
Tiga bulan kemudian.
Neal meletakan Abigail dalam box bayi ia baru saja tertidur setelah disusui oleh Ara, sedangkan saudaranya Noah
belum juga tertidur manic hitamnya masih terbuka lebar belum terlihat mengantuk sedikit pun, sisulung Noah memang lebih rewel dibandingkan Abigail, dan kalau malam juga lebih sering terbangun karena sering kehausan, tapi Ara tak pernah sakalipun mengeluh walaupun sering bergadang, Neal terkadang sering juga
menemaninya namun ia juga tidak tega melihat suaminya ikut bergadang karena suaminya pasti kelelahan karena seharian sibuk dengan pekerjaanya.
Keduanya tumbuh dan berkembang dengan pesat, tubuh mereka yang begitu mungil karena terlahir
premature kini tak terlihat sedikit pun. Badan keduanya begitu montok dan sangat menggemaskan pipinya yang bulat begitu menggoda untuk digigit
Neal mengecup kening putrinya dengan kasih sayang sebelum beranjak pergi kembali ke tempat tidurnya ikut
bergabung dengan Ara dan Noah.
“Sayang, kenapa belum juga tidur,” ucap Neal mengesekean hidungkan ke perut buncit Noah membuatnya
bergerak-gerak dengan suara kahas bayi menatap Neal dengan mata bulat hitamnya, tanganya sudah basah dengan liur karena ia terus memasukan tangannya ke dalam
mulutnya.
“Mau bicara apa sama Daddy,hmm.” Neal menempelkan telapak tangan Noah ke wajahnya, kakainya bergerak-gerak aktif sekan mengerti dengan ucapan ayahnya.
“Tidurlah sayang jika kau sudah mengantuk. Biar aku yang menjaga Noah.” Neal mengelus wajah istrinya dengan penuh kasih sayang, sorot matanya menatapnya penuh cinta. Dengan manja Ara menyandarkan kepalanya
kebahu Neal melingkarkan lengannya ke pinggang suaminya.
“Apa kau tidak lelah.”
Neal mengangkat Noah dan menangkupkan ke dadanya,” tidak, tidurlah kau terlihat sangat lelah,’ ucap Neal
menyelipkan rambut istrinya ke belakang daun telinga istrinya. Ara menatap lekat wajah suaminya menyelipkan senyum manis dibibirnya, ia selalu merasakan cinta yang begitu besar tiap harinya dari Neal, ia selalu dicurahkan kasih sayang dan perhatian yang besar dari suaminya, selalu kompak menjaga sikembar walaupun mereka memiliki pengasuh kedua bayinya, tapi Ara lebih suka mengurus bayinya sendiri, namun jika Neal sedang bekerja ia terkadang sedikit kewalahan jika keduanya sama-sama rewel.
“Selamat malam sayang.” Ara mengecup singkat bibir suaminya. Ia pun mencari posisi yang nyaman agar cepat
tertidur dan tidak butuh waktu lama ia pun terlelep. Neal mengusap-usap punggung Noah dengan penuh kasih sayang, menatap mata putrannya yang mulai kuyuh, mulutnya sibuk mengisap tangannya, dan Noah pun akhirnya tertidur. Neal memindahkan Noah kedalam box bayi yang terletak disamping ranjangnya. Jika malam hari sikembar memang tidur sekamar denganya. Setelah meletakan Noah ia pun kembali ke tempat tidurnya membaringkan tubuhnya disebelah istrinya, menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya karena akan membuatnya cepat tertidur.
****
Cory sedang menemani cucu-cucunya karena Ara sedang makan siang, ia masih menetap di Moskow karena
Ara tak menginjikannya untuk kembali ke Tyumen, ia mengawatirkan ibunya harus tinggal sendirian diusianya yang sudah tidak muda lagi. Sudah beberapa hari ini ia berpikir keras mempertimbangankan tentang kebenaran yang harus diketahui Ara.
“Ibu kenapa melamun.” Ara yang baru saja datang melihat ibunya melamun bahkan tidak menyadari
kehadirannya disana.
