Arabella Secret

Arabella Secret
Serendah itukah aku?


__ADS_3

Ara menatap wajah ibunya yang tak sehangat saat mereka bertemu kemarin. Twk ada senyuman di wajah itu, bahkan wajah itu terlihat seperti sedang menahan tangis. Perlahan Ara mendekat dan mendudukan tubuhnya di samping ibunya yang sedikit pun tidak mengalihkan pandangannya.


“Ibu kenapa...apa ibu sakit?" Tanya Ara lembut sambil menyentuh tangan ibunya.


“Kenapa kau membohongi ibu." Suara itu akhirnya keluar dari mulut Corry yang membuat Ara terkesiap.


“Apa maksud ibu?".Ara tidak pernah membohongi ibu, tukas Ara sambil memegang pipi ibunya dengan kedua tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca tentu saja ketakutan mulai meyelimuti dirinya ketakutan kalau ibunya tahu tentang perkawinan perjanjian yang dilakukannya dengan Neal.


“Kau melakukan ini karena ingin membiayai pengobatan ibu kan?" Tanya Corry dengan wajah yang sudah di penuhi oleh air mata.


“Kau menjadi simpanan pria itu, melemparkan dirimu padanya demi uang, tidak Nak ibu lebih baik mati dari pada menerima uang dari hasil menjual diri," tegas Corry sambil menjauhkan tubuhnya dari Ara.


“Tidak ibu...itu tidak benar," elak Ara mulai terisak sambil menggelengkan kepalanya.


“Jangan berbohong...ibu sudah melihatnya sendiri, sekarang pergilah jangan temui ibu lagi, sampai kau meninggalkan pria itu.


Ara tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada ibunya, ia harus memulai dari mana. "Maafkan Ara Bu...Ara tidak bisa meninggalkan Neal sekarang." Karena ia sudah berjanji kepada orang tua Anara dan orang tua Neal, dua keluarga yang begitu baik padanya tidak mungkin ia pergi begitu saja, hal itu akan membuat malu kedua keluarga itu.


“Kenapa?....Apakah sekarang kau tengah mengandung anaknya," tanya Corry dengan air mata mengalir deras di wajahnya. "Tidak ibu...bukan seperti itu," tepis Ara sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


“Jelaskan pada ibu kenapa kau bisa bersama pria itu, diamana kau bertemu dengannya? dia jatuh cinta padamu lalu ia menjadikan dirimu simpanan karena ia sudah punya istri? berapa banyak uang yang ia tawarkan kepadamu....Corry menghujani Ara dengan pertanyaan bertubi - tubi.


“Pergilah jangan temui ibu lagi." Corry berkata sambil menarik tangan Ara keluar rumah walaupun Ara merontah menolak keinginan ibunya, Corry menutup pintu dan mengucinya membiarkan Ara berteriak memanggilnya. Yang bisa dilakukan sekarang hanya menangis sambil menyandarkan tubuhnya dibalik pintu, mengutuk dirinya yang tidak berguna sehingga Ara memilih jalan salah untuk menyelematkannya. Tangisnya semakin keras meratapi takdir yang seakan mempermainkan hidupnya yang sudah begitu banyak menaggung beban yang seakan tidak sanggup ia pikul lagi.


Ia mengintip dari jendela saat tak mendengar suara Ara lagi, dan benar saja putrinya tidak ada lagi disana. Ia memegang dadanya yang terasa begitu sesak seakan dunia ini seperti menghimpitnya.

__ADS_1


****


Ara duduk di salah satu bangku taman sambil menangis. Ia tidak peduli dengan tatapan beberapa orang yang lewat, ia hanya ingin melepaskan beban yang begitu terasa sangat berat tengah menghimpit dadanya. Bagaimana cara memulai pada ibunya untuk menjelaskan yang terjadi dan apakah ibunya akan percaya dengan setiap perkataannya, karena ia tahu ibunya paling benci dengan kebohongan dan ia baru saja melakukan hal itu, walaupun ia melakukan semua ini demi kesembuhan ibunya.


Deringan ponsel dari dalam tasnya mengalihkan perhatiannya. Ara pun segera mengambil ponselnya ia melihat sebuah panggilan dari Neal, Ara mengambil napas perlahan, ia tidak ingin tahu tentang hal yang baru saja di alaminya.


“Kau  dimana?" Neal langsung bertanya begitu terhubung dengan Ara.


" Ada apa?" Ara bertanya dan berusaha menyembunyikan suara serak habis menangis.


