
Kedatang mereka disambut oleh ibu panti, ia terlihat sangat senang melihat kedatangan Neal dan Ara. Mereka bertiga duduk di ruang tamu, Neal pun bertanya tentang keadaan panti pada ibu Sofia, sedangkan Ara hanya
menjadi pendengar yang baik menyimak setiap pembicaraan mereka dengan baik. Pembicaraan mereka terhenti ketika mendengar suara yang memanggil Neal dengan girang dan segera berlari menghampiri Neal dengan tertawa senagn, Neal pun langsung menyambut kedatangan Noumi dan membawa kedalam gendongannya. Noumi memeluk Neal dengan erat, Neal mencium pipi Noumi gemas, kemudian menyapanya, Noumi dengan manja berceloteh pada Neal..
Arabela hanya menatap keakraban keduanya, ia tidak menyangkah dapat melihat sisi Neal yang hangat saat bersama Noumi. Karena asyik bercerita dengan Neal ia tidak menyadari kedatangan Ara, saat tau Ara juga ada
disana ia segera meluncur turun dari pangkuan Neal dan memeluk Ara.
“Nona Ara kau ternyata juga ikut, maaf aku tidak melihatmu," ucap Noumi sambil memeluk Ara.
“Tidak apa-apa sayang, aku kan sudah berjanji padamu akan berkunjung dengan Tuan Neal kesini," ucap Ara sambil melepaskan pelukannya lalu mendudukan Noumi di pangkuannya.
"Bagaimana kabarmu sayang?"
"Aku sangat baik, aku hanya merindukan kalian berdua, apakah kalian bisa mengunjungiku lebih sering lagi," mohon Noumi dengan wajah yang terlihat begitu mengemaskan, membuat Ara tak tahan untuk menciuminya. Ara pun mengiyakan sambil menautkan jari kelingking mereka, dengan senyum menghias bibir mereka.
Tak lama anak-anak satu persatu bangun dari tidur siangnya, ruangan tamu yang tadinya sepi sekarang terlihat ramai dan heboh dengan suara anak-anak yang sedang bermain, Ara pun ikut bergabung bermain dengan mereka,sedangkan Neal dan ibu Sofia terlihat sedang berbicar di halaman, keduanya terlihat begitu serius.
“Besok, Dokter anak yang akan menangani Noumi akan datang, kalau memang diharuskan Noumi akan tinggal di rumah sakit, kirim salah satu pengasuh yang akan mengurusnya disana."
“Iya Tuan Neal, besok kami akan mengantar Noumi, semoga setelah mendapat perawatan ia bisa sembuh kembali," imbuh Sofia berharap. Neal pun mengiyakan.
Hampir dua jam mereka berada disana, Neal dan Arabela pun memutuskan untuk kembali ke rumah, keduanya pun pergi setelah berpamitan pada penghuni panti.
****
Neal merebahkan tubuhnya di samping Ara yang terlihat sedang membaca buku sambil menyandarkan tubuhnya disisi belakang ranjang, ia pun segera menutup bukunya dan ikut berbaring. Neal pun mematikan lampu kamar dan
__ADS_1
mengganti dengan lampu tidur, ia melirik pada Ara yang tidur memunggunginya.
“Besok aku ada kunjungan ke Tyumen selama dua hari, apakah kau ingin ikut?" Tawar Neal. Seketika Ara membalikan tubuhnya sambil menatap Neal tidak percaya.
“Kau serius... aku boleh ikut," ucap Ara mencoba memastikan perkataan Neal. Neal pun menganggukan kepalanya, refleks karena saking senangnya Ara seketika memeluk Neal,”Terima kasih Neal."
“Maaf..." seketika Ara tersadar dan menjauhi tubuhnya dari tubuh Neal, tapi dengan cepat Neal menahan tubuh Ara.”Aku malam ini berbaik hati, kau boleh tidur memelukku karena kau terlihat begitu bahagia, aku tidak ingin merusak kebahagianmu!" seru Neal asal.
Arabela menatap wajah Neal yang juga sedang menatapnya, “Kalau kau tidak mau ya sudah lepaskan," ucap Neal sambil mencoba melepaskan pelukan Ara,
“Siapa yang bilang tidak mau, aku mau," imbuh Ara terkekeh dan semakin mengeratakan pelukannya.Mana mungkin Ara akan menolaknya, ia malah terlihat sangat sengan dapat memeluk Neal, ia menghirup aroma khas tubuh Neal yang memberikannya ketenangan, tak butuh waktu lama ia pun tertidur.
Neal mengamati wajah Ara yang sudah terlelap, ia mengusap lembut kening Ara lalu memberikan kecupan disana, beberapa bulan hidup bersama dengan Ara memberikan ketenangan sendiri baginya, sikap Ara yang sering
membuatnya kesal, tapi jusru ia sangat merindukan tingkah Ara seperti itu, entah ikatan apa yang sedang ia rasakan pada Ara, ia pun masih mencari jawabannya.
****
Neal mengandeng tangan Ara ketika mereka sampai di bandara, koper mereka dibawah oleh orang suruhan Neal. Bandara yang terlihat ramai oleh orang - orang yang akan berpergian seperti mereka, yang berbeda antara
mereka dengan orang-orang itulah ada beberap bodyguard yang mengikuti mereka. Ara melirik pada Neal yang terlihat begitu tampan dengan setelan jas dan kaca mata hitam yang bertengger diwajahnya, Ara hanya dapat berguman dalam hati melihat posisinya sekarang, dalam mimpi pun ia tidak pernah membayangkan akan menjalani
hidup seperti ini. Ia seperti seorang tuan putri yang selalu di kawal kalau berpergian.
Arabela mencoba menyembuyikan keterkejutannya di balik kaca mata hitamnya, matanya sudah membulat sempurna melihat pesawat yang akan membawa mereka, seumur-umur Ara baru pertama kali naik pesawat pribadi. Tapi ia memang tidak suka naik pewasat ini kali keduanya ia naik pesawat.
Neal sedikit pun tidak melepaskan peganganya pada Ara, sampai mereka naik ke pesewat. Ara hanya terbengong – bengong begitu masuk, karena ia merasa tidak sedang berda dalam pesawat dengan segala kemewahan yang ditawarkan disana. Neal pun segera mengajaknya duduk disalah satu bangku yang terlihat begitu mewah, Neal memasangkan sabuk pengaman Ara, begitu pun dengan dirinya, tak butuh waktu lama pesawat pun segera lepas landas.
__ADS_1
“Kau kenapa?" Tanya Neal melihat wajah Ara yang dipenuhi keringat ia pun menggengan tangan Ara yang terasa seperti es.
“Kau takut naik pesawat?" tanya Neal lagi. Ara pun menganggukan kepalanya pelan. “Naik kapal takut dan naik peswat juga takut, kalau jalan kaki kau juga takut," sindir Neal, tapi sayangnya tak ada jawaban dari Ara.
“Saat datang ke Moskow kau hanya sendirian naik pesawat, jangan-jangan kau pingsan saat itu," sindir Neal lagi.
“Tidak... aku tidak pingsan," sahut Ara sambil mengelengkan kepalanya tanpa membuka matanya.”Aku hanya menutup mataku selama perjalanan,"ucap Ara polos yang membuat Neal tersenyum mendengar jawabannya.
“Ayo kita pindah," ajak Neal sambil membuka sabuk pengaman Ara kerana pesawat sudah mengudara dengan stabil. Neal menarik tangan Ara yang masih memejamkan matanya, "ayo buka matamu, ada aku disini, jadi tidak usah takut," ucap Neal lembut.
Perlahan Ara memberanikan diri untuk membuka matanya, ia mengikuti langkah Neal yang entah kemana mengiringnya,ia mengeratkan peganganya pada Neal, mereka berhenti di depan sebuah pintu, saat Neal membuka pintu itu ternyata itu adalah sebuah kamar dengan kasur yang terlihat begitu nyaman,
“Perjalanan hampir memakan waktu tiga jam, istirahatlah disini, kalau kau haus disana ada minuman," papar Neal menunjukan sebuah lemari pendingin yang ada di sudut kamar.
“Tidurlah itu akan mengurangi rasa cemasmu, jangan takut semua akan baik-baik saja, selama aku berada disampingmu," lanjut Neal sambil mengusap puncak kepala Ara lembut. Ara pun mengiyakan tak berani membantah Neal, ia hanya menatap punggung Neal dan menghilang ketika Neal menutup pintunya kembali. Ara menatap tempat tidur yang ada di depanya, perlahan ia mendekat dan mendudukan tubuhnya di sisi ranjang sambil menatap ke sembarangan arah.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa jempolnya , biar semangat untuk nulisnya😅😅😅