
Setelah dua hari di Tyumen Neal dan Ara kemali ke Moskow, setidaknya itu cukup mengobati rindu Ara pada ibunya. Ara dan Neal mengajak Cory untuk ikut tinggal bersama mereka di Moskow tapi Cory menolak ia masih ingin tinggal di rumah yang menyimpan banyak kenangan, tapi ia berjanji akan mengunjungi mereka nantinya.
Cory duduk di tempat tidurnya menatap keluar jendela kamar, beberap kali ia menarik napas panjang
seakan ingin melepaskan beban yang sedang menghimpit dadanya, tatapanya berpindah pada album tua ditangannya, menatap setiap foto yang tersimpan disana sesekali ia mengusapnya menyalurkan rasa rindu disetiap usapan tangannya, tak terasa air mata itu terjatuh walaupun Cory sudah menahannya sekuat hatinya Cory memejamkan matanya membiarkan air itu turun semakin deras.
Maafkan aku, aku tidak bisa mencegahnya lagi, perasaanku tidak bisa dibohongi lagi. Sejauh apa pun kita lari dan bersembunyi tapi kita tidak akan sanggup melawan takdir
Cory mengambil sebuah amplot putih tapi sudah berwarna kecoklatan karena terlalu lama tersimpan
disana, ia mengusap tulisan yang begitu rapi tertulis disana. Tulisan tangan yang begitu indah secantik orang yang menuliskannya.
“Tidak ada yang salah dengan cinta yang kau miliki, tapi kau jatuh cinta pada orang yang salah, tentu kau hanya mendapatkan luka dan sakit hati ketika kau tau perasaan itu tidak akan pernah berbalas,” guman Cory lalu
mengecup surat itu, cukup lama ia melakukannya sampai akhirnya ia menyimpannya kembali.
****
Neal yang baru saja kembali ke ruanganya karena baru saja selesai meeting, ia terkejut melihat
keberadaan istrinya disana karena Ara tidak mengabarinya sebelumnya akan datang ke kantor. Ara berjalan dengan langkah lebar menghampiri suaminya dengan senyum lebar menghias wajahnya.
“Sayang, kau terlihat senang sekali,” ucap Neal menyambut pelukan istrinya hangat.
“Aku punya kabar gembira untukmu sayang,” ucap Ara menggiring tangan suaminya untuk duduk disofa
dan Neal pun menurut mengikuti langkah istrinya.
“Sayang, aku baru saja mendapat tawaran untuk pemotretan majaalh fasion terkenal sayang, karena sebuah
brand terkenal sedang mengeluarkan pakaian khusus ibu hamil yang masih ingin terlihat modis saat ke kantor walaupun dengan perut seksi seperti ini,” ucap Ara tertawa kecil sambil mengusap perutnya.
Neal menatapp istrinya seraut kekwatiran menyelp di hatinya,“Sayang, aku pikir kamu cukup melakukannya untuk Natasya saja, kau yakin mereka tak punya niat lain selain hanya menawarkan pemotretan, bagaiman kalau mereka memanfaatkanmu mencoba mencari-cari tau tentang dirimu, aku hanya mengawatirkanmu sayang."
Ara terdiam mendengar perkataan suaminya seketika senyum itu pun menghilang dari bibirnya,” meraka
ingin memanfaatkan aku, apa maksudmu sayang.”
“Kau tau berapa banyak para pencari berita yang ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya, hubungan yang
terjalin antara kita berdua karena mereka tak tau kalau kau itu istriku sayang dan sekarang kau sedang hamil, mereka mengatakan hal-hal yang buruk tentangmu sayang, aku tidak ingin kamu terluka, Aku mohon jangan
lakukan itu batalkan saja tawaran mereka.”
__ADS_1
“Atau kita umumkan saja tentang pernikahan ini, siapa kau sebenarnya dan…
“Tidak, aku akan menolaknya. Kita sudah melangkah sejauh ini, aku mohon jangan katakan apa pun karena aku tidak ingin menyakiti papa Ivander dan mama Helena.” Ara memotong ucapan Neal.
Neal meraih tubuh Ara ke dalam pelukannya dan mengusap punggungnya dengan lembut,” maafkan aku
membuatmu berada di posisi ini.”
“Tidak, jangan pernah menyalahkan dirimu atau siapa pun, karena ini mengkin sudah takdir yang digariskan untukku, aku pikir aku pantas untuk mendapatkan karena aku…..
Neal menempelkan jarinya didepan bibir istrinya sambil menggelengkan kepalanya ia tak ingin mendengar kelanjutan ucapannya, Ara yang selalu menyalahkan dirinya setiap mengingat Anara ia yang selalu merasa bersalah.
"Jangan katakan itu lagi,"Bisik Neal. ia meraih tubuh Ara membawa kedalam pelukannya. mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang, menyalurkan rasa cinta yang begitu dalam di dalam hatinya.
