
Semua tampak gelisah menunggu di depan pintu kamar operasi, terutama Neal dia terlihat begitu kacau,
wajahnya diliputi kecemasan dan ketakutan. Dokter terpaksa mengambil langkah operasi untuk menyelamatkan bayi dalam kandungan Ara karena pendarahan yang dialaminya, ia terlalu banyak mengeluarkan darah dan dokter kwatir dengan dua bayi dalam kandungan Ara tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Begitu pun dengan kondisi Ara sudah sangat lemah.
Neal tidak mau mengambil resiko demi keselamatn istri dan bayi kembarnya, Ara harus menjalani operasi di usia
kandungannya belum genap sembilan bulan. Sudah satu jam operasi berlangsung belum ada tanda-tanda akan berakhir, Neal tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa dan menunggu semoga istri dan bayinya baik-baik saja, Ia sempat memaksa untuk masuk menemani istrinya di kamar operasi tapi setelah Daniel datang dan membujuknya ia pun akhirnya bersedia menunggu di luar.
Dimitri menghampiri putranya yang tertunduk lemas berdiri disamping pintu ruang operasi, ia maraih tubuhnya
putranya dan memeluknya dengan erat,” sabar,Nak. Semua akan baik-baik saja Ara wanita yang kuat ia pasti bisa melewati semua ini.”ucap Dimitri sambil mengusap lembut punggungnya, Neal hanya membalas pelukan ayahnya tanpa bisa berkata apa-apa.
Semua menahan napas saat lampu kamar operasi mati dan tak lama seorang dokter pun keluar, semua sudah
menunggu di depan pintu kamar operasi dengan wajah harap cemas.” Bagaimana keadaan istri dan anak saya Dok,” Neal langsung bertanya dengan wajah tegang.
“Ara terlalu banyak kehilangan darah dan berdoa saja semoga kondisinya cepat stabil kembali.”
“Ambil darahku saja Dokter karena golongan darah kami sama,” potong Ivander cepat.
“Rumah sakit masih memiliki persedia darah yang sesuai dengan golongan darah Ara Tuan. Kondisi bayinya
sehat tapi keduanya harus dirawat dalam incubator karena ia lahir belum mencukupi usia kandungan, dan dan juga harus memastikan kondisi paru-paru mereka apakah sudah bisa bernapas tanpa di bantu alat.“ Mendengar penjelasan dokter mereka dapat sedikit bernapas lega.
“Apakah saya bisa bertemu dengan anak dan istri saya Dokter.”
“Tentu saja, tapi anda harus bergantian kalau ingin menjenguk ibunya karena ia belum bisa kami pindahkan ke
ruang perawatan sebelum melewati masa kritisnya.”
*****
Tak ada yang dapat menggambarkan perasaanya saat ini, menatap istrinya terbaring lemah dengan alat
bantu pernapasan, alat ditektor jantung yang berbunyi menunjukan kalau istrinya masih bersamanya saat ini. Neal menggenggam erat tangan istrinya yang dingin beberapa kali ia mengecupnya lalu menempelkan tangan itu ke pipinya.
“Sayang, aku baru saja melihat putra dan putri kita, mereka sangat menggemaskan, , kau sangat
menantikan dan tak sabar menunggu kelahiran mereka bukan. Bukalah matamu apakah kau tak ingin melihatnya.”
Neal mengusap lembut pipi istrinya,” maafkan aku sayang, tidak bisa menjagamu pasti ini sakit sekali
seandainya bisa biar aku saja yang merasakan sakitnya.”
Neal sebenarnya tidak ingin meninggalkan istrinya tapi ia tidak bisa berlama –lama menemaninya karena
kondisi Ara yang belum stabil, sebelum pergi ia mengecup kening istrinya lama,” cepatlah bangun sayang, aku sangat takut melihatmu seperti ini, I love my wife.”
****
Semuanya bergilir menjenguk Ara, setiap yang keluar dari ruangannya semua tertunduk sedih, mereka hanya
bisa berdoa semoga Ara cepat sadar dan berkumpul bersama mereka lagi. Ivander yang baru keluar dari ruangan Ara langsung memeluk Neal yang tengah duduk duduk di bangku seoarang diri.
“Papa aku sangat takut, ini sungguh berat untukku” bisik Neal dengan suara tertahan, ia menyandarkan
kepalanya ke bahu Ivander menyembunyikan tangisnya disana. Ivander menguatkan
hatinya ia tau bagaiaman perasaan Neal saat ini hingga matanya berkaca-kaca.
“Papa paham perasaanmu, berdoa saja, kau harus kuat menjalani ini agar istri dan anak-anakmu juga kuat
menjalaninya.” Neal hanya menganggukan kepalanya tanpa bersuara.
