Arabella Secret

Arabella Secret
Rindu ibu


__ADS_3

Ara menatap rumah ibunya yang terlihat sudah tidak terurus lagi, tanaman yang biasanya tumbuh subur didepannya sudah terlihat banyak yang mati, ada yang masih hidup tapi keadaannya sungguh memprihatikan. Keadaaan itu membuat Ara bertanya-tanya apakah ibunya sakit lagi sehingga tidak ada waktu untuk merawat rumah dan tanaman-tanamannya, karena memang ibunya sangat menyukai bunga ia merawatnya dengan baik terkadang ia berbicara dengan para tanamannya


seolah-olah mereka juga manusia sama sepertinya.


Kata ibu tanaman juga makhluk hidup yang butuh cinta dan kasih sayang juga agar ia tumbuh subur, jika kita merawat mereka dengan penuh kasih sayang maka ia juga akan bahagian dan tumbuh dengan subur, karena itu di pekarangan rumah mereka yang mungil ini banyak di tumbuhi beraneka ragam


bunga.


Perlahan Ara mengetuk pintu rumah itu dan seraya memanggil ibunya, tapi tak ada sahutan dari dalam rumah, Ara mencoba sampai beberapa kali tapi tetap sama tak ada jawaban dari dalam rumah. Ara mencoba mengintp dibalik jendela tapi ia tidak bisa karena terhalangi oleh gordeng.


Ara mencoba berjalan ke samping rumah disana ada sebuah pintu yang terhubung langsunng ke dapur, Ara pun mencoba mengetuknay berulang-ulang tapi ia harus Kembali menelan kecewa, Ara pun berbalik kembali melangkah ke pintu depan, saat itulah lewat seorang tetangga Ara, dengan cepat ia menengurnya sehingga ia pun berhenti.


“Selamat siang Nyonya Viktor,” sapa Ara ramah.


“Ara kau kah itu,” ia balik bertanya menatap wajah Ara lekat. Ara pun berjalan menghampirinya.


“Iya Nyonya, ini Ara. Aku ingin bertanya kemana ibuku, aku sudah mengetuk rumah dan memanggilnya berkali-kali tapi tak ada


jawaban dari ibuku,” jelas Ara lagi.


Melihat perubahan air muka Nyonya Viktor membuat Ara mengernyit heran, ia melangkah lebih mendekat dan menyentuh lengan wanita tua itu.


“Kenapa Nyonya apa saya salah bicara.”


Nyonya Viktor menggelebgkan kepalanya dengan  cepat. "Tidak Ara,” sahutnya pelan dengan tutur suara terdengar begitu sedih membuat bermacam pikiran negative tentang ibunya terlintas dikepalanya.


“Ini mungkin sangat berat untukmu tapi kau harus bersabar dan iklhas Nak, ibumu sudah meninggal satu bulan yang lalu,” jelas nyonya Viktor dengan mata berkaca-kaca sambil memegang erat lengan Ara.


Ucapan nyonya Viktor terdengan seperti petir yang sedang menyambar di depan wajahnya, seketika ia merasakan seluruh tubuhnya lemas sekan ada yang menyedot semua tenaganya, ia tersimpuh di tanah untungnya dengan cepat nyonya Viktor menahannya agar tubuhnya tidak membentur tanah dengan keras.


“Ibu…maafkan Ara.”

__ADS_1


Hanya itu kalimat yang keluar dari bibirnya karena ia merasakan tenggorokannya mendadak kering membuatnya seperti tercekik, ia hanya mampu menangis tanpa suara  sambil memukul-mukul dadanya yang begitu sesak, sungguh dadanya begitu sakit sehingga untuk bersuara saja ia tidak


mampu, ia mencoba untuk memanggil ibunya lagi dengan susah payah ia mencoba mengeluarkan suaranya yang tercekat ditenggorkannya.


“Ibu….ibu …..


“Sayang…sayang,” panggil Neal sambil  menepuk pipi istrinya pelan untuk membangunkan istrinya yang menangis sambil memanggil-manggil ibunya.


“Sayang bangun sayang,” Neal terus mencoba membangunkan istrinya, dan akhirnya ia berhasil kedua mata Ara terbuka, sisa-sisa air mata masih jelas terlihat disana.


“Neal,” ucapnya pelan tapi masih bisa didengar olehnya.


“Iya sayang, kamu bermimpi makanya aku membangunkanmu,” sahut Neal lembut sambil mengusap-usap pipi Ara dengan lembut.


Ara mengusap wajahnya ia merasa bersyukur ternyata hal yang baru saja dialaminya cuma mimpi Ara memegang dadanya ada rasa lega disana. Ia pun menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.


“Kau bermimpi sayang sampai memanggil-manggil ibumu,” ucap Neal tanpa melepaskan tatapannya dari wajah istrinya.


 Neal pun merengkuh tubuh istrinya membawanya kedalam pelukannya menyandarkan wajah Ara di dadanya, dan melingkarkan satu tangannya di pinggang istrinya dan satu tangannya mengusap-usap lembut kepala istrinya,  Ara pun turut mengertakan pelukannya melingkarkan tangannya ke dada suaminya dan membenamkan wajahnya disana, sungguh itu tempat yang paling nyaman untuknya.


“Kau mungkin merindukan ibu karena itu kau sampai bermimpi,”


“Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan ibu.” Suara Ara terdengar begitu sedih saat mengucapkannya.


“Aku rindu sekali pada ibu, bagaimana kabarnya sekarang, apakah ibu baik-baik saja,” guman Ara mulai terisak, Neal menarik dagu istrinya pelan sehingga ia dapat melihat dengan jelas wajah istrinya, mendengar suara sedih istrinya membuatnya merasa ikut


terluka. Ia tahu bagiaman Ara begitu menyayangi ibunya, ia rela melakukan apa


saja demi ibunya, ia dapat bertemu dengan Ara itu karena pengorbanannya demi


kesembuhan ibunya.

__ADS_1


“Aku berjanji akan mengajakmu untuk mengunjungi ibumu,” papar Neal seraya mengusap air mata istrinya .


“Benarkah,” ucap Ara dengan mata berbinar bahagia, Neal pun menganggukan kepalanya pelan sambil menipiskan senyum dibibirnya.


Tiba-tiba wajah yang bahagia itu kembali berubah menatap Neal dengan sedih, "ibu membenciku, apakah dia masih mau bertemu denganku,” guman Ara pelan.


“Membencimu…apa maksudmu sayang, mana mungkin dia membencimu saat kita bertemu dengannya aku dapat  melihat bagaiman ibumu begitu menyayangi,”bisik Neal lembut sambil mengecup puncak kepala istrinya.


“Saat hari terakhir kita Tyumen aku kembali menggunjungi ibu, ternyata malam sebelumnya ibu mengikuti kita sampai ke hotel dan melihat kita bersama, ia tau hubungan kita bukanlah sebatas rekan kerja, ia menuduh aku adalah wanita simpananmu,” suara Ara terdengar bergetar saar mengingat itu Kembali. Neal mencoba menguatkan istrinya dengan mengusap-usa punggung Ara lembut.


“Dia sangat marah padaku saat itu, aku mencoba menjelaskan pada ibu tapi ia tak mau medengarkanku, ibu sudah membuangku, ia memilih lebih baik mati dari pada aku menjual diri demi uang.”


Neal semakin mengeratkan pelukannya memberikan banyak ciuman pada istrinya, betapa begitu berat yang ditanggung selama ini oleh istrinya, semua ia sembunyikan dibalik wajah cerianya, ia mencoba menaggung sendiri beban perasaannya, Neal semakin merasa bersalah karena tak pernah ada saat Ara membutuhkannya.


“Maafkan aku sayang, aku ini suami yang buruk, aku tak pernah ada untukmu saat kau sedang membutuhkan sandaran untuk melepaskan sejenak beban di pundakmu,  aku berjanji akan menjagamu dengan nyawaku tak akan kubiarkan air mata kesedihan jatuh lagi di pipi ini,” ucap Neal


sambil mengusap pipi istrinya lembut.


“Berjanjilah padaku, jangan pernah menanggung beban apapun sendiri berbagilah denganku. Kau mau berjanji,” tanya Neal menatap lekat wajah istrinya, Ara pun menganggukan kepalanya pelan  mencoba tersenyum dalam balutan kesedihannya.


“Kita akan mengunjungi ibu, aku akan jelaskan semuanya, kau tidak usah cemas aku yakin ibu akan memaafkan dan menerima kehadiranmu lagi.”


“Terima kasih sayang,” ucapnya hampir tidak terdengar karena suaranya ditelan oleh sedunya.


“Sekarang ayo kita tidur lagi,” ajak Neal sambil menarik selimut membalutkan selimut itu ketubuhnya dan tubuh istrinya, Ara pun Kembali memejamkan matanya menikmati usapan lembut tangan suaminya pada punggungnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2