
Merasakan ada yang sedang memeluk tubuhnya Mark pun membuka kedua matanya yang masih buram ia mengucek k matanya pelan lalu menunduk ke perutnya dan sebuah tangan merangkul perutnya erat, Mark menolehkan sedikit pandangannya menatap Natasya yang masih tertidur menyembunyikan wajahnya dibawah lengannya, Mark membiarkan tak berniat untuk menjauhkannya untuk sejenak ia menikmati wajah Natasya yang masih begitu pulas dengan tidurnya, dengan satu tangannya Mark menjangkau bantal Natasya yang terletak disebelahnya lalu dengan hati-hati mengangkat kepala Natasya agar tidak membangunkannya dan meletakan
bantal itu dibawah kepalanya, ia membentulkan selimutnya baru beranjak turun dari tempat tidur.
Mark melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, selesai mandi ia pun berganti pakaian. Sebelum keluar dari kamar Mark melirik jam dinding dikamarnya yang sudah menunjukan pukul tujuh pagi, ia bangun sedikit terlambat beruntung sekarang weekend kalau tidak tentu saja ia akan terlambat sampai di kantor.
Tak lama setelah Mark pergi Natasya pun terbangun, ia melirik kasur disebelahnya yang telah kosong, ia menggosok sebelah matanya dengan punggung tangannya dan perlahan bangun lalu menyandarkan tubuhnya di sisi belakang ranjang sambil memangku bantal bekas dipakai Mark menciumi bantal itu sambil tersenyum menikmati aroma khas tubuh Mark yang tertinggal disana. ia menyentuh kepalanya yang masih terasa sedikit pusing, ia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam setahunya terakhir yang ia ingat dirinya berada di club, apakah Mark menjemputnya atau ia diantarkan oleh Viktor pulang ke apartemen semalam, tapi kalau Viktor yang mengantarnya pulang tentu saja tidak mungkin karena ia tidak tau alamat apartemen ini, berarti benar Mark yang telah membawanya pulang. Natasay menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil mengerutu kesal melihat ia masih memakai pakaiannya kemarin.
Perlahan ia menyeret langkahnya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang tidak mandi kemaren,
ia mengisi bath up dengan air hangat lalu merendamkan tubuhnya disana merilekskan otot-ototnya yang terasa kaku. Setelah merasa cukup lama berendam membuat kulit tubuhnya mulai berkerut ia pun membilas tubuhnya dan segera keluar dari kamar mandi untuk berganti pakaiannya.
Natasya keluar dari kamar ia melangkah menuruni tangga menuju lantai satu tapi sesuatu yang harum langsung mengoda indra penciumannya, ia pun bergeges menuju tempat aroma itu berasal, Natasya menghentikan langkahnya Ketika sampai di dapur seulas senyuman menghias bibirnya melihat Mark tengah sibuk dengan alat-alat dapur, rasa kagum Natasya semakin bertambah melihat sosok dingin Mark ternyata ia juga mahir dalam menggunakan alat-alat yang biasa lebih sering digunakan oleh kaum wanita.
Natasya melangkah mendekat lalu memeluk tubuh Mark dari belakang, ia sedikit berjinjit lalu memberikan satu kecupan di pipi Mark.
“Apa yang sedang Kakak masak,” tanya Natasya sambil mencondongkan sedikit tubuhnya untuk dapat dengan jelas apa yang sedang dimasak oleh mark. Tak peduli dengan pertanyaan Natasya, Mark tetap sibuk dengan kegiatannya.
Walaupun tak digubris oleh Mark, Natasya malah semakin memperarat peluaknnya, ia menyandarakan wajahnya
dipunggung Mark , ia mengusap perut Mark dibalik kaosnya. Mark melirik sebentar pada tangan Natasya lalu kembali melanjutkan pekerjaanya.
“Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa sebesar ini mencintaimu, walaupun kau tidak pernah mencoba untuk membuka hatimu untukku, tapi itu tidak akan pernah mengurangi rasa cintaku padamu,” guman Natasya pelan.
‘Aku masih berharap kau membuka sedikit saja hatimu untukku, sedikit saja itu sudah cukup.”
Mark yang hanya diam seakan tidak mendengarnya, perlahan ia mencoba melepaskan pelukan Natasya di dadanya dengan menarik tangannya,” aku akan menyiapakan makanan , tolong jauhkan tanganmu.”
Tanpa bersuara Natasya melepaskan pelukannya lalu menarik sebuah kursi di meja makan dan mendudukan
tubuhnya disana sambil memopang dagu, Mark melirik sekilas pada Natasya saat ia meletakan makanan untuknya, lalu menarik bangku tepat disebarang Natasya dan mendudukan tubuhnya disana, dan mulai menyantap makanannya.
“Terima kasih untuk semuanya,” ucap Natasya pelan sambil menatap Mark yang tengan menyuapi
__ADS_1
makanannya. Mendengar ucapan Natasya ia pun menghentikan suapannya lalu mengangkat sedikit wajahnya.
“Makanlah makananmu selagi panas, kau pasti sudah lapar.” Setelah bicara ia kembali melanjutkan makannya. Natasya mengambil sendok di piringnya dan mulai mengaduk makanan di depannya.
"Maaf semalam aku merepotkanmu, “ ucap Natasya dengan nada sedih seakan ada penyesalan dari cara bicaranya, ia hanya mengaduk belum berminat untuk menyantap makanan didepannya walaupun perutnya sudah berteriak-teriak mintah diisis karena ia hanya mengisi perutnya denagn makan siang saja sejak kemarin.
“Jika tak ingin merepotkanku jangan mabuk lagi,” sahut Mark tanpa mengalihkan tatapannya.
“Iya, aku tidak akan mengulangnya lagi,”ucapnya dengan nada masih memelas.
Natasya mulai menyuapi makanan didepannya, saat makanan itu menyentuh lidahnya, matanya membulat
dengan sempurna lalu mengalihkan tatapan pada Mark, ia pun menguyah makanan itu pelan, makananya sungguh enak ternyata Mark jago juga memasak, Nataysa menyantap makan itu seprti orang kelaparan, mulutnya penuh dengan makanan membuat mulutnya berlepotan dengan saous, mulutnya tak henti bergumam-gumampelan.
Mark melirik pada Natasya sambil menggelengkan kepalanya, baru sebentar ini ia melihat wajahnya sedih
tapi sekarang sudah berganti serratus delapan puluh derajat, wajahnya terlihat riang sambil mengunyah makanannya.
"Dasar wanita aneh, cepat sekali perubahan emosinya,bathin Mark.
“Makanlah pelan-pelan, aku tidak ingin kau mati dimeja makanku karena keselek,” sahut Mark ketus. Natasya tertawa saat mendengar ucapan Mark.
Huhk…huhukk….
Baru saja Mak selesai bicara Natsay pun terbatuk dengan wajah yang memerah ia memukul-mukul dadanya pelan
Mark menjangkau gelasnya lalu menyerahkan pada Natasya dengan cepat ia menyautnya dan meminum air itu
hingga tak bersisa. Natasya menyentuh hidungnya yang terasa pedih ia sampai mengeluarkan air mata dengan wajah memerah hingga ke lehernya. Mark pun bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Natasya dan mengusapa punggunya dengan lembut.
“Baru saja aku selesai bicara, makanya kalau makan itu tidak boleh sambil bicara.” Mark berkata sambil
menjangkau tissue di lemar i disampingnya dan menyerahkan pada Natasya.
__ADS_1
“Ini pedih sekali Kak,” rengek Natsya dengan suara tercekat karena rasa perih di hidung dan tenggorokannya. Mark kembali mengisi gelas Natasya lalu menyerahkan kembalinya.
“Habiskan ini.” Perintah Mark menyodorkan geals didepan wakah Natasya, ia pun menurut dan menjangkau gelas itu dan menghabiskannya tak berbekas. Mark memutar bahu Natasya agar menghadap padanya lalu meneliti wajahnya dengan menarik dagu gadis itu hingga tengadah, ia menghapus sisa-sisa air mata di wajah Natasya dengan ibu jarinya , mendapat perlakuan manis seperti itu dari Mark membuatnya tersenyum senang, ia rela setiap hari tersedak seperti ini.
****
Neal dan Ara menghabiskanwaktunya di taman belakang Mansion, cuaca yang tak terlalu dingin sangat
mendudukung, Neal dan Ara saling berpelukan dengan mesra dalam ayunan yang terbuat dari jalinan tali, Ara
menyandarkan wajahnya ke dada suaminya tempat yang paling baginya. Neal menarik dagunya istrinya keduanya saling tatap dengan senyuman menghias bibir keduanya, Neal melabuhkan kecupan dibibir istrinya, rasa bahagia membuncah didada Ara, ia semakin mempererat peluaknnya.
“Sayang, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu,”
Ara mendongakkan wajahnya menatap suaminya dengan mengernyitkan keningnya, suara Neal terdengar sangat
serius begitu pun dengan wajahnya tapi Ara melihat sedikit sorot keraguan dibola matanya yang gelap.
“Apa yang ingin kau bicarakan,” ucap Ara menatap bola mata itu bergantian.
“Neal meraih tangan Ara dalam genggamannya lalu mengecupnya. “ mungkin sudah saatnya aku mencerikan ini
padamu, aku tak berniat menyembunyikan kebenaran ini padamu, tapi aku hanya menunggu saat yang tepat untuk membicarakannya.”
“Ada apa Neal, kau membuatku takut,” ucap Ara menyentuh wajah suaminya.
“Ini tentang Anara.” Neal berkata sambil memperhatikan wajah istrinya.
Deg.
Jantung Ara berdetak dengan cepat saat suaminya mengucapkan nama itu, perasaan tak nyaman berdesir dihatinya.
.
__ADS_1
Bersambung
Selamat membaca 🙏