“Dimana putriku.”
__ADS_1
Semua mata tertujuh pada sumber suara yang datang tergesa-gesah dengan wajah berlinang air mata. Cory
langsung berangkat ke Moskow begitu menadapat kabar dari Neal kalau Ara melahirkan lebih cepat dari waktu perkiraannya, Neal memenag sengaja menutupi hala itu dari Cory karena ia mencemaskan kondisi mertuanya. Cory mendapat kabar dari Mark yang menjemputnya kebandara, sehingga sepanjang perjalan ia tak henti
menangis mengawatirkan keadaan putrinya.
Neal segera menyonsong mertuanya yang lansung memeluknya dengan berurai air mata,” mana Ara, Nak,
bagaimana keadaan putriku,” tanyanya diselah isaknya.
“Ara ada didalam ibu, dia sedang berjuang melewati masa kritisnya, doakan istriku bu aku tidak bisa hidup
tanpa Ara.” Neal berkata sambil memeluk mertuanya.
“Maafkan aku ibu tidak bisa menjaga Ara.”
Cory menggelengkan kepalanya sambil melepaskan pelukannya, “tidak, jangan menyalahkan dirimu, ini semua
mungkin sudah kehendak Tuhan, mari kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan Ara,Nak.”
Ivander sejak tadi menatap lekat wajah wanita yang baru saja datang yang mengaku sebagai ibunya Ara, tapi
Ivander sungguh merasa tidak asing dengan wajahnya, Ivander melangkah lebih dekat ingin memastikan penglihatannya, walaupun wajah itu tidak mudah lagi tapi ia tidak mungkin salah. Jantung Ivander berpacu dua kali lebih cepat.
“Cory,” ucap Ivander berdiri tepat disamping Cory yang masih berbicara dengan Neal. Tubuh Cory tersurut satu
langkah begitu menolehkan wajahnya, Neal mengernyitkan keningnya heran saat melihat perubahan wajah mertuanya yang tiba-tiba dan ia lebih terkejut lagi saat bibirnya menyebutkan namanya dengan bibir bergetar.
“I-ivander…”
*****
Ara baru saja di pindahkan ke kamar perawatan karena ia telah melewati masa kritisnya, dan sekarang
Ivander dan Helena sejak tadi tak melepaskan genggamannya dari tangan Ara, bahkan Helena masih saja
menangis, kabar yang didengarnya dari Cory membuatnya merasakan sedih dan bahagia disaat bersamaan.
“Putriku, jadi kau benar-benar putriku,” ucap Ivander mengusap lembut pipi Ara air mata mengalir dipipinya. “
Aku merasakan itu saat pertama kali melihatku, hatiku begitu terhubung denganmu, setiap kali aku menyangkal kau semakin terikat kuat dalam diriku.”
“Aku telah mencari ibumu Nak, tapi ia pergi menghilang seperti ditelan bumi, ternyata ini yang ingin dia sembunyikan dari kami, tak seharusnya dia melakukan ini setelah semua pengorbanan yang tak akan bisa kami balas dengan apa pun.”
Neal menatap Ivander yangmasih larut dalam rasa sedihnya, cerita yang baru saja ia dengan membuatnya
seakan seprti bermimpi saja, Arabella istrinya ternyata saudara kembar mantan tunangannya Anara, walaupun mereka menag sangat mirip tapi sungguh ia tidak menyangkah ternyata mereka benar-benar memiliki hubungan darah bukan kebetulan. Dan Arabella dan Anara anak Ivander tapi tidak di lahirkan oleh Helena tetapi anak
Ivander dengan sahabatnya Janie, sungguh sulit sekali dipercaya tapi itulah kenyataanya.Bukan hanya Neal, Dimitri dan Maria juga tidak menyangkah Ivander dan Helena menyimpan rahasia besra dalam hidupnya.
Helena mengelus rambut Ara dengan penuh kasih sayang, air matanya tak kunjung mereda saat menatap wajah Ara ingatannya selalu berputar pada Janie yang membuat hatinya berdenyut sakit, sosok Janie tak akan pernah terlupakan didalam hidupnya.
****
Helena dan Janie menjalin bersahabatan sejak masuk sekolah junior high school, Helena berasal dari
keluarga kaya bertolak belakang dengan Janie yang dibesarkan di panti asuhan, ia dapat bersekolah di sekolah yang sama dengan Helena karena ia siswa yang pintar. Persahabat itu tetap berlanjut hingga mereka ke bangku kuliah, Helena bahkan menolak keinginan orang tuanya untuk menguliahkannya ke luar negeri
karena ia ingin satu kampus dengan Janie.
