
Nathalie meringkuk di tempat tidur, kamarnya sudah seperti kapal pecah karena menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya, tangis itu masih belum berhenti penolakan Neal sungguh membuatnya sangat terluka karena ia sangat mencinta Neal dengan segenap hatinya, ia bahkan merelakan hatinya terluka saat melihat Neal bersama dengan Anara, ia
sering menangis dalam diam, ia menyalahkan takdir yang tak pernah berpihak padanya apa kekurangan dirinya sehingga Neal tidak pernah sedikit pun melirik padanya, bahkan setelah Anara meninggal ia juga tidak menadapatkan kesempatan itu.
Nathalie membuka laci nakas disamping tempat tidurnya meraih botol obat didalamnya, dengan tangan gemetar ia mengambil dua butir obat didalamnya lalu menelannya kemudian ia meraih gelas di atas nakas dan menegukanya hingga habis, menarik selimut dan kembali membaringkan tubuhnya disana.
****
Mark meregangkan ototnya yang terasa kaku setelah seharian berkutat dengan berkas didepanya yang harus segara ia berikan pada Neal, Mark baru saja bangkit dari kursinya ketika ponselnya yang berada diatas meja kerjanya memecah kesunyian ruangan itu, ia pun meraihnya dan melihat sebuah panggilan dari Natasya.
“Kakak, kau tidak lupa kan dengan janjimu, aku sudah menyipakan pakaian
untukmu di kamar.”
“Iya…kau ini cerewet sekali,” dengus Mark kesal. Semalam Natasya ngotot mengajaknya untuk ikut ke acara ulang tahun agensinya karena ia tidak ingin setiap tahun datang seorang diri, sehingga menjadi bahan olok-olokan temannya dan ia juga sangat malas meladeni para pria playboy terang-terangan memintah kencan denganya. Tentu saja Natasya sangat membenci pria yang suka tebar pesona pada wanita dan menabur benihnya pada sembarangn tempat itu sungguh menjijikan baginya.
“Jangan lupa bawah undangannya sudah aku simpan di atas nakas, aku tunggu disana ya. sampai jumpa nanti malam.”
Selesai bicara Natasya memutuskan panggilannya sehingga membuat Mark berdengus kesal sambil menjauhkan
ponsel itu dari telingannya.
“Dasar tikus bodoh.”
****
Mark sampai di depan hotel sesuai dengan alamat yang sudah dikirimkan oleh Natasya padanya, Mark melangkah masuk melewati lobi menuju tempat acara dengan naik lift karena lokasinya berada dilantai tiga, begitu
pintu lift terbuka ia pun segera keluar.
Lantai itu terlihat ramai oleh undangan yang datang sepertinya, sebelum melangkah menuju pintu masuk ia melirik jam dipergelangan tangannya yang menujukan pukul pukul delapan malam, Mark
menyerahkan undangannya ke panitia yang telah menunggu disana dan segera masuk setelah diperbolehkan oleh penyelnggara acara.
Sementara Natasya duduk gelisa sambil sesekali melirik pada pintu masuk karena acara yang sudah di mulai setengan jam lalu sedangkan Mark belum menampangkan batang hidungnya, ia tidak peduli dengan rangkaian acara yang telah dimulai dan terdengar beberapa kali gemuruh tepukan tangan dari para undangan yang hadir.
__ADS_1
“Hai cantk, kenapa kau terlihat gelisah,” bisik seorang pria tepat ditelingannya sehingga membuat Natasya terperanjat sambil memegang dadanya sehingga membuat gelak diwajah pria itu.
“Alex, kau hampir saja membunuhku,” tukas Natsya dengan wajah kesal. Pria yang ia panggil Alex itu hanya tersenyum lebar sambil mendudukan tubuhnya dibangku kosong sebelah Natasya.
“Jangan duduk disana,” protes Natsya cepat tapi terlambat Alex sudah mendudukan bokongnya disana sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Apakah ada tamu khusus yang akan menempati kursi ini,” tanya Alex penuh selidik sambil menaikan satu alisnya.
“Bukan urusanmu, silakhan cari bangku yang masih banyak kosong di meja lain.”
“Oh Nat kau semakin terlihat cantik dengan wajah marah seperti ini, karena itu aku tidak bisa melirik wanita lain jika sudah melihat wajahmu ini,” goda Alex menyeringai
menatap wajah Natasya. “ Kapan kau menerima diriku sebagai kekasihmu lihatlah
beberapa wanita disana menatap lapar padaku.”
"Itu dalam mimpimu Alex pergilah cari wanita diluar sana asal jangan diriku saja karena aku sudah memiliki kekasih.” Dengus Natasya dengan tatapan tajam menolak Alex mentah–mentah pernyataan cinta Alex entah sudah keberapa ratus kalinya.