“Kau sudah kembali, Nak.” Sahut Cory tetap mengukir senyum dibibirnya.
“Apakah ibu memikirkan sesuatu,” tanyannya mendudukan tubuhnya disebelah ibunya,ia menyentuh tangan
ibunya menatap lekat manic abu-abunya.
“Apakah kau masih menyayangi ibu sama seperti dulu.” Tanyannya membuat Ara menautkan kedua alisnya.
“Apa yang ibu bicarakan, sampai kapan pun cinta dan kasih sayang Ara tidak akan pernah berubah,” ucapnya
menatap dengan sorot mata menahan kesedihan.
“Ara tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan yang telah ibu berikan, kasih sayang yang sedikit pun
tak berbeda walaupun Ara bukanlah putri kandung ibu.” Ia berucap dengan nada sedih kelopak matanya sudah penuh dengan air mata.
“Maafkan ibu,Nak.” Cory meraih tubuh Ara kedalam pelukannya hingga bulir bening itu terjatuh membasahi
pipinya.
“ibu dan mama selalu memiliki tempat istimewa di hati Ara, terkadang memang terbersit rasa rindu pada mama, tapi mama sudah bahagia disana dan tidak sakit lagi. Ara berharap mama juga merindukan Ara disana.”
Cory tak dapat lagi menahan air matanya, walaupun ia telah mencurahkan semua kasih sayang yang ia dan suami
miliki untuk Ara, cinta kasih ibu kandungnya mungkin jauh melebihi yang ia punya. Walaupun hanya sebentar Ara dapat menikmatinya tapi kesan itu akan membekas sepanjang hidupnya.
Cory menghapus air mata yang mengalir di pipi Ara, walaupun tidak perna sekalipun Ara bertanya tentang siapa
ayah kandungnya ia tau pasti rasa penasaran akan sosok itu tak mungkin bisa ia buang dalam pikirannya.
Cory tau dulu sebelum Janie meninggal Ara sudah berjanji tidak boleh menanyakn siapa sosok ayahnya,
karena jika Tuhan memang menginginkan mereka untuk bertemu maka tidak akan ada yang bisa mencegahnya, dan Ara pun patuh sampai detik ini ia sekalipun tidak bertanya siapa sosok ayah kandunganya.”
“Sayang, ibu tau kau tidak pernah sakalipun bertanya, tapi jauh dalam lubuk hatimu kau pasti ingin mengetahuinya, dan ibu rasa sudah saatnya kau tau semua kebenaran yang telah ibu dan mamamu jaga selama dua puluh lima tahun.”
Ia merogoh sakunya lalu menarik telapak tangan Ara dan meletakan sebuah amplot coklat yang sudah pudar
dimakan usia tapi kondisinya masih sangat baik, ia menatap amplot ditelapak tanganya lalu berpindah pada manic abu-abu ibunya.
“Apa ini,” tanyanya menunjukan amplot yang ditangannya.
“Mamamu pernah berkata, jika Tuhan yang sudah mengehedakinya tak satu pun bisa mencegahnya, dan seprtinya
__ADS_1
ucapannya itu terbukti sekarang. Bukalah kau akan tau siapa ayah sebenarnya.”
Deg…
Ucapan Cory membuat detak jantung Ara berpacu cepat, sosok yang selalu ia coba untuk melupakannya
walaupun tak sepenuhnya berhasil ia lakuakan. Siapa di dunia ini tak ingin mngetahui siapa ayah kandunganya karena cinta ayah dan ibunya ia lahir ke dunia ini. Dengan tangan gemetar Ara membuka amplotnya, menarik isinya dalamnya secarik kertas dan sebuah foto lawas.
Ara menatap fotonya tanpa berkedip meyakinkan dirinya tidak salah ihat karena tiga orang dalam foto itu sosok yang sanagt dikenalinya, matanya yang sudah penuh dengan linangan arr mata beralih pada Cory yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca, ia menganggukan kepalanya pelan mencoba mengukir senyum
dibibirnya.
Air matanya satu-persatu mulai menetes ketika tangannya membuka lipatan kertas itu, mencoba menahan
ledakan didadanya dan mencoba mencari kebenaran lewat secarik kertas putih yang mulai memudar.