“Suaramu kenapa?" Tanya Neal tidak mudah dibohongi oleh Ara.


“Aku habis batuk, jadi tenggorokkanku terasa tidak nyaman," elak Ara cepat.


“Tidak, aku sudah diperjalan kembali ke hotel," ucap Ara berbohong.


“Baiklah...cepatlah. Kita harus Kembali ke Moskow sekarang," sahut Neal. Ara pun mengiyakan dan keduanya pun segera mengakhiri panggilan mereka, Ara pun segera bangkit dan berjalan ke halte terdekat.


*****


Arabela sampai di hotel ternyata Neal sudah menunggu disana, tanpa menyapa Ara segera berlalu untuk menyusun pakaian mereka dalam koper, tapi langkah Ara tertahan saat melihat koper mereka sudah terletak di samping tempat tidur. Ara mencoba untuk memastikan pakaian mereka sudah dikemas atau belum, ia pun membuka lemari pakaian dan benar saja lemari itu sudah kosong. Ara pun segera berlalu ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, sejenak Ara memeperhatikan wajahnya, walaupun ia sudah mencuci wajahnya tapi mata sembabnya masih terlihat dan ujung hidung mancungnya yang kemerahan. Ara pun segera memoleskan makeup tipis diwajahnya setelah itu ia pun berlalu dari sana.


****


Ara berdiri sedikit jauh dari Neal, bagiamana pun ia masih sangat malu untuk melihatkan wajahnya pada Neal, mengingat kejadian semalam sungguh membuat wajahnya memerah. Sejenak ia melirik pada Neal dan Mark yang masih terlihat asyik dengan ponsel pintar di tangannya, akhirnya Ara pun mendudukan tubuhnya disalah satu sofa karena merasa capek juga berdiri. Ia pun mulai asyik dengan ponselnya memperhatikan beberapa gambar yang sempat diambilnya kemaren saat bersama ibunya, dan mengingat itu semua mata Ara kembali terasa panas.

__ADS_1


“Ayo...bangunklah kita akan segera berangkat," seru Neal sambil bangun dari duduknya, Ara pun mengiyakan. Ia pun segera menyusul langkah Neal yang mendahuluinya, sesekali ia menatap punggung tegap suaminya,mereka bertiga pun segera masuk lift menuju lantai dasar. Neal melirik Ara yang berdiri disampingnya, melihat istrinya yang banyak menunduk dan diam, membuat banyak pertanyan di kepala Neal. Mereka keluar dari lift tanpa ada yang bersuara, mereka segera masuk ke mobil yang telah menunggu mereka di lobby Hotel.


******


Selama perjalan dari bandara Arabela pun tak bersuara sedikit pun, seperti biasa ia lebih banyak memandang keluar jendela mobil. Neal yang tidak tahan dengan sikap dingin Ara pun akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya.


“Kau kenapa?"


"Ara pun mengalihkan pandangan dan menatap Neal yang duduk disampingnya." Tidak...aku baik-baik saja, "ucap Ara pelan.


“Kau marah padaku karena kejadian semalam, sungguh aku mintah maaf, aku akan menganti rugi untuk semua yang terjadi antara kita, aku tahu tak seharusnya aku melakukann hal itu padamu, aku sangat menyesal, " ucap Neal dengan wajah datarnya. Neal tidak tahu apakah ucapannya itu adalah yang terbaik untuk Ara atau bahkan akan membuat Ara terluka. Apakah ini benar kejujuran yang keluar dari mulutnya, bukankah ia begitu menikmatinya semalam. Neal mulai pusing meningatnya.


Mendengar perkataan yang keluar dari bibir Neal, sungguh membuat jantung Ara  begitu perih, seakan ada seribu jarum yang sedang menusuknya, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya, agar Neal tidak melihat air matanya yang meluncur dengan deras. Apa yang terjadi antara dirinya dan Neal adalah sebuah kesalahan, tapi Ara rela memberikan yang pertama baginya pada Neal karena ia memang mencintai Neal dengan sepenuh hatinya. Tapi ucapan Neal yang akan membayarnya karena sudah menidurinya semalam membuat hatinya begitu sakit. Neal hanya menganggapnya seorang ****** yang habis ditiduri akan menerima bayarannya dan bahkan ia menyesali telah tidur dengannya. Air mata Ara semakin menderas, ibunya benar ia hanya seorang wanita yang telah menjual tubuhnya demi uang.


.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa likenya 😄😄

__ADS_1


__ADS_2