“Benarkah kau sudah memiliki seorang kekasih.” Alex bertanya dengan menautkan kedua alisnya tidak percaya dengan ucapan Natasay begitu saja.
Deg…
Mata Natasya bertemu dengan dengan sorot mata dingin yang juga sedang menatapnya tak jauh dari tempat ia duduk, Mark tak bergeming sedikit dari tempatnya berdiri sampai ia melihat Natasya bangkit dari kursinya berjalan ke arahnya mengabaikan pria disebelahnya yang memanggilnya. Ia pun
melangkah perlahan menyongsong Natasya yang berjalan dengan langkah lebar ke arahnya.
“Kakak, kau sudah datang, kenapa lama sekali,” sapa Natasya dengan suara manjanya sambil memeluk dan mencium pipi Mark tanpa rasa canggung sedikit pun seakan pria itu benar-benar kekasih sungguhannya.
“Kau sudah memiliki teman rupanya tapi mengapa masih mengajaku untuk datang kesini.” Mendengar sindiran Mark padanya
membuat Natasya melirik pada Alex yang
sedang berjalan ke arahnya.
“Itu Alex dia temanku, aku tidak datang bersamanya,” bantah Natsya menatap bola mata Mark bergantian berharap pria itu percaya dengan ucapnya.
__ADS_1
Kedua pria itu saling menatap tapi tidak berniat untuk saling menyapa, apalagi Alex menatap angkuh membuat Mark muak melihat pria itu. Natasya mengalungkan tangannya di lengan Mark lalu menatap Alex yang berdiri didepannya.
“Alex, ini Mark. Kakak ini Alex temanku.” Natasya memperkenalkan kedua pria itu dan keduanya pun saling berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing.
“Apakah dia kekasihmu yang kau ceritakan padaku tadi,” Tanya Alex setelah mereka melepaskan jabat tanganya ia memperhatikan penampilan Mark dengan menautkan kedua alisnya, seakan ingin memindai seluruh tubuh Mark ke dalam otaknya. Mark merasa tak senang ditatap seperti itu balik menatap tajam pada Alex
menunjukan rasa tak sukanya.
Melihat ketegangan pada kedua pria di depannya Natasya segera mengajak Mark untuk menjauh tapi sebelumnya ia pamit pada Alex mengabaikan pertanyaan darinya namun ketika Alex ingin protes karena Natasya mengabaikannya dirinya begitu saja seorang wanita datang menyapanya dan bergelayut manja dilenganya.
Mark mengikuti langkah Natasya mereka duduk di meja bulat yang menyisahkan dua bangku kosong disana, baru saja mereka mendudukan tubuhnya seorang pelayan datang menawarkan minuman padanya Mark pun meraih saru gelas diatas nampan dan segera meneguknya tak bersisa, ia merasa tubuhnya panas dan tenggorokannya kering menahan kesal pada teman Natasya yang membuatnya muak dan ingin menghajar wajah sombongnya itu.
Natasya memperhatikan Mark yang duduk disebelahnya menatap lurus kedepan melihat acara yang sedang berlangsung, dipanggung walikota sedang memberiikan kata sambutan karena ia acara ulang tahun kali ini sangat istimewa, turut mengundang beberapa
orang-orang terkenal dan berpengaruh di Moskow karena pemilik Agensi ini akan
ikut berkecimpung di dunia politik, selain mereka juga mengundang para pengusaha termasuk Neal tapi sepertinya ia tak berminat untuk hadir.
Setelah satu jam acara itu formal itu berlangsung dan akhirnya pun selesai, sekarang tinggal acara pesta yang menjadi puncak Acara yang sudah di tunggu oleh para undangan karena acara formal terasa membosankan.Lampu ruangan telah berganti menjadi lebih temaram dan music menghentak dari seoarng DJ terkenal di Rusia mulai memekakan telinga, beberapa orang sudah mulai hanyut dilantai dansa mengikuti hentakan music yang memnaggil orang-orang untuk mengerakan tubuhnya, sedangkan Mark dan Natasya sepertinya tidak terpengaru karena sedikit pun mereka belum beralih dari meja yang mereka duduki sedari tadi yang menyisakan mereka berdua saja.
Suara hentakan music yang keras tiba-tiba berganti dengan alunan music romantic yang mengajak beberapa pasangan turun untuk berdansa, Natasya melirik Mark disampingnya yang tengah sibuk dengan ponselnya.
“Kakak, maukan kau menemaniku berdansa.” Natasya mencoba memberanikan diri untuk mengajaknya karena sedari tadi pria itu tidak terlihat berminat apalagi menikmati pesta ini.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1