduanya beriringan masuk ke restoran.

__ADS_1


Setelah selesai makan siang mereka pun melanjutkan perjalannya,dalam perjalanan Ara sesekali bertanya pada Neal tentang panti yang mereka kunjungi, Ara pun bercerita tentang Naomi gadis kecil yang bertemu dengannya saat kunjungan pertamanya, setelah itu taka da lagi obrolan diantara mereka. Neal kosentrasi mengendarai mobilnya, Arabela yang merasa bosan mengalihkan pandangannya keluar menikmati pemandangan cantik di sepanjang jalan dan akhirnya ia pun tertidur.


Setelah menempuh perjalan lebih kurang satu jam, mereka pun sampaii dipanti. Neal pun segera memarkirkan mobilnya di halaman panti yang luas, ia melirik Ara yang duduk disampingnya, Neal mengamti wajah Ara yang


terlihat menggemaskan saat tidur dengan posisi duduk seperti itu. Perlahan Neal mendekatkan tangannya dan mengusap lembut pipi Ara dengan punggung tangannya, terlihat senyum menghias bibir Neal, kemudian Neal menarik tangan Ara yang  masih memerah bahkan sedikit membiru karena kulit Ara yang putih dan sangat lembut seperti kulit bayi.  Neal mengambil salep yang ada dalam kotak P3K yang ada dalam mobilnya lalu mengoleskan dengan lembut pada pergelangan tangan Ara,"Maafkan aku," guman Neal lembut.


Ara mengerjapakan matanya, merasakan pandangannya kabur karena baru saja terbangun dari  tidur, Neal dengan cepat menarik tangannya kembali, Ara mengeliat untuk meregangkan tubuhnya sambil menatap keluar mobil,


“Kita sudah sampai, kenapa kau tidak membangunkanku," protes Ara sambil melirik Neal. Kemudian ia pun segera membuka pintu mobil, Neal pun ikut menyusul Ara turun. Ara melemparkan pandangannya, ia melihat halaman panti terlihat kosong tidak ada satu pun anak-anak yang bermain, berbeda sekali saat kunjungannya pertama kali kesini.


“Kenapa sepi? Anak-anak pada kemana? Ara berkata dengan wajah yang diselimuti kekecewaan, itu semua tak lepas dari pengawasan Neal.


“Jam segini biasanya mereka tidur siang, ayo kita masuk," ajak Neal sambil melangkah menjauh dari mobil, Ara pun mengiyakan sambil mengikuti langkah Neal.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2