
“Surat, istriku meninggalkan surat untukku?” tanya Neal pelan. Karen pun menganggukan kepalanya lalu memberanikam diri berjalan mendekati Neal yang terlihat sudah tenang.
Dengan tangan bergetar Neal menerima surat itu dari tangan Karen, ia menatap surat yang sudah berpindah tangan padanya, Karen pun segera pergi menjauh dari Neal. Air mata Neal tak bisa ditahannya saat melihat tulisan
Ara yang begitu rapi tertera di amplop putih itu. Mark mengajak Karen untuk keluar dari ruangan itu, Karen menganggukan kepalanya pelan ia kembali tak dapat menahan air matanya, ia berjalan mendahului Mark sambil menghapus air matanya dengan punggung tanagnnya, sebelum menutup pintu Mark Kembali menatap Neal yang terduduk dilantai, ia menaraik napas panjang lalu segera menutup pintu.
Teruntuk suamiku Neal.
Dada Neal begitu sesak saat membaca tulisan itu, ia membuka amplop sangat hati-hati karena tak ingin membuatnya rusak, perlahan ia menarik sebuah kertas putih dari dalamnya yang terlipat dengan sangat rapi, ia
mencium surat itu berharap kertas itu meninggalkan aroma harum tubuh istrinya yang begitu di rindukannya, isakan tertahan membuat tubuh Neal terguncang, sungguh kehilangan Ara menguras semua sisi lain darinya, dengan tangan bergetar perlahan Neal membuka lipatan kertas itu.
Neal suamiku,
Saat kau membaca surat ini aku sudah pergi jauh darimu, tidak ada alas an lagi untukku tetap bersamamu, tugasku sudah selesai, wanita yang kau cintai ia sudah bangun, ia sudah kembali padamu. Terima kasih untuk beberapa bulan yang terindah dalam hidupku, aku tidak akan pernah melupakan seumur hidupku.
Neal suamiku,
Maaf aku pergi tanpa pamit padamu, karena aku sungguh tak sanggup melakukannya, aku harus melanjutkan hidupku kembali, aku harus belajar melupakan semua tentang dirimu karena itu aku memutuskan untuk pergi jauh dari hidupmu, karena aku tidak akan bisa melakukannya bila kau masih berada dekat denganku.
Neal suamiku,
Aku tidak tau apakah kau menginginkan anak kita yang pernah hadir dalam rahimku, tapi kalaupun kamu tidak menginginkannya aku tetap akan memberitahumu, saat kau pergi ke Kanada Karen membawaku ke Dokter disana aku tau kalau aku sedang mengandung anakmu. Aku sangat berharap ia terus tumbuh di rahimkan tapi sepertinya Tuhan lebih menyayanginya, Ia hanya menitipkan sebentar saja padaku.
Neal suamiku,
Aku pamit… semoga kau hidup bahagia bersama Anara, titip salamku padanya juga pada Daddy dan Mommy, tak lupa papa dan mama Anara aku menyayangi mereka seperti aku menyayangi orangtuaku sendiri. sampaikan juga maafku pada mereka.
*I*zinkan untuk terakhir kalinya aku memanggilmu, Neal suamiku.....
Selamat tinggal
Arabella
__ADS_1
Neal menyungkur di lantai didepannya meraung keras memanggil-manggil nama Ara, mendekap surat ditangannya kedadanya.Rasanya sakit ini seperti melumatkan tubuhnya, penyesalan selalu datangnya diakhir menyisahkan luka-luka tiada akhir. Neal meringkuk di lantai membiarkan dinginnya lantai menyentuh tubuhnya.
“Tidak Ara….! Jangan tinggalkan aku…..aku mohon kembalilah kepadaku, jangan pergi seperti ini… aku sangat mencintaimu, maafkan aku yang terlambat menyadari perasaanku.”
Lirihan-lirihan itu tersu keluar dari bibir Neal, suara itu terhenti saat Mark menemukan Neal yang sudah tidak sadarkan diri, kehilangan Ara sungguh mmebuat luka yang besar dalam hatinya.
***
Areal pemakaman terlihat begitu ramai oleh orang-orang yang memakai seragam hitam-hitam mengitari sebuah makam yang dipenuhi oleh bunga diatasnya, semua mengikuti upacara pemakaman dengan khimat, suara isakan menyelah diantara suara pendeta yang sedang membacakan doa.
Upacara pemakam itu pun akhirnya selesai, orang-orang satu persatu mulai beranjak pergi meninggalkan area pemakaman sehingga menyisahkan para kerabat dekat saja, Helena tak henti menangis sambil memeluk nisan didepannya, Ivander membujuk istrinya untuk kembali pulang ia berusaha untuk tegar di depan istrinya, tak ada perlawanan dari Helena saat ia membantunya berdiri,ia merangkul tubuh istrinya yang terlihat begitu terpukul, Ivander pun menggiring langkah Helena menjauh dari sana, sebelum pergi ia menepuk pundak Neal yang sepertinya masih enggan untuk pergi dari sana.
Tinggallah Neal seorang diri menatap nisan yang bertuliskan nama Anara, ia melepaskan kaca matanya yang sedari tadi bertengger di wajahnya yang tampan, ia berjongkok di depan makam Anara meletakan seikat mawar putih dibawah batu nisan, mawar putih adalah bunga kesukaan Anara.
“Maafkan aku Anara, aku tidak akan pernah melupakan setiap kenangan bersamamu, aku akan menyimpannya sebagai kenangan terindah dari seorang teman, tidak akan pernah bisa lebih, kau benar dengan Arabella aku benar-benar merasakan arti cinta sebenarnya, terima kasih untuk semua yang telah kau lakukan padaku. Aku tidak
akan lelah untuk menemukan Ara aku akan memenuhi janjiku padamu akan membawa Ara menemuimu, Selamat tinggal Anara semoga kau bahagia disana.