Arabela putriku,
Bagaimana kabarmu Nak, sudah tumbuh sebesar apa kau saat membaca surat mama ini,Nak,
apakah kau masih usia belasan, apakah sudah menikah, atau seusia dengan mama
saat menulis surat ini, entahlah sayang mama mencoba menduga-duga dan
membayangkan wajahmu saat mama menulis surat ini. Maafkan mama Nak tidak bisa
menemanimu tumbuh dewasa.
Puriku tersayang,
Maaf…maaf…itulah kata yang ingin mama ucapkan jika saat ini mama masih bisa bicara padamu,
apakah mamamu ini masih layak mengucapkan kata itu, setelah semua penderitaan
yang mama berikan kepadamu.
Arabella sayangku,
Seandainya Tuhan memberi banyak waktu untuk kita bersama, mama ingin menceritakan semua
ini padamu dengan menatap manic coklatmu yang selalu mengingatkan mama pada
pria yang mengalirkan darah dalam tubuhmu. Lelaki yang selalu kau tanykan
keberadaannya, hancur itulah gambaran perasaan yang mama rasakan setiap kali
kau menanyakannya. Maafkan mama sayang sungguh mama tidak pernah berniat
tidak perna menginginkan kehadiran kita di dunia ini agar kau tidak bertanya
lagi.
Mama berbohong sayang, papamu sangat mengharapkan kehadiranmu di dunia ini, karena
keegoisan mama kau harus terpisah dengan papa kandungmu, seharusnya saat itu
mama meninggalaknmu bersamanya tidak membawamu pergi darinya sehingga kau harus
hidup menderita bersama mama,Nak.
Anakku sayang,
Mama tak seharusnya jatuh cinta pada papamu, suami sahabat mama sendiri, kau hadir
di dunia ini karena keinginannya untuk memiliki seorang anak yang tidak bisa ia
berikan pada suaminya. Dan kesalahan mama karena jatuh cinta pada papamu, dia
satu-satunya pria yang membuat jantung mama berdetak berkali-kali lipat.
Tak ada yang tau kalau kami akan di karunia bayi kembar, setelah kakakmu lahir lima
belas menit kemudian kau pun lahir, rasa egosi muncul dalam hati mama untuk
memilikimu, mama tidak bisa bersama papamu tapi mama punya dirimu bagian dari dirinya karena dengan itulah mama pikir mama bisa melanjutkan kehidupan mama lagi Nak, tapi setiap menatapmu selalu mengingatkan
mama padanya dihantui rasa bersalah karena telah menyembunyikan dirimu darinya Nak.
Arabella putriku tersayang,
Kenapa mama menulis surat ini,karena mama tau mama tidak punya banyak waktu lagi, saat
mama tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini lagi dan tidak bisa melawan takdir Tuhan untuk
mempertemukan dirimu dengan apa kandungmu, mama tidak ingin kau membenci papa
dan sahabat mama, karena mereka dua orang yang sangat berarti dalam hidup mama
selain kau dan saudara kembarmu yang tidak perna sekalipun mama temui,juga ibu
Cory dan papa Bob mereka juga orang tuamu Nak, mama titip mereka padamu dengan
__ADS_1
*apa pun mama tidak akan bisa membalas semua kebaikannya pada kita. *
Ini mungkin sangat sulit dan mengejutkanmu ,Nak tapi itu adalah kebenarannya.
Jangan hiasi hidupmu dengan dendam putri cantikku karena itu akan membuatmu
jatuh semakin dalam.
Selamat tinggal putriku, semoga kau selalu berbahagia tanpa mama disampingmu, mama
mencintaimu melebihi apa pun di dunia ini, dan sampaikan juga pada kakakmu mama
juga sangat mencintainya walaupun kehidupan tidak pernah mempertemukan mama
dengan kakakmu, semoga kalian selalu dilimpahi kebahagiaan. Sekali lagi maafkan
mama.
