
Kehadiran Anara yang tiba-tiba diantara mereka sungguh mengejutkan, ditambah lagi Anara mendengar semua yang mereka katakan, sungguh tiada yang mengingankan hal seperti ini, tapi mereka sudah terkepung tidak bisa mengelak lagi. Ivander dan Helena saling pandang dengan wajah penuh kecemasan. Helena mencoba mengutkan hatinya menatap kembali pada Anara.
“Sayang,” Helana membuka bicara dengan suara lembutnya sambil berjalan menghampiri putrinya. Ia mencoab bersikap tenang meskipun jantungnya sudah memompa dengan cepat.
“Neal kau belum menjawab pertanyaanku,” Anara mengulang kembali pertanyaannya, Anara mengabaikan Helena yang menyapanya. Neal tetap diam bungkam seribu bahasa seperti tak berminat menyahuti pertanyaan Anara.
“Nak Ayo kita duduk dulu,” Ajak Ivander sambil menarik kursi rodanya yang sudah dibawakan pelayan untuknya tapi Anara menolak dengan tegas.
“Kalian membohongiku, dan kau telah menghianatiku Neal,” teriak Anara tak bisa mengendalika emoisnya yang sudah membakar tubuhnya.
“Tenanglah sayang, papa akan menjelaskan semuanya kepadamu,” papar Ivander mencoba menenangkan putrinya yang sudah di puncak amarahnya, Helena mencoba memeluk tubuh Anara, pelayan yang sebelumnya memegangi Anara pun segera pergi ketika Anara sudah dalam pelukan mamanya.
Ivander memaksa Anara untuk duduk di kursi rodanya ia tidak ingin Anara terjatuh karena kedua kakinya yang belum terlalu kuat baginya untuk bertumpuh, tak ada lagi perlawana dari Anara, ia hanya menangis hatinya begitu terasa sakit saat tau kenyataan pria yang dicintainya sudah menikah dengan wanita lain.
“Sayang banyak hal yang terjadi saat kau koma,” ucap Ivander pelan sambil menatap lekat wajah Anara ia menjadikan kedua lututnya untuk memopang tubuhnya menyejajarkan wajahnya dengan wajah putrinya, ia meraih Anara dalam pelukannya,” Papa akan menceritakkan semuannya kepadamu Nak, satu kalimat pun tidak akan Papa lewatkan.” Ivander berkata sambil mengusap lembut punggung Anara.Ivander mulai bercerita pada Anara, tak ada yang ia sembunyikankan, Neal dan Helana hanya diam mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Ivander.
“Semua kami lakukan karena kami menyayangimu Nak, kami ingin menjaga nama baikmu, nama baik keluarga kita dan keluarga Neal,” perkataan itu menutup cerita panjang Ivander.
Anara menatap Neal yang diam sambil menundukan kepalanya,” apakah benar wanita itu hanya sebagai pengganti diriku saja, tak ada artinya bagimu Neal," tak ada jawaban yang keluar dari bibir Neal, tapi hatinya menjerit ingin meneriakan bahwa Arabella adalah wanita yang telah mengisi hatinya sekarang, ia mencoba menahan dirinya teringat janjinya pada papa Anara, Rahangnya mengeras dan tubuhnya bergetar menahan dirinya.
“Kenapa kau diam, apakah ia sudah melebihi batas itu,”
“Kau terlihat berbeda bukan seperti Neal yang aku kenal, setiap bersamaku kau selalu melamun, apakah hanya dia yang ada dalam pikiranmu.”
“Sayang…
“Tidak Papa….jangan menahanku lagi, tak ada yang perlu disembunyikan lagi dari diriku .”
“Kau mencintai wanita itu Neal.”
“Kau benar, kita tidak perlu menyembunyikan apa pun lagi sekarang, Papa maafkan aku, aku tak ingin berpura-pura lagi, itu akan semakin menyakiti kami."
__ADS_1
"Jadi aku benar, kau mencintai wanita itu,"Suara Anara terdengar bergetar saat mengucapkannya, ia menatap lekat wajah Neal masih berharap itu bukanlah kebenarannya, berharap itu hanya perasaan ketakutannya kehilangan Neal.
“Sebelumnya aku ingin memintah maaf padamu, kau mungkin sudah mendengar penjelasan papamu kalau mereka yang memaksa aku untuk menikah dengan wanita pilihannya, aku dengan tegas menolak permintaan mereka tapi mereka tak memberikan sebuah pilihan padaku, sehingga pernikahan itu akhirnya terjadi.”
“Kau tau betapa tersiksanya aku saat menjalani pernikahan yang penuh dengan sandiwara dan kepura-puraan, aku harus hidup bersama wanita asing, walaupun ia memiliki wajah yang sama dengamu." Neal menghentikan bicaranya ia menelan ludahnya dengan getir mencoba menguatkan hatinya yang akan selalu terasa sakit jika teringat perlakuannya buruk pada istrinya. "Kalian memang memiliki wajah yang sama tapi tidak sifatnya, aku bahkan memperlakukannya dengan buruk tapi ia tidak pernah membalasku dia hanya diam menangis dalam kesendiriannya.” Neal tidak dapat menahan cairan bening yang sudah menggenang dipelupuk dimatanya, ia memejamkan matanya mencoba menghapus banyangan yang sedang berputar di depannya, bayangan perlakuan buruknya pada Ara membuat hatinya seperti di iris-iris.
Anara meremas bajunya dengan kuat air matanya tak henti mengalir mendengar setiap perkataan yang keluar dari bibir Neal. Ivander dan Helena hanya menundukan kepalanya diam. Sepertinya ini sudah takdir hidup yang mereka jalani siapa yang bisa menolak takdir tak satu pun manusia mampu melakukannya, ia boleh saja berencana membuat alur cerita yang nyaris sempurna bersandiwara di depan Anara sampai semua keadaan membaik, tapi itu hanya boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan semuannya.
“Beberap bulan hidup bersamanya membuat diriku merasa nyaman, saat pulang ke rumah dirinya yang selalu aku cari, hatiku akan tenang bila telah melihatnya. Aku selalu bertanya pada diriku mengapa aku bisa seperti itu, tidak mungkin aku menyukainya itu pertanyaan yang muncul setiap saat, aku selalu mencoba menyangkalnya aku pikir ini mungkin hanya perasaan sesaat yang akan cepat menguap seiring waktu berjalan, tapi aku tidak dapat membohongi diriku lagi aku benar-benar telah jatuh cinta padanya, aku mencintainya melebihi diriku sendiri."
“Maafkan aku… sungguh aku tidak bermaksud menghianatimu, tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikan hatiku padanya.”
Hati Anara terasa ditusuk beribu jarum saat mendengar pengakuan dari bibir Neal,” Aku butuh bertahun untuk dapat memiliki hatimu, tapi dirinya hanya beberapa bulan saja mampu membuatmu jatuh cinta begitu dalam, kau menangis untuknya hal yang belum pernah aku lihat dari dirimu Neal, ia sungguh wanita yang luar biasa bisa memenangkan hatimu tak menyisahkan tempat sedikitpun untuku,” Anara berkata dengan bibir bergetar.
Ruang makan menjadi begitu mencekam, kesedihan menggelayuti ruangan itu, keheningan menyapa mereka, Ivander dan Helena sedikitpun tidak melepaskan pandangannya dari Anara, beberapa kali Anara mencoba menepis tangan mamanya yang mencoba menghapus air matanya.
“Bawah aku menemuinya, aku ingin sekali bertemu dengannya.”bisik Anara pelan tapi masih bisa ditangkap oleh mereka yang ada disana.
“Dia sudah pergi, ia sudah pergi meninggalkan aku,”guman Neal pelan.
****
Karen menunduk takut di depan Neal dan Mark, ia meremas tanganya yang dingin, ia siap menerima semua kemarahan Neal padanya karena ia tidak bisa menjaga Arabella dengan baik.
“Maafkan aku Tuan, semua ini salahkan, aku tidak menajag nona dengan baik” Karen akhirnya memberanika diri untuk bersuara, wajahnya seketika sedih mengingat Ara yang telah pergi entah kemana. Jika waktu bisa di putar kembali ia memilih akan berjaga sepanjang malam sehingga bisa menahan kepergian Ara.
“Aku sungguh kecewa padamu Karen,” ucap Mark dingin menatap Karen tajam.
“Aku tau aku salah.”
“Angkat kepalamu saat bicara tatap lawan bicaramu, aku tidak suka melihat orang yang berbicara tapi tidak melihat padaku,” bentak Mark kesal melihat Karen sedari tadi hanya menundukan kepalanya. Perlahan ia mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap Neal dan Mark yang duduk di depannya.
__ADS_1
“Apakah istriku pernah mengatakan sesuatu padamu,” tanya Neal yang sedari tadi hanya diam, Neal memang kesal pada Karen tidak bisa menjaga istrinya dengan baik, tapi ia juga tidak bisa menumpahkan semua kesalahan pada dirinya.
“Nona sangat sedih saat tau kehilangan bayinya, Nona saat itu bahkan ingin…
Karen tidak melanjutkan bicaranya ia takut salah bicara,”Kenapa kau malah diam,” tanya Mark kesal.
Karen menelan ludahnya getir,”Nona berniat untuk mengakhiri hidupnya Tuan,” akhirnya kalimat itu lolos keluar dari bibirnya.
Neal merasakan denyut jantungnya berhenti saat mendengar ucapan Karen,”Tidak….! Ia tidak boleh melakukan itu,”teriak Neal panik. Ketakutan menderanya bagaimana kalau Ara benar-benar melakukannya. Mark mencoba menenangkan Neal yang begitu kalut, Karen terkejut saat melihat reaksi Neal yang di luar pekiraannya, jangankan Karen yang baru mengenal Neal sedangkan Mark yang sudah bertahun-tahun bekerja dengannya belum pernah melihat Neal bersikap seperti itu, ia melemparkan semua benda yang ada di depannya itu sambil berteriak histeris.
Karen yang ketakutan berusaha menjauh dari sana, ia menyelinapkan tangannya kesaku mantel yang sedang dikenakannya, ia tersentak saat tangannya menyentuh sesuatu didalam sana, ia baru teringat kalau Arabella
meninggalkan sepucuk surat di atas tempat tidur, dengan cepat ia mengeluarkan surat itu dari saku mantelnya.
“Tuan Neal, aku melupakan sesuatu, Nona meninggalakan sepucuk surat untukmu," teriak Karen kuat agar suaranya dapat mengalahkan suara bising dari benda-benda yang pecah di ruangan itu.
Teriakan Karen menghentikan Neal yang hendak membanting benda yang ada di tanganya, ia menolehkan wajahnya pada Karen yang berdiri disudut ruangan menatapnya dengan ketakutan. Ia menjatuhkan benda yang sedang dipegangnya begitu saja. Wajahnya yang garang berubah menjadi teduh, terlihat binaran kebahagian dari matanya.
“Su-surat... istriku meninggalakn surat untukku?” tanya Neal pelan. Karen pun menganggukan kepalanya lalu memberanikan diri berjalan mendekati Neal yang terlihat sudah tenang.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Ikut mewek pas menulis part ini😭😭😭
Jangan lupa llike dan komennya 👍👍👍👍