Neal mengusap nisan Anara lalu beranjak bangun, sekali lagi ia memandangi makam itu , rasa sedih muncul saat ia mulai melangkah meninggalkan makam Anara. Rasa yang mungkin wajar Anara wanita yang pernah singgah di hatinya, melihatnya pergi secepat ini membuatnya masih belum percaya. Ia berharap Anara dapat melanjutkan hidupnya walau tanpa dirinya berharap suatu saat ia bisa menemukan lelaki yang mencintainya.
Neal, percuma ia menahan orang yang tidak menginginkan dirinya lagi, jika ia memaksa akan banyak hati yang akan terluka, melihat Neal bahagia itu sudah cukup baginya.
Ia sangat bahagia saat melihat Neal mengunjunginya, namun saat melihat luka dimata Neal rasanya begitu sakit, mendung hitam seakan bergelayut di wajahnya. Ia hanya sebentar saja bertemu dengan Neal, karena Dokter melarangnya tidak boleh terlalu letih dan banyak bicara. Sebelum pergi ia memintah Neal untuk memperlihatkan wajah Arabella padanya walaupun hanya lewat fotonya saja, Anara langsung menangis begitu melihat foto Anrabella yang ada di ponsel Neal, wajah mereka begitu mirip.”Neal...matanya sangat indah, kau pasti jatuh cinta karena menatap mata ini setiap hari,” ucap Anara mencoba tertawa dalam tangisnya.
"Banyak hal yang membuaku jatuh cinta padanya, mungkin itu salah satunya."
"Berjanjilah padaku, kalau kau sudah menemukannya bawah ia menemuiku,"pintah Anara sambil menyerahkan ponsel Neal.
"Iya...aku berjanji."
****
Kaki Neal menuruni undakan tangga satu persatu, langkahnya santai tidak terburuh-buruh seakan mencoba menghitung berapa jumlah anak tangga yang sedang dilaluinya, sepatunya menyapu dedaunan kering yang berserakan disana, angin yang bertiup sepoi-sepoi kini mulai bertiup lebih kencang, dedaunan yang mulai berguguran luruh lebih banyak dari ranting-rantingnya, menerbangkannya sejauh mungkin dari pohonnya. Seandainya angin juga bisa menerbangkannya membawanya pada kekasih hatinya, belahan jiwanya, kepergiannya sungguh membuat jiwanya rapuh, ia telah membawa sebagian hidupnya, sekarang semuanya tidak akan pernah sama lagi dengan hari kemaren saat dirinya masih ada disampingnya.
__ADS_1
Sehelai daun kering terbang lalu menempel di wajah tampan Neal, ia menghentikan langkahnya sambil menarik daun itu agar terlepas dari wajahnya, Neal tengada ke langit siang yang biru dihiasi oleh sekumpulan awan yang berarak di terbangkan angin, lama ia terdiam menatap birunya langit seakan memintah awan untuk melukiskan wajah wanitanya.
“Selama kau masih memandang langit yang sama denganku, menghirup udara yang sama, aku pasti akan menemukanmu, kau satu-satunya wanita yang akan berada disisku, aku tidak tau berada lama waktu yang aku butuhkan untuk menemukanmu tapi aku tidak akan pernah menyerah, tunggulah aku menemukanmu sayang… dimanapun kau berada sekarang jaga dirimu dengan baik, aku juga berharap kau menjaga hatimu untukku.”
"Tuhan...aku mohon berilah aku kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki semua kesalahanku padanya."
Neal melanjukan kembali langkahnya menuju mobilnya, Mark tampak menunggunya sambil duduk di bangku kayu di bawah pohon mahoni, ia bangkit dari duduknya saat melihat Neal hampir sampai di depan mobilnya, seperti biasa ia membukakan pintu mobil untuk Neal, tanpa bersuara Neal masuk kedalam mobilnya baru separuh bagian
tubuhnya masuk ke mobil tiba-tiba ada yang memanggilnya, ia menahan tubuhnya dan sembari memalingkan wajahnya,
“ Maaf aku mengganggumu Neal… bisakah kita bicara sebentar.” Nathalie berkata tanpa berbasa basi terdengar nada memohon dari suaranya ia menatap wajah Neal dengan senduh.
“Apa yang ingin kau bicarakan,” sahut Neal dingin.
“Aku tau berapa kalipun aku memintah maaf padamu tidak akan pernah mengubah apa yang telah terjadi, aku tau kesalahanku sangat besar , aku tidak pantas mendapatkan kata maaf darimu, tapi aku akan tetap mengatakannya lagi …maafkan aku Neal,”Nathalie mulai terisak. Nathalie berpikir kalau yang meninggal itu adalah Ara istrinya yang kecelakaan bersamanya, Memang semua sudah diatur oleh keluarga Neal dan Anara seolah-olah Anara meninggal karena kecelakaan sehingga media tak tau kebenaran yang selama ini mereka simpan
“Ada lagi yang ingin kau sampaikan, kalau tidak ada aku pergi dulu.” Neal masuk kedalam mobilnya tanpa menungguh jawaban dari Nathalie, Mark pun segera melanjukan mobilnya meninggalkan Area pemakaman. Natahelie hanya menatap kepergian Neal dengan airmata yang membasahi pipinya.
.
.
.
.
Bersambung
Aku sampai menangis Bombay saat menulis bab ini 😭😭😭😭
Maaf harus nangis lagi 😢😢
Selamat membaca semoga readers menyukainya 💙💙
__ADS_1
jangan lupa setelah membaca like dan komennya ya👍