Peluk
cium dari mama yang selalu mencintaimu,
Janie
Neal menatap istrinya yang sedang berdiri di balkon kamar mereka, menatap lurus kedepan membiarkan angin
malam membalut tubuhnya, rambutnya yang panjang ia berayun-ayun ditiup angin yang cukup kencang bertiup malam ini. Sejak pulang dari kantor Neal melihat istrinya lebih banyak diam dan setiap kali ia bertanya ia selalu menolak untuk berbicara, Neal pun tidak memaksa istrinya lagi.
Ketika selesai makan malam Neal menemui ibu cory dan mencoba mencari tau perubahan sikap istrinya, dan
benar saja dugaan Neal benar kalau istrinya sudah tau kebenaran tentang siapa ayah kandunganya.
“Kenapa berdiri disini, hmm. Ini sudah malam dan cuaca sangat dingin aku tidak ingin istriku yang cantik ini
sampai sakit,” bisik Neal lembut sambil melingkarkan kedua tangannya dipinggang ramping istrinya.
“Aku belum mengantuk Neal,” sahut Ara pelan. Tangannya balas memegang tangan Neal mencari kehanagat lewat
tangan suaminya.
“Apa yang kau pikirkan sampai matamu tidak bisa tidur,” ucap Neal mengecup puncak kepala istrinya lalu
menyandarakan dagunya disana.
“Kenapa hidupku sangat serumit ini,” bisiknya pelan dan iar mata itu kembali jatuh di pipinya.
“Rumit, kau tidak bahagian hidup bersamaku,” Tanya Neal membalikan tubuh Ara agar berhadapan dengannya,
tangannya mengangkup pipi istrinya dan menatap manic coklat yang sudah penuh dengan iar mata.
Ara menggelengkan kepalanya,” mana mungkin aku tidak bahagia hidup bersamamu, karena kau adalah
sumber kebahagianku, kau yang membuat hidupku ini lebih berharga.”
“Jika hidupmu tidak rumit apakah Tuhan akan mempertemukan kita,” Tanya tanpa mengalihkatan tatapannya
dari manic istrinya.
“Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, kenapa hidupmu dulu rumit karena ada jalan yang akan membawamu pada
takdir Tuhan selanjutnya, aku tau ini tidak mudah untukmu sayang, tapi kau juga tidak boleh terlalu larut dalam masalah ini, cobalah untuk menerima ini, mungkin ini mudah bagiku mengatakan karena aku tidak berada diposisimu. Tapi aku mohon aku tidak ingin kau sakit sayang, tidakkah kau kasihan pada suamimu ini. Melihatmu diam aku ikut sakit melihatnya sayang.”
Air mata itu semakin deras membasahi wajah Ara apa yanggg dikatakan oelh suaminya itu benar, tidak ada yang
kebetulan di dunia ini karena semua jejak hidup ini telah diatur tinggal bagaiaman kita menjalaninya apakah mencoba untuk ikhlas atau terus menolaknya dan menyimpan lika disetiap torehannya.
“Belajarlah untuk menerima semua ini, aku pun sulit mempercayainya saat mendengarnya, tapi memang itulah
kebenarannya, sayang.”
“Kau menyanyangi papa Ivander seperti papam sendiri dan sekarang memang itulah kenyataannya. Bukan
hanya dirimu yang terluka sayang,papa Ivander dan mama Helena juga, jangan biarkan mereka larut dalam kesedihan harus berpura-pura di depanmu, dia selalu menangis dibelakangmu ketika dirinya tak sanggup mengatakan siapa dirinya dihadapanmu, mereka tak sanggup jika kau membencinya karena hal ini. Mereka
menahan hatinya asal kau tetpa tidak merubah kasih sayangmu pada mereka.”
Ara hanya diam mendengarkan setiap perkataan suaminya, tak ada yang salah dengan ucapanya. Semuanya terluka bukan hanya dirinya. Kebenaran lewat surat mamanya sudah mengatakan kalau
mereka tak bersalah dalam posisi ini.”
“Pikirkanlah ucapanku sayang, ini sudah malam mari kita tidur, aku tidak ingin kau sampai jatuh sakit.” Neal menuntun istrinya masuk ke kamar dan juga tak ada perlawaan dari istrinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung