
Mobil mereka berhenti disalah satu restoran mewah yang tidak begitu jauh dari butik Natasya, mereka segera turun dari mobil begitu Mark selesai memarkir mobilnya. Neal segera merangkul pinggang istrinya saat mereka berjalan menuju restoran, ia memperhatikan sekitar restoran seakan mengawasi apa ada yang sedang memperhatikannya, Natasya dan Jessy mengikuti mereka dari belakang sambil bersisihan sementara Mark berjalan mendahului mereka tanpa bersuara, Natasya hanya mendengus kesal Melihat sikap dingin Mark kepadanya. Begitu masuk kedalam restoran ia pun pamit ke toilet pada jessy.
Mereka memilih salah satu ruangan VIP di restoran, ruangan makan yang terpisah dengan para pengunjung lain sehingga benar-benar menjaga privasi pengunjung, seorang pelayan mengantarkan mereka menuju tempatnya yang terletak dilantai dua restoran, sebuah meja makan berbentuk lonjong dengan enam kursi menunggu disana untuk mereka tepati, Neal mengajak istrinya duduk bersebelahan dengan istrinya, Mark memilih bangku tepat di depan Neal sedangakan Jessy memilih duduk disisi ujung meja sebelah Ara, Natasya yang baru saja kembali dari toilet segera mengambil bangku kosong tepat disamping Mark, tentu saja ia sengaja memilih kursi itu. Natasya melirik Mark sekilas yang juga sedang meliriknya dengan tatapan tidak suka. tapi Natasya bersikap cuek tidak memperduliakn tatapan penolakan Mark.
Pelayan pun mengantarkan daftar menu makanan mereka pun terlihat sibuk memilih menu makanan masing-masing, Neal membantu istrinya memilihkan menu makannnya untuknya, setelah menuliskan semua pesanan pelayan itu segera pamit dari sana. Natasya yang kesal dengan Mark melirik pria itu yang mulai sibuk dengan ponselnya.
Natsya yang sedang kesal tiba-tiba terlintas ide konyol dikepalanya, sambil menahan senyum ia menggeser kakinya lebih dekat pada kaki Mark,lalu menedang kaki itu dengan keras, Mark mengeram menahan sakit saat tulang keringnya ditendang oleh Natasya, ia melirik pada gadis itu yang memasang wajah cuek seakan tidak melakukan apa pun.
Sambil menahan sakit dan menahan kesal Mark dengan sengaja menyenggol gelas di depan Natasya sehingga airnya tumpah membasahi gaun Natasya, ia terpekik karena begitu terkejut, sehingga mengalihkan pandangan yang ada di meja makan padanya kecuali Mark yang bersikap santai sambil memainkan ponselnya. Natasya mengeram kesal sambil mengepalkan tangannya.
“Nat yang malang kalau minum itu pakai mulut bukan langsung main tuang ke perutmu jadi basah begitukan,” ledek Jessy lalu kembali asik dengan ponselnya. Natasya hanya diam tak berminat membalas ledekan sepepunya itu karena ia lebih fokus bagaimana caranya membalas Mark.
“Nat, keringkan pakai ini,” ucap Ara sambil menyerahkan tissue pada Natsya dan langsung menyautkan dengan cepat lalu mulai mengeringkan gaunnya yang basah.
“Nat, kau harus lebih hati-hati lagi,” sapa Ara memperingatkan Natasya dan menatap wajah gadis itu yang cemberut sambil mengeringkan pakaiannya.
“Sini biar aku bantu." Ara menawarkan diri sambil bangkit dari kursinya.
“Tidak Kak aku bisa sendiri," tolak Natasya lembut.
Ara pun kembali mendudukan tubuhnya dan melirik sekilas pada Mark yang masih asyik dengan ponselnya. Ia tau kalau baju Natsay basah itu karena ulah Mark dengan sengaja menyenggol gelas di depan Natasya, ia hanya menahan senyumnya melihat interkasi keduanya seperti bocah-bocah saja.
Para pelayan pun datang mengantarkan pesana mereka, semua makanan dan minuman ditata sangat rapi diatas
meja, mereka pun segera memulai makan siangnya setelah para pelayan itu pergi, Neal melirik pada istrinya yang terlihat seprti enggan memakan makanann di depannya, ia pun menghentikan makanannya.
“Kenapa sayang, kau tidak menyukaia makanannnya,” tanya Neal lembut sambil menyentuh ujung jari istrinya.
__ADS_1
“Bukan, aku belum terlalu lapar.”
“Kau sakit,” tanya Neal sambil menyentuh wajah istrinya dengan punggung tangannya mencoba meyakinkan keadaan istrinya.