Helena yang berasal dari keluarga kaya tidak memiliki banyak teman karena ia pendiam dan tidak terlalu
pandai bergaul, walaupun sikapnya bertolak belakang dengan Janie yang ceria, tapi itulah membuat mereka saling melengkapi.
Helena dan Ivander kenal saat mereka kuliah tingkat akhir, Ivander dan Helena bertemu dalam acara
__ADS_1
keluarga, Helena yang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada Ivander. Dan hubungan itu pun akhirnya berlanjut karena Ivander juga tertarik dengan Helena, dan akhirnya mereka menikah setelah Helena menyelesaikan kuliahnya. Persahabatan itu tetap terjalin walaupun Helena telah menikah dan Janie pun
akhirnya berteman baik dengan Ivander.
Satu tahun setelah mereka menikah, pernikahan mereka di uji ketika dokter memfonis Helena tidak
bisa mengandung karena ada masalah pada rahimnya. Ujian itu membuat Helena depresi karena ia sangat menginginkan anak dari Ivander tapi dengan kondisinya ia tentu tidak akan pernah hamil.
Ivander membujuk istrinya ia akan tetap mencintai Helena walaupun tidak bisa memberinya seorang anak, tapi
Helena tidak bisa menerima itu. Setiap hari Janie mengunjunginya memberikan semangat pada sahabatnya, banyak rumah tangga yang masih tetap bahagia walaupun tidak ada anak diantara mereka, atau pasangan yang berbahagia dengan anak adopsinya, tapi ia tidak ingin anak orang lain ia ingin anak dari suaminya.
Dan disitulah semua dimulai ketika Helena memohon-mohon pada Janie untuk hamil anak suaminya, tentu saja
Janie sangta terkejut mendengar permintaan Helena yang terdengar tidak masuk akal baginya, dan bukan hanya Janie saja yang terkejut dengan permintaan Helena, Ivander sangat marah saat mendengar permintaan istrinya yang konyol, saking marahnya Ivander ia mendiami Helena sampai berhari-hari.
Keduanya akhirnya menyerah ketika Helena memilih akan mengakhiri hidupnya jika suami dan sahabatnya tidak
mengabulkan permintaannya. Janie bersedia melakuaknnya begitu pun dengan Ivander. Helena mengajak Janie tinggal bersamanya, dua bulan kemudian Janie pun hamil, hamil anak Ivander.
Helena menangis dengan penuh kaharuan saat mengetahui kalau Janie hamil, ia benar-benar merawat dan menjaga Janie dengan sangat baik. Bukan hanya Helena, Ivander juga memberikan perhatian yang
besar padanya walaupun ia sibut terkadang ia masih menyempatkan membuatkan segelas susu hamil untuknya, semua perlakuan manis Ivander padanya membuat sesuatu yang seharusnya tidak boleh tumbuh di hati Janie, ia
jatuh cinta pada Ivander.
Rasa cinta yang dirasakan Janie pada Ivander setiap hari tumbuh semakin besar, dan Janie harus
menghentikan semua ini sebelum terlambat, sungguh ia tidak ingin melukai hati Helena sabatanya berhati emas. Janie memutuskan untuk keluar dari rumah yang ditinggalinya bersama Ivander dan Helena, tetntu saja keinginan Janie ditentang keras oleh Helena. Janie yang terus memohon dan mencari alasan sehingga
akhirnya Helena mengalah.
Janie pulang ke rumahnya tinggal bersama Cory dan suaminya. Cory adalah kakak angkat Janie mereka tumbuh
di panti yang sama. Hampir setiap hari Helena mengunjunginya membawakan semua kebutuhan Janie, dan Ivander jika tidak sibuk juga mengunjunginya melihat bayi kecilnya yang sedang tumbuh di rahim Janie.
Tak ada yang tau kalau Janie mengandung bayi kembar, sampai ia melahirkan bayinya, tak lama setelah bayinya
lahir ia kembali merasakan kontraksi dan lima belas menit kemudian lahir seorang bayi perempuan lagi. Janie merasa tak rela harus meberikan kedua putrinya kepada Ivander dan Helena, tak ada yang tau kalau ia melahirkan bayi kembar kecuali dokter dan perawat yang membantunya bersalin, setelah ia bermohon-mohon akhirnya dokter
mengabulkan keinginannya untuk tidak mengatakan kepada Ivander dan Helena.
Setelah memberikan satu bayinya kepada Ivander dan Helena, ia pergi tanpa meberi tahu Ivander dan
Helena kemana ia pergi, ia benar-benar ingin menghilang dari kehidupan Ivander dan Helana, membawa rasa cinta yang tidak bisa ia bunuh, kembali memulai hidupnya yang baru.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1