****
Sepulang dari kantor suaminya Ara mengajak Karin singgah di sebuah café, hujan yang turun cukup
deras membuatnya ingin menum secangkir coklat hangat. Mereka memilih duduk di depan jendela kaca sehingga tak ada yang menghalangi pandangan matanya. Ara menyesep menikmati coklat hangat, coklat dapat memberikan efek menenangkan itu yang ia inginkan saat ini.
Baru saja Ara meletakaan cangkirnya datang seorang wanita menghampirinya dengan senyum manis
menghiasi wajahnya saat menatap Ara, Ara yang sudah mengenal sosok itu mencoba bersikap biasa agar tak membuanya curiga tatapannya pun berpindah pad Karin yang duduk didepannya.
sebelah kanan Ara. Tanpa menunggu jawaban dari Ara ia pun langsung mendudukan tubuhnya. Karen yang tidak suka dengan tindakan Nathalie dan ingin mengusirnya tapi baru saja mulutnya terbuka Ara mencegahnya sehingga ia pun mengurungkan niatnya.
“Aku benar-benar tidak menyangkah kalian semirip ini, setelah aku melihat langsung aku tidak akan meragukan lagi berita itu.” Natahlie berkata sambil menatap lekat wajah Ara dan dibalas Ara balik menatapnya.
“Apa keperluan anda Nona.”
Nathalie tertawa kecil lalu mengulurkan tangnya,” perkenalkan saya Nathalie, saya adalah sahabat Anara istri Neal, tepatnya mendiang istrinya.”
Ara hanya menatap tangan Nathalie tanpa berniat untuk membalasnya, Nathalie kembali tertawa tapi terdengar seperti dengusan kecil dan menurunkan tangannya kembali, ia menatap sinis pada Ara dengan mengangkat sudut bibirnya ,” kau ******* kecil yang coba menarik perhatian Neal samapi mengubah wajahmu. Kau benar-benar menjijikan.”
Karin yang terpancing amarahnya berdiri dari bangkunya tapi Ara kembali menahannya dengan mengangkat
tangan kananya. Ia masih terlihat santai sedikit pun tidak terusik dengan ucapan kasar Nathalie.
“Kau siapa, apa hakmu mengaturku. Kau tidak punya pekerjaan lain sampai kau mengurusiku,” balas Ara
dengan senyum mengejek suara yang tenang saat berbica membuat wajah Nathalie memerah menahan marahnya.
“Kau.” Nathalie menunjuk wajah Ara dengan tatapan penuh kebencian. “Aku tidak suka wanita
__ADS_1
menjijikan sepertimu memiliki wajah yang sama dengan sahabatku. Dan aku tidak suka cara kotormu untuk mendekati Neal”
“Kenapa kau yang marah, sahabatmu saja belum tentu marah padaku,” ucap Ara tertawa kecil yang berhasil
membuat wajah Natahlie merah padam karena merasa dipermalukan oleh ucapan Ara yang menohok.
“Kau sungguh menyedihkan, kau perhatian sekali pada Neal apakah kau tertarik padanya. Dan kau berniat
untuk mengantikan posisi sahabatmu.”
Nathali bangkit dengan tangan sudah siap mendarat di pipi Ara tapi gerakannya kalah cepat karena Karin
lebih dahulu menahannya.
“Anda jangan berani menyentuh Nona saya kalau anda masih ingin memiliki tangan saat bangun besok
pagi.”
Ara hanya tersenyum kecil sambil bangkit dari kursinya, mata Nathalie melotot saat melihat perut Ara yang buncit. “ kau...”
“Kenapa, kau kaget melihatku ,” ucap Ara sarkas sambil mengusap perutnya dengan lembut.
“Kau ingin tau sejauh apa hubungan kami, mulai sekarang buang jauh-jauh pikiranmu untuk menjadi nyonya Radinslaf karena akulah sekarang Nyonya Radinslaf. ”
“Ayo Karin kita pergi, aku tidak ingin terlambat menunggu suamiku pulang,” ucap Ara sambil menekankan kata suami tanpa mengalihkan tatapannya dari Nathalie.
Karin menghempaskan tangan Nathalie sehingga membuat wanita itu terdorong dan hampir membuatnya
jatuh. Nathaile mengepalakn tangannya sambil menatap tajam punggung Ara yang baru saja keluar dari café. Ara memnag sudah diperingatkan Neal untuk selalu berhati-hati jika betemu dengannya karena ia tidak mempercayai wanita itu
"Kau wanita kurang ajar, kau tunggu balasanku karena sudah mempermalukanku,” desis Nathalie tajam,
Ia merogoh tasnya mengambil botol kecil didalamnya lalu mengeluarkan satu pil kecil dan dengan cepat ia menelannya.
.
.
.
.
.Bersambung
__ADS_1