“Neal aku baik-baik saja.” menatap suaminya dengan seulas senyum manis.
“Ya sudah, habiskan makannya pelan -pelan saja,” ucap Neal kembali melanjutkan makannya, Ara pun menganggukan kepalanya tanpa bersuara.
Setelah selesai makan Neal dan Mark mengantarkan ketiganya kembali ke butik Natasya, lalu mereka kembali menuju kantor.
****
Sorenya Arabella dan Jessy Kembali ke Mansion, ia sangat senang melihat orang tua Neal ada di Mansion, keduanya segera menghampirinya dengan langkah besar, Maria berdiri sambil membuka kedua tangannya lebar tersenyum haru memandang Ara, dengan cepat Ara menghambur dalam pelukan mertuanya itu, tangis haru pecah dari keduanya, Maria mengusap-usap punggung Ara dengan penuh kasih sayang, tiada hal yang paling membuatnya sebahagia ini, Ara telah Kembali ke sisi Neal dan putrannya dapat menjalani hidup dengan normal lagi.
“Maafkan Ara Mom, pergi tak pamit pada kalian,” ucap Ara diselah isaknya.
“Sekarang kau sudah Kembali, jangan perna pergi lagi Nak, Neal tidak akan bisa hidup tanpamu, sungguh Mommy tak sanggup melihat Neal begitu terburuk saat kepergianmu.”
“Berjanjilah sayang,” ucap Maria sambil melepaskan pelaknnya menatap lekat wajah Ara yang berurai air mata, Ara pun menganggukan kepalanya. Maria tersenyum bahagia sambil menghapus air mata Ara.
“Bukan hanya Neal kami semua menyayangimu, jangan pernah tinggalkan kami lagi.” Maria menghujani wajah
Ara dengan ciuman yang membuat Ara menangis semakin keras, ia sangat bahagia mendapatkan cinta begitu besar dari keluarga suaminya.
Dimitri yang sudah berdiri disamping istrinya ikut memeluk Ara begitu Maria melepaskan pelukannya, ia mengecup puncak kepala Ara hangat lalu mengusap dengan lembut rambut panjang menantunya itu.
“Kau sudah seperti putri kedua Daddy, bukan hanya suamimu kami juga sangat cemas dan kwatir saat kau pergi diam-diam, seorang ayah tidak akan bisa tidur dengan nyenyak bila putrinya pergi tanpa kabar apapun.”
__ADS_1
“Maafkan Ara Daddy,” Ara kembali menangis, sudah lama ia tidak merasakan pelukan hangat dari seorang ayah sekarang ia mendapatkannya lagi. Ara pun teringat kepada Ivander dan Helena yang juga begitu menyayanginya tapi sekarang mereka sudah memiliki Anara mungkin sekarang mereka sudah tidak mengingatnya apalagi Neal menolak menikah dengan Anara. Mungkin saj sekarang mereka membencinya, tapi ia juga tidak bisa menolaknya karena ia memang pantas mendapatkanya.
Dimitri melepaskan pelukannya melihat air mata Ara yang masih berjatuhan ia pun menghapusnya dengan penuh kasih sayang, cinta seorang ayah pada putrinya.
“Apa yang Daddy dan Mommy lakukan sampai membauat istriku menangis seperti itu,” protes Neal tiba-tiba sehingga
mengejutkan semua yang ada disana, mereka pun menolehkan wajahnya menatap Neal
yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Aku ke sini ingin menculik menatuku,” goda Dimitri menatap putranya penuh kehangatan.
“Tapi sepertinya ia menolak tak ingin berpisah dengan suaminya sehingga ia memohon sambil menangis padaku.”
“Tentu saja Dad, suaminya terlalu tampan untuk ditinggalkan,” balas Neal sambil menarik pinggang istrinya dalam merangkul pinggangnya posesif, lalu menghadiahi kecupan singkat di bibirnya, wajah Ara bersemu merah karena merasa malu dicium oleh Neal didepan orang tuanya.ia mencubit pinggang suaminya pelan, tapi Neal semakin mempererat rangkulannya.
“Kalian pergilah mandi, Mommy dan Daddy menunggu kalian untuk makan malam.”
“Baiklah, kami ke kamar dulu, ayo sayang,” ajak Neal sambil melepaskan rangkulannya tangannya berpindah menggandeng tangan istrinya. Ara pun pamit pada mertuanya, lalu keduanya pun pergi menuju kamarnya. Dimitri dan Maria melepaskan kepergian anak dan menantunya itu dengan senyum bahagia menghiasi wajahnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung